Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 5. Biro Jodoh.


__ADS_3

Keesokan harinya, tepatnya Sabtu sore. Hazal sedang bersiap-siap untuk menemui seorang pria yang berasal dari agen biro jodoh. Keduanya sepakat akan bertemu di sebuah restoran bintang 5.


Mobil warna putih Hazal telah melaju dengan kecepatan rata-rata, ia tidak mau terburu-buru untuk sampai tujuan, lagi pula waktu masih menunjukan pukul 17.00.


*****


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, kini mobil Hazal terparkir sempurnah di tempat parkir restoran dimana ia akan menemui pria dari agen biro jodoh tersebut.


Hazal mendapat pesan dari agen yang bernama Nadia, bahwa meja yang di pesan adalah nomor 9. Dan ternyata pria yang akan di temuinya itu belum datang, itu artinya ia harus menunggu. Satu hal yang Hazal kurang suka adalah menunggu, karena menunggu sungguh membosankan baginya. Namun karena Hazal merencanakan sesuatu, maka ia harus membuang egonya itu demi tercapainya tujuan dari rencananya tersebut.


Hazal mendaratkan tubuhnya di kursi dan meletakan tas branded miliknya di atas meja. Hazal yang mengenakan gaun berwarna hitam polos dan sedikit terbuka di bagian dadanya, telinganya di hiasi anting berbentuk panjang, dan rambutnya yang berwarna madu di gerai membuat wanita itu tampak cantik. Ternyata makeup dapat mengubah wajah Hazal yang biasa-biasa saja menjadi lebih cantik.


Di liriknya benda yang melingkar di tangan kirinya guna melihat waktu. Ternyata waktu telah menunjukan pukul 18.30, itu artinya Hazal telah menghabiskan waktunya untuk menunggu selama satu jam.


Sudah 3 kali pelayan menawarkan minum pada Hazal, namun wanita itu selalu menolak. Hazal hendak menelpon Nadia untuk membatalkan pertemuan nya dengan pria itu, namun belum sempat ia memencet nomor ponsel Nadia, seorang pria berjas hitam menghampiri nya sambil tersenyum.


"Hazal?".


"Iya".


"David. Nama saya David".


David mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan, namun Hazal tampak diam dan bingung. David yang melihat ekspresi wajah Hazal pun paham akan kebingungan wanita tersebut.


"Kata ibu Nadia saya akan menemui seorang wanita yang bernama Hazal di meja nomor 9".


Mendengar penjelasan itu, Hazal pun paham. Terlebih lagi wanita itu mengingat nama Nadia yang merupakan pemilik agen biro jodoh tersebut.


"Ah, iya maaf. Silahkan duduk". Hazal menyambut uluran tangan David sambil tersenyum manis pada pria itu.


Kini keduanya pun tampak canggung terutama Hazal. Ini pertama kalinya wanita itu mengikuti biro jodoh, namun beruntung kecanggungan itu tidak berlangsung lama kala seorang pelayan datang menghampiri keduanya untuk memesan makanan. Kebetulan yang sangat pas. Pikir Hazal.


Keduanya makan dalam diam, tak ada yang bersuara, hingga suara deheman menyadarkan keduanya dan menoleh pada suara tersebut.


"Ehem".


Betapa terkejutnya Hazal ketika melihat Harfei telah berdiri tepat di hadapannya dengan mengenakan setelan jas berwarna hitam, dan wajahnya yang di tumbuhi bulu-bulu tebal, kini tidak menghiasi lagi wajah itu. Rambutnya di cukur rapi hingga menambah poin ketampanan pria tersebut.


Untuk sesaat Hazal terpesona akan ketampanan Harfei, namun kesadarannya seketika Kembali karena mendengar suara seorang wanita.


"Sayang, aku disini". Lina memanggil Harfei. Ya, keduanya membuat janji makan malam di restoran yang sama, namun siapa sangka, Harfei dan Hazal bertemu di waktu yang kurang tepat.

__ADS_1


"Iya sayang". Jawab Harfei. Hazal menundukan kepalanya, ia sangat malas melihat pasangan yang menurutnya membuat matanya sakit atau mungkin... Hatinya yang sakit?. Entahlah.


"Ternyata kita bertemu disini lagi. Hai, aku Harfei". Harfei mengulurkan tangannya memperkenalkan diri pada David, dan keduanya pun bersalaman.


"Apakah anda kekasih dari wanita ini?". Tanya Harfei sambil menunjuk Hazal. Dan Hazal yang mendengar pertanyaan Harfei pun segera menjawab pertanyaan itu sebelum David membuka suara untuk berkata bahwa mereka sedang dalam pertemuan yang di rencanakan oleh agen biro jodoh.


"Tentu saja dia kekasihku". David yang mendengar jawaban Hazal sontak membuat mata pria itu beralih melihatnya. Hazal yang tampak canggung pun memasang wajah seolah ia menyuruh David untuk membenarkan pernyataannya.


"Ah, dia kekasih saya. Kalau boleh tau Anda siapa?". Jawaban David membuat perasaan Hazal lega, wanita itu mengembuskan nafas lega seolah bebannya terangkat.


"Ah, saya adalah---".


"Dia adalah tukang sate langganan ku". Potong Hazal.


"Ya, benar aku adalah tukang sate ayam tempat biasa nona Hazal menghabiskan waktu makan siangnya di kedai ku". Balas Harfei. Pria itu hendak pergi namun langkahnya berhenti sejenak dan beralih berbisik pada David, namun masih bisa di dengar oleh Hazal.


"Hati-hati dengan wanita itu, dia suka menggigit". Lanjutnya kemudian dan meninggalkan keduanya menuju kekasihnya berada.


Hazal yang mendengar ucapan Harfei pun sangat kesal. Di kepal tangannya dengan erat hingga menampakan buku-buku jarinya.


'Sialan kamu Harfei. Awas saja kamu, aku akan membalas mu'. Gerutu Hazal dalam hati.


"Ah, iya". Hazal cukup tersentak mendengar pertanyaan David.


"Tapi pria tadi cukup tampan untuk menjadi seorang tukang sate".


"Apakah kita harus membahas orang lain dalam pertemuan kita ini?". Tanya Hazal dengan wajah serius. Sejujurnya hati wanita itu sangat kesal jika ia mendengar nama Harfei, terlebih lagi ia harus melihat Harfei bertemu kekasihnya di tempat yang sama, menambah poin kesakitan nya.


"Ah, maaf. Sepertinya Anda tidak menyukai topik ini. Baiklah, aku rasa aku akan memulai dari pekerjaan Anda dulu. Apa pekerjaan Anda?". Tanya David berusaha mengalihkan pembicaraan, dan keduanya pun larut dalam percakapan mengenai privasi masing-masing. David sang General Manager di sebuah bank swasta merasa nyaman pada Hazal yang bekerja pada perusahaan Ayahnya sebagai direktur utama.


Hazal tertawa akan lelucon David, ternyata pria itu memiliki selera humor yang tinggi, hingga tawa itu sampai ke telinga Harfei.


Lina yang sedang memotong daging di piring nya, kini menatap Harfei penuh tanya.


"Ada apa sayang?. Kok bengong?".


"Ah, tidak apa-apa. Ayo lanjutkan makan mu". Harfei berusaha menyembunyikan sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Sementara Hazal terus tertawa hingga David terpesona akan Hazal yang tampak cantik malam itu.


Puas berbincang-bincang, kini keduanya pun pulang dengan mengenakan kendaraan masing-masing. Awalnya David menawarkan tumpangan pada Hazal, namun karena Hazal membawa mobil sendiri, maka keduanya pun akhirnya harus jalan masing-masing.

__ADS_1


*****


Satu Minggu setelah pertemuan Hazal dan David, komunikasi keduanya cukup intens. Hanya saja mereka belum bertemu lagi setelah pertemuan malam itu karena terhalang kesibukan masing-masing.


Selama seminggu itu pula, Hazal tidak mendatangi kedai Harfei, membuat pria itu heran.


"Wawan, kenapa Nona Hazal dan sahabatnya tidak pernah kesini lagi?". Tanya Harfei pada Wawan yang sedang membakar sate ayam, namun Wawan yang masih serius akan kegiatannya itu, hanya menaikkan bahunya tanda tak tahu.


"Apa kamu tahu dimana dia?". Sekali lagi Wawan menaikan bahunya, membuat Harfei kesal.


"Aku amplas bahu mu Wawan jika kamu terus menaikan nya!". Tiba-tiba Harfei sangat kesal pada karyawan satu-satunya tersebut, membuat pria bertubuh kurus itu heran.


"Terus saya harus ngapain bang?. Saya kan memang tidak tau dimana nona Hazal dan sahabatnya".


Telak mati. Memang benar kan Wawan tidak mengetahui dimana Hazal?. Kecuali Harfei menanyakan dimana penjual ayam langganannya, baru Wawan tahu.😄.


"Ya sudah. Kamu lanjutkan. Gak bisa di andalkan". Gerutu Harfei lalu meninggalkan Wawan dalam kebingungan.


"Bang Harfei kenapa?. Apa dia kesambet setan Durjana ya?" Wawan bermonolog dan menaikan bahunya tanda tak perduli.


'Hazal, kamu dimana?'. ~ Harfei.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2