
Di sebuah rumah sederhana, seorang ibu sedang menyapu di halaman depan rumah, sedangkan sang putra sedang membersihkan motor yang setiap hari digunakannya.
"Harfei, apa hubungan mu dengan Lina baik-baik, Nak?".
Kedua orang tersebut adalah Harfei dan ibunya yang sedang melakukan aktivitas masing-masing.
"Bu, aku dan Lina gak ada hubungan apa-apa". Jawab Harfei masih dengan membersihkan motor kesayangan nya itu.
"Kok gitu sih?. Nak Lina kan gadis yang baik, cantik, dan suka lagi sama kamu". Ibu Harfei mendekati putra semata wayangnya itu sambil duduk di tangga teras rumah mereka.
"Terus kalo Lina suka sama aku, aku harus bilang wow gitu?". Jawab Harfei dengan santai.
"Bukan begitu, Nak. Kamu kan tau sendiri ibu sudah tua, sudah waktunya ibu menimang cucu. Teman-teman kamu yang lain juga sudah pada menikah". Mendadak suasana menjadi haru. Harfei mendekati wanita yang telah melahirkannya itu dan duduk di sampingnya sambil memegang kedua tangan ibunya.
"Bu, aku juga mau menikah, mengingat usia ku juga sudah 32 tahun, tapi pernikahan itu bukan ajang perlombaan atau ajang pencarian anak, semua ada waktunya, Bu".
"Tapi kapan, Nak?. Apa kamu sama sekali tidak menyukai Lina?". Guratan di wajah wanita paruh baya itu berubah menjadi serius.
"Bu, sebenarnya aku menyukai Lina, cuma aku pikir Lina menyukaiku karena ketampananku, tapi tidak dengan kondisi keluarga kita atau profesi ku. Kan ibu tau sendiri, aku cuma pedagang sate, bukan CEO dari perusahaan ternama". Penjelasan Harfei membuat hati ibunya tercubit, perlahan ia mengubah posisi tangan putranya itu menjadi menggenggam tangan Harfei.
"Maafkan ibu, Nak. Karena kamu terlahir dari ibu yang tidak memiliki apa-apa. Bahkan Ayah mu pergi meninggalkan kita entah kemana". Wajah ibu Harfei berubah menjadi sendu dan bersuara lirih.
"Kok ibu ngomong kaya gitu sih?. Emang manusia bisa memilih mau terlahir dari keluarga mana dan orang tua yang kaya atau miskin?. Bu, aku bahagia terlahir dari rahim ibu. Ibu adalah orang tua yang paling baik di dunia ini".
"Terimakasih sayang". Memeluk Harfei.
"Assalamualaikum ibu, Abang". Suara seorang wanita membuat pelukan antara ibu dan anak itu terlepas dan melihat siapa yang baru saja menyapa kedua nya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Eh, Neng Lina. Ada perlu apa, Neng?". Meski telah mengetahui Lina tidak mencintai putranya, namun tak mengubah rasa sayang wanita paruh baya itu pada wanita yang di harapkan untuk menjadi menantunya.
"Lina tadi dari rumah Bi Ratih, terus sekalian saja mampir kesini mau nengok ibu sama Abang. Ibu sama Abang apa kabar?".
"Alhamdulillah baik Neng. Ayo masuk". Ajak ibu Harfei.
"Ia Bu, tapi boleh gak Lina mau ngomong bentar sama Abang Harfei nya?". Izin Lina. Dan ibu Harfei pun menoleh sejenak pada putranya untuk memastikan apakah putranya itu mau berbicara berdua pada Lina atau tidak. Namun pria itu hanya menunjukan wajah datarnya.
"Baiklah. Silahkan Neng Lina bicara sama anak ibu". Meninggalkan keduanya.
Lina berkelanjutan mendekati Harfei dan mendaratkan tubuhnya ke sisi pria tersebut.
"Bang, kok Abang ngomong kaya tadi sih sama ibu?". Kening Harfei berkerut dalam hampir menyatu mendengar pertanyaan Lina.
"Kamu menguping pembicaraan aku sama ibu tadi?. Atau jangan-jangan kamu sengaja datang kesini bukan dari rumah Bi Ratih?". Tutur Harfei sarkasme.
"Suka kan bukan cinta?". Sangsi Harfei.
"Cinta lah bang. Abang saja yang gak percaya sama Lina. Memang dari dulu Abang gak pernah melihat Lina. Abang terlalu larut dalam masa lalu Abang". Tutur Lina dengan mata berkaca-kaca. Ya, Harfei memiliki masa lalu yang cukup menyakitkan. Ia pernah menjalin hubungan dengan wanita yang di cintai nya bernama Helena, namun kandas karena adanya perselingkuhan yang di lakukan oleh Helena, dan parahnya lagi Helena tidak pernah mencintai Harfei selama menjalin hubungan, tetapi wanita itu hanya tertarik pada Harfei karena memiliki wajah yang tampan, tapi malu untuk mengakui Harfei sebagai kekasihnya yang hanya sebagai tukang sate ayam.
"Abang hanya gak mau terulang lagi kisah yang sama Lin, dan Abang juga gak mau sakit hati pas lagi cinta-cintaannya".
"Abang gak bisa melihat cinta di mata Lina?". Keduanya pun saling menatap untuk memastikan perasaan masing-masing.
"Entahlah". Harfei memalingkan wajahnya, ia tidak mau terburu-buru menilai cinta di mata Lina.
"Baiklah kalo Abang gak percaya sama Lina. Lina terima saja lamaran Mas Bambang". Seolah mengancam.
__ADS_1
"Mas Bambang melamar kamu?". Lina menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Harfei.
"Jadi bener kabar yang Abang dengar itu kalo kamu di lamar sama Bambang?. Ya sudah menikah saja sama Bambang". Wajah Harfei menjadi datar tak terbaca dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Bang!". Perlahan Harfei menarik sudut bibirnya membuat senyuman disana.
"Apa, em?". Memegang dagu Lina.
"Abang itu cuma bercanda saja menyuruh kamu menikah sama Bambang. Abang percaya kok sama kamu. Aku juga mencintaimu Lina". Lina tersenyum bahagia lalu memeluk Harfei setelah mendengar ucapan pria yang di cintai nya itu.
"Beneran bang?. Berarti kita jadian nih?". Tanya Lina dengan senyuman lebar penuh bahagia.
"Apa itu perlu Abang jawab?. Tadi kan Abang sudah bilang kalo Abang juga cinta sama kamu Lina Rahayu". Keduanya pun kembali berpelukan, sedangkan ibu Harfei yang sedari tadi mendengarkan percakapan keduanya dari balik pintu, menitikan air mata merasa terharu.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC.