Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 21. Landasan Becek.


__ADS_3

Usai memberi pelajaran penting pada Wawan, Harfei pun pamit pulang. Tak lupa ia menyapa Anton dan juga karyawan lainnya yang berada di restoran minimalis miliknya. Ia benar-benar merindukan tempat yang mulai di bangunnya dari nol itu. Namun sebelum pulang, Harfei meminta Anton untuk membungkus kan sate pedas, soto ayam, dan juga bakso serta ayam bakar rica-rica. Menu andalan di restoran itu.


Setelah selesai dengan semua urusannya, Harfei pun pulang ke rumah dengan membawa oleh-oleh dari restoran khusus untuk istri dan ibu tercintanya. Dua wanita yang di kasihi nya itu selalu setia menunggu kepulangan nya setiap hari.


"Assalamualaikum". Ucap Harfei.


"Waalaikumsalam". Jawab Hazal dan juga ibu Harfei secara bersamaan. Dua wanita beda generasi itu tengah asik menonton film yang di tayangkan TV Nasional layar terbang. Meski Hazal tidak menyukai film itu, karena setiap kali ia menonton bersama ibu mertuanya, selalu saja wanita paruh baya itu mengomel tidak jelas seolah memarahi setiap pemeran dalam film tersebut. Namun meski begitu, Hazal tidak pernah beranjak meninggalkan ibu mertuanya hingga film selesai.


Hazal mencium punggung tangan suaminya, dan Harfei membalas dengan kecupan di kening, lalu beralih mencium punggung ibunya.


"Apa itu mas?". Tanya Hazal yang melihat kantong plastik di tangan kiri Harfei.


"Ini makanan yang sengaja aku ambil di restoran kita tadi". Jawabnya setelah memberikan kantong plastik tersebut pada Hazal.


"Tadi mas mampir ke restoran ya?". Berjalan menuju meja makan dan menata makanan tersebut di wadahnya.


"Ia. Tadi saya cuma mampir sebentar dan memberikan pelajaran penting buat Wawan". Terangnya.


"Pelajaran penting?. Tentang apa?".


"Nanti aku ceritakan kalau kita sudah berada dalam kamar. Malam ini kau milikku". Harfei mengedipkan matanya seraya mengacungkan jari membentuk seperti pistol. Hazal yang mengerti akan kode yang di berikan suaminya pun bersemu merah.


*****


Makan malam yang berlangsung khidmat itu pun berakhir dengan ucapan salam pada ibu tercinta mereka. Wanita paruh baya satu-satunya yang selalu menasehati dan perduli akan keduanya.


Kini dua insan ciptaan Tuhan itu pun berada dalam kamar mereka.


"Mas, tadi aku sudah memasang kedap suara. Jadi kita bebas berekspresi dan bersuara sesuka hati". Tutur Hazal sambil tersenyum malu-malu meong, padahal dalam hati wanita itu sangat menginginkan bercocok tanam sesegera mungkin.


"Benar kah?. Kalau begitu waktunya pas. Malam ini kau adalah milikku". Baru juga Harfei ingin memeluk tubuh istrinya, tiba-tiba Hazal menahan tubuh Harfei, membuat pria tampan itu menatap penuh tanya.

__ADS_1


"Katakan padaku pelajaran penting apa yang mas berikan pada Wawan". Tanya Hazal.


"Astaga sayang, dalam situasi begini kamu masih saja ingat dengan si Wawan kerempeng itu?". Menepuk jidatnya.


"Aku kan penasaran, mas". ucap Hazal. Harfei pun duduk di samping istrinya itu sembari membenamkan kepalanya di pundak istrinya itu.


"Tadi aku hanya sedikit berbincang-bincang padanya mengenai pernikahan dan menasehati remaja itu agar tidak salah langkah. Mengingat zaman sekarang ini hidup sangat bebas. Meski kita hidup dengan adat ketimuran, tapi anak remaja sekarang banyak menganut dan mencotohkan adat kebarat-baratan".


"Hal yang berbanding terbalik dengan agama yang kita anut. Itulah mengapa aku tidak ingin remaja itu melakukan hal yang tidak mesti di lakukan sebelum waktunya tiba". Terang Harfei panjang lebar. Kalimat itu pun sukses membuat hati Hazal terhanyut. Ia benar-benar tidak salah pilih suami. Hazal menarik kedua sudut bibirnya membuat senyuman disana.


Harfei menatap istrinya itu,


"Kenapa tersenyum?".


"Karena aku mencintaimu. Entah sejak kapan aku putuskan untuk mencintaimu sampai sejauh ini, tapi hati dan jantungku selalu setia berdetak untukmu. Tak perduli kamu jorok atau tidak, yang jelas hidupku aku bakti kan untukmu suamiku Harfei Iskandar". Mencium bibir suaminya dengan lembut.


Sebelum membalas ciuman istrinya itu, Harfei berkata dalam hati,


'Hedew... Giliran mau uwik-uwik di puji setinggi langit dan melupakan bagaimana joroknya aku. Giliran sadar di ungkit lagi. Maha benar wanita dengan segala komentar nya'.


Tangan kokoh Harfei menjelajah di gunung Himalaya milik Hazal, memelintir dan memutar-mutar seolah mencari siaran TV Nasional berlayar terbang.


Puas mencari siaran, tangan itu menjajaki pintu lahan yang bulan lalu sempat berkenalan. Baru malam ini akan di lanjutkan karena setelah malam itu keduanya belum bercocok tanam lagi karena kesibukan yang di ciptakan oleh ayah Hazal dalam perusahaan.


Tangan nakal itu memutar-mutar benda kecil pada pintu Hazal, mungkin itu kode yang di maksud wanita itu yakni 008 milik Saraswati.😁.


Memainkan benda kecil nan kenyal itu, hingga batang pisang milik Harfei pun berdiri tegak bagai tongkat si buta dari gua hantu. Membuat Hazal meracau tak jelas. Kenikmatan yang mulai naik di kepala itu menghasilkan suara yang membuat batang pisang Harfei semakin mengeras bagai siap bercocok tanam.


Mata pria itu sudah berubah warna menjadi merah, tatapan matanya mendamba akan kebun milik istrinya. Kebun yang bagaikan candu.


"Mas, itu kenapa tangannya berdarah?. Mas luka?". Tanya Hazal. Ia tak sengaja melihat tangan suaminya yang masih berada di atas tubuhnya setelah mengobrak-abrik lahan kebunnya tadi.

__ADS_1


"Gak, ini tangan ku dari lahan kamu tadi". Sambil melihat tangannya lalu kemudian melihat pintu kebun Hazal. Betapa terkejutnya Harfei melihat darah yang hampir keluar dari pintu lahan itu.


"Aaaak---. Landasan becek...". Teriak Harfei sambil turun dari tubuh istrinya dan berlari ke kamar mandi untuk mencuci tangan.


Setelah mencuci tangan, Harfei keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya tengah membenahi pakaian serta meraih pembalut di laci lemari. Menyadari kehadiran suaminya, Hazal pun memeluk suaminya itu dan berkata,


"Maaf ya mas, landasan lahan ku becek. Belum bisa bercocok tanam dulu".


Tidak ada pilihan lain, Harfei mengembuskan napas berat sebelum akhirnya dia membenamkan kecupan di kening istrinya itu sembari berkata,


"Pergilah bersihkan dirimu di kamar mandi". Hazal mengikuti ucapan suaminya dan memasuki kamar mandi tersebut.


Harfei mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur dan melihat batang pisangnya yang sudah mulai layu. Berat meninggalkan rasa ingin bercocok tanam yang sudah siap landas. Namun siapa sangka tamu bulanan hadir lebih dulu dan membuat landasan itu becek. Terpaksa Harfei harus puasa selama 7 hari sampai landasan itu benar-benar kering.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan like, komen, dan vote serta beri bintang juga ya. Terimakasih.😘🙏

__ADS_1


Happy reading.


*Dede...


__ADS_2