Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 71. Menemui Ayah Wisnu.


__ADS_3

Di perjalanan menuju kantor. Harfei tidak konsentrasi, ia seolah di hantui kalimat Hazal dan ibu. Hatinya bergejolak hebat, perasaan pria itu menjadi gundah gulana. Pikiran nya di penuhi rasa kekalutan. Ingin menemui ayahnya, tapi kebencian lebih mendominasi. Akhirnya pria itu menepikan mobilnya di sebuah danau yang di kelilingi pohon rindang. Di danau itu seolah ia menemukan kedamaian dan Jawaban atas pertanyaan nya selama ini.


"Aaaak---. Mengapa semua ini terjadi padaku Tuhan?. Apakah KAMU sengaja mempermainkan takdirku?. Aku bahkan tidak pernah mengingat nya (Ayah Wisnu) Tuhan. Lalu mengapa dia tiba-tiba muncul di tengah-tengah kehidupan ku yang beku akan keberadaan nya?. Hu...Hu...". Harfei menangis pilu seolah menumpahkan segala perasaannya. Kecewa, sakit, dan terluka. Semua rasa itu muncul secara bersamaan.


"Aku harus bagaimana Tuhan... Hu... hu... hu...". Siapapun yang mendengar tangis pilu Harfei pasti akan menitikan air mata. Rasanya sakit sekali.


Selama satu jam Harfei menangis di danau itu untuk menenangkan perasaan nya. Setelah merasa tenang dan menemukan jawaban, akhirnya Harfei pergi dari danau itu dan menemui Ayah Wisnu. Ya, Harfei sudah membuat keputusan, bahwa ia akan menemui ayahnya untuk yang terakhir kali sebelum maut memisahkan mereka.


****


Di penjara, tampak seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian khas narapidana. Wajahnya yang mulai di tumbuhi bulu-bulu halus seolah setia menghiasai wajah yang tak lagi muda itu. Tubuhnya kurus tak terurus. Ia memegang tangan seorang wanita yang hampir seumuran dengannya.


"Ratna, tolong maafkan semua perbuatan ku di masa lalu. Aku memang tidak pantas untuk di maafkan. Tapi paling tidak, aku bisa melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya. Tolong maafkan aku. Maafkan pria tua yang bodoh ini. Hiks... Hiks... Hiks...". Wisnu mulai menangis, ia benar-benar menyesali semua perbuatannya di masa lalu dan masa kini. Meninggalkan istri yang selalu setia menemaninya, bahkan hingga detik ini Ratna tidak pernah menikah. Bukankah itu sebagai bukti bahwa wanita itu selalu setia?.


"Mas, aku sudah memaafkan mu. Tapi aku tidak yakin dengan putra kita mas. Maafkan aku karena tidak bisa membujuk putra kita. Dia terlalu keras kepala, sama seperti mu". Lirih Ratna.


Wisnu tersenyum bahagia ketika mendengar kalimat sederhana Ratna. Ia membayangkan wajah Harfei sewaktu masih kecil dulu. Imut, tampan, dan juga menggemaskan.


"Dia sudah besar, dia tumbuh menjadi pribadi yang baik dan tangguh. Dia sangat beruntung memiliki ibu seperti mu yang selalu mendidiknya dengan kebaikan. Tidak seperti ku. Aku bahkan gagal menjadi seorang suami dan ayah yang baik untuk istri dan anakku. Hiks.. Hiks...".


"Sudahlah mas. Aku sudah memaafkan mu".


Wisnu memegang erat tangan Ratna.


"Terimakasih sudah mau memaafkan ku. Aku hanya berharap, Harfei mau membuka hatinya untuk memaafkan ku dan mau menemui ku untuk yang terakhir kalinya".


"Iya".

__ADS_1


Dua insan yang seolah menyalurkan rasa rindu yang mencekat di hati itu, kini berpisah. Mungkin itulah pertemuan yang terakhir kalinya bagi keduanya. Tangis pilu akan rasa kehilangan kembali mencuat ke permukaan masing-masing hati keduanya. Sesal yang tak berguna pun membaluti hati Wisnu. Penyesalan memang selalu berada di belakang, karena kalau di depan itu namanya pendaftaran. 😁


****


Setelah kepergian ibu Harfei, Wisnu kembali ke ruangan tahanan nya. Namun berselang lima belas menit kemudian, ia kembali mendapat panggilan bahwa ada seseorang yang akan menemuinya. Pria paruh baya itu pikir Ratna melupakan sesuatu, tapi ternyata tidak. Ia justru di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang amat sangat di rindukan,


"Harfei?".


Mata pria paruh baya itu mulai berkaca-kaca (Author juga berkaca-kaca om Wisnu), hatinya berdesir hebat, jantungnya berdegup kencang, tubuhnya gemetar. Jangan di tanya lagi seberapa besar rasa bahagianya pria itu.


"Harfei anakku. Harfei. Hu... Hu... Maafkan ayah nak, maafkan ayah". Wisnu menangis sejadi-jadinya, ia bersimpuh di bawah kaki Harfei, mengharapkan pengampunan dari putranya tersebut.


Sementara Harfei masih belum bergeming, hatinya bergejolak hebat. Ia merasa iba dengan tangis pilu ayahnya. Keheningan sejenak membaluti keduanya, hanya suara tangisan pilu Wisnu yang terdengar keras hingga memenuhi ruangan tersebut.


"Bangunlah Ayah". Seketika Wisnu berdiri dan menatap lekat-lekat wajah putranya itu.


"Ayah".


"Huaaaaa.... Hu.. Hu... Putraku... Hu... Hu... Maafkan ayah sayang. Ayah berdosa padamu. Sungguh Ayah meminta maaf padamu nak. Maafkan ayah. Hu... Hu...". Wisnu menangis, meraung, mengiba, dan semua jenis kepiluan terpampang jelas di wajah pria paruh baya tersebut. Ia memeluk erat tubuh putranya itu, dan Harfei pun membalas pelukannya, menambah poin haru dan kesedihan di hati Wisnu. Seandainya saja dia tidak melakukannya kesalahan besar dengan meninggalkan istri dan anaknya, mungkin saja ia akan menyaksikan tumbuh kembang putranya sampai sekarang dan tak terlewatkan sedikit pun momen penting itu.


"Ayah minta maaf nak". Wisnu ingin bersujud di kaki Harfei, namun pria itu menahan tubuhnya.


"Ayah, jangan lakukan itu. Ku mohon". Pinta Harfei.


"Dengan bersujud tidak akan menghapus segala dosa ayah padamu nak, tidak akan. Hu... Hu...".


Hati Harfei merasa tercubit dan iba. Sungguh pertemuan yang luar biasa hingga menguras emosi dan air mata.

__ADS_1


"Harfei sudah memaafkan ayah. Dan maafkan Harfei juga karena sempat menolak keberadaan ayah. Aku hanya sedikit membutuhkan waktu untuk menata hatiku yang luka. Tolong maafkan Harfei jika ayah menunggu terlalu lama. Maafkan Harfei Ayah. Hiks... Hiks...". Harfei mulai terisak, hatinya terkoyak dengan kalimat nya sendiri. Tak bisa di pungkiri jika hatinya sangatlah merindukan sosok ayah selama ini.


"Jangan meminta maaf pada ayah nak. Ayah tidak pantas untuk itu. Tapi ayah sangat bahagia, karena bisa bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya". Wisnu menjedah kalimatnya,


"Bagaimana kondisi menantuku?. Apakah dia baik-baik saja?". Tanya Wisnu setelah beberapa saat kemudian.


"Dia baik-baik saja ayah. Bahkan dia menitip salam untuk ayah. Dia juga sudah memaafkan ayah. Jika saja Ayah...". Harfei tampak menarik napas berat, lalu kemudian melanjutkan kalimatnya,


"Jika saja ayah tidak di penjara, mungkin ayah akan melihat kelahiran cucu laki-laki ayah nanti. Hiks... Hiks...". Harfei menangis kala mengucapakan kalimat yang sungguh menyayat hati itu. Begitu juga dengan Wisnu. Pria paruh baya itu menangis haru ketika mengetahui fakta bahwa dia akan segera menjadi seorang Kakek.


"Cucu?. Benarkah itu?. Wah... Ternyata anak ayah sudah besar dan sebentar lagi akan menjadi orang tua. Apakah boleh ayah meminta sesuatu darimu untuk yang terakhir kalinya nak?. Anggap saja ini untuk menebus dosa-dosa Ayah. Bahkan mungkin tidak akan bisa menghapus semua dosaku padamu nak". Pinta Wisnu lirih dan sendu.


"Apa itu Ayah?".


"Tolong sematkan namaku pada putramu kelak nanti jika dia lahir. Aku ingin kalian tetap mengenang ku sebagai orang tua kalian, meski aku tidaklah pantas untuk di sebut sebagai orang tua".


Hati Harfei semakin terluka. Perpisahan yang sebentar lagi akan tiba membuat keduanya di landa kegundahan. Namun terlepas dari itu semua, terselip kebahagiaan dan kepuasan di hati mereka. Wisnu merasa lega karena akhirnya putranya mau menemui dan memaafkan dirinya. Sementara Harfei merasa bahagia karena membuka hati untuk mau memaafkan pria yang telah membukakan jalan untuk lahir ke dunia ini. Tanpa mereka sadari, Hazal dan ibu menyaksikan keduanya dari balik pintu dan menangis haru. Ya, ibu kembali ke dalam ruang tahanan karena di luar penjara ia tidak sengaja bertemu Hazal yang ternyata ingin menemui ayah mertuanya juga.


.


.


.


.


Lanjut>>>

__ADS_1


__ADS_2