
Hari-hari terus berjalan, hingga tak terasa sudah dua bulan Hazal tidak menampakan dirinya di kedai Harfei, hal itu membuat pria berwajah ba' timur tengah tersebut merasa ada yang hilang dari hatinya. Jika setiap hari Hazal berkunjung di kedainya dan memprotes penampilan nya yang tampak berantakan serta kedai sate ayam miliknya, namun lain halnya sekarang. Sudah tidak ada lagi sosok perfeksionis yang mengisi hari-hari pria tersebut.
Lina yang merupakan kekasihnya pun di buat bingung akan sikap Harfei. Terkadang dia melamun, kadang juga ia melakukan kesalahan dan menyalahkan Wawan yang merupakan karyawannya. Seperti yang di lakukan nya hari ini, saat Wawan sedang membakar sate, ternyata warna dari sate tersebut hampir hitam karena kecap, namun Harfei mengira bahwa sate itu hangus, bukankah hal itu biasa terjadi mengingat profesi ini sudah lama di geluti?. Bukan hal yang mengherankan jika warna sate hampir hitam karena kecap.
"Wawan, apa kamu saya gaji untuk membuat dagangan saya hangus?. Lihat sate ini gosong!". Harfei menunjukan salah satu sate yang di panggang oleh Wawan di wajah pemuda tersebut. Dahi Wawan pun berkerut.
"Bang, ini bukan hangus tapi itu karena kecap".
"Yang di katakan Wawan benar bang, kenapa Abang jadi marah?. Apa Abang lagi ada masalah?. Cerita sama Lina". Lina berusaha menenangkan pria yang telah menjadi kekasihnya itu selama dua bulan terakhir ini.
Harfei pun meletakan sate ayamnya dan beralih memasuki ruangan di mana biasa dia gunakan sebagai tempat istirahat.
"Sayang, kamu kenapa sih?. Kok akhir-akhir ini Lina perhatiin Abang sedang kalut. Abang ada masalah sama ibu?". Tanya Lina yang sengaja mengikuti Harfei hingga ke ruangannya.
"Gak ada apa-apa, Lin. Abang hanya kecapean saja". Balas Harfei sambil mengulun kan senyuman paksa di wajahnya.
"Kalau gak ada apa-apa, terus kenapa Abang hampir tiap hari uring-uringan?". Lina duduk di samping Harfei dan memegang pundak pria tersebut.
"Abang hanya kecapean saja kok. Kamu gak usah khawatir ya?. Oh iya, bagaimana kabar papa mu?. Apa beliau baik-baik saja?". Harfei berusaha mengalihkan pembicaraan agar Lina tidak bertanya lebih lanjut perihal perubahan sikap nya yang bahkan dirinya sendiri pun tidak tau alasannya.
"Alhamdulillah papa sudah mulai membaik bang. Oh iya, jangan lupa ya ntar malam Papa menyuruh Abang untuk ke rumah". Senyuman Lina mengembang kala mengingat pesan ayahnya yang mengundang Harfei untuk makan malam sebagai tanda restu akan hubungan mereka.
"Ia, Abang ingat kok. Ya sudah, sebaiknya kamu pulang saja ya?. Siapkan dirimu buat nanti malam. Kan Abang mau berkunjung ke rumah calon istri Abang". Ketika mengucapkan kata ' Calon Istri ', entah mengapa hati pria itu seolah menolak, namun ia berusaha untuk memantapkan hatinya agar tidak gusar. Lina pun pulang sesuai dengan ucapan Harfei.
*****
Sepulang Lina dari kedainya, Harfei membasuh wajahnya dengan air untuk menyegarkan kepala juga perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa kehilangan yang bergejolak dalam hatinya ketika mengingat Hazal yang selama dua bulan ini menghilang entah kemana. Bahkan dia tidak tau nomor ponsel dan alamat rumah wanita tersebut. Lagi pula, buat apa Harfei mencari wanita itu?. Bukankah hubungan mereka hanyalah sebatas penjual sate dan pelanggan?. Setiap orang bebas menentukan pilihan masing-masing untuk mencari hal baru, seperti tempat makan misalnya.
__ADS_1
Puas membasuh wajahnya, Harfei pun keluar untuk menemui Wawan guna meminta maaf atas sikapnya yang keterlaluan tadi. Dan ketika pria itu hendak keluar ruangannya, ia mendengar tawa yang sangat familiar di telinga nya. Buru-buru Harfei melangkahkan kakinya, dan betapa senang hati dan jiwa Harfei kala melihat Hazal sedang asik menikmati sate bersama sahabatnya Sonia sambil tertawa.
Tanpa Harfei sadari ia menarik bibirnya dan membentuk senyuman disana, seolah ia mendapatkan sesuatu yang selama ini hilang. Hatinya pun terasa tentram kala mendengar tawa itu. Tawa yang selama dua bulan ini di rindukannya.
Harfei berjalan menuju meja Hazal dan menyapa wanita itu.
"Hai. Apa kabar?".
Hazal mengernyitkan dahinya merasa bingung akan perubahan sikap Harfei yang tiba-tiba saja melunak.
"Baik". Jawab Hazal.
"Kemana saja selama dua bulan ini?. Kenapa tidak pernah datang lagi di kedai ku?. Apa kekasihmu melarang mu untuk makan di kedai sederhana ini?. Atau kamu sudah menemukan tempat makan yang baru sehingga kamu melupakan kesepakatan kita bahwa kamu akan menjadi pelanggan tetap ku, itu artinya kamu harus setiap hari makan disini". Tanya Harfei secara beruntun dan dengan perasaan yang menggebu-gebu, seolah ingin meluapkan segala sesuatu yang mengganjal di dalam sana selama dua bulan terakhir.
Hazal yang mendengar pertanyaan Harfei itu pun di buat tercengang, ia mengerjab kan matanya beberapa kali. Sementara Sonia di buat bingung akan hubungan keduanya.
'Oh, astaga. Apa yang sudah aku lakukan?. Kenapa aku tidak bisa menahan diriku?'. Harfei mengutuk dirinya sendiri.
"Ehem. Kamu mau pesan apa?". Harfei berusaha menetralkan perasaannya yang sempat kacau tadi.
"Tapi kami sudah memesan nya Harfei". Jawab Sonia dengan wajah heran. Harfei pun menjadi salah tingkah akan sikap konyolnya.
"Ah, maaf. Saya tidak memperhatikan nya. Silahkan di lanjutkan". Harfei meninggalkan Hazal yang masih setia dengan kebingungan nya.
' Dia kenapa?. Apa dia salah minum obat?. Atau kesambet setan?' Batin Hazal.
"Zal, Harfei kenapa?. Kok kayanya dia mengkhawatirkan sesuatu tentang mu. Apa kalian ada masalah?". Tanya Sonia.
__ADS_1
"Kami gak ada masalah apa-apa. Lagi pula aku juga baru berkunjung lagi di kedai ini setelah perjalanan bisnis yang cukup melelahkan itu di luar kota. Ayah tidak memberiku kesempatan untuk pulang sebelum semuanya beres".
Ya, selama dua bulan Hazal melakukan perjalanan bisnis yang di perintahkan oleh ayahnya. Ia harus membiasakan dirinya untuk melakukan hal itu, karena Hazal merupakan putri satu-satunya dan akan meneruskan perusahaan miliknya ayahnya tersebut kelak nanti.
"Mungkin dia merindukan mu selama dua bulan tidak melihat mu, Hihihi". Sonia menggoda Hazal.
"Apaan sih, Son. Mulai deh". Ucapan Sonia membuat hati Hazal menghangat. Tidak di pungkiri jika ia juga merindukan pria itu. Pria yang mampu membuat jantungnya bekerja keras setiap kali berada di sampingnya. Ia pun tersenyum, namun hal itu tidak di sadari oleh Sonia sahabatnya. Tanpa Hazal ketahui Harfei mendengar pembicaraan mereka dari balik ruangannya. Pria itu tersenyum akan ucapan Hazal yang mengatakan jika selama dua bulan ini ia melakukan perjalanan bisnis, bukan karena menemukan tempat makan yang baru. Itu artinya Hazal bukanlah seseorang yang mengkhianati ucapannya dulu, meskipun perjanjian keduanya tidak ada hitam di atas putih yang sewaktu-waktu bisa di batalkan atau mengalami perubahan.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Jika kalian menyukai cerita Hazal dan Harfei, silakan like, komen, dan vote. Semoga terhibur. Terimakasih.
Happy Reading 😊.
__ADS_1
*Dede...