
"Apa kamu sudah gila?".
"Ya, aku memang gila!. Atau berikan Harfei padaku. Maka aku akan melepaskan kalian berdua sekaligus".
"SINTIA!". Bentak Sonia dengan raut wajah yang emosional. Dirinya seolah tak bisa menahan diri lagi. Ingin rasanya wanita itu menampar mulut saudara kembarnya itu hingga berdarah.
"Terserah kalian berdua. Aku tidak akan memberi kalian pilihan lain lagi".
Tak lama setelah itu, suara pintu terbuka dan muncullah Harfei seorang diri. Sintia, Sonia, dan Hazal menoleh ke arah pintu yang terbuka itu.
"Mas Harfei?". Ucap Hazal dan Sonia secara bersamaan.
"Lepaskan istriku Sintia!".
Hazal sangat terkejut karena ternyata Harfei mengetahui nama wanita yang menodongkan senjata di kepalanya itu.
"Ow... Mas Harfei sayang. Akhirnya kamu datang juga. Kenapa lama sekali?". Ucap Sintia dengan wajah yang di buat-buat.
"Aku bilang lepaskan dia Sintia!. Atau aku tidak akan memaafkan mu". Ancam Harfei. Namun bukannya takut dan menghentikan aksinya, wanita psikopat itu justru tertawa sumbang seolah mengejek Harfei.
"Hahahaha. Apakah kamu sadar mas Harfei dengan apa yang baru saja kamu katakan?". Lalu berubah memasang wajah serius dan tajam
"Ini adalah wilaayahku, aku yang berkuasa disini dan seseorang yang menjadi temanku selama kabur dari rumah sakit jiwa". Sintia menoleh pada arah pintu belang gudang.
"Paman, masuklah". Titah Sintia. Dan masuklah pria paruh baya yang cukup asing di mata Harfei dan Hazal, serta Sonia.
__ADS_1
Pria paruh baya itu menggunakan setelan jas hitam, kacamata hitam, topi hitam, serta menggunakan tongkat yang menjadi senjata andalannya.
"Jadi kalian sudah berkumpul semua rupanya. Sintia, apakah mereka semua harus aku bunuh?". Ucap pria paruh baya itu seraya menghisap rokoknya.
"Silahkan lakukan paman, aku akan menyaksikan tontonan gratis ini dengan senang hati". Ucap Sintia dengan senyum menyeringai.
Sintia sangatlah licik, ia mengundang Harfei dengan umpan yang kuat yaitu Hazal, sementara Sonia?. Bahkan wanita itu tidak sanggup untuk menatap mata Hazal karena rasa bersalah yang teramat sangat dalam.
"Apakah bayaran ku naik 10 kali lipat?". Tanya pria paruh baya itu dengan suara dingin.
"Tentu saja. Pria itu sangatlah kaya, begitu juga dengan istrinya. Kamu bisa menguasai semua kekayaan mereka sekaligus setelah mereka mati". Balas Sintia dengan raut wajah di penuhi kebencian.
"Lalu bagaimana dengan wanita yang wajahnya mirip denganmu itu?". Pertanyaan itu untuk sesaat membuat Sintia terdiam seolah memikirkan sesuatu.
Hening...
"Bunuh juga dia. Setelah itu aku yang akan menggantikan dirinya menjadi istri sekaligus ibu bagi suami dan anaknya". Sintia menarik sudut bibirnya membentuk senyum menyeringai sekali lagi.
"Sintia, kakak mohon. Biarkan Hazal dan mas Harfei pergi. Bunuh saja aku. Aku kan yang menjadi sumber utama kebencian mu?. Jadi bunuh saja aku. Kakak mohon". Sonia masih berupaya untuk membujuk agar saudara kembarnya itu mau berubah pikiran dan melepaskan Hazal serta Harfei. Hati wanita itu di liputi rasa bersalah yang teramat dalam hingga ia rela menukar nyawanya dengan sepasang suami yang merupakan sahabat dan bosnya tersebut.
"Sonia, apa yang kamu katakan?. Apa kamu sudah gila?". Tandas Hazal.
"Ya, aku sudah gila. Aku bahkan lebih gilanya dari pada adik ku sendiri. Aku bahkan tega mengkhianati persahabatan kita demi wanita gila itu Hazal. Hiks... Hiks...". Sonia mulai terisak. Air mata serta perasaan yang sedari tadi di tahan kini sudah tak bisa di bendung lagi.
"Apa kau tau betapa besar beban yang harus aku pikul selama ini?. Aku tidak bisa membayar semua perbuatan ku itu padamu Hazal, bahkan dengan aku menukar nyawaku sekalipun!". Lanjutnya kemudian. Raut wajah Sonia sangat kentara menggambarkan penyesalan dan juga rasa malu yang sangat luar biasa.
__ADS_1
"Sonia, kamu tidak bersalah selama ini. Kamu hanya berusaha mencurahkan kasih sayang pada adikmu meski dengan cara yang salah". Tandas Harfei yang sedari tadi diam.
"Tidak mas Harfei, aku adalah penyebab utama masalah ini. Jika saja waktu itu aku tidak mengikut keinginan Sintia, mungkin semuanya tidak akan terjadi seperti ini. Hiks... Hiks...". Sonia Kembali terisak hingga membuat hati Hazal dan Harfei merasa iba. Keduanya dapat melihat betapa besar rasa bersalah di mata wanita cantik itu.
"Sonia". Ucap Hazal dengan suara lirih.
"Apa kalian sudah selesai dengan negosiasi nya?. Bolehkan aku mengambil alih perdebatan kalian?". Tandas Sintia dengan raut wajah yang di buat-buat. Dan saat itu juga ingin rasanya Harfei menggaruk wajah wanita itu dengan kukunya hingga wajahnya tak bisa di kenali lagi.
"Sintia, bunuh saja aku". Ucap Sonia sambil memukul-mukul dadanya.
"Ya.. Ya.. Kamu juga pasti akan mati, tenang saja Kakak". Balas Sintia dengan santainya seolah tak memiliki beban sama sekali.
Situasi saat ini semakin mencekam. Dimana semakin banyak anggota mafia yang masuk dalam gudang tua itu. Mereka adalah anak buah dari bos mafia yang Sintia sebut sebagai paman tadi.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?". Tanya Harfei akhirnya setelah mendapatkan cela untuk mendekati Hazal. Pria itu membuka ikatan tangan Hazal lalu memeluk wanita itu dengan erat. Pelukan rindu, cinta, sesal, dan juga lega. Ya, Harfei lega karena Hazal tidak terluka meski setelah itu apakah mereka masih akan selamat atau tidak.
Sementara Hazal belum bergeming, wanita itu diam terpaku. Ia masih bingung dengan situasi yang di hadapinya saat ini.
Harfei melepas pelukannya lalu kemudian beralih mengecup kening Hazal secara bertubi-tubi hingga Sintia melerai keduanya dengan sangat kasar.
"Berhenti melakukan adegan yang menjijikan itu di depan ku atau aku akan membunuh kalian saat ini juga!". Teriak Sintia dengan suara keras hingga memenuhi ruangan itu.
"Kau---". Harfei mencekik leher Sintia dengan erat, namun tak lama Sintia menodongkan pistol pada bagian perut pria tersebut hingga Harfei merenggangkan cekikan di lehernya.
"Aku sudah katakan padamu kalau disini adalah wilayah ku". Harfei menatap tajam pada wanita gila itu, ingin rasanya ia menelan mentah-mentah wajah Sintia.
__ADS_1
"Paman, bunuh mereka semua!". Titah Sintia dengan senyum menyeringai.
Lalu kemudian Harfei dan Hazal berkata, jangan lupa like dan vote yang banyak ya Readers.😁