
Setelah resmi menikah dengan Hazal, pekerjaan Harfei pun berubah. Dimana ia harus mengikuti jejak sang ayah mertua mengurus perusahaan. Sedangkan bisnis restoran yang di gelutinya selama ini di alihkan pada Hazal. Wanita itu menjadi manager di restoran milik Harfei. Namun tidak setiap hari ia datang ke restoran itu, tetapi Hazal lebih sering mengontrol lewat website restoran, atau melalui Wawan orang kepercayaan mereka sejak lama.
Bukan tanpa alasan Hazal dan Harfei bertukar peran dan kerjaan. Tapi itu adalah keputusan bersama. Hazal memutuskan untuk fokus menjadi istri yang baik, menyambut suami ketika pulang kerja, namun bukan berarti ia hanya berdiam diri di rumah. Ada kontrol restoran yang selalu di lakukan nya.
Sedangkan Harfei, ia menyetujui permintaan ayah mertuanya untuk membantu di perusahaan karena suatu saat nanti perusahaan itu akan berpindah tangan dan beliau sudah tak lagi mudah. Sudah saatnya untuk pensiun.
Hari-hari Harfei lalui dengan mempelajari perusahaan. Butuh waktu sebulan hingga ia mampu menguasai semua nya hingga harus begadang setiap malam dan melupakan sejenak bercocok tanam. Tapi tetap saja ayah mertuanya masih mendampingi dirinya agar tidak melakukan kesalahan ketika menemui klien, terlebih lagi ada penawaran bekerjasama.
Tidak ingin mengambil resiko besar, setiap kali pulang ke rumah Harfei selalu meminta bantuan Hazal untuk menyelesaikan tugas yang di berikan oleh ayah mereka.
Beruntung Harfei bukanlah pria yang lemot. Berbekal pengalaman membangun bisnis restoran nya, Harfei bisa menguasai tentang Management keuangan.
Begitu juga sebaliknya. Semua yang berkaitan dengan restoran telah di alihkan pada istrinya Hazal. Bukankah sekarang mereka telah menjadi suami istri?. Suami istri harus saling mendukung satu sama lain. Meski jorok namun Hazal tetap cinta, kendati tak jarang juga wanita itu harus mengomel dan memprotes suaminya yang tiap kali tidur selalu ileran, pakaian di letakkan di manapun ia mau, bahkan parahnya lagi pria itu selalu mengupil dan suka kentut sembarang. Seperti saat ini.
Hazal sedang merapikan tempat tidur, tiba-tiba saja ia mendengar suara yang membuat asam lambungnya kambuh.
Pret... Pret... Pret...
Suara kentut Harfei berkumandang memenuhi kamar mereka. Hazal yang tengah sibuk merapikan kamar pun sontak menutup hidungnya.
"Mas, bisa gak sih jangan kentut sembarang?". Protes Hazal. Pria itu tidak memperdulikan Omelan Istri nya. Ia dengan santainya menjawab,
"Seandainya kentut itu bisa aku buang ke tong sampah sudah lama aku akan menyediakan tong sampah khusu kentut disini".
"Ya ampun mas, bukan itu maksud aku. Kalau mau kentut itu harus izin dulu". Masih tetap kekeuh memprotes.
"Ngapain minta izin sama istri sendiri buat kentut? Emang mau poligami minta izin?". Jawaban yang menurut Harfei sebagai candaan justru sukses membuat Hazal naik pitam.
__ADS_1
"Mas berani poligami, aku potong batang pisang mas dan menjadikan makanan kambing pak Ahmad". Tatapan tajam bagai menghunus ke jantung dan suara meninggi. Begitulah Hazal saat ini. Harfei yang sadar akan kemarahan Istri nya pun di buat merinding, membayangkan batang pisangnya di mutilasi sungguh hal yang tidak boleh terjadi. Bisa-bisa pria itu tidak bermodal lagi. Sama halnya hidup segan mati pun sungkan.😄.
"Astaga sayang. Kok serem amat ya ancamannya?. Gak ada poligami kok, yang ada cuma poli gigi. Tuh, lihat gigi ku rusak". Ingin membuka mulut namun di tutup oleh Hazal.
"Mas bau tau gak. Mending mas mandi deh. Supaya gak bau liur. Rambut juga gak acak-acakan. Sakit mata ku lihat mas yang jorok begitu". Gerutu Hazal sambil melipat tangan ke dadanya.
"Kalau aku ganteng, ntar banyak lagi yang naksir. Emang kamu mau banyak wanita yang bertengger di depan rumah karena penasaran untuk menyaksikan ketampanan suami mu ini?". Goda Harfei sambil menaik turunkan alisnya.
"Kalau para wanita berani mengganggu mas, aku akan menyiram mereka dengan air keras, termasuk batang pisang ini, supaya rontok sekalian rumputnya dan bentuknya pun kendur". Sambil memencet pisang Harfei dan meninggalkan suaminya dalam kebisuan.
"Sejak kapan dia berubah jadi wanita sadis begitu?. Bisa mati di mutilasi anu ku kalau salah sedikit saja". Harfei merinding membayangkan anunya di mutilasi.
*****
Di dapur, ibu Harfei sedang memasak soto ayam, nasi putih, ikan kuah kuning dan ikan lele goreng serta sambal terasi kesukaan Harfei.
"Ini ibu masak masakan kesukaan kalian". Wanita paruh baya itu tersenyum sambil meletakan semua menu makanan di meja makan.
"Bu, tadi Hazal sudah membersihkan ruang tamu dan ruang lainnya. Termasuk halaman rumah Bu. Semuanya aman". Hazal mengacungkan jempol nya pertanda bahwa semua kegiatan rumah tangga telah selesai di kerjakan. Ya, selama menjadi seorang menantu dan tinggal di rumah mertuanya, Hazal selalu membagi kegiatan dalam rumah. Dimana ia bertugas untuk bersih-bersih rumah, sedangkan ibu mertuanya bertugas untuk memasak. Terkadang mereka juga saling membantu. Kerjasama yang baik bukan?. Bukankah sudah selayaknya seperti itu?. Seorang wanita ketika menikah maka ibu mertuanya akan menjadi ibunya juga. Begitu juga sebaliknya.
****
Di restoran. Wawan sedang membaca sebuah artikel mengenai pernikahan dini di ponsel miliknya. Hal yang marak terjadi di kalangan muda mudi saat ini.
Sementara pria bertubuh kurus itu sedang fokus akan aktivitas bacanya, tiba-tiba Harfei mengetuk meja kasir dimana ia berada.
Tok... Tok...
__ADS_1
Wawan mengangkat kepalanya dan tersenyum.
"Eh bang Harfei. Tumben kesini bang?". Melepaskan ponsel miliknya dan di masukan dalam saku celananya.
"Bagaimana keadaan disini?. Apa semuanya baik-baik saja?". Tanya Harfei.
"Aman bang. Apa mba Hazal tidak memberitahu Abang kalau semuanya aman tanpa kendala. Bahkan omset kita juga meningkat. Permintaan setiap harinya meningkat hingga 45 %". Pencapaian yang cukup memuaskan buat Harfei.
"Hazal sudah memberikan laporannya padaku. Aku hanya mau mendengar secara langsung dari mu". Terdiam sejenak.
"Aku keatas dulu. Ada yang harus aku kerjakan". Tuturnya kemudian sambil berlalu meninggalkan Wawan.
.
.
.
.
.
.
.
Next.
__ADS_1