
Dua bulan setelah Ayah Wisnu di eksekusi mati, Harfei dan ibunya masih di baluti rasa kesedihan. Tak bisa di pungkiri bahwa ibu dan anak itu sangat merasa kehilangan yang sangat mendalam. Pertemuan singkat mereka sangat menorehkan luka sekaligus bahagia yang tak akan pernah terlupakan. Meski di awali pertemuan yang tak mengenakan, hingga menjadi saling membenci dan mepertahankan ego untuk tidak memaafkan. Namun pada akhirnya ego itu luluh juga dan membuka hati untuk saling memaafkan.
Pertemuan singkat itu pun di manfaatkan sebaik mungkin untuk menciptakan momen-momen bahagia seolah menggantikan momen penting di masa lalu yang terlewatkan hingga 30 tahun lebih lamanya.
Luka yang sengaja di torehkan Ayah Wisnu telah di lupakan oleh ibu dan Harfei. Keduanya ikhlas menerima kenyataan bahwa masa lalu yang sangat menyakitkan itu di hempas bagai angin lalu. Dan mereka pun menyambut masa kini meski tanpa sosok ayah lagi.
Harfei sadar bahwa dengan memendam benci tidak akan mendamaikan hati dan jiwa. Tetapi membuka hati untuk memaafkan jauh lebih berfaedah ketimbang memelihara kebencian yang meruntuhkan iman. Ibu pun tersenyum bahagia ketika mengetahui kenyataan, bahwa putra semata wayangnya itu masih menyimpan cinta di dasar hatinya yang paling dalam untuk ayahnya, meski luka kerap kali menghampiri.
Ibu menitikan air mata kehilangan yang teramat sangat ketika mantan kekasih halalnya itu harus di eksekusi mati seminggu setelah pertemuan mereka yang terakhir kalinya. Begitu pun Ayah Wisnu, pria paruh baya itu baru saja menemukan keluarga kecilnya dulu dan harus kehilangan dalam sekejab mata saat ia harus menerima kenyataan bahwa pengajuan banding yang di lakukan nya di tolak oleh jaksa agung. Dan pada akhirnya ia pun harus ikhlas menerima tuntutan hukum yang menjeratnya, yaitu hukuman mati.
Jika mengingat perbuatannya di masa lalu, Wisnu merasa lega ketika harus menerima kematian. Karena perbuatannya di masa lalu sangatlah jahat. Ia membunuh banyak orang yang tak berdosa, melakukan pekerjaan haram, bahkan sebelum itu ia harus meninggalkan istri dan anaknya yang masih berusia enam bulan.
Kini Harfei dan ibu memilih untuk berdamai dengan keadaan. Mereka sudah tidak mengingat momen pahit tentang ayah Wisnu, melainkan cinta kasih pria paruh baya tersebut. Sejujurnya Wisnu ingin mewariskan seluruh harta kekayaan yang dimilikinya kepada Harfei. Namun pria tampan itu menolak. Alasannya adalah, ia tidak ingin menerima yang bukan haknya. Terlebih lagi harta itu di dapatnya dari hasil membunuh, menjual narkoba, melakukan perdagangan senjata api secara ilegal hingga ke luar negeri, dan kejahatan lainnya yang memberatkan posisi Wisnu. Jadi seluruh harta pria paruh baya itu pun di salurkan kepada orang yang lebih membutuhkan, dan membangun panti asuhan serta masjid. Harfei juga mengembalikan 50% harta peninggalan Ayah Wisnu kepada pemerintah.
"Ibu bangga padamu Ndu. Kamu melakukan pekerjaan mulia". Ucap ibu sembari mengusap kepala Harfei di ruang keluarga.
"Harfei melakukan itu semua atas nama Ayah Bu. Harfei harap dengan begitu semua dosa-dosa ayah bisa terampuni. Kata Rasul, salah satu doa yang terkabulkan adalah doa anak Soleh untuk kedua orang tuanya. Dan sebentar lagi Harfei akan menjadi orang tua juga. Harfei harap bisa menjadi orang tua yang amanah dan bertanggung jawab. Mengajarkan putra-putri ku kebaikan hingga ketika nanti Harfei tiada hanya kebaikan lah yang akan orang kenang dariku". Ibu menitikan air mata haru akan kalimat Harfei. Dalam hati wanita paruh baya itu, ia merasa bangga memiliki putra yang sangat baik dan juga Soleh. Dan ibu pun juga merasa lega ketika nanti ia harus pergi dan menyusul mantan kekasih halalnya dalam kedamaian yang abadi. Ia sudah tak perlu merasa khawatir lagi ketika harus pergi untuk selamanya.
__ADS_1
"Terimakasih kamu sudah mau berdamai dengan hati dan keadaan, Ndu. Kamu juga Ikhlas menerima ayahmu dengan tangan terbuka tanpa harus memelihara rasa benci". Mata ibu mulai berkaca-kaca. Sementara Harfei menatap kosong kedepan. Jujur saja hatinya sangat merindukan sosok ayahnya yang belum lama ini di temuinya dan harus pergi untuk selamanya karena perbuatannya sendiri.
"Semua karena ajaran ibu. Ibu tidak pernah mengajarkanku untuk memelihara kebencian. Ibu tidak pernah mengatakan hal buruk tentang ayah meski kenyataan nya beliau adalah penjahat di seluruh penjuru negeri ini. Tapi ibu justru menutupi kesalahan itu, bahkan ibu ikhlas memaafkan ayah yang sengaja menorehkan luka di hati ibu. Lalu mengapa Harfei harus marah dan membenci ayah?. Ketika malaikat yang berwajah ibu ku ini selalu menebar kebaikan". Ibu tersenyum pada Harfei. Ia tidak menyangka jika putra yang dulu di besarkan dengan susah payah, serta dengan keringat dan air mata, kini menjadi sosok pribadi yang baik dan juga pemaaf, bahkan bertanggung jawab terhadap keluarga. Maka nikmat mana lagi yang akan kau dustakan?.
"Hiks... Hiks...". Tiba-tiba ibu menangis, membuat Harfei terkejut.
"Mengapa ibu menangis?". Tanya Harfei sembari menyeka air mata ibu. Ibu memegang tangan Harfei lalu kemudian mencium tangan putranya itu secara bertubi-tubi.
"Ibu sangat bahagia sekaligus bangga padamu Ndu. Ibu tidak menyangka putra kecil ibu dulu, kini sudah tumbuh dewasa dan bijaksana. Dulu kamu sekecil ini di gendongan ibu". Ibu memperagakan seolah menggendong bayi,
"Tapi sekarang sebesar ini. Mungkin suatu saat nanti kamu yang akan menggendong ibu ketika ibu sudah tidak bisa berjalan lagi. Bahkan tangan ini juga yang akan mengangkat keranda jenazah ibu kelak kematian menjemput ibu". Ibu memegang tangan kokoh Harfei. Dan Harfei pun menitikan air mata kala mendengar kalimat ibunya.
"Setiap manusia akan meninggal Ndu. Lawan dari kelahiran adalah kematian. Tidak ibu, tidak Ayah, tidak dirimu, semuanya akan kembali. Dan pada akhirnya hanya nama dan kenangan lah yang akan tersisa".
Dan percakapan yang mengharukan itu pun di akhiri dengan teriakan Hazal yang mengalami kontraksi palsu ketika sedang berada di dapur.
"Aaakkkk---, Mas Harfei... Sakit...".
__ADS_1
Teriakan itu sontak saja mengalihkan perhatian ibu dan Harfei. Keduanya menuju dapur dan melihat Hazal tengah menahan sakit.
"Sayang kamu kenapa?. Apakah kamu akan melahirkan?. Tapi kata dokter usia kandungan mu baru memasuki tujuh bulan, masih tersisa dua bulan lagi". Ucap Harfei panik.
"Itu bisa saja terjadi Ndu. Mungkin Hazal mengalami kontraksi palsu". Ibu beralih pada Hazal.
"Apakah sakitnya masih terasa sayang?". Tanya ibu.
"Sudah tidak lagi Bu".
"Itu artinya kamu mengalami kontraksi palsu. Hal ini biasa terjadi ketika usia kehamilan memasuki tujuh bulan. Bahkan enam bulan pun biasanya akan mengalami kontraksi palsu juga. Kalian jangan panik ya". Ucap ibu mencoba menenangkan menantu dan putranya tersebut. Dan ketiganya pun berjalan memasuki ruang keluarga. Harfei tampak menuntun Hazal, sementara ibu membuatkan susu khusus ibu hamil untuk Hazal.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC.