
Keesokan harinya, Harfei masih gusar karena di Landa rasa bersalah akibat peristiwa yang tidak sengaja di lakukan nya di taman kota pada Hazal.
Pria itu pun bertekad untuk meminta maaf pada wanita yang telah terlanjur sakit hati padanya. Jadi pagi ini Harfei putuskan akan menemui Hazal di kantor nya dan meminta maaf di sana. Ia tidak ingin menunggu hingga waktu makan siang tiba, karena di waktu itu akan ada Lina yang menemaninya di kedai. Ia tidak ingin Lina mengetahui konflik antara dirinya dan Hazal.
"Wan, titip kedai ya?. Kalau Lina nyari aku, tolong sampaikan saja kalau aku lagi ada urusan di luar". Pinta Harfei pada Wawan karyawan satu-satunya.
"Sip". Wawan mengangkat jempol tangan nya pertanda setuju. Harfei pun menepuk pundak Wawan dan berlalu meninggalkan remaja itu di kedai sate ayam miliknya.
*****
Sementara di kantor, Hazal baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi kerja miliknya. Hari yang cukup melelahkan setelah semalam wanita itu hampir tidak bisa tidur karena terus memikirkan ucapan Harfei yang begitu menyakitkan.
"Huf, semangat. Hari ini banyak kerjaan". Hazal menguatkan dirinya sendiri dengan mengembuskan napas untuk merilekskan pikiran dan hatinya.
Sementara di lobby, Harfei tampak kesulitan untuk menemui Hazal karena penampilan nya yang persis seperti tukang sate. Memang Harfei pedagang sate kan?.😁
"Maaf Mas, lagi cari siapa ya?". Tanya salah satu security di kantor Hazal.
"Saya ingin bertemu dengan Nona Hazal pak". Tutur Harfei.
"Apa Anda sudah membuat janji".
Harfei tampak bingung. Apakah seseorang yang bekerja di perusahaan besar harus membuat janji terlebih dahulu jika harus bertemu. Ia pikir hal itu hanya terjadi di sinetron atau novel saja.
"Maaf pak, saya belum membuat janji".
"Kalau begitu Anda harus membuat janji terlebih dahulu, terus datang lagi nanti". Titah security tersebut.
Harfei menghembuskan nafas kecewa, ia benar-benar ingin meminta maaf pada Hazal saat itu juga. Harfei baru saja akan beranjak meninggalkan perusahaan besar itu, namun langkahnya terhenti ketika mendengar nanya di sebut oleh seseorang yang sangat familiar.
"Harfei".
Pria itu menoleh.
"Sonia?".
Ya, Sonia yang baru saja tiba di kantor di buat terkejut melihat sosok Harfei sedang berbincang pada security seolah ada keseriusan di wajahnya. Lagi pula tidak biasanya pria itu datang di kantor Hazal.
Sonia mendekati Harfei,
"Kamu sedang apa disini?". Tanya Sonia.
"Nona Sonia kenal Tuan ini?".
"Dia teman saya kok pak". Sonia meyakinkan security tersebut lalu kemudian menarik tangan Harfei agar sedikit menjauh dari security tadi.
"Bang Harfei ngapain kesini?. Gak terjadi sesuatu kan kemarin di taman?". Mata Sonia menatap penuh selidik pada pria tampan tersebut. Harfei yang menyadari tatapan itu pun menundukan kepalanya.
"Jangan bilang kemarin kalian berdebat lagi". Lanjutnya kemudian.
"Maafkan aku, Son. Kemarin aku gak sengaja mengatakan sesuatu yang membuat Hazal marah". Guratan penyesalan membaluti wajah pria bermata coklat tersebut. Sonia pun menepuk jidatnya,
"Astaga, aku sudah duga. Terus Abang mau ngapain kesini?. Mau menemui Hazal?".
"Iya. Aku mau meminta maaf secara langsung padanya".
"Kenapa gak nunggu nanti waktu makan siang aja?. Kan kita biasa makan di tempat Abang".
__ADS_1
Harfei tampak berpikir jawaban apa yang harus di berikan pada Sonia, tidak mungkinkan ia mengatakan jika ia tidak ingin Lina mengikut campur urusan konflik antara dirinya dan Hazal.
"Karena aku tidak bisa tenang sebelum meminta maaf pada Hazal". Jawab Harfei akhirnya sebelum kebisuan menghampiri dirinya.
"Baiklah. Aku akan membantumu untuk menemui Hazal".
"Benar kah?". Binar bahagia membaluti wajah tampan pria yang berprofesi sebagai tukang sate ayam tersebut, terbukti dari senyuman yang terbentuk di bibir tipis nya.
"Tapi aku hanya sebatas mempertemukan kalian saja. Aku tidak bisa membantumu membujuknya untuk memaafkan mu". Senyuman yang tadi merekah, kini berubah jadi pias. Sendu dan gusar membaluti hati pria tampan itu. Namun sebelumnya ia sudah bertekad untuk meminta maaf, jadi ia tidak bisa mundur lagi. Harfei pun mengangkat kepalanya dan berkata,
"Baiklah, aku siap". Jawabnya mantap.
Keduanya pun berjalan menuju ruangan Hazal yang terletak di lantai 17.
Tok... Tok... Tok...
Pintu ruangan berbunyi dan menggangu konsentrasi wanita itu yang tengah fokus akan kerjaannya. Ia berdecak kesal, dan menyuruh seseorang yang di balik pintu ruangan nya itu untuk masuk.
"Masuk".
"Hazal".
"Sonia?. Ngapain kamu mengetuk pintu ruangan ku?. Kenapa gak langsung masuk aja?. Bikin mood ku buruk saja tau gak". Gerutu Hazal. Ia pun kembali fokus pada benda berukuran 14 inci di meja kerjanya.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu". Sonia mengeluarkan suara ragu-ragu.
"Suruh masuk saja, Son". Tanpa melihat wajah Sonia.
"Apa kamu yakin, Zal?. Kamu gak akan marah kan?".
Akhirnya Sonia pun menyuruh Harfei untuk masuk dalam ruangan Hazal. Namun wanita itu masih saja tetap setia dengan kerjaannya. Matanya terfokuskan pada benda yang berada di atas meja kerjanya itu. Namun sekali lagi konsentrasi nya pecah kala mendengar suara yang begitu familiar dan di bencinya tiba-tiba menggema di telinganya. Mata wanita itu membulat,
"Hai". Sapa Harfei.
"Sebaiknya kalian menyelesaikan urusan kalian. Aku pergi dulu". Pamit Sonia. Kini tinggallah Harfei dan Hazal dalam ruangan yang cukup besar itu.
Keheningan menghampiri keduanya, sebelum akhirnya Hazal membuka suara.
"Kamu ngapain kesini?". Keangkuhan khas milik Hazal jika berada di kantor.
"Aku---". Harfei tampak gugup. Karena baru pertama kali pria itu melihat Hazal yang sedang duduk di kursi kebesaran nya, seolah menunjukan kesan pemimpin yang angkuh.
Harfei menelan salavi nya untuk beberapa kali.
"Kalau kamu tidak memiliki kepentingan, silahkan keluar dari ruangan ini, saya sedang sibuk". Tutur Hazal dan kembali menatap laptop miliknya, padahal sebenarnya hati wanita itu merasa iba karena melihat rona penyesalan di wajah Harfei.
"Hazal, maaf kan aku atas apa yang terjadi kemarin di taman. Aku benar-benar tidak sengaja mengatakan itu. Aku hanya ingin membuatmu kesal. Karena kamu akan terlihat manis ketika kesal. Jadi aku sengaja mengatakan itu semua. Bagiku kekesalan mu itu adalah nilai tambah dari mu. Dan aku suka itu".
Dengan satu kali tarikan napas Harfei menyampaikan uneg-uneg nya pada Hazal. Dan Hazal pun menatap tak percaya atas kejujuran pria yang sedang berdiri tegak di hadapannya itu sambil meremas kedua tangannya.
"Hahahaha". Tawa Hazal pun pecah hingga memenuhi ruangan itu.
"Apa kamu bilang tadi?. Aku manis?. Hahahaha. Apa kamu baru sadar kalau aku manis?. Itu bawaan sejak lahir tau". Maka kumat lagi keangkuhan Hazal.
Harfei mengutuk kejujurannya sendiri dalam hati.
'Sialan, kenapa otak jujur ku bekerja sih?. Bisa besar kepala dia nanti'. Batin Harfei.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu saya maafkan".
"Ha?".
"Kenapa?. Apa kamu tidak mau saya maafkan?"
"Bukan, bukan. Bukan begitu".
Harfei menyipitkan matanya sedikit seraya berkata dalam hati,
'Ternyata wanita ini kalau di puji akan meluluhkan hatinya. Baiklah Harfei, turunkan sedikit harga dirimu saat ini. Yang terpenting kalian sudah baikan".
"Ah, maksudku terimakasih karena sudah mau memaafkan ku dan melupakan kejadian kemarin". Lanjutnya kemudian sebelum ia diam sejenak.
"Eits, kamu jangan senang dulu. Aku memaafkan mu ada syaratnya". Tutur Hazal sambil menyatukan jari-jari tangan nya,
'Wanita ini ternyata berbahaya juga'. Batin Harfei. Ia merasa khawatir akan syarat yang di berikan padanya.
"Apa itu?". Tanyanya kemudian.
"Kamu harus jadi sahabat ku".
"Ha?". Mulut Harfei sedikit ternganga merasa tak percaya akan syarat dari Hazal.
"Itu saja syaratnya?".
Hazal menaikan bahunya dengan santai.
"Baiklah, kita berteman". Harfei berjalan mendekati Hazal dan mengulur kan tangannya pada wanita itu.
"Hai, perkenalkan namaku Harfei Iskandar. Panggil saja saya Harfei, asal jangan Iskandar, karena itu nama ayah saya". Hazal tampak tersenyum akan sikap Harfei seolah mereka baru saja berkenalan. Meskipun dulu kenalannya juga gak resmi sih.😁.
"Hazal Kaya. Namaku Hazal Kaya. Panggil saja Hazal. Kaya juga boleh, asal jangan Kaya Monyet. Haha". Mereka pun tertawa dan melupakan kejadian yang sempat membuat hubungan keduanya memanas.
Sonia yang menyaksikan keduanya dari balik jendela ruang Hazal pun tersenyum bahagia.
Lalu Hazal dan Harfei pun berkata, jangan lupa like dan vote. Terimakasih.😄
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading 😊.
*Dede...
__ADS_1