Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 49. Bertemu Helena.


__ADS_3

Hari ini Hazal berencana untuk menemui Helena secara pribadi. Mempertanyakan tujuannya bekerja di restoran, bagaimana hidup wanita tersebut, dan semua yang mengganjal di hati wanita berambut warna madu itu akan di ungkapkan setelah pertemuan nya nanti.


Hazal memilih tempat yang jauh dari restoran miliknya. Karena jika ia menginterogasi Helena di restoran miliknya, maka tidak menuntut kemungkinan ia akan ketahuan oleh pelaku sebenarnya. Terlebih lagi di restoran itu Sonia sering datang dan pergi sesuka hati tanpa memberi kabar terlebih dahulu.


Kini Hazal memasuki sebuah restoran China. Restoran yang bernuansa klasik dan jauh dari pusat kota.


Dalam sudut ruangan ada seorang wanita tengah meminum teh hijau pesanannya sembari memutar-mutar ponsel miliknya seolah sedang menunggu seseorang.


"Helena".


"Mba Hazal".


Ya, wanita itu adalah Helena. Dia datang terlebih dahulu di restoran tempatnya membuat janji untuk bertemu Hazal. Kedua wanita itu saling bersalaman lalu kemudian duduk di tempatnya masing-masing.


"Ada mba Hazal menyuruhku datang ke tempat ini?".


Helena tampak bingung pada wanita yang merupakan bosnya tersebut. Semalam ia tiba-tiba mendapat telpon dari Hazal, jika wanita itu ingin bertemu dan berbicara dengannya secara pribadi dan jauh dari restoran agar tak ada yang melihat mereka.


"Ada yang ingin aku pertanyakan padamu". Balas Hazal seraya meletakkan tas miliknya di atas meja.


"Sebaiknya mba pesan minum atau makan dulu. Disini menunya lumayan enak, siapa tau mba terinspirasi buat menu restoran kita". Tawar Helena sebelum kedua wanita itu membicarakan hal penting yang menjadi tujuan Keduanya untuk bertemu.


"Baiklah. Aku akan pesan dulu".


Hazal memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman. Wanita itu memesan mie China yang konon katanya sangat terkenal di tempat tersebut, menu primadona dari restoran klasik itu.


Kemudian Hazal memesan minuman air putih serta teh melati khas China.


Sementara Helena memesan bakpao isi daging sapi dan mie China serta minuman arak beras yang sama sekali tidak memabukkan.


Puas menyantap menu makanan yang menggugah selera, kini kedua wanita itu melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda.


"Jadi mba Hazal mau nanya apa sama aku?". Tanya Helena membuka pembicaraan.

__ADS_1


Hazal mengembuskan napas sebelum bertanya. Lalu kemudian raut wajah wanita itu berubah menjadi lebih serius.


"Apa tujuanmu datang bekerja di restoran ku secara tiba-tiba?".


Pertanyaan itu membuat kening Helena berkerut dalam. Bukankah sudah jelas bahwa dirinya butuh pekerjaan?. Sejak awal wanita itu sudah memberitahukan alasannya bekerja di restoran wanita berparas sederhana itu. Lalu mengapa harus di pertanyakan lagi?. Pikir Helena.


"Bukankah sejak awal saya sudah mengatakan jika saya butuh pekerjaan karena ingin membantu ibuku?". Jawab Helena setelah beberapa saat diam.


"Aku tau itu. Tapi yang aku inginkan jawaban mu yang sebenarnya". Desak Hazal. Wanita itu tampak sedang memendam sesuatu di dalam sana.


"Tapi itu jawabanku yang sebenarnya mba. Baiklah, awalnya aku datang pada mas Harfei karena aku pikir dia belum menikah, aku berharap masih ada tempat untukku di hati mas Harfei. Namun ternyata pikiranku salah. Ia sudah menemukan seseorang yang tepat di sisinya". Ucap Helena tulus.


Hazal menatap lekat-lekat manik mata coklat itu dan berusaha untuk menerobos kedalamnya agar ia bisa menemukan kebohongan di dalam sana.


"Jadi aku putuskan untuk mengiklas kan mas Harfei untuk mba Hazal. Lagi pula jika mengingat peristiwa dulu, aku sangatlah jahat dan tidak pantas untuk di maafkan, tapi mba Hazal justru membuka lebar-lebar pintu maaf itu untuk wanita yang tak berperasaan sepertiku".


Suara Helena berubah menjadi lirih. Wajahnya sendu seolah menyesali sesuatu di masa lalu.


"Beberapa bulan yang lalu ibuku di vonis menderita kangker payudara stadium lanjut. Aku begitu panik dan takut. Aku tidak memiliki pengalaman apapun dalam bekerja, aku hanyalah wanita manja yang mengandalkan aset orang tua. Tapi setelah ibu sakit, hatiku semakin terbuka lebar bahwa menjadi seseorang yang mandiri itu sangatlah penting meski hidup bergelimang harta. Karena tak selamanya posisi kita selalu berada di atas".


Hazal belum bergeming. Wanita itu tampak sedang menikmati cerita Helena.


"Jadi mas David memberiku bantuan dengan membawa ibu ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Semua biaya pengobatan ibu di tanggung oleh mas David".


"Hampir setiap hari mas David datang menemui ku di depan restoran kita untuk memberiku uang".


Satu garis air mata lolos tanpa permisi di pipi Helena. Wanita itu merasa sedih ketika mengingat hidupnya yang kini sangat berbanding terbalik jika ia menelisik di masa lalu.


"Apakah kamu masih memiliki perasaan pada mas Harfei?". Tanya Hazal akhirnya setelah sekian lama diam mendengarkan curahan hati Helena.


DEG...


Helena terperangah ketika mendengarkan pertanyaan yang selama ini tak pernah di pikirkan nya.

__ADS_1


"Apa maksud mba Hazal?. Aku bahkan tidak berhak untuk mengagumi mas Harfei. Dia seperti saudara bagiku, begitu juga dengan mba Hazal".


Helena menggenggam tangan Hazal dan menatap tulus pada wanita yang merupakan bosnya tersebut.


Hazal membalas tatapan itu dengan hal lain, ia masih terus berusaha untuk menerobos mata coklat itu agar tak merasa tertipu dengan mulut manis seseorang.


"Apakah kamu sering menggunakan jasa kurir untuk mengirim sesuatu?".


Pertanyaan kali ini membuat Helena semakin bingung. Kening wanita itu hampir menyatu.


"Sebenarnya apa maksud mba Hazal untuk mengajakku bertemu di tempat ini?. Aku rasa ada hal lainnya yang sangat penting dan mengganggu pikiran mba Hazal".


Bingo. Tepat sekali, hati Hazal bergetar kala mendengar pertanyaan Helena. Wanita itu melepas tangan Helena lalu kemudian meminum teh melati miliknya untuk menetralkan perasaan nya. Lalu kemudian meletakkan cangkir berwarna hijau itu di atas meja. Hazal menatap kesamping jendela restoran yang menampakkan area persawahan di sekeliling restoran tersebut.


"Sebenarnya kedatangan ku kesini aku ingin memastikan sesuatu".


Hazal mengembuskan napas berat. Ia seolah tak bisa mengatakan keganjalan di hatinya jika mengingat bagaimana hidup Helena berdasarkan ceritanya tadi.


"Ada seseorang yang meneror ku. Selama beberapa bulan ini orang itu selalu mengirimkan foto dirimu dan mas Harfei".


Hazal membuka tas miliknya yang terletak di atas meja lalu kemudian ia mengambil amplop berwarna coklat yang berisikan foto suaminya dan Helena.


Helena mengambil foto tersebut, betapa terkejutnya wanita itu kala melihat benda berukuran 3x3 cm itu. Tangan Helena bergetar, lututnya seolah kehilangan tenaga.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut>>>


__ADS_2