
Di kantor, Harfei kembali di sibukkan dengan proyek bersama Tuan Adiguna. Kali ini proyek itu membuat Harfei banyak menghabiskan waktu di luar bersama Sonia sebagai sekretaris pribadi pria tersebut.
"Sonia, tolong antarkan berkas ini ke ruang HRD, sampaikan pada pak Toni untuk membuka lowongan pada bagian sekretaris manager. Aku ingin ada yang membantu Ibu Citra untuk menyelesaikan pekerjaan nya, mengingat usia beliau sudah tak lagi muda. Sebentar lagi beliau akan pensiun, jadi sebelum itu harus ada yang membantu". Titah Harfei sembari memberikan map berwarna kuning pada Sonia.
"Bak pak".
Kini Harfei tinggal seorang diri dalam ruangan yang cukup besar itu. Harfei membuka laci untuk mengambil sesuatu di dalam sana, namun pandangan nya teralihkan ketika melihat foto Hazal dalam laci tersebut.
Harfei menggelengkan kepalanya seolah tak menghiraukan foto yang hampir memenuhi laci meja kerjanya. Selama beberapa bulan ini pria itu sering mendapatkan kiriman foto-foto Hazal bersama David, namun pria itu tak pernah menghiraukan, apa lagi untuk bertanya pada Hazal. Ia memilih untuk diam dan tenang.
"Mas Harfei".
"Sayang?. Kok kamu bisa ada disini?. Bukannya kamu ada kunjungan ke cabang hari ini?".
Hazal tiba-tiba muncul dalam ruangan Harfei, membuat pria tersebut terkejut sekaligus bahagia. Bagaimana tidak, ini adalah pertama kalinya Hazal menginjakkan kakinya di kantor pasca menikah tujuh bulan yang lalu.
"Apa mas tidak suka aku berada disini?. Kalau begitu aku pulang saja".
Protes Hazal dengan suara yang di buat-buat?. Harfei menahan tubuh Hazal dan memeluk pinggang wanita tersebut.
CUP.
Kecupan hangat mendarat di kening wanita bermata coklat itu.
"Kamu mau kemana, em?". Memindahkan helai rambut Hazal ke belakang telinganya.
"Apa kamu merindukan ku sayang?". Sekali lagi Harfei bertanya dengan nada sensual seraya meniup mata Hazal, membuat wanita itu meremang.
"Iya, aku merindukanmu mas".
Hazal membalas kecupan Harfei pada bagian hidung mancung pria tersebut. Wanita itu menyentuh hidung Harfei dengan menggunakan hidungnya pula hingga jarak bibir keduanya hampir menyatu.
"Ehem, kalau mau uwik-uwik jangan di kantor, pulang saja ke rumah".
"Ayah".
Ucap Harfei dan Hazal secara bersamaan. Keduanya tampak salah tingkah karena tiba-tiba saja Ayah Hazal muncul dan berdiri di ambang pintu.
Ayah tersenyum usil pada dua orang kesayangannya itu. Lalu kemudian berjalan mendekati keduanya sembari memasukkan kedua tangan dalam saku celana.
"Apa kamu datang disini hanya untuk menggoda suami mu yang lagi kerja?. Atau justru mau mengajaknya pulang untuk melanjutkan aksi kalian di rumah?".
Sumpah demi apapun Harfei sangat malu, dan saat itu juga rasanya pria yang berambut hitam itu ingin menggaruk tembok. Sementara Hazal tampak Santai seolah tak terjadi apa-apa.
"Kalau Ayah izinkan, Hazal mau meminjam menantu Ayah ini sebentar".
__ADS_1
Hazal mengaitkan lengannya pada Harfei dengan manja. Harfei menoleh pada Hazal dengan kening berkerut penuh tanya.
"Emangnya kamu mau membawaku kemana?".
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu".
Bisik Hazal ke telinga Harfei.
"Iya, tapi kemana?. Kenapa tidak disini saja?".
"Ini rahasia".
"Apa kalian mengira Ayah hanya sekedar kontrak di dunia ini?. Paling tidak ajak juga Ayah untuk bicara".
Pria paruh baya yang terkenal cerewet itu tampak merasa tak di perdulikan oleh pasangan suami istri yang saling berbisik itu.
"Hehe. Ini rahasia rumah tangga Hazal. Nanti Ayah tunggu kabar beritanya hanya di kabar-kabari".
"Kamu pikir ini acara infotainment?. Sudahlah, Ayah cuma mau bilang jangan lupa nanti malam kalian ke rumah. Ibu merindukan kalian berdua".
Pria paruh baya itu akhirnya meninggalkan Harfei dan Hazal yang masih saling berpelukkan.
"Kamu mau memberitahu ku apa sih?". Tanya Harfei penasaran.
Hazal melepas pelukan Harfei, lalu kemudian duduk di kursi kebesaran suaminya, yang mana kursi itu dulu di tempati oleh Ayah Hazal.
"Surprise?". Kening Harfei berkerut dalam.
"Iya, surprise. Aku ada surprise untukmu. Tapi sebelum itu, kita harus ke rumah ibu dulu".
Hazal berdiri lalu berjalan mendekati Harfei dan memeluk pinggang suaminya, kemudian berbisik,
"Aku tidak sabar untuk memberitahukan padamu sayang".
CUP.
Hazal mengecup singkat bibir Harfei, namun itu adalah kesalahan fatal untuknya. Karena Harfei tidak melepaskan ciuman itu. Ia justru menahan kepala Hazal dan memperdalam ciuman yang berubah menjadi panas itu.
"Oh, astaga. Kalau kalian mau iyes-iyes jangan disini".
Sonia tiba-tiba masuk dan menggangu aktivitas keduanya. Membuat Harfei malu dan melepaskan tubuh Hazal dari pelukannya.
"Hala..., yang kami lakukan tidak seberapa dengan perbuatan mu. Buktinya, kamu keliling kantor ini dengan tanda merah di lehermu yang sangat banyak itu".
Hazal menunjuk leher Sonia dengan menggunakan dagunya. Ada banyak tanda merah bekas ****** di leher wanita yang berprofesi sebagai sekretaris itu.
__ADS_1
"Hehe. Aku lupa bawa syal".
Gigi putih Sonia muncul bagai tak berdosa.
"Makanya, sebelum berangkat ke kantor itu jangan online dulu, akhirnya ketahuan deh. Hahahaha".
Ketiganya tertawa bersama dengan lelucon mereka seolah melupakan persoalan hidup yang akan mereka hadapi. Terutama Harfei, pria itu tampak sedang memendam sesuatu di dalam sana.
****
Malam harinya di rumah Ayah Hazal. Dua pasang suami istri beda generasi itu tampak sedang asik menikmati makan malam yang sangat khidmat itu. Mereka makan dalam diam, tak ada satupun yang bersuara, hanya bunyi sendok yang saling bersahutan.
Puas menyantap makan malam, kini Hazal duduk bersama ibunya di ruang keluarga, wanita beda generasi itu tampak sedang berbagi perihal rumah tangga. Sementara Harfei dan Ayah sedang berada di taman belakang rumah, yang mana di samping taman itu terdapat kolam renang.
"Harfei, bagaimana kondisi rumah tanggamu?". Tanya Ayah.
Sejujurnya dalam hati Harfei bertanya-tanya, mengapa Ayah menanyakan perihal kondisi rumah tangganya?. Pria itu pikir kedatangannya di rumah mertua adalah untuk memberikan informasi perkembangan perusahaan yang kini telah di kelolanya, tapi tampaknya Harfei salah tangkap. Entah mengapa pria bertubuh tinggi itu merasa bahwa Ayah mertuanya sedang mencemaskan sesuatu.
"Alhamdulillah baik Ayah. Kami baik-baik saja". Jawab Harfei setelah beberapa saat diam.
Ayah menatap kearah kolam renang sembari meletakan tangannya di dada.
"Hazal adalah anak yang mandiri. Sejak kecil Ayah dan ibu selalu meninggalkan dia sendirian. Hanya Sonia yang selalu menemaninya. Sekarang dia sudah menjadi istrimu". Ayah menoleh pada Harfei.
"Tolong jaga dia untuk Ayah. Dan jika kamu sudah tidak mencintai putri Ayah lagi, maka kembalikan dia pada Ayah. Hanya seorang Ayah yang mau menerima putrinya kembali".
Kalimat sederhana namun sarat akan makna itu membuat hati Harfei bergetar. Entah mengapa ia terus merasa bahwa Ayah sedang merahasiakan sesuatu di dalam sana. Tapi apa?. Pikir Harfei.
"Harfei akan selalu menjaga putri Ayah sampai maut sendiri yang berkehendak. Dulu Harfei berprinsip, bahwa meski hidup tanpa wanita Harfei akan baik-baik saja, tapi putri Ayah mampu mengubah prinsip itu".
Ayah menatap lekat-lekat manik mata coklat Harfei hingga menerobos ke dalamnya seolah mencari ketulusan yang tak di miliki oleh pria lain di luar sana untuk putrinya.
Pria paruh baya itu tersenyum lembut, lalu kemudian menepuk pundak Harfei sembari berkata,
"Ayah tidak meragukan mu, Nak. Ayah selalu percaya padamu".
Dan percakapan dua pria beda generasi itu pun berlangsung hampir satu jam lamanya. Keduanya baru mengakhiri percakapan mereka ketika Hazal dan ibunya mengingatkan, bahwa waktu telah menunjukkan hampir tengah malam.
.
.
.
.
__ADS_1
Dukung author ya. Dengan cara like, komen, dan vote yang banyak. Kalau kalian gak like dan vote, author jadi gak semangat nulisnya. Padahal author sudah berusaha untuk menulis agar kalian para Readers terhibur. Terus dukung author receh ini ya Readers.😘🙏🙏