
Sepulang dari rumah Ayah, Harfei tampak tak tenang. Pikiran nya di baluti kerisauan, kata-kata sederhana yang di lontarkan Ayah seolah bermain di atas kepala pria tampan tersebut.
Ingatan akan foto-foto Hazal bersama David kembali terngiang. Bagaimana tidak, hampir setiap hari foto Hazal bersama David dan pria lainnya di kirim untuk Harfei, dan semua foto itu hampir memenuhi laci meja kerja pria tersebut. Bahkan Harfei juga mendapatkan teror yang mengatakan bahwa istrinya telah selingkuh. Hati suami mana yang tak sakit kala mendengar istri yang di cintai nya sepenuh hati memiliki pria lain. Namun Harfei selalu menampik akan hal itu. Dia berusaha untuk diam dan tenang. Entah itu jebakan atau hanya orang iseng yang ingin bermain-main dengannya. Pikir Harfei.
"Mas, hari ini ke kantor gak?".
Pertanyaan Hazal membuyarkan lamunan Harfei. Pria itu menoleh pada istrinya yang tengah memakai lipstik warna pink.
"Hari ini aku gak ke kantor, aku ada urusan lain di luar".
Kening Hazal berkerut penuh tanya. Wanita itu beranjak dari kursi rias, lalu kemudian duduk di samping Harfei yang sedang duduk di atas tempat tidur.
"Mas mau kemana?. Gak aneh-aneh kan?". Tanya Hazal penuh selidik.
Plak...
Harfei menyentil kening Hazal dengan jari telunjuknya.
"Aneh-aneh gimana?. Pikiranmu itu yang aneh. Aku mau ke rumah Dino dulu, ada urusan dikit".
"Dino?".
"Astaga, aku lupa. Dino adalah teman sewaktu masih kecil. Saat ini dia bertugas di luar kota sebagai Intel. Karena Dino ada di kota ini sekarang, jadi aku mau bertemu dengannya. Sudah lama kami tidak berbincang-bincang".
Hazal ber'Oh' ria ketika mendengar penjelasan suaminya.
"Baiklah, aku berangkat dulu ke restoran. Kata Wawan hari ini restoran kita mendapatkan catering pernikahan".
Hazal mengecup pipi Harfei lalu kemudian mencium punggung tangan suaminya itu dan berlalu pergi meninggalkan pria tersebut di dalam kamar setelah mendapatkan izin.
"Sayang, maafkan aku karena belum bisa jujur padamu". Gumam Harfei.
****
Di restoran. Hazal, Helena, Anton, Wawan, dan karyawan lainnya tampak sibuk menyiapkan pesanan pernikahan dari salah satu Wedding Organizer.
"Tolong pertahankan kualitas rasanya Anton, aku tidak mau ada kesalahan. Dan kamu Wawan, pastikan semuanya tak kurang satu pun. Jamil dan Reno, antar semua pesanan ini tepat waktu sebelum acaranya di mulai. Aku akan mengawasi kalian". Titah Hazal. Dan mereka pun melakukan tugasnya masing-masing sesuai dengan arahan wanita berambut panjang tersebut.
Satu jam kemudian, semua pesanan telah selesai di kemas. Kini giliran Jamil dan Reno yang mengantarkan pesanan tersebut. Namun Hazal tetap mengikuti dua pria berkulit sawo matang itu ke tempat pernikahan untuk memastikan tak ada kesalahan disana.
"Baiklah. Ayo berangkat". Titah Hazal. Dan mobil box berwarna putih itu pun berangkat menuju gedung pernikahan tempat dimana pesanan itu di antarkan.
Selama hampir setengah jam perjalanan di tempuh ketiganya. Kini mobil box tersebut terparkir sempurna di depan gedung pernikahan. Hazal turun dari mobil dan memerintahkan beberapa pegawai di gedung tersebut untuk mengangkat paket yang berisikan makanan dari restoran nya tadi.
Setelah selesai, Hazal memasuki gedung pernikahan yang berlantai tiga tersebut dengan anggunnya tanpa menoleh kesana-kemari. Hingga suara seseorang yang begitu familiar menghentikan langkahnya.
"Hazal".
"David?".
"Sedang apa kamu disini?".
"Aku sedang membantu kerabat ku yang akan menikah nanti siang".
__ADS_1
Ucap David sembari melempar senyuman kagum pada Hazal. Ya, kekaguman David pada Hazal tak pernah menyurut. Namun pria itu mengerti akan posisinya. Ia tidak ingin menjadi pria perebut istri orang, atau kata netizen Pebinor. 😁
"Jadi ini pernikahan kerabat mu?".
"Iya".
Sebenarnya David lah yang merekomendasikan restoran Hazal pada kerabatnya yang akan menikah itu. Alasannya simpel, yaitu kagum akan sosok Hazal yang mandiri dan pekerja keras. Meski memiliki suami yang karirnya sukses saat ini, namun wanita itu masih tetap membantu mengambil alih restoran yang dulu milik Harfei.
"Wah, kebetulan sekali. Aku yang menyiapkan catering di acara pernikahan ini". Ucap Hazal antusias.
"Benarkah?. Selamat kalau begitu. Oh iya. Apa kita bisa berbincang-bincang?".
"Tentu saja boleh. Mengapa berubah jadi kaku kaya gitu sih?. kaya baru kenal aja".
Harfei menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya tersenyum kaku. Dan keduanya pun duduk di kursi bagian sudut ruangan.
"Bagaimana pernikahan mu?. Apa kamu bahagia?".
Pertanyaan itu sontak membuat Hazal terkejut. Untuk beberapa saat keheningan membaluti keduanya.
"Kami baik-baik saja. Sepertinya beberapa hari ini semua orang mencemaskan pernikahan ku". Jawab Hazal setelah beberapa saat diam.
"Ah, maaf. Bukan maksudku untuk meragukan suamimu. Aku hanya ingin tau saja sebesar apa kebahagiaan mu setelah menikah".
"Tentu saja Hazal sangat bahagia".
DEG...
"Aku memberikan cinta yang besar untuk istriku, dan dia tidak pernah kekurangan kasih sayang. Anda tidak perlu mencemaskan orang lain Tuan David". Lanjut Harfei seraya memeluk pinggang Hazal dengan agresif, membuat sang wanita merasa canggung.
"Ah, maaf Tuan Harfei. Sepertinya Anda salah paham, aku hanya--"
"Berhenti mengikuti istriku Tuan David". Harfei mendekatkan wajahnya pada David lalu kemudian berbisik ke telinga pria tersebut.
"Atau Anda akan tau akibatnya".
Kening David berkerut hampir menyatu. Harfei menarik tubuhnya agar menjauh dari pria tersebut, lalu kemudian berdiri ke sisi Hazal.
"Baiklah Tuan David, aku harus membawa istriku".
Harfei menarik tangan Hazal, namun tidak membuat tangan wanita itu kesakitan. Hazal menoleh pada David seolah ingin mengatakan permintaan maaf lewat sorot matanya yang merasa bersalah.
Keduanya pun hilang dari pandangan David dan meninggalkan Jamil serta Reno yang masih sibuk menyiapkan catering pernikahan tadi.
****
Di dalam mobil, baik Hazal maupun Harfei tampak diam tak mengeluarkan suara. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Hingga mobil yang dikendarai Harfei berhenti di tepi jalan.
Raut wajah Harfei berubah menjadi tegang. Ia mengeraskan rahangnya, dan menggenggam stir mobil dengan erat hingga menunjukan buku-buku jarinya.
"Katakan padaku, sedang apa kamu disana bersama David?". Tanya Harfei dengan suara dingin tanpa melihat Hazal. Siapapun yang mendengarkan suara pria itu, pasti akan bergidik ngeri.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya Mas". Kata Hazal selembut mungkin. Ia tidak ingin emosional, karena jika itu ia lakukan, maka tidak mungkin pertengkaran akan terjadi.
__ADS_1
"Aku sudah katakan padamu, jauhi pria itu. Apakah kamu tidak bisa mengikuti ucapanku?. Jika kamu tidak sengaja bertemu dengannya, maka hindari dia. Jangan mau di ajak bicara!".
Suara Harfei mulai meninggi membuat hati Hazal teriris dan terluka.
"Mas, yang menikah itu adalah kerabat David. Bagaimana aku menghindari nya?. Dia adalah salah satu penanggung jawab di pesta pernikahan itu".
"Kalau begitu batalkan saja!".
DUAR...
Bagai petir di siang hari Hazal mendengar kalimat Harfei yang seolah bernada perintah tak terbantahkan.
"Gak bisa dong mas. Aku sudah terlanjur ambil bagian dalam pesta itu. Kita gak boleh berhenti di tengah jalan hanya karena masalah sepele. Itu namanya gak profesional". Tandas Hazal.
"Sepele?. Kamu bilang masalah ini sepele?. Baiklah, anggap saja aku tidak profesional. Maka hentikan pekerjaan ini atau kamu tidak boleh ke restoran sama sekali!".
DEG...
Sekali lagi kalimat Harfei membuat perasaan Hazal terkoyak. Hati wanita itu bergetar. Ada apa sebenarnya dengan suami wanita itu?.
"Mas, apakah mas ada masalah?". Tanya Hazal dengan suara yang mulai melunak. Wanita itu menyentuh pundak Harfei dengan lembut. Ia tak ingin memancing suaminya itu menjadi lebih emosional.
Harfei memejamkan matanya seolah ingin menetralkan perasaan yang sempat di landa kecemasan.
"Aku hanya tidak ingin kamu kenapa-kenapa sayang. Sungguh, aku tidak bisa melihat mu terluka". Ucap Harfei dengan suara lirih. Suara itu seolah memendam sesuatu di dalam sana. Pria itu hampir saja menitikan air mata, namun sebisa mungkin di tahannya.
"Apa maksudmu mas?. Terluka?. Aku?".
Hazal menunjuk dirinya sendiri dengan menggunakan jari telunjuk nya.
"Sayang, aku mohon jauhi David, em?".
Hazal mantap manik mata coklat itu berusaha untuk mencari sesuatu di dalam sana yang membuat suaminya itu seolah gusar.
"Baiklah aku akan mengikuti ucapan mas Harfei. Tapi biarkan aku kerja dan menyelesaikan tugas ku. Aku bahkan meninggalkan Jamil dan Reno di tempat tadi. Mereka pasti mencari ku mas".
Dan akhirnya perdebatan yang cukup menguras emosi Harfei itu pun berakhir dengan kesepakatan, bahwa Hazal tidak boleh berinteraksi dengan David di manapun ia berada. Dan Hazal pun menyetujui permintaan suaminya itu tanpa memprotes sama sekali.
.
.
.
.
Assalamualaikum. Author mau sampaikan nih sama kalian para Readers. Kalau kalian tidak suka dengan setiap karya author maka tidak usah di baca atau paling tidak jangan tinggalkan komentar yang membuat mood author down. Karena satu kata hinaan anda akan berpengaruh besar terhadap author. Author tidak pernah memaksa kalian untuk membaca setiap karya author yang bermental kulit bawang ini. Author sadar bahwa semua karya author tidaklah sesempurna karya author lainnya yang kalian agungkan baik yang sudah senior ataupun masih setara denganku. Tapi setidaknya jangan tinggalkan jejak komentar yang menyakitkan. (Maaf sesi curhat).🙏
Dan satu lagi. Author tidak bisa menulis seperti cerita novel lainnya, karena setiap orang punya cara yang beda-beda untuk mengekspresikan tulisannya. Author bukan penulis plagiat yang tinggal copy paste. Butuh ketenangan untuk mengumpulkan ide cerita sampai sedemikian rupa sehingga enak untuk di baca. Jadi, jika anda komentar yang bersifat menghina, itu akan memudarkan mood Author.
Tolong dukung author dengan like, komen dan vote yang banyak ya. Asal komen yang membangun. Terimakasih.
*Dede...
__ADS_1