Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 37. Cara Harfei Meminta Maaf.


__ADS_3

Perdebatan yang cukup menguras emosi itu berakhir dengan pelukan satu sama lain. Keduanya pun melepas pelukan tersebut dan saling memandang. Tatapan Harfei penuh mendamba, sementara Hazal membalas tatapan yang sama. Kedua insan itu seolah di landa asmara, bagai lama tak bersua. Harfei mengelus rambut Hazal, lalu beralih ke pipi, bibir dan juga dagu.


Hazal merasa melayang dan juga meremang akan belaian Harfei, tatapan mata keduanya terkunci dan kembali saling melempar dambaan.


Harfei mengecup kening Hazal dengan lembut, lalu ke pipi dan kehidung. Bibir nakal Harfei beralih ke telinga Hazal dan berbisik,


"Sayang, online yuk?". Bisikan yang begitu sen*** membuat Hazal meremang, terasa panas dingin menyerang. Wanita itu tersenyum sambil berkata,


"Jaringan mulus".


Mendengar itu Harfei pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Lama tak bertamu di lahan istrinya membuat pria itu merindu. Lahan botak nan mulus tak berumput.


Bibir nakal itu mulai mentransfer air liur, bermain-main di tempat ternyaman, seolah mengabsen setiap benda yang ada di dalam sana.


Puas mengabsen, kini benda kenyal nan tipis itu berpindah ke gunung Himalaya Hazal, gunung yang selalu menghasilkan larva panas di bawah sana, mencetak stempel kepemilikan di berbagai area. Memutar-mutar dengan gaya favorit, yaitu mencari siaran. Siaran yang tentunya tak menghasilkan tayangan selayaknya dalam TV layar terbang.


Dua insan itu pun menyelipkan masing-masing doa dalam hati, berharap rumah tangga yang di bina tetap harmonis bagai simponi yang indah.


****


Pagi harinya Hazal membuka mata ketika mentari mulai masuk ke dalam kamar. Melihat sang suami masih tertidur pulas, napasnya bergerak teratur.


Tangan Hazal mulai meraba wajah tampan itu, seolah tidak puas hanya melihat.


"Apa kamu masih menginginkan nya sayang". Harfei berkata tanpa membuka mata.


"Tidak, semalam sudah cukup onlinenya. Hari ini jaringan offline. Badanku terasa remuk". Balas Hazal seraya menaikan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Semalam itu sebagai bentuk permintaan maaf ku, dan pagi ini sebagi wujud cintaku".


Kalimat sederhana yang mengandung makna mengambang itu pun di balas dengan tatapan tajam dari Hazal.


"Jadi maksud mas Harfei semalam itu bukan karena cinta?. Tapi karena merasa bersalah?".


Mata Harfei terbuka karena mendengar nada suara Hazal sudah mulai mengeluarkan nada kekecewaan.


"Aku hanya bercanda sayang". Mengecup kening Hazal sejenak lalu beralih meraih tangan wanita tersebut seraya berkata,

__ADS_1


"Untuk menyentuhmu tidak harus aku melakukan kesalahan terlebih dahulu lalu kemudian meminta maaf dengan cara seperti semalam. Aku benar-benar menginginkan nya karena aku mencintaimu lahir batin".


Hazal tersenyum bahagia dengan kalimat Harfei. Bagai ribuan kupu-kupu berterbangan di atas kepala wanita itu.


"Mas, apa aku boleh bertanya sesuatu?". Tanya Hazal setelah beberapa saat diam. Wanita itu tampak ragu-ragu untuk berkata-kata.


"Silahkan sayang. Kamu boleh mengatakan ribuan kalimat padaku, aku siap mendengarkan".


Manik mata coklat itu menatap dalam-dalam mata suaminya.


Hening...


Hening...


Hingga,


"Apa kamu tidak merasa jika seseorang mencintai mu dengan jarak yang cukup dekat namun terkesan sembunyi-sembunyi?"


Pertanyaan itu sukses membuat Harfei tercengang, bagaimana bisa Hazal mengutarakan pertanyaan yang sama sekali tidak pernah di pikirkan nya.


"Bagaimana jika ada wanita lain yang mencintaimu lebih dari aku dan ibu?". Tatapan Hazal seperti tak terbaca. Kening Harfei berkerut.


"Maka aku akan membuang jauh-jauh cinta wanita itu". Hazal tak mampu lagi menyusun pertanyaan. Baginya sudah cukup.


"Baiklah. Sebaiknya kita mengakhiri pertanyaan konyol ini. Siang ini aku harus menemui Tuan Alexander dan aku harus menyiapkan segalanya di restoran". Hazal mengalihkan pembicaraan agar Harfei tidak merasa curiga padanya.


"Baiklah. Aku percaya padamu sepenuhnya".


Percakapan itupun berakhir, dan keduanya kembali menjalankan aktivitas masing-masing setelah semalam bercocok tanam.


****


Hari ini Harfei dan Hazal menghabiskan waktu berdua di rumah. Bercengkrama dan juga berbagi hal yang menyenangkan. Karena hari ini adalah hari Minggu, jadi Keduanya tak masuk kerja.


"Mas, sejak kapan mas mengenal Helena?". Tanya Hazal sembari meremas jari tangan Harfei.


"Untuk apa kamu menanyakan wanita itu?. Aku bahkan tidak ingat kapan pertama kali aku melihatnya". Jawab Harfei datar. Pria itu masih sangat kecewa pada Helena. Bukan karena masih cinta, hanya saja sebagai pria harga dirinya hancur karena sikap Helena yang memandang rendah Harfei kala itu.

__ADS_1


"Mas, aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh lagi. Maksudku, aku tidak tau masa lalu mas dulu seperti apa. Jadi jika mas tidak keberatan, bisa gak beritahu aku?". Hazal memasang wajah penuh permohonan. Harfei tidak tahan dengan wajah memelas istrinya yang tampak menggemaskan itu.


"Baiklah". Harfei menggenggam tangan Hazal.


"Saat itu aku belum mengenal cinta. Untuk ukuran pria dewasa seperti ku sungguh naif sekali aku belum mengenalnya. Aku hanyalah pedagang sate pinggir jalan yang terlahir dari keluarga sederhana. Ayahku yang pergi entah kemana membuatku semakin tidak ingin mengenal cinta".


"Dulu aku berpikir bahwa aku baik-baik saja tanpa wanita. Satu-satunya wanita yang aku punya hanyalah Ibu. Beliau adalah wanita setia yang pernah aku temui".


"Hingga suatu ketika aku mengenal Helena di kedai ku. Entah apa yang membuatku terpikat akan pesona wanita itu. Namun karena kebersamaan kami setiap hari di kedai menumbuhkan cinta di dalam sini". Harfei memegang dadanya.


"Tapi aku tidak pernah tau jika Helena tidak pernah mencintai ku, dia hanya mengagumi ku saja karena ketampanan ku dan mengatasnamakan cinta. Padahal dia sadar betul bahwa itu bukanlah cinta. Hingga kami pun putus". Harfei menyudahi cerita masa lalunya sembari menatap lekat mata Hazal.


"Dan aku tidak mau kamu seperti dia. Aku mencintaimu setulus hatiku, sepenuh jiwaku. Dan jika kamu mematahkan hatiku, itu artinya kamu membunuhku secara perlahan". Ucap Harfei tulus setelah beberapa saat diam.


Hazal memegang pipi Harfei dengan lembut dan membalas tatapan Harfei,


"Aku bahkan tidak berencana untuk mati tanpamu, Mas. Entah sejak kapan aku mulai menyukai pria jorok ini. Tapi percayalah, jantungku selalu berdetak hanya ketika berada di samping mu".


Kalimat yang panjang kali lebar itu menciptakan senyuman di wajah Harfei. Dalam hati pria itu berucap syukur karena memiliki istri seperti Hazal. Mencintai nya tanpa syarat.


Dan hari itu pun di lalui Hazal dan Harfei saling berbagi cerita masa lalu. Berbagi rasa, suka dan duka. Dengan harapan, hubungan yang di bina dengan awalan ijab qobul hingga berakhir ke liang lahat.


Lalu kemudian Hazal dan Harfei pun berkata, jangan lupa like dan vote yang banyak ya Readers.😁


.


.


.


.


.


.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2