
Mentari hari ini tampak bersemangat untuk bersinar hingga menyinari bumi. Sinar itu pun tampak tak segan untuk menembus jendela kamar milik dua insan yang tengah bergelayut sambil berpelukan. Pagi ini begitu sangat cerah, secerah hati sang pria kala semalam jaringan onlinenya lancar jaya, puas dengan berbagai macam gaya, sungguh istri yang luar biasa, melayani suami tanpa mengenal lelah.😁
"Assalamualaikum istriku". Ucap Harfei sembari mengecup kening Hazal. Wanita itu pun membuka matanya dengan sedikit bermalas-malasan, mungkin efek kelelahan.
"Waalaikumsalam mas". Suara serak khas baru bangun tidur.
"Ayo bangun, hari ini aku mau makan rawon buatan mu. Mengisi stamina untuk menggantikan pengeluaran semalam". Mendengar ucapan itu, mau tidak mau Hazal pun beranjak dari tempat tidur. Meski badannya masih terasa pegal, tugas dan kewajiban seorang istri haruslah tetap di laksanakan.
"Tadi pas habis sholat subuh, mas kemana?". Tanya Hazal sembari memakai baju daster yang baru saja di ambilnya dari lantai akibat ulah suaminya yang membuang sembarang di lantai semalam.
"Tadi selepas sholat subuh aku ke dapur buat mengecek ada stok daging atau tidak buat menu hari ini". Ya, tadi selepas sholat subuh berjamaah, Hazal melanjutkan tidurnya, sedangkan Harfei memilih untuk ke dapur guna memeriksa perlengkapan menu sarapan mereka. Saat Hazal ingin minum karena merasa tenggorokan nya kering, ia tak menemukan suaminya di sampingnya.
"Pantes mas menyuruhku buat masak rawon. Ya sudah, mas mandi dulu sana. Aku siap-siap dulu ke dapur". Dua manusia itu pun melakukan tugas masing-masing hingga waktu sarapan tiba.
****
Setelah sarapan usai, tiba-tiba saja suara bel rumah berbunyi. Hazal pun membuka pintu rumah yang bercat warna coklat itu.
"Assalamualaikum. Mba Hazal".
"Waalaikumsalam. Helena".
Ya, Helena yang tadi memencet bel rumah itu dan memecahkan konsentrasi Hazal memasangkan dasi suaminya. Hazal pun menyuruh wanita itu untuk masuk.
"Siapa, sayang?". Tanya Harfei.
"Itu mas, ada Helena". Harfei menatap Helena dengan tatapan datar bagai tak berekspresi. Ia memilih untuk mengecup kening istrinya dan pergi ke kantor. Ia tidak mau bergabung dengan dua wanita yang membuat hatinya bosan. Terlebih lagi pria itu tidak ingin membuka pertemanan dengan sang mantan kekasih. Baginya, teman yang terbaik adalah istrinya seorang.
"Mas berangkat dulu. Hati-hati di rumah. Jangan sampai terkena bisa ular piton". Harfei sengaja melihat kearah Helena sambil menekan kata bisa ular piton. Hazal merasa tak enak hati pada Helena pun mencubit pinggang suaminya itu sembari berbisik,
__ADS_1
"Mas gak boleh kaya gitu. Ularnya udah aku jinakin kok". Harfei pun meninggalkan istrinya dan sang mantan, sedangkan ibunya tadi selepas sarapan pergi ke kampung sebelah karena ada acara pernikahan.
"Ada apa Helena kemari?. Ada yang bisa aku bantu?". Tanya Hazal sambil meletakan cangkir teh untuk Helena.
"Maaf mba, saya kesini mau meminta bantuan mba Hazal". Ujar Helena tak enak hati.
"Gak apa-apa kok Helena. Selama saya masih bisa bantu, akan saya upayakan".
"Begini mba. Kedatangan saya kemari untuk meminta bantuan pada mba Hazal agar kiranya mba mau memberikan saya pekerjaan di restoran mba Hazal. Saya jadi pelayan atau tukang cuci piring juga gak apa-apa deh mba, asal saya dapat kerja". Ucap Helena dengan wajah sendu dan di akhiri dengan suara lirih. Hazal pun merasa iba akan permintaan Helena itu.
"Emang awalnya kamu kerja apa Helena?".
"Dulu sewaktu papa masih hidup aku tidak melakukan apa-apa mba. Papa selalu menutupi kebutuhan hidup kami dengan bergelimang harta. Tapi setelah beliau meninggal---". Mengembuskan napas berat, lalu melanjutkan ceritanya,
"kami tidak memiliki apapun lagi. Hanya rumah yang kami punya. Bahkan aku harus membantu ibu yang mulai sakit-sakitan".
Mendengar penjelasan Helena pun hati Hazal terasa tercubit, dan semakin iba pada wanita itu. Dalam hati ia merasa bersyukur karena masih di beri kenikmatan oleh Tuhan sampai saat ini yang tidak semua orang punya.
Sepulang Helena dari rumah itu, Hazal pun menelpon Harfei dan memberitahukan jika Helena butuh pekerjaan. Awalnya Harfei menolak, namun karena Hazal menjelaskan perihal kehidupan Helena saat ini, pria itu pun memberinya izin, tapi dengan catatan jangan terlalu percaya dan dekat dengan Helena. Hal itupun di setujui oleh Hazal.
*****
Keesokan harinya, Helena mulai bekerja di restoran mini milik Harfei dan Hazal. Wanita itu menjadi pelayan. Anton sang koki pun merasa terpikat akan gadis cantik yang menjadi pelayan baru di tempatnya bekerja.
"Zal, kenalin ke aku dong tu cewek baru". Ucap Anton berbisik di telinga Hazal.
"Iya, bentar lagi kita akan Breifing. Jadi kamu akan mengenalnya. Lima menit lagi kita akan Breifing sebelum buka".
Kini semua karyawan telah berkumpul untuk Breifing sekaligus memperkenalkan Helena pada karyawan lainnya.
__ADS_1
"Perkenalkan ini adalah Helena. Karyawan baru di restoran kita. Saya harap kalian mau membimbingnya dan bekerjasama dengan baik". Ucap Hazal.
"Saya bisa kok mba bimbing dia sampai dunia akhirat". Celetuk Wawan secara tiba-tiba sambil tersenyum menunjukkan giginya yang sedikit berwarna kuning, membuat yang lainnya menatap pria bertubuh kurus itu dengan tatapan tajam terutama Anton.
"Anak kecil belum boleh menjadi pemimpin, tubuh kamu saja masih kurus begitu, bagaimana bisa mau jadi pemimpin?". Ejek Anton.
"Tubuh saya memang kecil bang, tapi ular saya besar kok, banyak bisanya lagi". Masih tak mau kalah.
"Itu bisa kamu beracun". Semua yang mendengar perdebatan antara Anton dan Wawan pun tertawa, tak terkecuali Helena. Wanita itu berpikir dalam hatinya, ia sangat bersyukur menemukan orang-orang baru yang terasa seperti keluarga.
"Helena, maafkan mereka ya?. Mereka memang selalu begitu". Suara Hazal memecahkan lamunan Helena dan membalas wanita itu dengan senyuman.
"Gak apa-apa kok mba. Saya mengerti".
"Ya sudah semuanya. Ayo kita mulai pekerjaan kita hari ini. Wawan, berikan laporan rutin kamu ke saya. Anton, sajikan masakan spesial kita hari ini. Tuti, Susi, Siska, Sarif, Jamil, Reno, dan Helena, kerjakan tugas kalian masing-masing. Jangan buat pelanggan kita kecewa". Titah Hazal sang Mrs. Perfeksionis.
Dan hari ini pun di lalui dengan pekerjaan yang cukup melelahkan. Karena permintaan pelanggan yang membludak, terutama pesanan secara online. Beruntung Jamil dan Reno sangat lihai untuk urusan antar mengantar pesanan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Next.