Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 30. Gelagat Yang Mencurigakan.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Hazal sudah mengunjungi restoran nya, tak ingin membiarkan orang lain yang membersihkan ruangan itu.


Di lap nya meja, kursi, nakas, dan pernak-pernik lainnya yang terpampang rapi di atas meja kerjanya.


Puas membersihkan ruangan, kini Hazal beralih melihat ponsel miliknya yang baru saja berbunyi menandakan notifikasi pesan masuk.


'Suamimu berkhianat'.


Begitulah isi pesan yang baru saja masuk dari nomor yang tak di kenalnya. Hazal berusaha untuk menghubungi nomor ponsel tersebut, namun tidak aktif. Di cobanya sekali lagi namun hasilnya tetap sama.


"Siapa ya?". Gumam Hazal.


Beberapa kejadian yang mengganjal datang menghampiri nya selama beberapa waktu ini. Semenjak kedatangan Helena, ada-ada saja yang menimpa dirinya. Entah bagaimana dengan Harfei. Pikir wanita itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi?. Apa mau orang ini?". Hazal tampak berpikir keras untuk menjawab dari pertanyaan nya sendiri.


Di tengah kegundahan hati, tiba-tiba saja pintu terbuka menampakan sahabatnya Sonia tengah membawakan sebuah kotak yang berisi beberapa kue keju.


"Kebetulan sekali, tadi pagi aku gak sempat sarapan. Thanks ya". Ucap Hazal pada Sonia.


"Gue emang sahabat terbaik lo". Puji Sonia pada dirinya sendiri.


"Iya, iya, aku tau. Oh iya, bagaimana kabar mas Harfei di kantor?. Apa kamu membantunya di sana?". Sambil memakan kue keju yang tampak sangat nikmat itu.


"Tentu saja aku membantu suami dari sahabatku ini". Sejenak diam,


"Bagaimana dengan seseorang yang mengirimkan mu foto tempo hari?. Apa kamu sudah mengetahuinya?". Ragu-ragu Sonia bertanya pada Hazal, wanita itu takut jika sahabat nya itu akan tersinggung atau justru menghindari topik yang di anggapnya cukup sensitif itu.


"Untuk sekarang aku belum tau. Aku tidak menemukan jejak apapun. Dan lihat ini", Hazal memberikan ponsel miliknya pada Sonia guna menunjukkan pesan masuk dari nomor yang tak di kenali nya barusan.


"Aku bahkan mendapat pesan itu. Entah siapa yang sengaja melakukan ini semua padaku. Son, apa aku tampak jahat ya sama orang lain?". Hazal bertanya dengan suara lirih dan wajah sendu. Sonia pun merasa iba pada wanita yang menjadi sahabatnya sejak kecil itu.


"Kamu gak jahat kok, cuma kamu terlalu baik pada orang lain. Coba kamu pikirkan, semenjak kemunculan Helena di restoran ini, hidup kamu tuh gak tenang. Selalu di bayang-bayangi masa lalu suami kamu".

__ADS_1


"Kenapa sih kamu gak pecat saja dia, Zal?". Tanya Sonia kemudian dengan nada ketus.


"Aku gak punya alasan yang kuat buat pecat dia, Son. Mungkin aku memiliki bukti berupa foto dan juga pesan ini. Tapi apa benar ini semua dari Helena?. Gak mungkin kan?. Bisa jadi ini dari orang lain yang berusaha untuk merusak nama baik Helena". Hazal berusaha untuk meyakinkan dirinya mengenai Helena. Meski sejatinya hati wanita itu ragu.


"Pikiran kamu tuh yang rusak. Ya ampun Hazal, kamu itu sudah tertipu dengan penampilan luar dari Helena". Sonia menggebu-gebu mengeluarkan segala isi pikirannya, merasa tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabat sekaligus saudara baginya itu.


Di tengah perdebatan yang terjadi, Helena muncul dengan membawa segelas jus alpukat yang di letakan di atas nampan.


Tangan Helena bergetar kala tak sengaja mendengar sepintas pembicaraan Hazal dan Sonia.


"M--mafkan saya mba Hazal, s--saya tidak sengaja mendengar". Ucap Helena dengan suara terbata-bata.


"Panjang umur kamu. Baru juga di sebut sudah nongol. Heh, kamu kan yang--"


"Sonia. Cukup!". Sonia ingin bertanya perihal foto dan juga pesan yang baru saja di bacanya dari ponsel Hazal, namun pertanyaan itu seketika terhenti kala Hazal membentaknya.


"Sonia, sebaiknya kamu berangkat ke kantor. Tolong jaga mas Harfei untukku. Bantu dia disana, ya?". Pinta Hazal dengan suara yang mulai melunak. Ia sengaja menekan kata 'bantu Mas Harfei untuk ku' di depan Helena.


Sonia pun meninggalkan Hazal dan juga Helena. Namun sebelum itu, Sonia menyenggol lengan Helena membuat tubuh wanita itu bergetar namun tidak membuatnya terjatuh.


"Letakan minuman itu di meja, Helena. Dan aku minta maaf atas nama temanku tadi karena berkata kasar padamu". Ucap Hazal dengan raut wajah sesal.


"Tidak apa-apa mba. Mungkin mba Sonia tidak menyukai keberadaan ku disini. Karena semenjak aku masuk di restoran ini, dia sepertinya tidak begitu menyukai saya". Helena berkata dengan suara lirih dan sendu. Tak menyangka jika kehadirannya di restoran itu justru membuat banyak pihak sakit hati.


"Jangan di ambil hati apa kata dia. Dia memang suka begitu. Tapi aslinya baik kok". Hazal tersenyum tulus, dan Helena pun membalas senyuman itu dengan tersenyum pula.


"Sama seperti mba Hazal yang baik".


"Ah, kamu bisa aja. Oh iya, kamu sudah sarapan belum?. Kalau belum, ayo kita makan kue keju ini. Kebetulan ada banyak, aku gak akan sanggup menghabiskan ini sendirian".


"Baiklah".


Dan akhirnya dua wanita itu pun sarapan bersama di saksikan Anton yang menguntit Helena sedari tadi.

__ADS_1


****


Di luar restoran, Helena sedang ingin membuang sampah setelah usai sarapan bersama Hazal, namun pandangannya seketika teralihkan ketika melihat sosok pria yang familiar di matanya.


Pria itu melambaikan tangan pada Helena,


"David?".


"Helena".


Ya, Pria yang di lihat Helena dan melambaikan tangan pada wanita itu adalah David.


Helena menghampiri pria tersebut. Sementara dari kejauhan Hazal melihat keduanya tampak sangat akrab. Entah apa yang di bahas oleh keduanya, namun Hazal menyimpan rasa curiga pada mereka, atau mungkin terhadap Helena seorang?. Entahlah, yang jelas saat ini Hazal masih ingin mencari tau siapa orang yang berusaha untuk menghancurkan rumah tangga dan juga reputasinya. Dan ada hubungan apa antara David dan juga Helena.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hay Readers yang Budiman. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya. Like, komen, dan juga vote serta beri bintang juga. Terimakasih.


Happy reading.

__ADS_1


*Dede...


__ADS_2