Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 65. Kedatangan Ibu.


__ADS_3

Pria paruh baya itu pun memberi perintah pada anak buahnya yang mengepung tempat itu hingga Harfei, Hazal, dan Sonia berada di tengah-tengah diantara mereka. Dan tiba-tiba saja,


"Jangan bergerak!".


Semua orang yang berada di tempat itu menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Dino?".


Ya, Dino datang dengan pasukannya yang banyak melebihi jumlah dari para anggota mafia. Bahkan pria tampan berlesung pipi itu pun membawa sekumpulan tentara dan mengepung semua lokasi kejadian.


"Jatuhkan senjata kalian atau tempat ini akan meledak". Ancam Dino. Pria itu sudah memasang benda seolah itu adalah bom dan suatu waktu akan meledak dan menghancurkan tempat itu hingga berkeping-keping.


Tak lama setelah itu datanglah kedua orang tua Hazal serta ibu mertua wanita tersebut dan menyaksikan situasi yang sangat mencekam itu.


"Mas Wisnu?".


"Ratna?"


Ibu Harfei yang bernama Ratna itu sangat terkejut ketika melihat kepala mafia yang di panggil paman oleh Sintia. Hatinya bergejolak, jantungnya berdegup kencang, otaknya seolah berputar-putar mengingat masa lalu, lutut wanita paruh baya itu pun bagai tak bertenaga lagi untuk berpijak di pelataran bumi, matanya berkaca-kaca hingga air mata itu turun bagai tak bertepi.


"Mas Wisnu". Lirih ibu Harfei.


"A--apa yang mas lakukan?".

__ADS_1


"Ratna, apa yang sedang kamu disini?. A--pakah--?". Pria paruh baya yang ternyata bernama Wisnu itu tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Suaranya bagai tercekat di tenggorokan. Ia kembali mengenang masa lalu bersama wanita yang di tinggalkan nya itu.


"Paman, apa lagi yang paman tunggu?!. Bunuh mereka semua paman". Ucap Sintia seolah memaksakan kehendaknya. Wanita itu tampak tidak sabar untuk menyaksikan tiga orang yang menjadi sanderanya tersebut mati.


DUARRR...


Bagai petir di siang hari, kalimat itu menghujam ke jantung ibu Harfei hingga ke pori-porinya. Otak dan hatinya seolah lumpuh, hatinya sakit tapi tak berdarah.


"A-apa?. Bunuh?. Mas Wisnu, Harfei adalah putramu!. Apakah kamu akan membunuh darah daging mu sendiri?!".


Semua orang yang ada di tempat itu sangat terkejut mendengar ucapan ibu Harfei, tak terkecuali Harfei. Kalimat itu seolah tamparan keras untuknya. Bagaimana bisa ayahnya seorang kepala mafia di negeri ini?. Ya, pria paruh baya yang di bernama Wisnu itu adalah Ayah Harfei. Pria itu pergi meninggalkan istri dan anaknya yang bahkan belum bisa berjalan, yakni enam bulan.


Ketika itu Wisnu merasa tertekan dengan himpitan ekonomi yang semakin meningkat hingga ia memilih jalan yang justru membuat istrinya sakit dan terpuruk, yaitu meninggalkan Ratna dan putra semata wayangnya Harfei.


Setelah menjadi orang kepercayaan bos mafia yang paling di takuti di negeri ini, akhirnya Wisnu menjadi orang kaya yang memiliki segalanya. Selama mengabdi pada bos mafia tersebut, Wisnu menjadi penjahat yang tidak segan-segan untuk melumpuhkan lawannya dengan sadis. Namun kemudian bosnya yang bernama King Kobra tersebut mati terbunuh karena terkena tembakan dari lawan sesama mafia. Namun sebelum mati, Kobra memberi amanat pada Wisnu agar tetap menjalankan bisnis ilegalnya, lalu kemudian pria itu juga mewariskan semua aset kekayaannya pada Wisnu. Jadilah Wisnu bos mafia menggantikan King Kobra dan menguasai seluruh aset kekuasaan nya yang tak terhingga.


"Anak?. Harfei?". Tidak mungkin". Wisnu terus menampik bahwa salah satu sanderanya adalah darah dagingnya sendiri.


"Bagaimana bisa aku--- tidak mungkin". Masih terus melawan perasaannya, hingga kemudian---


DOR...


"HAZAL..."

__ADS_1


"Aaaaaakkkk---".


Semua orang yang berada di tempat itu berubah menjadi tegang, situasinya semakin mencekam kala Sintia tiba-tiba saja merebut senjata api yang berada di tangan Wisnu ketika pria itu lengan. Lalu kemudian wanita psikopat itu mengarahkan senjata apinya pada Hazal, namun Sonia mendorong Hazal dan wanita itulah yang terkena tembakan dari saudara kembarnya sendiri.


"Sonia. Apa yang kamu lakukan?. Bangun Sonia". Hazal membaringkan Sonia di pangkuannya, wanita itu pingsan dan bersimbah darah. Sementara Harfei masih belum bergeming, ia masih terpaku pada pria paruh baya yang menjadi bos mafia terbesar di negeri ini, namun siapa sangka ternyata pria itu adalah Ayah kandungan nya sendiri. Hatinya hancur berkeping-keping, perasaan Harfei tak dapat terlukiskan dengan kata-kata. Ia memandang Wisnu dengan tatapan, benci, marah, sakit, terluka, dan juga rindu. Ya, Harfei merindukan Ayahnya. Tidak bisa di pungkiri jika pria bermata coklat itu merindukan sosok ayah yang selama ini pergi entah kemana. Bahkan ketika itu dia masih belum mengenal wajah Ayah kandungnya. Ibu tidak pernah menunjukkan foto ayahnya, wanita paruh baya itu hanya mengatakan hal-hal baik menyangkut ayahnya. Tapi siapa sangka, ayahnya justru seorang kepala mafia terbesar yang di cari-cari oleh polisi.


"Angkat tangan. Jangan ada yang bergerak".


DOR.. DOR...


"Aaaak---".


Akhirnya Wisnu berhasil di lumpuhkan beserta anak buahnya termasuk Sintia. Wanita itu mati terkena tembakan dari Dino. Karena wanita psikopat itu berusaha untuk mengarahkan pistolnya pada Ayah Hazal. Beruntung Dino melihat nya dan dengan gerakan cepat menembak Sintia.


"Tangkap dan bawa mereka semua!". Titah Dino.


Sementara Wisnu tidak bergeming sama sekali. Pria paruh baya itu menatap penuh sesal pada wanita yang sempat mengisi hari-harinya, ibu Harfei. Tak lama setelah itu Sonia yang pingsan di bawah ke rumah sakit, begitu juga dengan Hazal. Wanita itu mengalami guncangan yang hebat sehingga ia hampir saja kehilangan bayi yang di kandung nya. Beruntung janin itu sangat kuat.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut>>>


__ADS_2