
Setelah seminar yang di adakan oleh salah satu pengusaha ternama di negeri ini. Nama Harfei pun perlahan mulai di kenal. Tak tanggung-tanggung, nama pria itu masuk dalam salah satu majalah motivator. Hal itu membuat Hazal dan Harfei bahagia tak terkecuali ibu pria tersebut. Namun lain halnya dengan Lina.
Semenjak kesuksesan yang di raih Harfei justru membuat wanita itu lebih bersikap over protektif. Tidak ada lagi Lina sang gadis imut, manja, dan juga pengertian.
"Bang, apa Abang gak bisa terus deket-deket sama mba Hazal?". Pinta Lina dengan wajah memelas.
"Sayang, kamu gak boleh ngomong kaya gitu. Kan kamu tahu sendiri aku seperti ini tuh karena dia". Terang Harfei.
"Lagi pula, kalau kita menikah nanti kita tidak akan hidup sengsara". Lanjutnya. Ya, Harfei berencana akan menikahi Lina dalam waktu dekat ini. Meski hatinya sempat goyah karena adanya Hazal di sisinya, namun dia tidak ingin menjadi pria pengecut dan pengkhianat. Bayang-bayang Ayahnya waktu meninggalkan ibunya dalam keterpurukan membuat jiwa pria itu tidak ingin ikut seperti ayahnya.
"Lina tau bang. Tapi aku bisa melihat jika mba Hazal menyukai Abang". Masih dengan sikap keras kepala nya.
Harfei memijit pelipisnya, kepalanya hampir pecah mendengar keluhan Lina yang begitu kontras dengan sifatnya selama ini. Ataukah ini Lina yang sebenarnya?. Entahlah.
"Sayang. Dengerin aku baik-baik ya?. Jika kamu tidak percaya padaku, lalu bagaimana jika kita menikah?. Apakah kamu juga tidak akan percaya padaku selamanya?".
"Lina percaya sama Abang, tapi tidak dengan wanita itu. Terlebih lagi wanita itu lebih kaya dari Lina, berpendidikan, meskipun masih cantikan Lina. Tapi cantik saja tidak cukup bang". Gerutu Lina yang sukses membuat hati Harfei ingin berpindah tempat ke paru-paru nya agar bisa menyaring racun kalimat tajam Lina.
"Astaga Lina. Aku tuh gak habis pikir ya dengan jalan pikiran kamu?. Apa kamu kesini hanya untuk menyampaikan rasa cemburu mu pada Hazal yang sama sekali tidak tahu apa-apa?. Kamu cuma salah paham sayang. Meski pun dia menyukai ku, tapi aku sudah memilih mu. Bahkan aku memilih mu untuk menjadi istri dan ibu anak-anak ku kelak nanti. Percaya padaku, em?". Satu kecupan mendarat di kening Lina, bagai ribuan kupu-kupu berterbangan di atas kepala wanita itu. Mungkin dengan sedikit kecupan wanita itu akan diam. Setidaknya itulah yang di pikirkan Harfei saat ini.
Wawan dan Hazal yang tanpa sengaja nyelonong masuk dalam ruangan Harfei pun di buat salah tingkah dengan pemandangan di depan mata yang begitu menggelitik hati Wawan, namun tidak bagi Hazal. Wanita itu menangis dalam hati. Ia menggigit bibirnya. Kedatangan Wawan dan Hazal pun membuat Harfei melepas kecupannya dari kening Lina. Dan beralih melihat dua mahluk tuhan di depannya itu.
"Maaf bang, kami gak sengaja melihat adegan dewasa Abang sama mba Lina. Hehe". Wawan menaikan kedua jarinya membentuk huruf V.
"Ada apa?".
"Ah, maaf. Aku pikir kalian ada waktu senggang untuk sekedar makan siang bersama kami di bawah. Kebetulan hari ini adalah hari ulang tahun ku. Tapi jika kalian sedang sibuk, silahkan di lanjutkan. Maaf mengganggu". Wajah sendu itu tak bisa di sembunyikan oleh Hazal.
Lina sengaja melingkarkan tangannya di lengan Harfei seolah ingin menunjukkan bahwa pria itu hanya miliknya.
"Maaf, nanti lain kali saja kami gabung. Mungkin tahun depan setelah kami menikah dan punya anak".
DEG...
__ADS_1
Jantung, hati, paru-paru, usus besar, dan semua organ tubuh Hazal yang lainnya ikut terkoyak kala mendengar ucapan yang begitu menyayat sembiluh itu. Matanya mulai berkaca-kaca, namun dengan segera ia mengerjab kan matanya guna melarang air yang terasa sedikit asin itu turun. Bahkan ingus Hazal pun hampir jatuh dari lobang hidungnya yang mancung saking sedihnya jiwa.
"Lina, kamu apa-apaan sih?. Hazal, kami akan menyusul kalian ke bawah". Bagai di usir sang pujaan hati, Hazal melangkah pergi dengan membawa luka di hati. ( Author mulai pinter puisi yah? ). 😁
"Lina, apa kamu tidak bisa mengendalikan perasaan kamu?. Kalau kamu tidak mau ikut kebawah, maka silahkan habiskan waktumu disini sendiri. Aku tidak ingin menjadi pria yang tidak tahu berterimakasih pada orang lain. Dan aku harap kamu mau mengubah sikap mu ini. Jika tidak, aku tidak menjamin bisa menikah dengan mu".
DOR...
Satu peluru kata tajam mengena tepat di jantung wanita berparas cantik nan elok itu. Ia tertegun akan ucapan Harfei yang begitu tidak ingin di dengar nya. Dan Harfei pun meninggalkan Lina yang masih setia dalam diam.
*****
Di lantai bawah. Hazal, Sonia, Anton, Wawan, dan juga beberapa karyawan lainnya tengah asik menikmati acara kecil-kecilan yang di adakan Hazal.
Mereka tampak sangat menikmati acara yang tergolong sederhana itu, kecuali Hazal. Wanita itu masih kepikiran akan ucapan Lina tadi.
"Maaf aku baru bisa gabung. Aku sedang menyelesaikan sedikit kerjaan tadi di atas". Terang Harfei.
"Gak apa-apa. Oh iya, silahkan di nikmati. Hari ini aku akan membayar full semua pesanan ini hingga malam hari. Aku tidak ingin membuat mu rugi karena acara ulang tahun ku". Ucap Hazal.
Tiba-tiba Harfei merasa seperti ada tangan yang melingkar di lengan kekarnya dan sedang bergelayut manja di sana.
"Lina?".
Yah, Lina saat ini bergabung dengan yang lainnya. Ia terpaksa harus ikut karena tidak ingin membiarkan Hazal leluasa melihat Harfei kekasihnya.
Hazal membuang mukanya merasa salah tingkah. Tak lama setelah itu David pun muncul di tengah-tengah acara. Hazal tersenyum cerah setidaknya ia tidak merasa jomloh karena adanya David di tengah-tengah mereka. Meski sudah jadi mantan sih.
David dan Hazal cipika cipiki,
"Maaf aku baru datang. Lagi banyak kerjaan tadi di kantor". Ucap sesal David pada Hazal.
"Gak apa-apa. Aku senang kamu datang". Senyuman yang di paksakan menurut David. Namun pikiran normalnya mulai muncul ketika mengetahui situasi dimana Lina bergelayut manja di lengan Harfei.
__ADS_1
"Apa kamu cemburu pada pasangan itu?". Hazal menganggukkan kepalanya secara terang-terangan jujur pada David.
"Kamu mau membalas mereka?". Senyum menyeringai di bibir David, kening Hazal berkerut dalam.
"Emang bisa?". Kepolosan itu tercetak begitu saja di wajah Hazal.
"Tentu saja bisa. Mau coba?". Antuasias Hazal mengangguk-angguk kepalanya. Mungkin dengan sedikit membalas akan membuat hati kecilnya puas.
David merengkuh pinggang Hazal dengan posesif sembari mengecup kening Hazal. Hazal yang tidak siapa akan kecupan David pun sedikit kaget, namun kesadaran nya mulai kembali kala ia berpikir sedang berakting.
"Ini tidak ada dalam rencana kita". Protes Hazal pada David yang telah mencium kening nya.
"Ikuti saja alur ceritanya. Aku sutradara nya disini, kamu cuma figuran saja". Tutur David seolah menunjukan kemesraan keduanya pada dunia.
"Tapi ini keningku yang kamu cium".
"Lalu aku harus mencium kening Wawan si kurus itu?. Sudahlah. kamu ikut saja". Akhirnya Hazal mengalah akan keadaan.
'Meski cuma akting, tapi aku berhasil mencium kening mu Hazal. Meski rasa kening mu ada kecut-kecut nya sedikit, mungkin efek keringat. Hehe'. Batin David.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Next.