Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 24. Online.


__ADS_3

Di ruang meeting, Harfei mendapatkan kepercayaan pada investor yang bernama Tuan Pratama untuk mengerjakan proyek yang lumayan menguntungkan kedua belah pihak. Tak henti-hentinya Harfei mengucap syukur dalam hati sembari tersenyum. Hal yang sama pula di lakukan oleh ayah mertuanya. Tidak sia-sia pria paruh baya itu mengajarkan tentang bisnis pada pria yang telah resmi menjadi menantunya itu.


"Selamat, Nak. Akhirnya kamu mendapatkan kepercayaan dari Tuan Pratama salah satu investor terbesar. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Teruslah belajar, Nak". Ayah Hazal menepuk pundak menantunya itu seolah merasa bangga dan memberinya kekuatan.


"Terimakasih Ayah. Jika bukan karena Ayah, Harfei bukanlah siapa-siapa dan Semua juga berkat putri ayah yang selalu setia mendampingi Harfei". Tutur Harfei sembari tersenyum cerah.


"Semua berkat Rahmat Tuhan, Nak. Kita hanyalah perantara. Ayah dan Hazal adalah sebagian kecil dari objek kesuksesan mu saat ini. Namun yang berperan besar adalah Tuhan. Karena DIA adalah yang membolak-balikkan hati manusia. DIA yang menggerakkan hati Tuan Pratama untuk memberimu proyek ini".


Nasehat yang sungguh bijak bagi Harfei. Selama ini ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari seorang Ayah. Hanya ibunya lah yang selalu mencurahkan kasih sayang selama hidupnya. Dan sekarang Tuhan sangat berbaik hati memberinya kasih sayang seorang ayah lewat ayah mertuanya.


Dalam hati Harfei berjanji tidak akan merusak kepercayaan ayah mertuanya itu dan selalu menyayangi beliau dalam suka maupun duka.


"Terimakasih Ayah, terimakasih. Harfei benar-benar bersyukur bisa memiliki kalian semua. Ibu, Hazal, dan juga ayah adalah rejeki yang tak terhingga. Nikmat mana lagi yang akan di dustakan?". Kedua pria beda generasi itu pun berpelukan hangat seolah saling mengasihi satu sama lain.


*****


Di perjalanan pulang, Harfei tampak tersenyum sepanjang perjalanan. Hatinya saat ini sedang berbunga-bunga, tidak sabar rasanya untuk menyampaikan kabar bahagia pada istri tercintanya. Pria itu selalu bersiul ria bagai mendendangkan lagu cinta. Di putarnya musik dalam mobilnya yang berjudul 'Rindu Aku Rindu Kamu' yang di nyanyikan oleh Doel Sumbang dan Nini Karlina.


"Kerlap kerlip di tengah-tengah laut,


"Lampu perahu nelayan,


"Sembilan ribu bintang, sempurna bentuk bulan, perhiasan malam".


Lirik lagu itu masih di nyanyikan oleh artis wanitanya, setelah giliran artis pria Harfei pun mengikuti lirik lagu tersebut sembari berdendang ria.


"Ya o..o.. asyiknya menikmati malam, indah pantai indah laut suasana sunyi".


Terus berdendang hingga tepat di tepi jalan tempat dimana muda mudi menghabiskan malam untuk berpacaran, Harfei melihat salah satu pasangan tengah asik melakukan pertukaran air liur. Harfei pun menggelengkan kepalanya, namun dalam hati ia ingin segera sampai di rumah dan berdendang bersama istri tercintanya untuk bercocok tanam. Ia benar-benar iri sekaligus jijik pada pasangan muda tadi. Bagaimana bisa ada manusia yang mau melakukan hal itu di tempat terbuka?.


****


Di rumah, Hazal dan ibu mertuanya seperti biasa selalu menonton TV layar terbang Suara Hati Istri. Kali ini judul film itu adalah 'TERNYATA SUAMIKU MENIKAHI KU HANYA UNTUK MENIKAHI IBU TIRI KU'. Judul yang sangat miris, pikir Hazal.


Di tengah keasikan menonton film yang membuat sebagian besar hati para istri di Indonesia terkoyak, deru mobil yang sangat familiar di telinga Hazal terdengar bagai kode kebahagiaan.


Hazal tersenyum dan menyambut kedatangan suaminya itu dengan pelukan hangat lalu beralih mencium punggung tangan suaminya.


Hazal dan Harfei duduk di samping ibu yang tengah asyik menonton adegan yang membuat wanita paruh baya itu menitikan air mata. Harfei pun mengerutkan keningnya sembari menyenggol pelan lengan Hazal seolah bertanya apa yang terjadi pada ibu. Hazal pun menaikan bahunya dengan santai.

__ADS_1


Tak ingin merusak momen dan memperpanjang waktu, Harfei pun berbisik ke telinga Hazal.


"Online yuk". Kata itu sukses membuat kening Hazal hampir menyatu. Benar-benar bingung akan ucapan suaminya.


Harfei yang melihat kebingungan di wajah istrinya pun sekali lagi berbisik,


"Kode baru Uwik-uwik". Kali ini Hazal paham akan kode yang di berikan suaminya, namun ia masih ingin menggoda suaminya itu. Tidak biasanya Harfei terlihat cukup agresif dan memintanya lebih dulu seperti ini. Hazal pun menjawab,


"Jaringan sibuk".


"Tapi jaringan ku bagus". Masih dengan senyum antusias.


Hazal tidak bergeming, ia menoleh pada ibu mertuanya yang tengah asyik menonton drama yang sedang trend di kalangan emak-emak itu. Harfei yang paham akan lirikan mata istri ya pun mendekati ibunya.


"Bu, boleh pinjem Hazal bentar gak?". Ragu-ragu Harfei bersuara.


"Mau ngapain?". Masih dengan tatapan lurus ke layar TV.


"Mau online". Jawaban itu keluar begitu saja hingga Hazal pun memukul pelan pundak suaminya.


"Kok mau online pake ajak Hazal segala?. Hazal masih menemani ibu nonton. Ini lagi seru. Kalau mau online, online saja disini". Tutur wanita paruh baya itu tanpa melihat wajah anaknya yang sudah mulai gusar. Sedangkan Hazal tampak berusaha untuk menahan tawanya.


'Bagaimana caranya agar ibu mengerti ya?'. Batin Harfei. Tak mau putus asa, ia pun membujuk ibunya lagi.


"Halaa.. alasan kamu saja. Jaringan disini bagus kok. Lihat saja siaran TV itu bagus gak blur". Sumpah demi apapun Harfei ingin mencakar tembok saat ini juga. Tak ada pilihan lain, Harfei harus berkata yang sebenarnya.


"Ibu mau cucu gak?. Kalau mau cucu biarkan Harfei online bersama Hazal. Kalau ibu tidak menginginkan cucu berarti sepanjang hidup ibu hanya akan di temani TV layar terbang ini".


Dengan satu kali tarikan napas Harfei mengeluarkan uneg-unegnya tanpa rasa malu sedikit pun.


Kali ini ibu memahami maksud putranya itu sembari memukul pundak anaknya.


"Kenapa gak ngomong dari tadi sih?. Pake acara kode online segala. Ya sudah masuk sana, beri ibu cucu yang banyak". Kali ini Harfei tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan sebelum ibunya itu berubah pikiran untuk memaksa Hazal menonton layar terbang hingga film itu selesai.


****


Di kamar. Harfei baru saja selesai membersihkan dirinya. Pria itu sudah tampak segar. Sedangkan Hazal sudah menunggunya di tempat tidur. Harfei mendekati istrinya,


"Mas, dapat dari mana kode baru tadi?". Tanya Hazal sambil menatap tangan suaminya yang cukup lihai dalam membuka kancing baju.

__ADS_1


"Terlintas begitu saja. Ayo". Ucap Harfei. Tanpa menunggu aba-aba ia memulainya dengan pertukaran air liur. Bibir tipis dan kenyal itu bagaikan candu.


Tangan kekar Harfei menaiki puncak gunung Hazal dan memutar-mutar seolah mencari siaran, hal yang selalu di lakukan pria itu ketika menapaki gunung Himalaya Hazal.


Setelah berhasil memasuki lahan Hazal, kini Harfei pun siap untuk mencangkul, bergerak naik turun. Dengan berbagai macam gaya cangkulan, gaya mendatar hingga menurun pun di praktekkan. Cangkul, cangkul yang panjang, hingga Hazal meracau tidak karuan.


Bercocok tanam dalam lahan Hazal membuat Harfei penasaran. Selama sebulan lebih menikah baru kali ini ia bercocok tanam dengan leluasa tanpa landasan becek yang berujung dengan puasa selama seminggu lamanya.


Ternyata jaringan online malam ini sangatlah lancar, hingga Harfei mengeluarkan getahnya dalam lahan Hazal berharap bibit itu tumbuh dan bersemi dalam sana.


Puas bercocok tanam, kini dua insan yang tengah bernapas memburu itu pun berbaring saling berhadapan.


"Mas, tadi aku sudah belajar gaya baru bercocok tanam dari Sonia". Ucap Hazal sembari memutar-mutar jari telunjuknya di dada bidang suaminya itu.


"Apa yang di ajarkan wanita bar-bar itu padamu?". Tanya Harfei dengan kening berkerut. Bagaimana seorang wanita yang belum pernah menikah sekalipun sudah tau cara bercocok tanam dan memiliki berbagai macam gaya?.


"Gak bisa di ungkapkan dengan teori, kecuali langsung praktek. Mau nyoba gak?". Tawar Hazal.


"Boleh deh. Nanggung, mumpung jaringan lancar".


Dan dua manusia yang tengah di Landa kabut online itu pun menghabiskan malam dengan mempraktekkan berbagai macam gaya bercocok tanam. Mendatar, menurun, menyamping, atas, dan bawah. Usaha yang sungguh memuaskan. Benak Harfei.


.


.


.


.


.


.


.


Salam hangat dari pecinta dunia halu. Dalam part ini author nulisnya dengan susah payah, jangan sampai dapat huruf merah lagi. Hehe.


Pecinta Hazal dan Harfei jangan lupa like, komen, dan vote ya. Terimakasih.

__ADS_1


Happy reading.


*Dede...


__ADS_2