Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 36. Harfei Cemburu.


__ADS_3

Sesuai dengan saran Wawan, akhirnya Hazal bertemu dengan detektif tersebut yang bernama Reza. Hazal memberikan segala yang di butuhkan oleh deteksi Reza. Di mulai dari nama Helena, David, alamat keduanya, foto, hingga nomor ponsel orang asing yang meneror Hazal.


"Saya harap, Tuan bisa mengerjakan tugas Anda dengan baik". Ucap Hazal penuh harap.


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin Nona Hazal. Saya akan memberikan seluruh informasinya Minggu depan". Balas detektif Reza.


"Terimakasih atas bantuan Anda Tuan, ini setengah dari pekerjaan Anda. Sisanya nanti Minggu depan setelah semuanya selesai". Hazal menyerahkan amplop berwarna coklat sebagai petunjuk dan satu lagi amplop berwarna putih sebagai upah dari detektif tersebut.


"Terimakasih banyak Nona Hazal. Saya permisi". Detektif Reza pun pergi meninggalkan Hazal di restoran tempat mereka bertemu.


Hazal baru saja ingin beranjak pergi, namun tiba-tiba David muncul di restoran tersebut.


"Hazal?".


"David?. Sedang apa kamu disini?". Tanya Hazal.


"Aku baru saja selesai meeting bersama klien ku, dan sudah selesai. Aku baru saja mau pulang, tau-tau nya kita bertemu disini. Kalau kamu sendiri, sedang apa disini?".


"Aku sedang ada urusan pekerjaan tadi". Jawab Hazal dengan setenang mungkin agar David tidak merasa curiga.


"Apa kamu sudah makan siang?". Tanya David selanjutnya.


"Aku baru saja sel---"


"Hazal".


"Mas Harfei?".


Harfei muncul di antara David dengan raut wajah yang tidak bisa di baca.


"Ayo kita pulang. Aku sudah menunggumu sejak tadi". Beralih pada David,


"Apa aku boleh mengambil istriku Tuan David?". David merasa tercengang dengan ucapan Harfei. Seperti... marah?.


"Tentu saja Tuan Harfei. Bukankah dia adalah istri Anda?. Lalu mengapa Anda membutuhkan izin dariku?". David tak kalah ketusnya berkata. Kedua pria itu saling bertatapan tajam, Harfei dengan tatapan membunuh seolah miliknya di curi, sementara David menatap Harfei dengan tatapan tak terima karena merasa harga dirinya sebagai pria di jatuhkan.


"Ah, ayo kita pulang mas". Hazal memutus tatapan tajam dua pria yang mulai saling membenci itu, tak ingin menambah masalah.

__ADS_1


Tanpa menjawab ucapan Hazal, Harfei pun menarik tangan Hazal dengan agresif. Hazal terkejut dengan sikap yang sedikit kasar itu, namun ia tak ingin memberontak di tempat umum karena hal itu justru akan membuat masalah baru.


***


Di sepanjang perjalanan baik Hazal maupun Harfei tak ada yang membuka suara, keduanya saling diam dan larut dalam pikiran masing-masing.


Hazal tampak tenang, sementara Harfei tampak memendam sesuatu.


Tibalah keduanya di rumah, Harfei melangkah dengan cepat, sementara Hazal masih bungkam hingga di dalam kamar keduanya masih tetap diam.


Hening...


Hening...


"Katakan padaku, sedang apa kamu di restoran tadi bersama David?". Tanya Harfei setelah beberapa saat keheningan membaluti keduanya dengan suara dingin.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya di restoran". Jawab Hazal dengan suara tenang.


"Lalu sedang apa kamu di restoran tadi?. Apakah ada klien baru?. Lalu mengapa aku tidak tau?. Biasanya kamu selalu berbagi cerita padaku, lalu apa ini?. Mengapa kamu terkesan menyembunyikan sesuatu?. Apa aku benar?. Apakah ada yang aku tidak ketahui?. Katakan padaku Hazal, KATAKAN!".


Harfei sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, ia menghardik dan memegang erat kedua lengan Hazal dengan erat, membuat wanita itu merintih menahan sakit.


"Apa kamu merasa tersakiti?. Lalu bagaimana denganku?. Berdua bersama pria lain di sebuah restoran tanpa sepengetahuan suami apa itu namanya, Hazal?". Suara Harfei semakin meninggi, Hazal tidak pernah melihat suaminya semarah ini. Ia berusaha untuk membuat pria itu tenang.


"Mas, aku tidak ada hubungan apapun dengan David. Hubungan kami bahkan tidak pernah di mulai. Mas kan tau sendiri alasanku saat itu menerima David sebagai kekasihmu lewat biro jodoh. Aku melakukan itu semua--"


"Karena ingin membuatku cemburu, ia?. Apa aku benar?". Tatapan tajam Harfei seperti menusuk ke organ tubuh Hazal.


"Mas, sebaiknya mas istirahat. Mungkin mas lelah". Hazal berucap dengan suara tenang, tak ingin menambah amarah dalam diri suaminya.


"Aku memang lelah Hazal. Apa kamu pikir mudah bagiku menerima ini semua?". Harfei masih tetap dengan pendiriannya, marah dan mengeluarkan keluh kesahnya.


"Mas, apa kamu pikir aku adalah wanita yang mudah jatuh cinta?. Apa kamu pernah melihatku menggandeng pria lain bahkan sebelum kita menikah?. Apa kamu pernah melihatku menghabiskan waktu bersama pria lain sebelum dan sesudah kita menikah?".


"Tidak mas, tidak. Aku bahkan tidak memiliki waktu untuk itu. Bersamamu sudah cukup membuatku bahagia, lalu untuk apa aku harus menghabiskan waktu bersama pria lain?". Hazal mulai menitikan air mata merasa tidak di percaya adalah hal yang paling di benci oleh wanita tersebut.


"Mas, aku tidak sengaja bertemu dengan David tadi di restoran. Aku hanya sedang menyelesaikan pekerjaan yang berhubungan dengan restoran kita. Tapi tiba-tiba David muncul, bahkan aku tidak tau dia juga berada disana untuk bertemu kliennya". Suara Hazal mulai melunak.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Hazal yang begitu meyakinkan, pria itu pun mulai tenang.


Hening...


hening...


"Maafkan aku". Ucap Harfei setelah beberapa saat keheningan menghampiri keduanya.


"Mas, aku tidak pernah mempermasalahkan kecemburuan mu mas, tapi aku tidak terima jika mas Harfei meragukan ku". Mendengar kalimat yang begitu menyentuh hati, Harfei pun memeluk istrinya itu dengan penuh sesal.


Cemburu sungguh penyakit mematikan untuk sebuah hubungan, dan kepercayaan adalah penawar dari penyakit tersebut.


"Maafkan aku sayang. Aku hanya takut kehilanganmu. Aku tidak terima ketika melihat wanitaku bersama pria lain terlebih lagi itu adalah pria yang pernah menyimpan rasa pada istriku". Suara Harfei mulai melunak. Ia benar-benar menyesal akan perbuatannya barusan. Namun terlepas dari itu semua, itulah bentuk cinta Harfei pada Hazal.


"Aku juga meminta maaf karena sudah membentak mu tadi".


Suami istri itu pun saling memeluk satu sama lain. Pada akhirnya suami istri memang harus saling memaafkan, meski Hazal merasa bersalah karena belum bisa menceritakan yang sebenarnya pada Harfei, namun baginya saat ini itulah yang terbaik. Akan ada saatnya ia menceritakan segalanya ketika semuanya sudah jelas. Menuduh seseorang tanpa bukti akan sulit. Terlebih lagi menyangkut beberapa pihak yang di curigai oleh Hazal saat ini.


.


.


.


.


.


.


TBC.


Hay Readers yang Budiman. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya. Like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya.


Silahkan add Facebook author Suharni.adhe atau IG author @Suharni.adhe supaya lebih akrab lagi.😘😊


Happy reading 😊.

__ADS_1


"Dede...


__ADS_2