Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 28. Foto.


__ADS_3

Pengintipan yang berujung gores luka pada bagian lengan kiri Hazal membuat wanita itu menahan perih sepanjang jalan. Tak habis menggerutu dan mengumpat, mengeluarkan kata demi kata emosional. Luka yang akibat terkena kawat berduri itu pun akhirnya tertutupi oleh obat merah dan kecupan hangat dari sang suami.


"Lain kali gak usah ngintip lagi mas. Taunya lenganku luka karena tergores kawat. Lagi pula, emang tadi itu pocong beneran ya mas?". Ucap Hazal sembari meniup pelan lengannya yang telah di beri obat luka.


"Mana aku tau. Lagi pula wajahnya begitu menyeramkan, bisa jadi itu pocong beneran". Jawaban Harfei membuat Hazal merinding ketakutan.


"Ya sudah, kita tidur saja. Jangan sampai kita berdua yang jadi pocong karena tak bisa tidur". Sepasang suami istri itu pun tidur saling berpelukan untuk menutupi rasa takut karena menyangka yang di lihatnya 30 menit yang lalu adalah benar-benar pocong.


****


Keesokan paginya Hazal mengunjungi restoran miliknya, memeriksa hasil pendapatan satu hari yang lalu. Tidak ingin salah mempercayai orang, wanita itu putuskan untuk memeriksa sendiri.


Di tengah-tengah keseriusan nya memeriksa hasil pendapatan satu hari yang lalu, tiba-tiba saja Sonia datang membawa sebuah paket persegi empat berwarna coklat.


"Zal, nih ada paket buat mu". Sonia memberikan paket itu pada Hazal yang tengah asik dengan laptop miliknya. Hazal pun melepas sejenak benda itu dan beralih melihat paket yang berukuran kecil itu.


"Apaan nih?". Tanya Hazal.


"Mana aku tahu. Kalau aku tau, aku gak akan penasaran juga kali". Balas Sonia sambil mendaratkan tubuhnya di kursi depan Hazal.


"Aku buka ya". Dan Hazal pun membuka paket itu. Mata bulat nan cantik itu terbuka lebar seolah ingin keluar dari tempatnya kala melihat isi dari paket tersebut. Sonia yang melihat perubahan wajah sahabatnya itu pun langsung berdiri dan menghampiri Hazal.


"Apa-apaan ini?. Kenapa foto ini bisa ada disini?. Bukankah ini Helena dan Mas Harfei?. Sedang apa mereka di Hotel?". Ucapan Sonia tidak di hiraukan oleh Hazal. Wanita itu diam seribu bahasa, ada desiran di dalam hati wanita itu. Mungkinkah dia... Cemburu?.


Foto suaminya bersama sang mantan kekasih membuat hati Hazal menjadi bimbang, berusaha untuk tetap percaya, namun foto itu terasa nyata dan bermain-main di kepala wanita itu.


"Sonia, siapa yang memberimu paket ini?". Tanya Hazal tanpa melihat wajah sahabatnya itu. Sonia menjawab dengan suara terbata-bata.


"A--aku juga tidak tau. Tadi ada seorang kurir yang memberiku ini ketika aku mau masuk. Apa kamu tidak curiga pada Helena?". Tanya Sonia pada akhirnya.


"Aku tidak ingin gegabah dalam berspekulasi. Ini bukanlah masalah kecil. Aku tidak mau rumah tangga ku menjadi berantakan hanya karena foto ini. Mungkin saja ini adalah foto-foto lama mereka. Hanya ada orang iseng saja yang mengirimkan ini padaku". Hazal berusaha menyembunyikan rasa kalutnya pada Sonia. Ia tidak ingin tampak lemah di mata siapapun itu, termasuk sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Tapi, Zal. Ini tuh masih baru. Kamu jangan terlalu polos untuk mempercayai orang lain. Apa kamu lupa siapa Helena itu?. Dia mantan kekasih mas Harfei yang sengaja hadir di tengah-tengah kalian berdua. Buka mata kamu, Zal. Buka". Emosi Sonia menjadi tak terkendali. Wanita itu merasa sahabatnya telah di butakan akan penampilan luar dari seorang Helena.


"Cukup Sonia. Ini adalah privasi ku. Biarkan aku menyelesaikan ini sendiri. Jika aku membutuhkan bantuanmu, aku akan menghubungi dirimu". Keputusan telah di ambil Hazal, dan itu mutlak.


"Baiklah, terserah padamu saja. Aku akan tetap ada untukmu. Tapi ingat, jangan terlalu percaya pada siapapun termasuk dengan orang terdekatmu yang kamu anggap paling berarti". Sonia meninggalkan Hazal yang masih tenggelam dalam pikiran nya. Ia berusaha untuk menyerap kalimat Sonia, berusaha untuk mengartikan kata demi kata. Kalimat sederhana yang mampu membuat kepercayaan diri wanita itu goyah. Mungkinkan suaminya berkhianat?. Atau ada seseorang yang begitu di percayai nya bermain di belakang nya secara diam dan halus?. Pikir Hazal.


Tak ingin larut dalam pikiran yang membuat jiwanya sedikit terguncang, Hazal pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Tempat yang di anggapnya ternyaman. Menemui ibu mertuanya yang bagai ibu kandung. Mencurahkan sebagian rasanya yang gusar pada wanita paruh baya itu.


*****


Setibanya di rumah, Hazal pun bercerita pada ibu mertuanya, namun tidak menceritakan segalanya. Ia hanya bertanya apakah salah jika mempercayai seorang suami sepenuh hati. Wanita paruh baya itu pun menjawab,


"Kepercayaan dalam rumah tangga sangatlah penting. Dan jangan lupakan komunikasi. Karena komunikasi lah yang menyatukan kalian. Percuma adanya kepercayaan jika komunikasi di antara kalian tidaklah lancar. Jika ada hal yang membuatmu khawatir, sebaiknya ceritakan pada suamimu. Jangan di pendam sendiri".


Nasehat itu masih terngiang-ngiang di telinga Hazal hingga malam hari tiba. Di lihat suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan duduk di sampingnya.


"Mas, ada yang ingin aku sampaikan padamu". Ucap Hazal yang sudah siap untuk bercerita, namun di dahului oleh suaminya.


"Aku juga. Ada yang ingin aku sampaikan padamu". Melihat raut wajah suaminya yang tampak serius, Hazal pun mengurungkan niatnya untuk berbicara, mungkin setelah itu dia akan menceritakan semua keluh kesahnya.


Harfei pun memegang lengan Hazal, dan menunjukkan raut wajah yang serius. Menatap lekat mata wanita yang di cintainya itu dalam-dalam.


"Hazal".


Hazal yang mendengar namanya di sebut oleh suaminya pun merasa hatinya berdesir. Ini adalah kali pertama semenjak menikah Harfei menyebut namanya ketika ingin memulai pembicaraan. Biasanya pria itu akan memanggilnya dengan kata 'Sayang'. Tapi sekarang ia menyebut namanya, itu artinya ada sesuatu yang serius terjadi dan membuat hati pria itu bimbang.


"Kita adalah suami istri. Aku adalah kepala rumah tangga, aku adalah pimpinan kamu, imam kamu, dan juga sahabat kamu. Aku mempercayai mu melebihi diriku sendiri. Cintaku padamu melebihi cintaku pada diriku sendiri. Kita di ciptakan satu sama lain dengan cara Tuhan yang sedemikian rupa".


Menjedah Sejenak, lalu melanjutkan.


"Aku tidak tau apa yang membuat hatiku bimbang, namun satu yang pasti. Jangan merusak kepercayaan ku yang aku bangun untukmu. Jangan merusak hati dan juga pikiranku dengan berbagai macam hal yang membuatku bingung dan juga nelangsa".

__ADS_1


Hazal belum bergeming mendengar kalimat demi kalimat yang di ucapakan oleh suaminya itu, ia masih menunggu hingga akhir cerita.


"Hazal, sangat sulit membangun kepercayaan di tengah keraguan. Secara teori itu sangatlah mudah, namun untuk mempraktekkan nya sangatlah sulit. Banyak terjal yang menghujam ku. Jadi, tolong jangan buat hatiku bimbang". Harfei tidak mengungkapkan secara langsung alasan yang membuat hatinya bimbang, membuat hati Hazal bertanya-tanya.


Hazal memegang tangan suaminya dengan lembut sembari tersenyum dan berkata,


"Cintaku padamu lebih besar dari cintamu padaku. Aku membuang jauh-jauh prinsip hidupku hanya untuk mengembangkan cintaku padamu. Cinta yang kamu katakan itu tidak lah melebihi cintaku padamu yang tumbuh sejak lama. Melihatmu bersama wanita lain membuat hati dan jiwaku remuk. Namun aku tidak ingin itu bertahan lama, maka aku tumbuhkan kembali rasa percayaku padamu. Cinta yang kamu katakan lebih besar dari cintamu padaku tidaklah melebihi cintaku padamu. Aku mengorbankan karir yang selama ini aku impikan demi baktiku padamu sebagai suamiku. Apakah aku pantas untuk tidak di percaya?".


Harfei menatap lekat-lekat mata istrinya yang begitu menyimpan banyak cinta untuknya, lalu mengapa ia masih meragukan wanita itu?.


Pada akhirnya baik Hazal maupun Harfei tidak mengungkapkan yang sebenarnya terjadi. Mereka masih menutupi kejadian demi kejadian yang menghampiri di sekeliling mereka. Mungkin saat ini biarkanlah rasa percaya itu tumbuh dan berkembang sedemikian rupa, hingga suatu ketika masalah baru muncul tidak akan menggoyahkan cinta dan kepercayaan Keduanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC.


Pecinta Hazal dan Harfei jangan lupa like, komen, dan juga vote yang banyak ya. Terimakasih.

__ADS_1


Happy reading.


*Dede...


__ADS_2