Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 33. Investor.


__ADS_3

Malam ini Hazal mendapat kabar baik dari ayahnya jika ada investor asing yang tertarik ingin menanam saham di restoran Harfei untuk membuka cabang baru di kota C. Tentu saja hal ini merupakan pencapaian baru untuk wanita itu selama mengelola restoran milik suaminya.


"Mas, besok pagi aku harus ke restoran untuk bertemu investor asing yang bersedia menanamkan sahamnya. Mungkin lusa kami akan berangkat ke kota C untuk meninjau lokasi pembangunan cabang restoran kita". Ucap Hazal sembari menyisir rambutnya yang sedikit basah usai mandi.


"Benarkah?. Apakah investor asing itu seorang pria muda?. Tampan?. Atau... Singel?". Tanya Harfei dengan wajah datar.


"Kok mas nanyanya kaya gitu sih?. Ini tuh bukan masalah fisik mas. Tapi masalah perkembangan restoran kita". Terang Hazal.


"Aku hanya gak mau pria lain menyimpan kekaguman terhadap istriku karena kecerdasan yang di milikinya". Masih dengan menunjukkan wajah datar.


"Jadi ceritanya mas cemburu nih?". Tersenyum sembari mendekati Harfei di atas tempat tidur.


"Anggap saja begitu". Menaikkan bahunya.


"Mas, lihat aku baik-baik". Menangkup wajah suaminya, lalu menatap lekat-lekat mata pria itu.


"Semenjak mas mengikrarkan Ijab Qobul di hadapan imam dan para saksi, saat itu juga aku sah menjadi milikmu, dalam suka maupun duka hingga ke liang lahat. Saling percaya, dan saling mengasihi, itulah yang paling aku jaga mas. Karena bagiku, kamu adalah imam ku". Hazal mencium pipi Harfei dengan lembut. Sementara Harfei melepas tangan istrinya itu dari pipinya, lalu kemudian memeluk tubuh wanita yang selama beberapa hari ini membuatnya khawatir. Khawatir akan takut kehilangan akan istrinya itu.


"Aku hanya benar-benar tidak siap jika ada orang lain yang menggantikan posisiku sayang. Karena aku sangat mencintaimu, sangat". Ucap Harfei sembari mencium kening Hazal cukup lama. Hazal melepas pelukan suaminya itu. Entah mengapa ia merasa jika Harfei mengkhawatirkan sesuatu, hanya saja ia memilih untuk diam.


"Katakan padaku mas, apakah terjadi sesuatu padamu selama beberapa hari ini?". Tanya Hazal, sekali lagi ia menatap lekat-lekat mata Harfei, berusaha untuk mencari sesuatu di dalam sana. Dan jika saja Harfei mengatakan bahwa ia tidak baik-baik saja, maka Hazal pun akan menceritakan hal yang serupa.


"Aku baik-baik saja. Tidak terjadi sesuatu padaku sayang". Mencium kening Hazal.


"Baiklah. Kamu boleh pergi bersama investor itu untuk meninjau lokasi cabang restoran kita. Tapi ingat, harus sering kabari aku apapun yang terjadi". Lanjutnya kemudian.


"Baiklah suamiku sayang".


"Apa kamu tidak melupakan sesuatu?". Tanya Harfei dengan tatapan mendamba. Ia menatap tubuh istrinya itu seolah ingin menerkamnya saat itu juga. Hazal pun menyadari tatapan itu, tatapan yang biasa terjadi selama bercocok tanam.


"Jaringan sibuk". Ucap Hazal sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

__ADS_1


"Benarkah?. Tapi aku tidak melihat tanda-tanda landasan becek. Apa kamu sedang mempermainkan ku baby?". Mencium menyusuri seluruh anggota butuh Hazal dengan sedikit sensual.


"Mas aku aaaaaakkkk---". Harfei merobek daster Hazal dengan satu kali tarikan. Mungkin efek daster murahan kali ya.😄


Lalu beralih mengecup, mencium, dan menapaki gunung berapi Hazal yang bagaikan mengeluarkan larvanya, terasa panas.


Puas bermain-main di gunung berapi itu, Harfei pun menapaki lahan Hazal yang terasa dingin dan sejuk. Bergerak dengan ritme yang pelan hingga sang empunya mengeluarkan kicauan tidak karuan, menyebut nama suaminya dengan suara samar hampir tak terdengar.


Masih terus menyusuri lahan yang botak dan gersang. Mencangkul dengan berbagai macam gaya, mendarat dan menurun, kesamping dan keatas, hingga ritme itu berubah menjadi gerakan cepat dan menyemburkan semua isi getah sang pusaka.


Tuntas sudah menyemai bibit pada lahan Hazal malam ini. Dengan harapan akan tumbuh bibit baru di dalam sana.


****


Keesokan paginya, Hazal berangkat ke restoran di antar oleh Harfei yang ingin berangkat ke kantor pula. Hazal turun dari mobil dan berjalan dengan anggunnya, namun sebelum itu, Harfei menahan istrinya untuk memberi wejangan.


"Ingat, jangan terlalu dekat-dekat dengan pria lain. Dan jangan menyimpan nomor ponsel pria lain". Wejangan yang bernada ancaman itu pun hanya mendapat balasan senyuman hangat dari Hazal.


"Terimakasih sudah mencintaiku sebesar ini. Tapi jika aku tidak menyimpan nomor ponsel investor itu lalu bagaimana aku berkomunikasi dengannya untuk membahas masalah pekerjaan?". Hazal menyentuh hidung Harfei lalu meninggalkan jejak ciuman di pipi suaminya itu.


Harfei tersenyum akan ucapan Hazal. Entah sejak kapan ia merasa posesif pada wanita itu, ia tidak ingin kehilangan wanita yang sudah merajai hati dan juga jiwanya itu.


****


Kesepakatan telah usai antara Hazal dan investor yang bernama Tuan Alexander. Keduanya sepakat bahwa dalam waktu dekat akan di buka cabang di kota C, dan besok adalah waktunya untuk melaksanakan kesepakatan itu.


"Terimakasih atas kerjasamanya Tuan Alexander". Ucap Hazal seraya menjabat tangan pria yang berusia hampir sama dengan suaminya tersebut.


"Saya yang harus bertemikasih karena mendapat kesempatan untuk bekerjasama dengan putri seorang Tuan Kaya keremcem. Aku tidak tahu jika beliau memiliki putri secantik dan secerdas Anda". Hazal tersenyum canggung akan ungkapan pria berlesung pipi itu. Lalu melepaskan tangan pria tersebut.


"Ah terimakasih. Suatu kehormatan bagi saya dan suami karena mendapatkan kepercayaan dari seorang Tuan Alexander yang masih berusia muda namun sukses dalam berbagai bidang". Hazal berusaha untuk bersikap formal layaknya rekan bisnis. Namun tatapan mata Alexander berbeda. Pria itu seperti menyimpan beribu kekaguman pada wanita yang telah menikah itu.

__ADS_1


"Oh, jadi Anda sudah menikah Nona Hazal?. Aku pikir Anda seorang wanita singel. Jika saja aku tau sejak awal tuan Kaya memiliki putri secantik dan secerdas Anda, mungkin sudah lama aku akan meminang dan menikahi Anda Nona". Ucap Alexander yang masih tetap setia menatap Hazal dengan penuh kekaguman. Entah sejak kapan pria itu menyimpan rasa kagum pada Hazal, namun saat ini ada debaran berbeda dari dalam sana.


"Tapi sayangnya aku mendahului Anda Tuan Alexander". Ucap Harfei secara tiba-tiba. Entah sejak kapan pria itu berada di ruangan Hazal. Tatapannya tajam bagai menghunus ke jantung, membuat Hazal menelan salavi nya dengan susah payah.


"Perkenalkan. Aku adalah Harfei Iskandar. Suami Hazal Kaya". Harfei memeluk pinggang Hazal dengan agresif, seolah menunjukan pada Tuan Alexander bahwa wanita itu adalah miliknya.


"Wah, sepertinya tuan sangat beruntung memiliki istri secerdas Nona Hazal". Ucap Tuan Alexander, dan mendapat tatapan datar dari Harfei.


"Tentu saja Tuan". Beralih melihat Hazal.


"Apakah sudah selesai pertemuannya sayang?. Apakah kita boleh pulang sekarang?. Aku sangat merindukan dirimu". Ucap Harfei dengan suara yang di buat-buat. Hazal pun merasa aneh akan sikap Harfei yang seolah... Cemburu?.


"Ah, maaf Tuan Harfei. Sepertinya saya harus pergi. Sampai ketemu besok Nona Hazal". Ucap Tuan Alexander dan berlalu pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.


Harfei melepaskan pinggang Hazal dan duduk di kursi sofa.


"Mas Harfei cemburu?". Tanya Hazal seraya memutar kancing baju Harfei.


"Jika aku cemburu, apakah kamu keberatan?. Apakah kamu akan tersinggung?".


"Tentu saja tidak. Aku justru bersyukur karena suamiku memiliki cinta yang besar untukku". Ucap Hazal.


Hazal memang sangat bersyukur karena cinta yang di miliki Harfei sangatlah besar, itu artinya tidak ada celah untuk wanita lain dalam hati Harfei. Ia tidak perlu ragu akan perasaan pria itu. Dan itu berarti hanya orang iseng saja yang mengirimkan nya foto dan juga pesan tempo lalu. Tanpa Hazal dan Harfei sadari ada sepasang mata yang melihat keduanya dari balik pintu dan menggenggam tangannya dengan erat seolah gagal memisahkan pasangan suami istri itu.


Kira-kira siapa ya gengs yang melihat Hazal dan Harfei itu?.


Jangan lupa like, komen, dan vote yang banyak ya Readers.


Happy reading.


*Dede...

__ADS_1


__ADS_2