
Waktu yang di tunggu-tunggu oleh Hazal dan Harfei akhirnya telah tiba, dimana Hazal telah melahirkan putra pertama mereka. Hal ini merupakan kabar yang paling membahagiakan bagi seluruh keluarga, tak terkecuali Sonia. Wanita cantik itu tampak antusias menyambut putra dari sahabatnya tersebut.
Kedua orang tua Hazal pun tak mau ketinggalan, kedua orang tua itu berebut ingin menggendong cucu pertama mereka, dan yang lebih menghebohkan adalah ibu Harfei. Wanita paruh baya itu bahkan memberi nama pada cucu pertamanya itu "Rossa". Alasannya simpel, karena beliau sangat mengidolakan sosok penyanyi Rossa yang mengisi soundtrack film layar terbang. Gak ada yang aneh sih dari nama itu, hanya saja anak Harfei dan Hazal bukan berjenis kelamin perempuan, tetapi laki-laki. Masa iya di beri nama Rossa?. Bisa-bisa di katakan lekong dong. 😄
"Bu, masa sih ibu memberi nama Rossa sama putra Harfei?. Anak Harfei tuh bukan perempuan, tapi laki-laki. Emang ibu mau anak Harfei nanti di sangka lelaki jadi-jadian?". Protes Harfei. Namun wanita paruh baya itu tak mau mengalah begitu saja.
"Yang penting bagian bawahnya ular kobra, bukan kupu-kupu". Semua yang mendengar kalimat impulsif itu menganga tak percaya. Datang dari mana sifat impulsif itu?. Bukankah ibu tak pernah mengeluarkan kalimat seperti itu?.
Lalu kemudian Hazal membisik Harfei,
"Mas, sepertinya ibu sering mendengarkan kita online". Astaga, ada apa dengan para wanita ini sebenarnya?. Mengapa mereka memiliki sifat yang hampir sama?. Pikir Harfei.
"Pokoknya aku gak mau nama itu". Protes Harfei. Lalu kemudian wajahnya berubah menjadi sendu.
"Aku sudah berjanji pada Ayah Wisnu untuk menyelipkan nama beliau pada putra kami".
Seketika Hazal dan semua yang ada di ruangan itu diam tanpa kata. Raut wajah ibu Harfei pun berubah jadi sendu. Seketika wanita paruh baya itu mengenang saat-saat terakhir bersama pria paruh baya yang sudah menghadap sang khalik.
Keheningan sejenak memenuhi ruangan ibu dan anak itu, tak ada satu pun yang bersuara, tak terkecuali kedua orang tua Hazal.
Hening...
Hening...
Hingga,
"Siapa namanya, mas?". Tanya Hazal memecah keheningan dalam ruangan tersebut.
Harfei menatap wanita yang berstatus sebagai istrinya itu seraya tersenyum manis, lalu kemudian mengecup kening wanita bermata coklat tersebut.
"Namanya Davian Wisnutama Putra Harfei". Jawab Harfei mantap seolah sudah lama mempersiapkan nama itu.
Ayah Hazal tampak tersenyum mendengar nama pemberian menantunya itu.
"Nama yang bagus, Nak. Ayah menyukainya". Ucap Ayah Hazal seraya mengelus pipi cucunya tersebut.
"Hazal juga setuju". Ucap Hazal akhirnya setelah beberapa saat kemudian.
Sementara ibu Harfei menitikan air mata, entah apa yang membuat hati wanita paruh baya itu merasa sedih.
__ADS_1
"Mba kenapa menangis?". Tanya ibu Hazal yang berhasil melihat besannya itu menyeka air mata sebelum akhirnya ia mendekat.
"Aku hanya terharu Mba. Aku pikir Harfei tidak akan menyelipkan nama Ayahnya pada putranya".
"Kenapa ibu bicara seperti itu?". Harfei yang tadi duduk di tepi ranjang bersama Hazal, kini beralih mendekap tubuh ibunya.
"Bukankah kita sudah sepakat untuk saling membuka hati dan merelakan semua yang telah terjadi?". Beralih menyeka air mata ibu yang kembali tergenang.
"Ibu jangan sedih lagi. Ayah Wisnu sudah tenang disana. Harfei juga sudah memaafkan dan merelakan semua yang telah terjadi. Bahkan Harfei juga tak pernah mengganggap semua pernah terjadi".
Semua yang mendengar kalimat bijak Harfei pun tersenyum bahagia. Terutama Hazal, wanita itu tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hati.
"Hazal, suami kamu sweet banget sih?". Sonia yang sedari tadi diam kini bersuara seolah memecah kesedihan yang membaluti ruangan itu.
"Itulah mengapa aku mencintainya".
"Mommy, kapan Samuel punya dedek bayi lagi?". Pertanyaan polos itu keluar begitu saja dari mulut putra Sonia. Bocah kecil itu seolah memahami pembicaraan orang dewasa di sekelilingnya.
Arya tersenyum mendengar pertanyaan polos putranya itu.
"Nanti pulang dari sini Daddy akan buatkan adik untukmu. Mau cewek atau cowok?". Tanya Arya seraya menggendong putranya yang tampan itu.
"Ada gak selain cewek dan cowok?".
Pertanyaan macam apa itu?. Mana ada jenis kelamin lain selain cewek dan cowok?.
"Emang Samuel mau yang kaya gimana?". Tanya Arya penasaran dengan pola pikir putranya itu.
"Samuel mau seperti yang di peragakan Om Wawan waktu nonton film Catatan si Boy. Yang kaya gini dad". Samuel memperagakan gaya salah satu pemeran dalam film itu yakni gaya seorang banci.
Sumpah demi apapun, ingin rasanya Sonia mencabut gigi kuning Wawan dan menenggelamkan pria kurus itu ke laut. Sementara yang lainnya tak mampu menahan tawa.
"Hahaha, Sonia. Sepertinya putramu ketularan Wawan yang tak waras itu". Hazal mengejek Sonia,dan berakhir dengan tatapan tajam dari sahabatnya itu.
"Awas kamu Wawan. Aku patahkan gigimu". Gerutu Sonia. Namun, akhirnya Wawan muncul bersama Helena dan Anton. Ketiganya datang dan membawa sebuah bingkisan guna memberi ucapan selamat pada bosnya tersebut.
"Nah, itu dia orangnya. Umur panjang juga kamu, Wan".
Wawan yang baru saja masuk sangat terkejut ketika semua mata tertuju padanya, terutama Sonia. Wanita itu menatap tajam pada Wawan.
__ADS_1
"Mata Mba Sonia kenapa?. Kesambet setan Mba?". Tanya Wawan seolah tanpa dosa.
Sumpah demi apapun, ingin rasanya Sonia meremas tulang kering Wawan dan melemparnya ke mulut harimau.
"Sudahlah". Tandas Hazal. Wanita itu beralih pada Helena.
"Terimakasih ya Helena kamu sudah mau datang menjengukku". Ucap Hazal tulus.
"Sama kekasih Helena gak di ucapin terimakasih nih?". Tandas Anton tak mau kalah.
"Ha?. Kekasih Helena?. Siapa?".
"Tuh". Ucap Harfei. Semua orang melihat kemana arah dagu pria itu. Betapa terkejutnya Hazal dan Sonia.
"Wawan?".
Ya, akhirnya Helena menerima cinta si kurus Wawan. Meski beda usia lima tahun, tapi pria bertubuh kurus itu tak patah semangat untuk mendekati Helena dan mendapatkan cinta wanita itu. Pada akhirnya hati Helena luluh ketika melihat kegigihan usaha Wawan.
"Wawan, kamu gak pake pelet kan untuk menggaet Helena?. Atau jangan-jangan kamu menggunakan jasa dukun yang di sebelah rumah kamu?". Hazal meragukan Wawan dan Helena.
"Aku tulus menerima Wawan kok mba". Ucap Helena malu-malu. Sementara Wawan memasang wajah sombong.
"Hedew... emang kamu gak jijik kalau berciuman sama dia Helena?. Lihat aja giginya yang kuning itu". Timpal Sonia. Wanita bar-bar itu tak sanggup membayangkan bagaimana Helena berciuman pada Wawan. Sonia bergidik ngeri.
"Sonia, kamu gak boleh ngomong kaya gitu". Tandas Arya. Pria itu memahami bagaimana karakter istrinya yang bar-bar.
"Anton, ternyata kamu kalah sama Wawan". Cibir Ayah Hazal. Pria paruh baya itu tak kala bar-barnya jika di bandingkan yang lain.
"Lihat saja tubuhnya yang kurus itu, pasti ularnya juga kecil". Lanjutnya kemudian.
"Kalau gak di sentuh jelas saja akan kecil Ayah, tapi kalau sudah kena belaian pasti kepala ularnya akan naik".
Ayah dan anak itu sama-sama mengeluarkan kalimat sarkatis dan impulsif. Semua yang berada di ruangan itu hanya bisa tertawa. Namun tidak dengan ibu Hazal. Wanita paruh baya itu tak bisa menahan rasa malu karena suaminya yang tak lagi muda itu berkata selayaknya anak remaja.
"Ayah, apa-apaan sih?. Malu sama umur".
"Ah, ibu gak usah malu. Tiap malam juga ular-- Mmmmm---".
Ibu Hazal sontak menutup mulut suami bar-barnya itu tak ingin menambah rasa malu.
__ADS_1
"Hahahaha".
Semua yang berada dalam ruangan itu tertawa bahagia seolah menyambut kehidupan baru. Tanpa beban, tanpa masalah, dan tanpa kesedihan.