
Harfei membenamkan tubuh Hazal ke dalam pelukannya. Ia mengecup beberapa kali puncak kepala Hazal. Dan wanita itu pun tak bisa lagi menahan diri, akhirnya suara tangisnya pun pecah.
"Hu... Hu... Hu...". Harfei sontak terbangun dan melihat Hazal.
"Sayang, kamu kenapa?".
Mendengar kata 'sayang' yang di ucapkan Harfei semakin membuat Hazal mengeraskan tangisannya. Ia benar-benar merindukan kata sederhana itu namun sukses membuat hati berbunga-bunga merasa di cintai.
Hazal memeluk tubuh Harfei dengan erat. Harfei menyadari sikap Hazal, mungkin wanita itu Merindukan dirinya.
"Mas Harfei. Hu... Hu...". Hazal kembali menangis dalam pelukan suaminya.
Harfei melepas pelukan Hazal lalu menyeka air mata wanita tersebut dan mengecup kening Hazal.
"Maafkan aku". Ucap Harfei.
"Selama seminggu ini aku mendiamkan mu". Harfei memindahkan beberapa helai rambut Hazal ke belakang telinga lalu kemudian mengecup kembali kening wanita tersebut.
"Aku hanya sedang memikirkan pekerjaan ku yang mulai menumpuk. Maaf membuatmu khawatir". Harfei berbohong mengenai pekerjaan nya. Namun saat ini, alasan itulah yang tepat agar Hazal merasa tenang.
"Mas, aku juga minta maaf karena sudah berpikir yang tidak-tidak". Ucap Hazal. Mata Harfei menatap penuh selidik.
"Apa yang kamu pikirkan tentang ku?".
"Aku pikir mas sudah tidak mencintai ku lagi dan memiliki wanita lain, lalu kemudian melupakan ku". Ucap Hazal dengan suara lirih, wajahnya pun berubah menjadi sendu.
"Pfffff... Hahahaha". Harfei tak bisa menahan tawanya hingga pecah memenuhi ruangan.
Kening Hazal berkerut penuh tanya.
"Kenapa mas Harfei tertawa?. Apa ada yang lucu?". Hazal memajukan bibirnya lalu di sambar begitu saja oleh Harfei sekilas. Sontak membuat Hazal kaget. Ini merupakan hal manis pertama yang di lakukan Harfei setelah satu Minggu diam.
"Ya ampun sayang, datang dari mana pikiran mu itu". Harfei menyentil kening Hazal, lalu mengganti posisinya menjadi duduk.
"Aku bahkan tidak pernah membayangkan untuk membagi cintaku. Memiliki satu istri perfeksionis saja sudah membuatku pusing. Apa lagi lebih dari satu". Hazal menatap tajam Harfei.
"Jadi selama ini aku membuatmu pusing?". Satu kesalahan yang di lakukan Harfei, pria itu menelan salavi beberapa kali.
"Bukan begitu maksudku sayang. Ah, lupakan saja. Ayo kita tidur, sekarang sudah hampir subuh". Titah Harfei. Dan Hazal pun berbaring di dalam pelukan suaminya itu lalu menghirup aroma tubuh Harfei dalam-dalam. Aroma yang begitu di rindukannya.
__ADS_1
"Aku merindukanmu". Ucap Hazal, dan di balas dengan satu kecupan manis oleh Harfei.
****
Keesokan paginya, Hazal kembali tidak mendapati Harfei di sisinya. Hal serupa yang terjadi selama satu Minggu terakhir. Rasa takut dan kecewa kembali menghampiri wanita tersebut. Ia beranjak dari tempat tidur dan mencari Harfei di kamar mandi. Namun tak menemukannya.
Hazal memilih keluar kamar dan mencari Harfei di dapur, ruang keluarga, ruang tamu, bahkan taman belakang rumah pun di carinya, namun hasilnya nihil. Rasa takut itu kembali membuncah dalam benak Hazal. Ia benar-benar tidak ingin menjauh lagi dari suaminya. Bagi Hazal selama satu Minggu tak berbicara pada Harfei, seperti terkurung dalam penjara.
Ingin bertanya pada ibu juga beliau tidak ada. Sudah satu bulan ibu pergi ke kampung menengok salah satu kerabatnya yang sakit.
Hazal ingin kembali ke kamar, namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat sepiring nasi goreng di atas meja makan. Hazal melihat ada secarik kertas yang bertuliskan,
'Sayang, aku sudah berangkat ke kantor. Maaf tidak membangunkan mu. Karena aku melihat kamu sangat menikmati tidurmu. Makanlah nasi goreng ini. Aku memasaknya dengan penuh cinta'.
Hazal mengembuskan napas lega. Ia pikir Harfei kembali lagi dengan sikapnya yang dingin selama seminggu terakhir ini.
Hazal memakan nasi goreng buatan Harfei, lalu kemudian masuk ke kamar dan bersiap-siap untuk melakukan aktivitas nya.
****
Kini Hazal berada di restoran sambil tersenyum. Wanita itu tak bisa berhenti tersenyum setelah perlakuan manis Harfei semalam dan pagi ini. Ungkapan cinta, nasi goreng, sungguh manis sekali. Pikir Hazal.
"Kenapa tuh muka?. Kayanya lagi bahagia ni". Sonia muncul dan berdiri di ambang pintu sembari melipat tangan ke dada.
"Tentu saja. Gigi mu itu sebagai buktinya. Dia tak berhenti muncul di balik bibirmu". Ucap Sonia seraya berjalan mendekati Hazal dan mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Apa kau tau Sonia,
"Gak".
"Is, dengerin aku dulu". Gerutu Hazal. Ia benar-benar tak sabar untuk berbagi kebahagiaan bersama sahabatnya itu. Sementara Sonia tampak tampak mengacuhkan Hazal.
"Semalam mas Harfei sudah mau berbicara padaku. Bahkan mas Harfei mengatakan jika dia tidak berubah sedikitpun, dan dia masih tetap sama. Dan mengenai wanita lain, mas Harfei tidak memilikinya sama sekali". Senyuman merekah tak berhenti menghiasi wajah Hazal.
"Benarkah?. Bagaimana jika ternyata mas Harfei berbohong?". Ucap Sonia santai bagai tak memiliki beban.
"Tentu saja tidak. Mas Harfei tidak akan tega melakukan itu padaku. Kecuali maut yang memisahkannya kami". Ucap Hazal mantap. Mengingat perlakukan Harfei semalam dan pagi ini, baginya tak ada alasan bagi pria itu untuk mengkhianati dirinya.
"Baguslah kalau begitu. Itu artinya kamu gak perlu sedih lagi. Tapi ingat, kamu jangan melupakan sesuatu". Sonia menggantungkan kalimatnya,
__ADS_1
"Apa?".
"Tetap awasi Helena dan David. Aku masih curiga pada mereka". Ucap Sonia akhirnya.
"Baiklah. Aku akan tetap mengawasi mereka berdua. Detektif Reza akan memberikanku informasi tiga hari lagi. Setelah itu kita akan tau pelakunya". Ucap Hazal.
"Apakah orang itu meneror mu lagi?". Tanya Sonia setelah beberapa saat diam. Hazal tampak berpikir, menimbang-nimbang apakah ia akan berkata jujur bahwa beberapa hari yang lalu seseorang meneror lagi dirinya dengan nomor ponsel yang berbeda.
"Tidak". Jawab Hazal mantap. Ia memilih untuk tak memberitahu Sonia, karena wanita itu pikir, biarlah saat ini hanya dia dan deteksi Reza yang mengetahui teror itu. Bukannya tidak percaya pada Sonia, hanya saja sahabatnya itu sudah terlalu banyak membantu dan selalu mengkhawatirkan dirinya.
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Aku pergi dulu. Tadi mas Harfei menyuruhku untuk menemaninya bertemu klien baru".
"Baiklah". Sonia beranjak pergi dan baru saja langkahnya sampai di ambang pintu, Hazal memanggil kembali sahabat nya itu.
"Sonia".
Sonia menoleh pada Hazal,
"Terimakasih". Ucap Hazal tulus. Sonia pun menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi meninggalkan Hazal.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Assalamualaikum. Readers, mohon maaf ya jika update dari Mr. Jorok ini selalu telat. Itu karena proses review nya yang memakan waktu cukup lama. Bahkan bisa sampai empat hari. Author tiap hari nulis buat update agar pembaca tidak terlalu lama menunggu, nanti bosan. Tapi apalah dayaku, pihak aplikasi yang menentukan kapan lolos review dan bisa update lagi.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya. Like, komen, dan vote yang banyak ya Readers. Terimakasih.
__ADS_1
Happy reading 😊.
*Dede...