
Selama tiga Minggu Sonia di rawat di rumah sakit, dan kini wanita cantik itu telah pulih seperti sedia kala. Samuel dan Riyan pun sangat bahagia tak terkecuali Hazal dan Harfei. Tetapi Hazal belum mau memaaafkan Harfei, wanita itu masih saja diam, namun ia tidak menolak suaminya itu ketika menjalani perawatan di RS.
Kini Hazal telah kembali ke rumah, namun bukan di rumah Harfei, melainkan di rumah kedua orang tuanya. Harfei pun menyetujui permintaan Hazal, ia memahami emosi Hazal yang belum stabil, terlebih lagi pria itu belum mendapatkan maaf dari sang istri.
"Hazal, makanlah ini". Ucap ibu Hazal sembari memberikan sate ayam yang berasal dari restoran nya dan Hazal pun menerima sate itu dan memakannya sampai habis tak tersisa. Wanita berambut panjang itu mengalami masa-masa mengidam yang terbilang tak merepotkan, ia hanya menginginkan sate yang berasal dari restoran miliknya, dan anehnya Harfei yang harus memanggang sate tersebut. Meski begitu Hazal belum mau memaafkan Harfei, tetapi Harfei tak patah semangat, ia semakin gencar melakukan apa yang di inginkan Hazal demi mendapatkan maafnya.
"Sayang, apakah kamu belum mau memaafkan suamimu?". Tanya ibu Hazal.
"Aku belum bisa memaafkan dia Bu. Dia sudah membohongi ku, bahkan dia juga sudah menyakiti ku berulang kali".
"Sayang, yang di lakukannya itu demi kebaikan mu. Apa kamu tau seberapa tersiksanya Harfei menyembunyikan itu semua?. Hampir setiap hari dia menangis di depan Ayah seperti anak kecil. Dia tidak berdaya sayang". Hazal menoleh pada ibunya dan menatap wanita paruh baya yang masih tampak cantik meski tak lagi muda itu dengan penuh selidik.
"Itu artinya Ayah tau segalanya?". Ibu diam tak bergeming. Hazal dapat membaca raut wajah bersalah dari sorot mata wanita paruh baya itu.
"Ibu juga tau?. Itu artinya satu-satunya orang yang tidak tau hanya aku?. Ibu tega". Mata Hazal mulai berkaca-kaca, ia benar-benar kecewa pada kedua orang tuanya yang ternyata sejak awal sudah mengetahui segalanya, hanya saja mereka memilih untuk diam.
"Sayang, maafkan ibu. Saat itu Ayah mu tidak punya pilihan lain. Karena Sintia tidaklah sendirian menjalankan rencana nya, dia bahkan menggunakan jasa mafia yang sangat di takuti di negeri ini. Apa kamu tau seberapa khawatirnya Ayahmu saat itu?. Dia bahkan rela menjadikan perusaan sebagai taruhannya yang di bangun dengan susah payah untuk memenuhi keinginan Sintia dan mafia itu. Dan apakah kamu tau kondisi Harfei saat itu?. Dia bahkan rela menukar nyawanya demi dirimu, tapi Sintia menolak karena yang dia inginkan adalah dirimu dan melihat ayahmu bangkrut".
Mata Hazal membulat sempurna, ia merasa terkejut dengan penjelasan ibunya. Mata wanita itu pun mulai berkaca-kaca.
"Bu, kenapa kalian tidak jujur pada Hazal Bu?. Kenapa?. Apakah aku tidak berhak tau semua ini?". Lirih Hazal.
"Sayang, maafkan kami. Kami benar-benar tidak berdaya saat itu. Dan tolong maafkanlah Harfei. Dia sudah cukup menderita selama ini. Apakah kamu sudah tidak mencintai dia lagi?".
DEG...
Pertanyaan itu membuat hati Hazal tercubit. Cinta?. Jangan tanyakan seberapa besar cinta wanita itu pada kekasih halalnya, jawaban nya adalah tak terhingga.
"Bu, bahkan sampai detik ini cintaku pada mas Harfei tidak pernah pudar. Aku selalu menatapnya dengan penuh cinta, tapi rasa kecewaku mengalahkan cintaku. Aku mungkin sudah menjadi istri yang durhaka, tapi tidak bisakah aku membutuhkan waktu untuk menyembuhkan lukaku?". Ya, yang di butuhkan Hazal hanyalah waktu dan ketenangan untuk menyembuhkan luka yang tak sengaja di torehkan oleh suaminya. Lalu tiba-tiba saja,
"Itu artinya kamu sudah mau memaafkan ku?". Harfei berdiri di ambang pintu dengan mata berbinar. Ia benar-benar merasa bahagia ketika mengetahui fakta bahwa Hazal masih mencintainya, hanya saja dia membutuhkan waktu untuk menata hati dan perasaan nya yang terkoyak.
Hazal membuang muka ke sembarang arah, sementara ibu memilih untuk pergi meninggalkan sepasang suami istri yang diam-diam saling merindukan itu.
"Selesaikan masalah kalian. Ibu pergi dulu". Ibu mengecup puncak kepala Hazal lalu pergi meninggalkan Hazal dan Harfei. Namun sebelum itu wanita paruh baya itu menepuk pundak Harfei seolah memberi pria itu kekuatan.
Situasi dalam kamar itu pun berubah menjadi canggung. Harfei berjalan mendekati Hazal dan duduk di tepi ranjang.
"Sayang, apakah kamu belum mau memaafkan ku?". Lirih Harfei.
Hazal belum mau bergeming. Hatinya bergejolak, antara memaafkan atau justru mempertahankan ego kemarahannya.
__ADS_1
Harfei memegang tangan Hazal seraya berkata,
"Sayang, aku mencintaimu. Sungguh aku melakukan itu semua demi cintaku padamu. Jika saja aku tidak mengikuti keinginan Sintia maka aku tidak akan melihatmu sampai sekarang dan aku akan mati perlahan lalu kemudian menyusul mu".
Masih belum bergeming.
"Sayang, sumpah aku sangat mencintaimu". Lirih Harfei. Dan akhirnya Hazal menoleh padanya lalu kemudian bertanya.
"Sumpah demi apa kamu mencintai ku?". Tanya Hazal penuh selidik.
"Demi onta di Arab".
"Ha?".
"Emang onta di Arab?". Tanya Hazal polos seolah melupakan kemarahannya.
"Memang onta di Arab sayang, mana ada onta di irian jaya. Kecuali onta bertelur". Balas Harfei berusaha untuk menggoda wanita itu.
"Aku juga tau kalau onta adanya di Arab bukan di Papua. Tapi mana ada onta bertelur?". Protes Hazal tanpa menyadari bahwa Harfei sengaja menggoda dirinya.
"Tentu saja ada".
"Onta jantan".
Sumpah demi apapun ingin rasanya saat itu juga Hazal menggaruk belakang Harfei dengan sendok garpu.
"Apa mas Harfei sedang menggodaku sekarang?. Mas keterlaluan, jahat kamu mas, jahat". Hazal memukul-mukul dada Harfei sambil menitikan air mata, seperti nya hormon kehamilan wanita itu mulai memperngaruhi perasaannya yang sensitif.
"Sakit sayang, maafkan aku. Aku hanya bercanda". Pinta Harfei.
"Mas jahat, aku gak mau memaafkan mas Harfei. Jahat, ja--mmmm---".
Harfei menyumbat mulut cerewet Hazal dengan bibirnya yang tipis dan manis. Hazal masih terus memberontak hingga ia menggigit bibir Harfei sampai berdarah. Akhirnya Harfei melepas bibir wanita itu yang lama tak di lumatnya.
"Itu balasan buat mu yang mengerjai ku!". Hazal menatap penuh kesal pada Harfei. Namun pria itu justru menganggapnya sebagai tatapan cinta.
Harfei tersenyum menggoda,
"Tapi kamu suka kan?". Tanya Harfei dengan suara yang di buat-buat.
"Is, mas jahat". Hazal berusaha untuk kembali memukul dada Harfei, namun secepat kilat pria itu menahan tangan Hazal. Tatapan keduanya terkunci untuk sesaat. Lalu kemudian Harfei memindahkan anak rambut Hazal yang sedikit menutupi wajah wanita tersebut ke belakang telinga. Lalu beralih mengecup kening wanita itu dan menangkup pipi Hazal.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu. Diam mu bagaikan tamparan keras untukku. Aku mengaku salah atas apa yang terjadi. Aku tidak jujur padamu hingga membuatmu terluka. Bahkan aku rela menukar nyawaku untukmu jika--".
"Sssst...". Hazal menutup mulut Harfei dengan tangan mungilnya. Ia menatap penuh cinta suaminya itu.
"Jika kamu mati, lalu siapa yang akan menjaga ku dan anak kita?".
Kalimat itu bagaikan madu manis yang di masukan dalam mulut Harfei. Ia begitu bahagia mendengarkan kalimat sederhana itu namun sukses membuat hatinya menggebu-gebu akan cinta.
Harfei memeluk tubuh Hazal,
"Terimakasih sayang sudah mau memaafkan ku. Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu". Harfei mencium seluruh wajah Hazal secara bertubi-tubi, tak ada satupun yang di lewatkan. Kening mereka pun menyatu, deru napas keduanya membuncah seolah saling bersahutan.
"Aku mencintaimu istriku Hazal Kaya, Mrs. Perfeksionis".
"Aku juga mencintaimu suamiku Harfei Iskandar si Mr. Jorok".
Keduanya pun saling tersenyum bahagia. Namun tiba-tiba saja,
perrrrrrrrrtttttt... perrrrrrrrrtttttt.. pret.. pret... preeeeeeeet...
Suara kentut Harfei yang keras hingga memenuhi ruangan itu merusak momen romantis mereka. Bahkan ibu dan ayah yang menyaksikan keduanya dari balik pintu pun berubah menjadi jijik. Sungguh menantu tidak romantis, bagaimana bisa ia kentut di tengah-tengah suasana yang romantis.
"Mas Harfei jorok".
Harfei senyum ala nyengir kuda bagai tanpa dosa menunjukkan giginya yang putih.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum. Readers, keriting juga jari mengetik episode yang banyak demi kalian. Dan hargai aku lewat like dan vote kalian ya. Tolong beri komentar yang bijak. Terimakasih.
Happy reading 😊.
*Dede...
__ADS_1