Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 38. Kehilangan.


__ADS_3

Hari ini adalah hari ketujuh dimana detektif Reza akan menyerahkan hasil penyelidikan nya, dan setelah itu Hazal akan mengetahui siapa dalang di balik teror dan juga yang akan menghancurkan rumah tangganya.


Semalam detektif Reza telah menghubungi Hazal dan membuat janji untuk bertemu di restoran tempat mereka bertemu sebelumnya.


Kini Hazal telah sampai di restoran tersebut. Wanita itu menunggu kedatangan deteksi Reza. Di lihatnya benda yang melingkar di tangan kirinya guna melihat waktu. Ternyata Hazal sudah menunggu lebih dari satu jam.


Lama menunggu akhirnya Hazal menghubungi nomor ponsel detektif Reza, namun di luar jangkauan. Hazal tak mau berputus asa, dan menghubungi kembali nomor ponsel detektif tersebut, namun hasilnya tetap sama, hanya suara operator yang menjawab. Hazal menjadi cemas,


"Ada apa dengan detektif Reza?. Kenapa nomor ponselnya tidak aktif?". Gumam Hazal.


Tak lama ponsel Hazal pun berbunyi menandakan pesan masuk,


'Apakah kamu sedang menunggu seseorang yang akan memberikanmu informasi tentangku?. Oh, ayolah Hazal. Detektif itu hanyalah orang bodoh yang tidak bisa bekerja dengan baik. Lebih baik hentikan penyelidikan mu sebelum nyawamu melayang. Aku bisa saja memberimu pilihan, tinggalkan suamimu untukku secara suka rela, atau kamu memilih mati secara perlahan. Aku akan terus mengawasi mu'.


Mata Hazal membulat sempurna, bola mata itu rasanya akan keluar dari tempatnya. Jantung wanita itu berdetak kencang, bukan karena takut akan di bunuh, tapi ia sungguh takut akan kehilangan suami yang di cintai nya sepenuh hati. Terlebih lagi ia harus menyerahkan suaminya secara suka rela pada seseorang yang seperti psikopat. Tidak akan!.


"Berarti selama ini dia mengetahui semua gerak-gerik ku. Itu berarti...". Hazal bermonolog dan menggantungkan kalimatnya seolah memikirkan sesuatu.


"Hazal".


"Sonia?".


Sonia tiba-tiba muncul di restoran tersebut dan menyapa sahabatnya itu.


"Apa yang sedang kau lakukan disini, Zal?. Dan ada apa dengan wajahmu itu?. Apa terjadi sesuatu?". Tanya Sonia secara beruntun. Wanita itu tampak tak sabar dengan jawaban sahabatnya. Sangat jelas terlihat di wajah Hazal jika wanita itu sedang tidak baik-baik saja.


"Sonia, detektif yang Minggu lalu aku sewa kini menghilang entah kemana, bahkan dia tidak meninggalkan jejak. Nomor ponselnya juga tidak aktif lagi. Padahal semalam dia mengatakan akan memberikan ku hasil penyelidikan nya dan kami pun berjanji akan bertemu disini. Tapi hari ini," Hazal menjedah kalimatnya, wanita itu menghembuskan napas berat.


"Hari ini dia menghilang entah kemana. Kami bahkan sudah selangkah lebih maju. Hiks... Hiks... Hiks...". Isak tangis Hazal membuat hati Sonia merasa iba. Di pegangnya tangan sahabatnya guna memberi kekuatan pada wanita tersebut.


"Hazal, tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Aku akan membantumu". Sonia berusaha untuk menenangkan Hazal sembari mengelus tangan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sonia, sebenarnya apa yang terjadi?. Aku bahkan tidak memiliki musuh, dan aku tidak pernah menyakiti siapapun". Tutur Hazal dengan suara lirih.


"Mungkin kamu tidak sadar jika kamu sudah menyakiti orang lain. Atau mungkin Helena merasa sakit hari padamu karena kamu hidup bahagia bersama mas Harfei". Sonia masih tetap sama dengan pendiriannya bahwa ia mencurigai Helena adalah dalang di balik semua yang terjadi.


"Bisa saja kan dia menyewa orang untuk melukaimu atau membuatmu bingung. Wanita rubah itu bisa melakukan apa saja jika menginginkan sesuatu yang di anggap miliknya". Hazal tampak berpikir. Mungkin benar apa kata Sonia. Ia harus mulai mengawasi Helena.


"Baiklah. Aku akan mengikuti sarana mu. Mulai besok aku akan memantau Helena". Ucap Hazal pada akhirnya. Ia menyetujui saran Sonia yang memang sedari awal mencurigai Helena mantan kekasih dari suaminya sendiri.


"Nah, begitu dong. Sekarang hapus air matamu. Kita pulang sekarang, hm?". Sonia tersenyum penuh kemenangan karena akhirnya sahabatnya itu mau mengikuti sarannya.


Di tengah percakapan antar sahabat itu, tiba-tiba detektif Reza muncul dengan beberapa bekas luka di wajahnya. Hazal dan Sonia di buat terkejut akan hal itu.


"Nona Hazal". Ucap detektif Reza sembari memegang rahang nya yang memerah.


"Detektif Reza?. Apa yang terjadi?. Kenapa dengan wajah Anda?". Tanya Hazal dengan raut wajah khawatir dan juga panik.


"Tadi aku di hadang oleh beberapa orang yang tidak aku kenal sewaktu dalam perjalanan menuju kemari. Dan mereka telah mengambil semua bukti-bukti yang telah aku kumpulkan dan akan memberikan kepada Anda Nona".


Lalu kemudian orang itu mengambil amplop berwarna coklat yang mana isinya adalah semua hasil penyelidikan detektif Reza. Bahkan ponsel pria bertubuh kekar itu di rusak dan kartu memori dalam ponsel tersebut di ambil.


Maka hilanglah semua bukti yang telah terkumpul.


***


Hazal merasa tercengang akan cerita detektif Reza, begitu juga Sonia.


"Aku rasa kita sedang di awasi Nona Hazal. Karena sepertinya orang itu mengetahui semua rencana kita". Ucap detektif Reza.


"Aku rasa juga begitu. Tapi apakah ada hal yang anda ingat Tuan mengenai hasil dari penyelidikan Anda selama beberapa hari ini?. Paling tidak siapa pemilik nomor ponsel yang pernah mengirim foto pada Hazal?". Tanya Sonia.


"Nomor ponsel itu adalah private number. Dan setelah dia menghubungi nona Hazal, saat itu juga nomor ponsel itu sudah di non aktifkan".

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Helena?". Tanya Sonia kemudian.


"Untuk Nona Helena, dia adalah sepupu dari Tuan David".


"Apa itu artinya David juga terlibat?". Sonia tampak antusias ingin mengetahui penyelidikan detektif Reza, sementara Hazal diam tak bergeming. Ia hanya mendengarkan sedari tadi.


"Untuk sejauh ini saya belum bisa memastikan Nona". Ucap detektif Reza.


"Saya mohon maaf karena sudah lalai dalam hal ini Nona Hazal". Lanjutnya kemudian penuh sesal.


"Tidak apa-apa detektif. Saya justru berterimakasih atas bantuan Anda. Tapi saya harap, Anda masih bisa bekerja untuk saya". Ucap Hazal penuh harap.


Wanita itu benar-benar ingin menyelesaikan semua masalah yang ada. Tak ingin berlarut-larut hingga rumah tangga yang di bina nya bersama Harfei hancur seketika.


"Tentu saja Nona. Aku akan menghubungi Anda". Balas detektif Reza. Pria itu ingin pergi meninggalkan Hazal dan juga Sonia, namun Hazal menghentikan langkahnya.


"Tuan Reza, tunggu". Hazal mengeluarkan amplop berwarna putih dan memberikan pada detektif tersebut.


"Ini untuk mengganti ponsel Anda yang rusak Tuan Reza. Tolong jangan menolak". Detektif Reza pun mengambil amplop tersebut yang jumlahnya lebih dari harga ponsel di jual di konter. 😁


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2