Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 11. Interaksi yang Baik.


__ADS_3

Persahabatan yang terjalin antara Hazal dan Harfei berjalan dengan baik. Perdebatan yang biasanya terjadi di antara mereka pun perlahan menyurut. Meski tak jarang terjadi selisih paham, namun setidaknya hubungan keduanya mengalami peningkatan.


"Harfei, apa kamu tidak berencana buat mengembangkan usaha sate kamu ini?". Tanya Hazal sambil memakan sate yang telah di pesannya.


"Ia, bener. Kalau kamu sudah mengembangkan usaha kamu ini, pasti akan banyak peminatnya". Timpal Sonia yang juga ikut makan di tempat Harfei.


"Sebenarnya aku ada rencana untuk itu, hanya saja aku tidak tahu bahwa caranya". Wajah Harfei berubah jadi sendu. Ia benar-benar tidak tau akan bisnis. Usahanya itu pun di buka karena rasa iba nya lada ibu kandungnya yang sudah tidak lagi mudah.


"Tapi kamu punya modal kan untuk mengembangkan usaha mu ini?". Tanya lagi Hazal.


"Kalau untuk modal aku punya banyak. Hanya saja pengalaman ku masih kurang. Aku belum tau apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu. Apa yang harus aku siapkan, siapa yang akan membantuku. Bahkan untuk karyawan saja adanya cuma si kerempeng Wawan". Balas Harfei.


"Kamu tenang saja. Aku akan membantumu". Ucapan Hazal menciptakan kebinaran di mata pria tampan tersebut. Senyumnya mengembang.


"Yang benar, Zal?".


"Iya. Masa mau main-main sih?. Asal kamu punya modal. Aku akan membantumu mengembangkan usahamu ini. Nanti Sonia dan aku akan membantu mu mencari sponsor atau mempromosikan usahamu ini juga. Dengan begitu usaha yang kamu geluti ini akan berkembang pesat". Tutur Hazal panjang lebar. Dan Harfei pun menyetujui ide Hazal maupun Sonia.


*****


Hazal dan Sonia mulai mengajar Harfei tentang bisnis dalam berdagang. Hazal yang merupakan Sarjana Management bisnis, tentu sangat mudah mengarahkan Harfei yang ternyata cukup cerdas dan cepat memahami sesuatu.


Di mulai dari promosi, pembuatan website toko secara online, agar siapa saja yang ingin memesan sate ayam Harfei, maka mereka boleh memesan lewat website tersebut.


Bahkan Hazal juga mengajar Wawan tentang management keuangan, agar ia bisa memilah modal dan keuntungan yang di raih setiap bulannya.


Sementara Sonia bertugas mencari sponsor dan promosi, baik itu di akun media sosial nya maupun di kantor tempat mereka bekerja.


Perlahan tapi pasti, usaha yang di geluti Harfei berkembang dengan pesat. Memang dia belum memiliki cabang di tempat lain, namun kedai yang tadinya hanya berukuran 5x6, kini berubah menjadi sebuah bangun besar berlantai dua. Dimana di lantai dua tersebut di jadikan kantor pribadi Harfei, di tambah lagi 1 ruang istirahat jika pria tersebut ingin melepas lelah.


Karyawan yang tadinya hanya berjumlah satu orang, kini bertambah menjadi 7 orang. Perkembangan yang luar biasa dan signifikan bukan?. Hanya dalam hitungan 5 bulan semuanya berubah drastis. Wawan yang semula tukang panggang sate, kini berubah menjadi kasir sekaligus orang kepercayaannya Harfei.


Bangunan yang berbentuk ruko itu pun memiliki dapur yang khusus untuk memanggang sate. Hazal mendatangkan sahabat nya yang baru saja menyelesaikan studinya di luar negeri sebagai chef, kini beralih ke tempat Harfei berada. Sungguh wanita pemaksa. Begitulah pikiran sahabat Hazal yang bernama Anton tersebut.

__ADS_1


Ibu Harfei sangat bahagia akan pencapaian putranya itu. Ia tidak menyangka jika dulunya kedai yang terbilang sederhana kini berubah menjadi ruko berukuran besar.


Tak cukup sampai disitu saja, bahkan rumah yang mereka tempati pun telah di renovasi berkat hasil jerih payah Harfei selama mengembangkan usahanya itu.


"Ndu, ibu bahagia sekali dengan pencapaian mu. Ibu benar-benar terharu. Terimakasih, terimakasih, Ndu". Tak henti-hentinya ibu Harfei mengucap syukur dan terimakasih pada putra satu-satunya itu dengan memeluk tubuh kekar Harfei.


"Ibu jangan berterimakasih sama Harfei, tapi ibu harus bertemikasih sama seseorang yang sudah berbuat banyak pada Harfei Bu. Jika bukan karena dia, Harfei masih jalan di tempat". Tutur Harfei sambil menatap kosong kedepan seolah melihat masa lalunya yang masih memiliki kedai sederhana meski rame pelanggan.


"Siapa dia, Ndu?".


"Nanti Harfei kenalkan sama ibu. Sekarang waktunya istirahat. Jangan lupa ibu minum vitamin nya ya Bu, supaya ibu kuat dan selalu menyaksikan proses kesuksesan Harfei". Harfei mencium kening wanita yang telah melahirkannya itu dengan penuh kasih sayang. Dan ibu Harfei pun meninggalkan putranya itu menuju rumah kediaman mereka.


****


Di kantor, Hazal menatap layar benda pipih miliknya sambil tersenyum.


"Kenapa tuh gigi kelihatan terus?". Tanya Sonia yang menyadari Hazal tak berhenti tersenyum.


"Aku melihat komentar para pelanggan Harfei, ternyata kesan yang mereka berikan cukup memuaskan". Masih dengan menaik turunkan layar ponselnya.


"Tidak,". Melepas ponsel miliknya dan meletakan di atas meja kerjanya.


"Itu karena Harfei berhak mendapatkan nya. Dia adalah seorang pria pekerja keras. Dia juga seorang putra yang bertanggung jawab atas ibunya. Tidak semua pria mau melakukan pekerjaan itu, apa lagi banyak orang yang meremehkan profesi seorang tukang sate. Kebanyakan dari kita mengutamakan bekerja di perusahaan besar tanpa mau berdikari. Padahal, berdikari pun hasilnya memuaskan". Ucapan panjang Hazal membuat Sonia menangkap sesuatu yang berbeda dari diri wanita itu. Ia seperti mencium aroma... Cinta?. Bagaimana tidak, Hazal yang semula sangat perfeksionis akan segala sesuatu nya, kini berubah menjadi bijak dan sederhana semenjak bersahabat dengan Harfei.


"Apa kamu mulai mencintai Harfei?".


"Uhuk.. Uhuk... Uhuk...". Hazal tersedak air ludahnya sendiri.


"Kamu ngomong apa sih?". Hazal menyembunyikan wajah nya dengan membelakangi Sonia.


"Aku tidak ngomong apa-apa, aku cuma mau memastikan saja kalau sahabat ku ini tidak sedang jatuh cinta sama Mr. Jorok itu". Sonia sengaja menekan kata 'Mr. Jorok' di tengah kalimatnya, agar Hazal tersinggung akan julukan yang di berikan dulu pada Harfei.


"Sonia, dia sahabat ku. Lagi pula kalau jorok kan bisa di ubah".

__ADS_1


"Itu artinya kamu jatuh cinta kan sama Harfei si tukang sate itu?". Goda Sonia.


"Apaan sih, Son. Dia itu pacar Mba Lina".


"Masih pacar kan?. Bukan istri?".


"Tetap saja Sonia". Hazal masih terus tidak mau mengakui ketertarikan nya pada pria berparas tampan itu.


"Pernah dengar istilah ini gak?". Tanya Sonia.


"Apa?".


"Wanita itu harus bekerja keras karena suami hanyalah titipan, kalau bukan di ambil Tuhan ya di ambil pelakor. Haha". Sonia tertawa sumbang karena lelucon yang begitu konyol menurut Hazal.


"Jadi maksudmu aku seorang pelakor, begitu?". Sonia menaikkan bahunya santai, hal itu justru membuat Hazal melemparkan pena ke wajah Sonia hingga kedua wanita itu pun tertawa.


'Apa aku benar jatuh cinta sama Harfei?. Tapi dia kan sudah punya Lina. Atau benar kata Sonia, aku jadi aja pepakor alias perebut pacar orang. Hihihi'.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2