Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 51. Kabar Duka.


__ADS_3

Setelah pertemuan rahasia antara Hazal dan Helena, kedua wanita itu akhirnya berpisah. Awalnya Hazal menawarkan tumpangan pada Helena, namun wanita itu menolak karena jika mereka bersama bukan tidak mungkin akan ada seseorang yang melihat keduanya, dan bisa jadi itu adalah pelaku teror yang sebenarnya.


Hazal akhirnya menerima alasan Helena. Tak ingin mengambil resiko, akhirnya Helena pulang dengan memesan Taxi online.


Hazal memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Pikiran wanita itu di landa kebimbangan, antara percaya dan tidak terhadap situasi yang di hadapinya saat ini.


"Apakah aku harus memberitahu mas Harfei?". Hazal bermonolog.


"Tidak, tidak, aku harus merahasiakan ini dulu sampai semuanya jelas. Aku harus mengumpulkan bukti-bukti yang akurat agar mas Harfei percaya".


Hazal menaikan kecepatan mobil yang di pacunya agar cepat sampai ke rumah. Namun di tengah-tengah dirinya mengendarai mobil berwarna hitam tersebut, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.


Hazal menghentikan mobilnya di tepi jalan untuk menerima panggilan tersebut, ia meraih benda pipih itu lalu kemudian meletakkan di telinganya.


"Halo mas. Ada apa?".


"..."


"Apa?!".


"...".


"Baik mas, aku akan segera kesana".


Tangan Hazal gemetar, tubuhnya bagai tak memiliki tenaga lagi. Di pacunya mobil berwarna hitam itu dengan kecepatan tinggi agar ia cepat sampai ke tujuannya.


****


Satu jam kemudian Hazal sampai ke rumah Sonia. Di depan rumah sahabatnya itu terpampang jelas bendera kuning pertanda sedang berduka.


Ya, tadi Hazal menerima telepon dari Harfei jika ibu Sonia meninggal dunia. Entah apa penyebabnya, Harfei masih belum tau. Sonia belum bisa di ajak bicara, jiwanya masih terguncang akibat kabar duka yang di dengarnya secara tiba-tiba pula.


Hazal masuk ke dalam rumah yang bercat putih kombinasi coklat itu dengan perasaan sedih dan duka. Ia melihat Sonia tengah duduk di sisi kiri jenazah ibunya. Ia menatap nanar jenazah wanita paruh baya yang sudah di anggapnya sebagai orang tua itu.


Hazal menyentuh bahu Sonia. Wanita itu tampak tak menyadari keberadaan Hazal yang sudah berada di sisinya selama lima menit yang lalu.


"Sonia".


"Hazal".


Sonia memeluk tubuh Hazal membenamkan wajahnya di dada wanita itu lalu kemudian ia menangis sejadi-jadinya. Ya, hanya pada Hazal lah Sonia mampu mengeluarkan segala emosi dan hasrat nya.


"Ibu Hazal, ibu. Hu... Hu... Hu...". Tangis Sonia pecah bagai tak tertahankan lagi. Hazal merasa iba kala tangisan Sonia semakin besar dan terdengar sangat pilu. Hati wanita itu ikut sedih dan terluka.


"Sssttt, tenanglah. Aku ada disini untukmu".

__ADS_1


Hazal mengusap belakang Sonia berusaha untuk menenangkan wanita berparas cantik tersebut. Namun tiba-tiba saja Sonia pingsan dalam pelukan Hazal. Lalu Hazal meminta bantuan pada Harfei yang sedari tadi diam menyaksikan dua sahabat yang saling melepas rasa, dan di bantu oleh kerabat lainnya yang berada di tempat tersebut.


****


Kini Hazal dan Sonia berada dalam kamar dimana Sonia istirahat. Hampir setengah jam lamanya wanita itu pingsan.


Sonia mengerjab kan matanya, ia telah sadar dari pingsan beberapa saat yang lalu.


"Hazal".


"Sonia?. Kamu sudah sadar?. Minumlah ini dulu".


Hazal memberikan segelas air putih untuk Sonia agar sahabat yang di kasihi nya itu merasa tenang.


"Apa kamu sudah merasa lebih baik?". Tanya Hazal, dan Sonia pun menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan wanita tersebut.


"Ceritakan padaku, sebenarnya apa yang terjadi?. Bukankah Tante Dewi baik-baik saja?. Apakah terjadi sesuatu sebelumnya?". Tanya Hazal secara beruntun namun masih dengan suara lembut agar sahabatnya itu tak merasa tertekan.


"Aku juga tidak tau Hazal. Tadi pagi sebelum aku berangkat ke kantor ibu baik-baik saja, tapi setelah itu aku mendapat kabar dari Samuel kalau ibu, kalau ibu... Hiks... Hiks.. Hu... Hu...".


Sonia tak sanggup lagi melanjutkan ceritanya, ia kembali menangis kala mengingat wanita yang telah melahirkan nya itu telah tiada.


Hazal memeluk Sonia dan membenamkan kepalanya di dada wanita tersebut. Ia berusaha untuk terus menenangkan Sonia. Perlahan isakan wanita itu mulai menyurut.


"Sssst, tenanglah".


"Semalam ibu baik-baik saja, bahkan dia meminta cucu perempuan dariku. Dan aku mengiyakan permintaan ibu".


Sonia mengusap air matanya seraya tersenyum kala mengingat momen dimana ibunya meminta cucu perempuan pada wanita cantik itu.


"Setelah itu aku memberitahu mas Riyan, dan kami pun sudah memprogram anak kembar sekaligus. Dan tadi pagi kami memberitahukan rencana kami pada ibu, dan betapa bahagianya ibu mendengar rencana kami".


Sonia mengembuskan napas berat lalu kemudian menyeka kembali air mata yang selalu turun menghiasi wajah cantiknya.


"Dan tadi pagi aku berangkat ke kantor tanpa curiga sama sekali. Dan tiba-tiba saja Samuel menelpon ku jika ibu jatuh pingsan. Aku langsung pulang meninggalkan mas Harfei yang sedang meeting. Aku langsung membawa ibu ke rumah sakit, tapi ternyata nyawa ibu sudah tidak tertolong lagi. Dan kata dokter ibu keracunan obat yang di konsumsinya setelah usai sarapan tadi pagi".


Mata Hazal membulat sempurna kala mendengar alasan ibu Sonia meninggal dunia. Wanita itu tampak tak percaya.


"Keracunan obat?. Bagaimana bisa?".


"Aku juga tidak tau, obat yang ibu konsumsi selama ini berdasarkan resep dokter, kami tak pernah salah. Tapi entah mengapa tiba-tiba ibu di nyatakan keracunan obat yang bahkan selama beberapa tahun ini di konsumsinya".


Sekali lagi Hazal merasa ada yang aneh dari cerita Sonia. Untuk beberapa saat keheningan menyelimuti keduanya, hingga suara seseorang menyadarkan mereka.


"Sayang".

__ADS_1


"Mas Riyan".


Riyan baru saja sampai setelah tadi pagi berangkat ke luar kota untuk melaksanakan perjalanan bisnisnya, namun baru saja pria berkacamata itu tiba di tempat tujuan, ia mendapat kabar duka jika ibu mertuanya telah meninggal dunia.


Sonia memeluk erat tubuh suaminya, lalu ia kembali terisak.


"Mas, ibu mas, ibu sudah tidak ada. Hiks... Hiks...".


"Tenanglah sayang, kamu jangan terlalu bersedih. Jika kamu sedih, maka ibu juga akan sedih disana. Apa kamu mau ibu sedih, em?".


Riyan menyeka air mata istri yang di cintainya itu lalu beralih mengecup keningnya.


"Sabarlah, ibu sudah tenang disana. Kamu jangan khawatir, ibu adalah wanita yang baik, Tuhan akan menempatkan dirinya di tempat yang terindah dan berada di antara orang-orang beriman. Percayalah padaku".


Akhirnya Sonia merasa tenang. Wanita itu sudah tak menangis lagi. Hazal yang sedari tadi diam akhirnya mengajak Sonia untuk keluar dan mengurus jenazah ibunya yang akan di semayamkan beberapa saat lagi.


****


Jenazah ibu Sonia telah di makamkan dekat dengan makam suaminya yang lebih dulu berpulang menghadap Sang Khalik.


Sonia masih belum mau beranjak dari tempat pemakaman ibunya, ia menatap nanar makam wanita yang telah melahirkan nya itu.


"Ibu, maafkan Sonia jika selama ini Sonia punya banyak dosa sama ibu".


Sonia memeluk nisan ibunya, lalu memegang tanah makam yang masih basah itu dengan tangan gemetar.


"Ibu, Sonia akan menjalankan amanah ibu dulu. Sonia janji".


Sonia akhirnya pulang ke rumahnya bersama Riyan dan Hazal serta Harfei. Namun sebelum itu, Sonia mencium nisan ibunya dan berjanji akan sering mengunjungi tempat peristirahatan terakhir wanita paruh baya yang sangat di cintainya itu.


.


.


.


.


.


**TBC.


Assalamualaikum. Hai Readers, apa kabar?. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.


Author tak pernah bosan untuk mengingatkan jangan lupa like, komen dan vote yang banyak ya. Terimakasih.

__ADS_1


*Dede**...


__ADS_2