
Sonia melepas genggaman tangannya pada Harfei lalu kemudian beralih pada Hazal.
"Hazal, tolong rahasiakan ini pada Ayah dan ibumu dulu. Aku belum bisa bercerita pada mereka. Setelah aku mendapat restu dari ibuku, barulah aku akan menceritakan segalanya kepada mereka". Ucap Sonia dengan penuh permohonan. Hazal pun mengiyakan permintaan Sonia. Dan Sonia pun berterimakasih untuk itu.
Di sela-sela keberadaan Sonia dan Hazal serta Harfei, muncul seorang pria yang berperawakan tinggi dan juga tampan. Dia adalah Riyan, suami Sonia sekaligus rekan bisnis Harfei.
Riyan tampak sangat terkejut ketika melihat dua orang asing tengah merengkuh tubuh istrinya Sonia. Sementara wanita itu tengah menangis terisak, membuat pria tersebut panik dan berjalan mendekati ketiganya dengan langkah cepat.
"Ada apa sayang?. Apa yang terjadi?. Ibu baik-baik saja kan?". Tanya Riyan secara beruntun.
Hazal yang menyaksikan kepanikan Riyan pun merasa bahwa pria tersebut sangat peduli dan mencintai sahabat nya. Jadi tidak ada alasan bagi wanita berparas sederhana itu untuk menolak ataupun membenci Riyan meski pria itu telah merenggut kehormatan sahabatnya secara paksa.
Sonia tersenyum pada Riyan. Dan Riyan pun mengernyitkan dahinya merasa heran,
"Ada apa?. Apa semua baik-baik saja?". Tanya Riyan kemudian setelah tak mendapat jawaban dari Sonia. Bukannya menjawab, Sonia justru tersenyum.
"Katakan padaku". Desak Riyan masih dengan raut wajah paniknya.
"Ibu masih seperti semalam. Dia baik-baik saja". Jawab Sonia, dan Riyan pun mengembuskan napas lega.
"Syukurlah".
Tak lama Riyan menyadari jika bukan hanya mereka berdua saja ditempat itu, melainkan ada Harfei yang merupakan rekan bisnisnya, serta...?.
"Tuan Harfei?". Ucap Riyan.
"Iya tuan Riyan. Senang bertemu dengan Anda". Balas Harfei sembari menjabat tangan Riyan.
"Mohon maaf Tuan Harfei. Sedang apa Anda disini?. Apakah istri saya melakukan kesalahan?. Bukankah semalam dia sudah meminta izin?". Tanya Riyan dengan raut wajah heran. Namun Harfei tidak menjawab pertanyaan pria tersebut.
"Aku adalah sahabat Sonia, Hazal. Istri dari Mas Harfei". Jawab Hazal. Wanita itu memperkenalkan dirinya pada Riyan yang merupakan suami dari sahabatnya itu.
"Ah, begitu rupanya. Jadi Anda yang bernama Hazal?. Aku sering mendengar nama Anda Nona Hazal. Sonia sering bercerita padaku tentang mu. Wanita cerdas dan perfeksionis, putri dan Tuan Kaya Keremcem sang empunya kerajaan bisnis". Puji Riyan.
__ADS_1
Mendengar itupun Hazal tersipu malu.
"Ah, Anda terlalu berlebihan Tuan Riyan". Balas Hazal.
"Sayang, apa kamu harus memuji wanita lain di depan istrimu sendiri?". Tatapan mata Sonia berubah menjadi tajam. Membuat Hazal tak bisa menahan tawanya.
"Hahahaha. Apakah kamu sedang cemburu Sonia?".
"Hei, yang benar saja. Aku ini sahabat mu sayang". Hazal menggoda Sonia. Sementara Sonia menatap tajam sahabatnya itu. Dan Harfei serta Riyan yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Apakah ini sebabnya kamu mengajarkan pada istriku gaya melayani suami ketika landasannya becek?. Ternyata kamu sudah menikah dan menjadi senior kami". Pertanyaan tak terduga yang di lontarkan Harfei membuat mata Sonia terbuka lebar, bagai ingin keluar dari tempatnya, tak terkecuali Hazal dan Riyan.
"Apa itu artinya kamu mengajarkan gaya kita ketika mendaki gunung pada sahabat mu sayang?". Tanya Riyan tak percaya. Sementara Sonia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari tersenyum canggung.
"Hehe. Aku hanya mengajarinya yang dasar-dasar saja. Selebihnya dia pasti mempraktekkan dengan caranya sendiri". Balas Sonia masih dengan senyum canggung. Sementara Hazal merasa puas menggoda sahabat bar-bar nya itu.
"Sudahlah. Aku hanya bercanda. Jadi Apa rencana kalian berdua?". Tanya Hazal seolah mengalihkan pembicaraan. Sejenak Sonia dan Riyan melupakan kesedihan mereka.
Wajah Sonia berubah menjadi sendu.
"Semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku". Ucap Riyan meyakinkan.
****
Kini Hazal, Harfei, Sonia, dan juga Riyan berada dalam ruangan ibu Sonia di rawat.
Dua pasang suami istri itu menatap iba pada wanita paruh baya yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang. Dan masing-masing berharap bahwa wanita yang telah melahirkan seorang putri cantik itu segera siuman.
Mungkin Tuhan mendengarkan doa dan harapan empat orang tersebut. Tiba-tiba saja mata ibu Sonia mengerjab menandakan kesadaran.
Sonia yang melihat itupun sontak merasa bahagia.
"Ibu, ibu sudah sadar?. Maaf kan Sonia Bu. Hu... Hu...". Sonia kembali menangis sembari memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.
__ADS_1
"Se--- sedang a--apa k--kamu disini?". Tanya ibu Sonia pada Riyan yang tengah duduk di depannya. Wanita itu tampak tak suka pada pria yang telah merusak kehormatan putrinya itu.
"Ibu, Riyan mohon maaf atas apa yang terjadi pada putri ibu. Tapi Riyan benar-benar mencintai putri ibu. Riyan bisa mati jika harus berpisah dari Sonia, Bu. Atau ibu boleh membunuh Riyan, gak apa-apa. Asal ibu mau merestui kami Bu. Riyan sudah membuat wasiat jika Riyan harus mati di tangan ibu maka semua harta Riyan sudah di wariskan atas nama Samuel dan Sonia Bu". Ucap Riyan tulus sembari menghiba-hiba pada mertuanya tersebut seolah berharap restu dari wanita paruh baya itu.
Ibu Sonia masih belum bergeming. Ia menatap lekat-lekat mata Riyan mencoba mencari kebohongan didalam sana, namun wanita paruh baya itu tidak menemukannya. Yang ada hanyalah ketulusan.
Ibu Sonia memegang tangan Riyan. Sontak hal itu membuat pria tersebut terkejut, tak terkecuali Sonia dan juga Hazal serta Harfei yang masih berada di ruangan tersebut.
"A---pakah i-itu benar?". Tanya ibu Sonia dengan suara terbata-bata.
"Tentu saja bu. Jika ibu meminta nyawa Riyan, maka akan Riyan berikan. Tapi tolong jangan pisahkan Riyan dan Sonia Bu. Begitu juga dengan putra kami. Kami bahkan berencana memberikan ibu cucu yang banyak". Ucap Riyan tulus. Semua yang berada dalam ruangan itu merasa terharu sekaligus sedih. Terutama Sonia, wanita itu semakin mencintai suaminya tersebut.
"I-ibu merestui k-kalian, Nak". Ucap ibu Sonia akhirnya setelah beberapa saat diam. Wanita paruh baya itu merestui pernikahan putrinya. Melihat kesungguhan cinta Riyan, membuatnya yakin bahwa putrinya menikah pada pria yang benar.
"Apakah itu benar Bu?". Tanya Sonia yang sedari tadi diam.
Ibu Sonia menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Sonia.
Dan semua yang berada dalam ruangan itu pun merasa bahagia tak terkecuali Hazal. Wanita itu merasa bersyukur akhirnya sahabat satu-satunya telah menemukan kebahagiaan yang selama ini di impikan. Bahkan dia harus menutupi pernikahan itu hingga enam tahun lamanya tanpa di ketahui oleh siapapun. Sungguh hebat. Pikir Hazal.
Tak lama datang seorang dokter beserta dua orang perawat untuk memeriksa kondisi ibu Sonia yang perlahan mulai membaik.
.
.
.
.
.
**TBC.
__ADS_1
Untuk part Sonia sudah selesai ya Readers. Tapi bukan berarti wanita bar-bar itu tidak di masukkan lagi dalam cerita ini. Dia masih tetap jadi sahabat yang setia untuk Hazal dan Harfei. Atau... Ya sudahlah.😁
*Dede**...