
Malam harinya Harfei sedang berada di ruang kerja. Pria itu tampak sangat serius mengerjakan sesuatu dengan menggunakan laptop yang di letakan di atas meja. Tak lama setelah itu pintu terbuka dan muncullah ibu Harfei dengan segelas kopi.
"Apa ibu mengganggu mu, Ndu?". Tanya ibu yang masih berdiri di ambang pintu.
"Masuklah Bu, aku sudah selesai kok". Harfei menutup laptop nya lalu kemudian menatap ibu yang tampak gusar. Wanita paruh baya itu seolah memendam sesuatu di dalam sana.
"Apakah ibu baik-baik saja?". Tanya Harfei menyentak ibu dari lamunannya.
"Ah iya. Ibu baik-baik saja sayang". Meletakkan cangkir kopi ke meja.
"Ibu ingin mengatakan sesuatu padamu". Ragu-ragu ibu ingin mengatakan segala yang mungkin akan membuat hati Harfei terluka. Luka yang bahkan mungkin sudah lama kering dan kini akan menganga kembali ketika mengatakan sesuatu yang menyangkut masa lalunya.
Ibu duduk di kursi sofa setelah meletakan cangkir kopi Harfei. Lalu kemudian Harfei menyusul ibu untuk duduk di sisi wanita paruh baya tersebut.
"Ada apa Bu?. Apa ibu sedang mencemaskan sesuatu?. Katakanlah". Ucap Harfei seraya memegang tangan ibu. Ibu tampak berusaha untuk tenang, namun sejujurnya hati wanita paruh baya itu merasa gundah, antara akan berbicara atau justru menundanya. Keheningan sejenak menghampiri Keduanya, tak ada yang saling berucap. Sementara Harfei masih setia menunggu ibu untuk mengumpulkan seluruh keberanian dan mengatakan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Hening...
Hingga,
"Apakah kamu tidak berniat untuk menemui ayahmu, Ndu?". Seketika genggaman tangan Harfei merenggang. Hatinya berdesir hebat di dalam sana. Seolah ada gejolak yang meronta, ingin marah tapi tak bisa di luapkan, ingin menangis tapi ia tak memiliki alasan untuk menangis, terlebih lagi ia harus menangis pria yang sudah tega meninggalkan ibu serta dirinya yang bahkan belum bisa berpijak di dunia ini kala itu.
Harfei membuang wajahnya ke sembarang arah, aura kebencian sangat jelas terpancar di wajahnya yang tampan. Urat kepalnya seolah ingin keluar menandakan kemarahan. Mata pria itu mulai berkaca-kaca, bukan ingin menangis bahagia, tetapi tangis luka yang sengaja di torehkan oleh ayah kandungnya sendiri. Bahkan pria paruh baya itu juga tega melakukan kejahatan hingga menembus internasional. Begitu juga dengan Hazal. Pria itu tega menyekap Hazal yang merupakan menantunya di sebuah gudang tua sehingga istri pria tersebut merasa terguncang. Harfei sadar bahwa ayahnya tidak mengenal dirinya, namun itu tetap saja adalah sebuah kesalahan dan dosa.
"Harfei tidak ingin menemui siapapun Bu. Ayah Harfei sudah mati!". Tandas Harfei. Ia semakin terluka ketika menyebut kata Ayah. Bahkan sejujurnya hati pria tersebut merasa sakit kala mengatakan ayahnya sudah mati.
"Ndu, dia ayahmu. Dia adalah penyebab kamu lahir ke dunia ini. Tidak bisakah kamu membuka hati mu dan memaafkannya?". Ucap ibu lembut. Ia berusaha untuk membujuk hati putranya yang beku.
"Lalu apakah ibu sudah memaafkan pria itu?".
Seketika ibu diam. Sejujurnya ia juga belum sepenuhnya memaafkan pria yang pernah mengisi hari-harinya dulu, bahkan mungkin tidak akan pernah memaafkan pria tersebut.
"Kenapa ibu diam?. Apakah ibu sudah memaafkan pria itu?. Jawab Bu, jawab". Suara Harfei mulai mengeras hingga memenuhi ruangan itu.
"Ibu tidak bisa memaafkan dia kan?. Lalu kenapa seolah ibu memaksakan kehendak ibu untuk aku memaafkannya?". Air mata yang sedari tadi di tahan akhirnya turun juga hingga tak bertepi. Sisi terlemah Harfei seolah mencuat ke permukaan wajah hingga menguasai seluruh tubuhnya. Begitu juga dengan ibu, wanita paruh baya itu menahan gejolak amarah yang ingin menguap. Tapi apalah daya, dia hanyalah seorang ibu yang bertugas mengajarkan kebaikan kepada putra-putri nya tentang kebaikan meski tidak segampang membalikkan telapak tangan.
__ADS_1
"Ketahuilah, Ndu. Bahwa seorang istri bisa saja marah kepada suaminya. Bahkan mereka bisa saja berpisah atau bercerai hingga menjadi mantan suami dan istri, tapi tidak ada yang namanya mantan anak, Ndu". Ucap ibu dengan suara lirih. Ia seolah mengenang masa-masa sulit dulu ketika bersama Wisnu.
"Ayahmu memang salah, bahkan dia tidak pantas untuk di maafkan. Ibu juga belum bisa memaafkan semua perbuatannya dulu pada ibu. Hiks... Hiks...". Wanita paruh baya itu mulai terisak pilu, hatinya terasa sakit hingga ke ubun-ubun.
"Tapi temui lah dia untuk yang terakhir kalinya sebelum ajal menjemput Harfei. Hu... Hu... Hu...". Tangisan pilu ibu pecah ketika mengatakan kematian akan menjemput mantan kekasih halalnya dulu. Begitu juga dengan Harfei, pria itu terkejut bukan main. Hatinya sakit dan terluka. Tubuhnya gemetar, lututnya seolah tidak bertenaga lagi untuk berpijak, otaknya menjadi pening, dan akhirnya air mata pun keluar mulus mengenai pipinya yang di tumbuhi bulu-bulu halus.
"A--apa yang ibu katakan?". Suara Harfei seolah tercekat di tenggorokannya, bahkan dia seolah sulit untuk bernapas.
"Ayahmu akan di jatuhi hukuman mati atas segala perbuatannya Harfei. Dia akan mati. Hu... Hu...". Tangis ibu pun semakin pilu. Mungkin ia belum bisa memaafkan pria paruh baya itu, namun tak bisa di pungkiri bahwa ada desiran rindu yang melekat hebat di dalam sana, namun kemarahan mendominasi perasaan itu.
"Dia memang pantas untuk mendapatkan itu semua. Pria itu harus membayar semua kejahatannya". Harfei masih tetap dengan pendiriannya, ia terlalu keras Kepala. Bahkan hatinya pun seolah membeku. Namun tidak dengan wajahnya, wajah pria itu seolah berkata lain. Sepertinya... Sakit?.
Ibu kehabisan kata untuk membujuk Harfei. Dia pun pergi meninggalkan pria itu yang masih diam tak berkata. Sementara Hazal menyaksikan keduanya dari balik pintu.
Tak lama setelah itu Hazal pun masuk dan berjalan mendekati Harfei yang tengah duduk membelakangi dirinya.
"Mas". Hazal menegang pundak Harfei. Sementara Harfei belum bergeming, ia menyeka air matanya agar Hazal tidak melihat air mata itu, lalu kemudian tersenyum pada istrinya.
"Sayang, kamu disini?. Apakah kamu butuh sesuatu?". Harfei seolah menyembunyikan perasaannya yang gundah. Namun Hazal bisa mengetahui hati pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Mas, aku---".
****
Keesokan paginya, Hazal melihat Harfei sudah rapi dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
"Mas mau ke kantor?". Tanya Hazal dengan suara khas bangun tidur.
"Iya sayang, hari ini aku ada pertemuan dengan klien penting". Balas Harfei seraya memasang dasi. Hazal menyibakkan selimut ke sisi kanannya, lalu kemudian berjalan mendekati Harfei dan membantu suaminya itu untuk memasang dasi.
"Mas".
"Hm".
"Apakah mas tidak ingin menemui ayah?". Tanya Hazal ragu-ragu.
__ADS_1
"Ayah sedang berada di luar negeri sayang. Lusa baru akan pulang". Harfei seolah tak paham kemana arah pembicaraan Hazal.
"Maksudku ayahmu mas". Harfei menghentikan gerakannya lalu kemudian ingin beranjak pergi. Namun Hazal menghentikan nya.
"Mas, temuilah dia sekali saja". Pinta Hazal.
"Hazal. Aku sudah tidak punya ayah. Bagiku dia sudah mati".
Hazal tersenyum kala mendengar kalimat yang di lontarkan Harfei. Ia dapat melihat ada desiran rindu dalam hati suaminya itu, namun seolah di tahan.
"Mas, anggap saja dia sudah mati. Lalu apakah kamu tidak ingin mengunjungi makamnya?". Harfei masih belum bergeming. Ia diam seribu bahasa. Hazal memeluk tubuh kekar suaminya itu dengan penuh kehangatan.
"Mas, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Terlepas dia adalah seorang mafia yang sangat jahat, dia tetaplah seorang ayah. Tidak ada orang tua yang mau membunuh anaknya mas". Hazal melepas pelukannya dan menatap manik mata coklat Harfei dalam-dalam.
"Jika itu terjadi padamu, apakah kamu akan merasa bahagia ketika anakmu menolak keberadaan mu?".
Skak mati...
Kalimat itu seolah menghujam jantung Harfei. Hingga keheningan membaluti keduanya.
"Sayang, tolong jangan paksa aku". Lirih Harfei setelah beberapa saat diam.
Hazal tersenyum.
"Baiklah Mas. Aku minta maaf jika mas merasa tersinggung. Tapi cobalah untuk pikirkan sekali lagi, em?". Mengecup bibir Harfei.
"Baiklah, sepertinya mas sudah terlambat ke kantor". Lanjut hazal kemudian menyentak Harfei dari lamunan.
"Ha?. Ah iya. Aku berangkat dulu". Mengecup kening Hazal lalu kemudian pergi meninggalkan wanita itu dalam kamar dengan hati yang gundah. Kalimat sederhana Hazal seolah sukses membuat hati Harfei bergejolak hebat.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC.