Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 48. Laporan Detektif Reza.


__ADS_3

Di rumah, Hazal tengah membantu ibu mertuanya di dapur. Tiba-tiba saja ponsel miliknya berbunyi menandakan panggilan masuk.


Di raihnya benda pipih tersebut yang di letakan di atas meja makan.


"Halo".


"..."


"Baiklah. Kita bertemu di tempat biasa".


"..."


"Ok. Aku akan kesana 30 menit lagi".


Hazal mengakhiri panggilan itu lalu meminta izin pada ibu mertuanya. Setelah mendapatkan izin dari wanita paruh baya tersebut, Hazal masuk ke kamar untuk berganti baju.


Wanita itu mengenakan dress berwarna biru dan menggunakan tas selempang kulit. Di raihnya kunci mobil di atas nakas lalu kemudian memacu mobilnya hingga ke sebuah restoran.


****


Di restoran, tampak seorang pria tengah duduk sembari meminum kopi. Di sisi kirinya ada sebuah amplop berwarna coklat.


"Tuan Reza".


"Nona Hazal. Akhirnya Anda datang juga".


"Maaf aku terlambat. Tadinya setelah Anda menelpon saya langsung menuju kesini, tapi saya memastikan dulu situasi kita aman".


Ya, yang menelpon Hazal tadi adalah detektif Reza. Pria itu ingin memberikan hasil penyelidikan nya selama beberapa bulan ini. Penyelidikan yang sempat Hazal lupakan untuk beberapa saat kini telah rampung.


"Ini adalah hasil penyelidikan saya selama dua bulan terakhir. Saya harap laporan ini bisa membantu Anda".


Hazal mengambil amplop berwarna coklat tersebut dan merobek ujungnya, namun wanita itu belum membaca apa isi dari laporan tersebut.


"Satu lagi Nona Hazal. Saya rasa Tuan David tidak terlibat dalam hal ini, begitu juga dengan Nona Helena. Wanita itu adalah sepupu dari tuan David yang sedang memerlukan uang".


"Ibu Nona Helena menderita kanker payudara stadium lanjut. Jadi wanita itu memerlukan uang yang banyak untuk mengoperasi ibunya. Jadi dia meminta bantuan pada tuan David. Itulah sebabnya hampir setiap hari keduanya bertemu".


Hazal sangat terkejut mendengar laporan Detektif Reza. Tak di sangka jika selama ini Helena menyimpan beban hidup yang cukup berat. Beruntung David yang merupakan sepupu wanita tersebut masih mau membantunya.


"Lalu bagaimana dengan nomor ponsel peneror itu?".


"Anda bisa melihat semuanya dalam laporan ini Nona. Tapi ingat satu hal,"


Raut wajah detektif Reza berubah menjadi serius, pria itu mendekatkan wajahnya pada Hazal, lalu berkata,


"Hati-hati terhadap orang di sekeliling Anda Nona. Terkadang apa yang Anda anggap setia justru dialah pengkhianat sejati".


Mata Hazal membulat sempurna seolah tak percaya dengan ucapan pria bertubuh kekar tersebut.


"Baiklah Tuan Reza. Terimakasih atas bantuan Anda sampai sejauh ini".

__ADS_1


Hazal memberikan amplop berwarna putih sebagai imbalan dari pekerjaan detektif Reza. Dan pria itu pun meninggalkan Hazal yang masih setia di restoran tersebut. Tanpa di sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari kursi yang tak jauh jaraknya dari keduanya.


****


Selama 30 menit Hazal berada di restoran itu sambil menatap amplop berwarna coklat yang di berikan oleh deteksi Reza. Ujung dari amplop tersebut telah terbuka karena Hazal merobeknya tadi, namun wanita itu masih belum melihat isi dari amplop yang berukuran besar tersebut.


Hazal merasa ragu akan isi laporan itu, setelah mendengar kalimat terakhir detektif Reza tadi, entah mengapa hati Hazal menjadi gusar. Di tatapnya amplop tersebut dengan perasaan ragu.


"Bagaimana jika yang aku pikirkan benar. Ah, tidak mungkin. Aku tidak percaya". Hazal semakin gusar, bermain-main dengan pikirannya yang mulai ragu akan sesuatu.


Akhirnya Hazal membuka amplop itu dan melihat hasil laporan Detektif yang hampir 30 menit yang lalu meninggalkan dirinya.


Betapa sangat terkejutnya Hazal kala melihat isi laporan Detektif Reza. Tangan wanita itu bergetar, matanya mulai berkaca-kaca, rona tak percaya sangat jelas terpancar di wajah wanita bermata coklat tersebut.


"I--ini tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin dia. Tidak mungkin. Tidak mungkin...".


Hazal mengulang kalimat yang sama merasa tak percaya. Hati Hazal hancur, sakit, kecewa, dan terluka dalam waktu yang bersamaan. Air mata yang sedari tadi di tahannya kini tak bisa di bendung lagi.


"Hu... Hu... Hu... Tidak mungkin. Aku tidak percaya ini. Hu... Hu... Hu...".


Hazal menangis sembari meremas kertas berwarna putih itu. Tubuh wanita itu masih bergetar hebat, jantungnya berdegup kencang, bahkan kepalanya mulai pusing, dan air mata wanita itu tampak masih belum menyurut.


Selama hampir satu jam Hazal menangis dalam restoran. Setelah tangisan itu mulai menyurut, akhirnya wanita itu beranjak pergi sebelum akhirnya ia memasukan kembali kertas yang berisi laporan tadi dalam tas.


****


Satu Minggu setelah pertemuan Hazal dan detektif Reza, Hazal kembali mendapatkan teror.


'Apa kabar?. Apakah kamu bersenang-senang selama aku tidak menggangu mu?. Kamu jangan senang dulu, akan aku pastikan kau hancur lebur sampai ke dasar bumi, hingga kau lupa bahwa kau pernah hidup di dunia ini'.


"Apa yang sedang kamu lakukan?".


"Sonia?".


Sonia menyentuh pundak Hazal dan membuat wanita itu tersentak.


"Ada apa?. Apakah terjadi sesuatu?".


Sonia mulai khawatir. Namun Hazal berusaha untuk menetralkan perasaan nya yang sempat gusar. Ia menyeka air mata yang berada di ujung matanya yang hampir jatuh dan menarik napas dalam-dalam.


"Aku baik-baik saja. Tadi mataku kemasukan debu".


Hazal terpaksa berbohong, ia mengingat ucapan detektif Reza tempo lalu bahwa wanita itu harus berhati-hati pada orang terdekatnya.


"Ah, baiklah. Oh iya, aku hampir lupa menanyakan sesuatu padamu".


Kening Hazal berkerut penuh tanya.


"Tentang apa?".


"Bagaimana dengan Helena dan David?. Apakah sudah ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka pelaku teror sebenarnya?. Selama beberapa bulan ini aku melupakan masalah mu. Mas Riyan hampir tiap malam tidak membiarkan ku tidur tepat waktu".

__ADS_1


Hazal belum bergeming, ia menatap lekat-lekat mata Sonia, berusaha mencari sesuatu di dalam sana.


"Aku rasa Helena salah satu peneror itu, tapi untuk David aku tidak yakin".


Ucap Hazal akhirnya setelah beberapa saat diam. Wanita itu berbohong akan kecurigaan nya pada Helena.


"Sejak awal aku sudah curiga kalau Helena adalah peneror sebenarnya. Dan David membantu wanita rubah itu". Sonia tampak kesal ketika menyebut nama Helena. Terbukti dari raut wajahnya yang merah karena menahan amarah.


"Bagaimana jika pelakunya adalah orang lain yang sangat dekat dengan ku?".


DUARR...


Bagai petir di siang hari, Sonia mendengarkan pertanyaan yang tak pernah di pikirkan selama ini. Mata wanita itu membulat, jantungnya berpacu dengan keras.


"A--apa maksudmu?".


Suara Sonia berubah menjadi gusar, seolah ia merasa takut akan sesuatu.


"Lupakan saja. Aku hanya sedang berpikir, bagaimana kalau orang itu justru bukan Helena tapi orang lain?. Hehe".


Hazal tersenyum sumbang, sementara Sonia mengembuskan napas lega seolah baru saja terlepas dari suatu beban.


"Kamu membuatku takut saja".


"Takut apa?".


Sekali lagi Hazal menatap manik mata coklat Sonia, membuat wanita tersebut merasa canggung.


"Aku takut jika yang kamu katakan benar adanya bahwa pelakunya bukan Helena tapi justru orang terdekat mu. Bagaimana kalau itu si kurus Wawan?. Dia kan orang terdekat mu di restoran ini".


Untuk sesaat keheningan menghampiri keduanya, hingga Jamil yang merupakan kurir di restoran Hazal masuk dalam ruangan wanita tersebut.


"Permisi mba Hazal, ada seseorang yang sedang mencari Anda di bawah".


"Baiklah. Aku akan segera turun".


Hazal beralih menatap Sonia yang tampak termenung.


"Apakah kamu masih mau di ruangan ini?".


"Ha?. Ah, iya. Ayo kita turun ke bawah".


Dua wanita itu pun beranjak pergi untuk menemui seseorang yang akan bertemu Hazal.


.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC.


__ADS_2