
Setelah berbaikan, Harfei merengkuh tubuh Hazal dan membenamkan wajah wanita tercinta nya itu kedalam pelukan. Tubuh yang sangat di rindukan selama beberapa bulan ini tak di sentuhnya sama sekali. Penolakan atas dirinya sendiri karena suatu alasan, membuat hati pria itu di penuhi rasa sesal. Bila mengingat kejadian pahit satu bulan lalu ketika Hazal hampir saja mati tertembak jika bukan Sonia yang mendorongnya kembali bermain-main di pelupuk mata Harfei. Di kecup nya kening Hazal berulang kali seolah menyalurkan kasih sayang serta besarnya cinta yang miliki pria itu untuk kekasih halalnya.
Hazal menarik tubuhnya dari Harfei, lalu kemudian menatap lekat-lekat manik mata coklat pria itu. Kening Harfei berkerut dalam.
"Ada apa sayang?. Apa kamu ingin mengatakan sesuatu?. Atau kamu tidak nyaman dengan posisi kita seperti ini?. Atau anak kita yang tidak suka jika aku memelukmu?". Tanya Harfei secara beruntun. Ada ekspresi kecemasan yang terpampang jelas di wajah pria berwajah blasteran itu.
"Tidak sayang, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu". Balas Hazal dengan raut wajah cemas. Ya, cemas. Wanita itu merasa cemas karena takut jika telah menyembunyikan sesuatu yang hampir sama di alami Harfei.
"Apa itu sayang?. Katakanlah".
Sekali lagi Hazal menatap lekat mata Harfei, ia berusaha untuk menerobos masuk ke dalam manik mata coklat itu guna mencari kemarahan jika ia berkata jujur.
"Sebenarnya aku menyembunyikan sesuatu dari mu mas".
Kening Harfei kembali berkerut dalam hampir menyatu.
"Sebenarnya aku juga mendapatkan teror yang sama denganmu waktu itu. Semua foto-foto mas dan Helena hampir setiap hari di kirim ke restoran untukku. Pesan yang mengatakan bahwa mas selingkuh di belakangku, semuanya aku alami mas. Jujur saja saat itu hatiku sakit dan kecewa, namun sebisa mungkin aku mengenyampingkan perasaan itu karena aku tau mas Harfei tidak akan mungkin melakukan itu semua padaku". Hazal menarik napas berat,
"Sebenarnya aku ingin memberitahu mu, tapi aku masih ingin menyelidiki dan mengumpulkan semua bukti-bukti hingga aku menyewa seorang detektif untuk mengetahui fakta sebenarnya. Aku bahkan menemui Helena secara diam-diam, karena aku pikir Sonia lah yang sudah mengkhianati ku selama ini. Jadi aku putuskan untuk menemui Helena di tempat yang tak dapat di jangkau oleh Sonia". Harfei masih belum bergeming, ia seolah menikmati cerita kejujuran Hazal secara seksama.
"Lalu saat itu mas mendiamkan ku tanpa sebab, aku mulai berpikir bahwa mas benar-benar memiliki hubungan bersama Helena, tapi ternyata aku salah. Mas Harfei tidak pernah berubah sedikitpun. Aku bisa melihat dan merasakan cinta yang teramat sangat besar di dalam sini". Hazal memegang dada Harfei.
__ADS_1
"Bahkan detak jantung ini seolah menyebut namaku setiap hari. Aku bisa merasakan itu. Lalu bagaimana bisa aku berpikir bahwa mas Harfei mengkhianati ku?. Aku sungguh naif. Tolong maafkan aku mas". Lirih Hazal. Pancaran rasa bersalah menghiasai wajah sederhana wanita itu. Harfei tersenyum lalu menangkup wajah Hazal.
"Kenapa kamu tidak jujur padaku saat itu, em?". Ucap Harfei selembut mungkin. Ia berusaha untuk menahan sesuatu yang bergejolak di dalam sana, pria itu tidak ingin wanitanya sakit dan terluka kembali jika mengingat kesalahan yang sengaja di buatnya dulu.
"Karena aku memilih untuk mempercayai mu mas. Aku adalah seorang wanita yang memiliki hati yang rapuh ketika keyakinan ku mulai goyah. Namun sebisa mungkin aku membuang jauh-jauh prasangka buruk ku terhadap mu mas. Cintaku padamu mengalahkan rasa cemburuku pada Helena ketika itu. Aku mengingat momen dimana mas mengucapkan Ijab Qobul dan menyebut namaku dalam kalimat sakral itu, membuatku semakin membuang jauh pemikiran buruk tentang mu mas".
Harfei terkejut sekaligus terpaku atas apa yang di ucapkan istri tercintanya itu. Ketulusan dari raut wajah Hazal sangatlah kentara, tak ada kebohongan yang terpancar dari wajah berkulit putih tersebut.
"Sssst--- Kamu tidak salah apa-apa sayang. Aku justru semakin mencintai mu. Kamu menjalankan kewajiban mu sebagai seorang istri yang baik. Terimakasih sudah mempercayai ku hingga sejauh ini. Jika saja kamu tidak percaya padaku, maka aku bisa saja mati. Terimakasih". Kecupan hangat mendarat di kening Hazal. Wanita itu menitikan air mata haru kala mendengar ucapan cinta yang bertubi-tubi dari mulut Harfei.
"Mas, mari lupakan semua peristiwa yang telah terjadi. Aku ingin kita membuka lembaran baru. Saling terbuka satu sama lain. Aku tidak ingin kita saling membohongi hingga menciptakan luka dalam hati kita. Sakit rasanya mas ketika memendam rasa yang sulit untuk di ungkapkan".
Harfei mengusap air mata Hazal dengan telapak tangannya.
"Sudahlah sayang. Jangan di ingat kembali masa-masa sulit kita. Aku tau kamu sangat terluka, bahkan jauh lebih terluka di bandingkan aku. Aku janji tidak akan membohongi mu lagi dan akan selalu jujur padamu apapun yang terjadi". Harfei beralih memegang perut Hazal yang masih rata seolah ingin menyapa anaknya yang berada di dalam sana.
"Sayang, maafkan papa karena sempat menolakmu. Papa terpaksa melakukan itu semua demi keselamatan mu dan mamamu sayang. Kalian adalah harta berhargaku. Papa juga minta maaf karena baru menyapamu, selama ini papa ingin menyapamu dan mengucapkan terimakasih karena sudah tumbuh di dalam sini untuk menemani mama. Tolong maafkan papa ya, jangan membenci papa ketika kelak nanti kamu lahir. Papa sangat mencintai kalian berdua". Harfei mencium perut rata Hazal dengan hangat. Sementara perasaan Hazal tak bisa di bendung lagi. Ia semakin menangis haru akan ungkapan cinta suaminya itu kepada anak dan dirinya. Dulu ia sempat berpikir bahwa Harfei benar-benar menolak keberadaan anaknya hingga meragukan karakter dirinya. Ternyata semua itu hanyalah alibi agar mereka selamat dan baik-baik saja.
"Mas Harfei". Lirih Hazal. Harfei mengangkat kepalanya dari perut Hazal.
"Kenapa menangis sayang?. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?. Tolong maafkan aku, maafkan aku jika membuatmu sedih dan terluka lagi". Raut wajah Harfei menjadi cemas. Namun bukannya tenang, Hazal semakin menangis.
__ADS_1
"Huaaaaa... Mas Harfei... Mas....". Teriak Hazal membuat Harfei semakin di landa kepanikan. Pria itu mengecup kening Hazal, lalu kemudian beralih menangkup kedua pipinya dan menghapus air mata wanita itu. Namun Hazal semakin mengencangkan suara tangisannya membuat Harfei semakin bingung. Sebenarnya apa kesalahan yang di buatnya kali ini?. Pikir Harfei.
Hazal berkata dengan suara sesegukan seolah menahan sesuatu di dalam sana.
"Aku mau pipis mas. Huaaaaa".
"Ha?".
Sumpah demi apapun, ingin rasanya Harfei menggaruk tembok lalu kemudian membentur kepalanya di tembok tersebut.
"Kamu mau pipis?. Lalu kenapa kamu menangis sayang?". Tanya Harfei bingung.
"Karena mas Harfei menahan ku dengan kalimat yang begitu panjang kali lebar". Lirih Hazal.
Oh my God. Ingin rasanya Harfei ******* bibir manis Hazal yang bagaikan candu itu. Hormon kehamilan Hazal membuat wanita itu cengeng dan manja, membuat wajahnya tampak menggemaskan meski tak jarang mengesalkan.
"Ya sudah, kamu ke kamar mandi dulu, ntar kamu pipis disini lagi". Hazal pun pergi ke kamar mandi meninggalkan Harfei dengan perasaan bahagia bercampur sakit karena menahan kotoran yang membuat ginjalnya bekerja keras.
Kemudian Harfei menatap punggung Hazal seraya berkata,
"Jangan lupa like dan vote author yang menulis kisahku yang Readers". 😁
__ADS_1