
Selama satu Minggu Harfei tidak bicara sepatah katapun pada Hazal. Pria itu pulang ke rumah hanya untuk mengganti pakaian, lalu kemudian pergi lagi, dan begitu seterusnya. Hazal tak ingin bertanya atau ia akan kembali menelan pil kekecewaan hingga luka yang berusaha untuk di obati akan menganga kembali hingga berdarah.
Hazal membiarkan Harfei hidup dengan perasaan yang di pendam nya. Bahkan sampai detik ini wanita itu belum juga memberitahu perihal kehamilan nya.
"Baiklah sayang, mulai sekarang kita akan berjuang bersama. Sekali lagi mama belum bisa memenuhi janji mama untuk memperkenalkan mu pada papa. Sekarang waktunya minum susu dulu. Sehat-sehat ya nak, mama tunggu kehadiran mu sebagai obat pelipur lara". Hazal mengelus perutnya yang masih rata, seolah bisa merasakan kehadiran anak yang bahkan belum di tau jenis kelaminnya itu.
Hazal pergi ke minimarket yang letaknya tidak jauh dari rumah. Wanita itu memilih untuk berjalan kaki. Selama 15 menit lamanya Hazal tiba di minimarket yang bercat kuning itu.
Hazal membeli susu khusus ibu hamil sebanyak 3 dus yang berukuran 900 gram. Wanita itu antri di kasir bersama seorang ibu yang tidak di kenalnya.
"Anda sedang hamil muda ya Bu?. Wah selamat ya?". Ucap wanita itu pada Hazal.
"Terimakasih". Balas Hazal dengan senyuman tulus.
"Pasti suami Anda sangat bahagia".
Kalimat sederhana itu sukses membuat hati Hazal berdesir. Matanya mulai berkaca-kaca, namun sebisa mungkin ia menahan agar air mata yang selama beberapa hari ini selalu setia mengaliri pipinya yang mulus tak menampakkan dirinya.
Hazal mengerjabkan matanya untuk menetralkan perasaan nya yang terluka.
"Tentu saja suami saya sangat bahagia". Ucap Hazal dengan suara lirih.
Setelah membayar di kasir, Hazal pun pergi meninggalkan minimarket itu dengan perasaan kalut. Ia kembali mengingat Harfei yang hingga saat ini belum mau berbicara padanya.
****
Sepulangnya Hazal dari minimarket, ia langsung meminum satu gelas susu yang di belinya tadi hingga habis tak tersisa. Hazal menyeka bibirnya yang basah, lalu ia tersenyum seolah puas dengan susu yang di minumnya.
"Sayang, mama sudah memberimu nutrisi. Baik-baik ya. Terimakasih sudah hadir di dalam sini untuk menjadi
teman mama".
Hazal mengelus perutnya yang masih rata sembari tersenyum bahagia. Namun kebahagiaan itu seketika sirna kala pertanyaan Harfei kembali menorehkan luka. Belum juga sembuh luka hati Hazal, pria itu kembali memberinya duka yang teramat sangat dalam.
"Anak siapa itu?!".
DUARRR... DUARRR...
PRANG...
Gelas yang di pegang Hazal jatuh dan pecah ke lantai. Wanita itu menoleh pada pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu. Ia menatap Harfei dengan tatapan rindu, cinta, dan juga kecewa. Semua rasa itu berpadu menjadi satu hingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
"A--apa maksudmu mas?". Suara Hazal tercekat di tenggorokannya.
__ADS_1
Harfei tersenyum mengejek,
"Hm, kamu jangan pura-pura bodoh Hazal. Aku tidak cacat baca, aku bisa melihat susu apa yang kamu minum itu".
Harfei memegang erat lengan Hazal hingga membuat wanita itu kesakitan.
"Mas, kamu menyakiti ku".
"Katakan padaku, anak siapa itu?".
"Dia anakku, apa mas puas?".
Hazal menghempas tangan Harfei dengan sisa-sisa tenaganya. Mata wanita itu kembali berkaca-kaca, terlalu sakit rasanya pertanyaan yang di lontarkan pria yang di sanjung budi pekertinya itu hingga luka yang kini mulai kering menganga kembali.
"Anak bersama pria brengsek itu?".
"Jika kau ingin mendengarkan jawaban yang sebenarnya, maka tanyakan pada hati nurani mu. Jika hatimu masih peka terhadap ku, maka kamu tidak akan meragukan anak siapa yang sedang aku kandung".
Kalimat itu bagai tamparan keras untuk Harfei, hatinya merasa tercubit. Sejujurnya pria itu tampak sedang menahan desiran yang luar biasa di dalam sana, namun ia berusaha untuk menahan.
"Hati nurani ku sudah hilang seiring dengan pengkhianatan yang kau lakukan padaku".
Air mata Hazal turun membasahi pipinya yang mulus. Ia mengeratkan genggaman tangannya hingga pucat bagai tak teraliri darah. Wanita itu menyeka air matanya lalu kemudian memutar tubuhnya yang mulai rapuh menghadap Harfei.
"Mari bercerai!".
DUARRR.. DUARRR... AJLEK...
Tubuh Hazal terkulai lemah, wanita itu jatuh kelantai dan menatap kaki Harfei yang masih berdiri tegak seolah kuat dan kokoh. Hatinya hancur, sakit, luka, dan kecewa. Perasaan Hazal tak bisa terlukiskan lagi, ia kehabisan kata-kata untuk mewakili perasaan nya yang sakit bagai penyakit mematikan.
PLAK...
Tamparan keras mendarat di pipi Harfei. Pria itu memegang pipinya yang terasa pedih. Ia melihat ibunya yang berdiri di samping kirinya. Ya, wanita paruh baya itu menampar Harfei setelah mendengar putranya menjatuhkan talak pada Hazal.
"Itu tamparan untuk luka yang kamu berikan pada Hazal".
PLAK...
"Itu tamparan untuk menyakiti menantu ibu".
PLAK...
"Itu tamparan untuk menyakiti seorang putri dari orang tua yang lain".
__ADS_1
PLAK...
"Itu tamparan dari wanita yang rela meninggalkan orang tuanya hanya untuk mengabdikan dirinya untuk pria bodoh seperti dirimu".
PLAK...
"Dan itu tamparan untuk seorang pria yang rela mengkhianati janji suci pernikahannya ketika Ijab Qobul".
Lima kali tamparan keras mendarat sempurnah di pipi Harfei yang mulus, semulus cinta Hazal yang tak bertepi.
"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan ha?. Apa kamu tau arti kata cerai?. Ibu bahkan tidak pernah mengajarkan padamu untuk membenci ayahmu yang pergi entah kemana. Lalu mengapa kamu tega menyakiti hati istrimu yang selalu setia menemani mu sampai detik ini?".
Hazal masih belum bergeming. Ia seolah menikmati luka yang kembali di torehkan oleh pria yang di cintai nya itu.
"Apapun ucapan ibu, aku tidak akan mengubah keputusan ku. Aku tetap akan menceraikan Hazal".
Harfei pergi meninggalkan ibu dan juga Hazal yang masih terkulai lemah di atas lantai. Sementara ibu menatap tak percaya pada putra semata wayangnya itu. Ia merasa kecewa, sakit dan terluka pada pria yang di lahirkannya 34 tahun yang lalu itu.
Ibu menoleh pada Hazal yang tampak belum bergeming.
"Hazal. Kamu tidak apa-apa sayang?".
Sorot mata ibu seolah menggambarkan rasa bersalah, malu, dan juga cinta pada menantunya itu.
"Tidak bu. Aku tidak mau bercerai dari mas Harfei. Tidak, aku tidak akan pernah bercerai, apapun yang terjadi. Aku akan mempertahankan pernikahan ini sampai akhir hayat ku. Tidak, tidak akan pernah".
Hazal berusaha menguatkan hati dan jiwanya yang mulai runtuh hingga ke dasar bumi. Ia menyeka air matanya lalu kemudian bangkit dengan menggunakan sisa-sisa tenaga menuju kamar.
.
.
.
.
Hai Readers. Entah mengapa di part ini hati Author merasa sesak. 😏
Jangan lupa dukung terus author receh ini dengan like, komen, dan vote yang banyak ya.
Terimakasih.
Happy reading 😊
__ADS_1
*Dede...