Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 43. Rahasia Sonia.


__ADS_3

Hari ini Sonia meminta izin pada Harfei untuk tidak masuk kantor. Karena ibu dari wanita tersebut tiba-tiba saja jatuh sakit dan harus di rawat secara intensif di Rumah Sakit.


Beruntung segala keperluan meeting dan laporan hasil kerja telah di selesaikan oleh sahabat dari Hazal tersebut, jadi Harfei tidak perlu merasa khawatir ketika menemui kliennya hari ini tanpa Sonia.


"Mas, hari ini aku mau menengok ibu Sonia di rumah sakit. Semalam Sonia menelpon ku kalau Tante Dewi tiba-tiba saja jatuh sakit". Ucap Hazal seraya menyisir rambutnya yang panjang.


"Iya. Semalam juga dia menghubungi ku kalau hari ini dia tidak masuk kantor dulu". Balas Harfei.


Hazal memutar tubuhnya hingga menghadap Harfei.


"Mas, aku kasihan pada Sonia. Sejak kecil dia menjadi teman sekaligus tulang punggung keluarga bagi Tante Dewi. Semenjak Ayah Sonia meninggal, Ibu dan Ayah sudah menganggap Sonia sebagai putrinya". Hazal beralih mendekati Harfei dan duduk di sisi suaminya tersebut.


"Apa kamu tau mas?. Dulu sewaktu kecil kami selalu main bersama, menghabiskan waktu bersama. Bahkan aku hampir tidak pernah melihat Sonia menangis mengeluh. Dia sungguh wanita yang hebat. Hingga sampai di mana masa itu tiba". Hazal menjedah kalimatnya dan mengembuskan napas berat.


Sementara Harfei masih belum bergeming, pria itu masih ingin mendengarkan cerita Hazal.


"Ayahnya pergi untuk selamanya dan meninggalkan utang yang begitu banyak. Saat itu Ibu Sonia tidak tahu menahu jika Paman Bram memiliki utang yang sangat banyak. Akhirnya perusahaan Paman Bram di ambil alih oleh seseorang dimana Paman memiliki utang".


"Saat itulah untuk pertama kalinya aku melihat Sonia menangis di sudut ruangan agar tak ada seorang pun yang tau bahwa hatinya sakit dan terluka dalam waktu yang bersamaan. Dan mulai saat itu aku berjanji bahwa akan selalu menyayangi Sonia seperti saudaraku sendiri. Dan kemudian Ayah melunasi semua utang-utang Paman Bram. Dan setelah dewasa, Sonia kuliah bersamaku di kampus dan jurusan yang sama. Ayah membiayai semua pendidikan Sonia. Ayah tidak pernah membeda-bedakan antara aku dan Sonia".


Cerita Hazal mengenai Sonia membuat Harfei paham akan satu hal, yaitu Sonia menjadi wanita bar-bar untuk menutupi luka dan sedih di hatinya agar tidak ada yang tau seberapa dalam luka yang di ciptakan oleh mendiang ayahnya sehingga orang tidak akan kasihan akan hidupnya. Terlebih lagi wanita itu sangat benci di kasihani.


Hazal adalah satu-satunya sahabat yang selalu ada untuk wanita berambut ikal tersebut.


"Sayang, seberapa dalam kamu mengenal Sonia?". Pertanyaan Harfei sukses membuat Hazal menoleh padanya dengan dahi berkerut.


"Kenapa mas menanyakan itu padaku?. Aku bahkan sudah melihat isi dalam tubuh wanita bar-bar itu. Haha". Jawab Hazal seolah tidak mengerti akan keseriusan dari ucapan suaminya.


"Entah mengapa aku merasa ada yang berbeda dari wanita itu". Hazal menghentikan tawanya seketika kala mendengar nada suara Harfei menjadi lebih serius.


"Apa yang mas Harfei rasakan?". Tanya Hazal dengan raut wajah yang mulai serius. Mungkin sudah saatnya ia memberitahukan rahasia Sonia yang dimana hanya dirinya seorang yang tau.


"Entahlah, aku hanya merasa jika dia memiliki rahasia yang sulit untuk aku pecahkan". Ucap Harfei sembari menatap sembarang arah.

__ADS_1


"Mas". Hazal memegang pundak Harfei, dan Harfei pun menoleh pada wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut.


"Ada apa?".


"Sebenarnya Sonia memiliki seorang putra. Dulu dia di perkosa oleh seseorang yang tidak di kenalnya. Entah bagaimana kejadiannya hingga Sonia si perkosa. Dia tidak pernah bercerita padaku. Aku hanya tau jika saat itu tiba-tiba saja dia di rawat di rumah sakit selama hampir dua bulan hingga Sonia di nyatakan hamil oleh dokter".


Harfei tak sanggup menahan keterkejutannya. Wajah pria itu berubah menjadi tegang. Bahkan mata Harfei membulat sempurna seolah ingin keluar dari tempatnya.


"Benarkah itu?". Tanya Harfei dengan raut wajah tak percaya.


"Saat ini putra Sonia di rawat bersama ibunya. Dia tidak pernah menunjukkan pada siapapun putranya itu. Tapi aku tahu. Dan saat itulah Sonia memintaku untuk menutup mulut pada dunia akan statusnya yang sebagi singel parent. Dia hanya ingin tampak baik-baik saja di mata orang-orang". Hazal tidak sanggup membendung air mata akan kesedihannya tentang Sonia.


"Beberapa hari yang lalu aku ada meeting dengan salah satu klien yang bernama Tuan Riyan. Saat itu aku melihat Sonia tampak gugup dan berkeringat ketika melihat Tuan Riyan. Lalu kemudian Sonia meminta izin padaku untuk ke toilet. Dan anehnya Riyan tiba-tiba saja meminta izin padaku untuk ke toilet juga".


"Karena aku merasa curiga, jadi aku mengikuti Tuan Riyan. Dan apa kau tau sayang?". Harfei menjedah kalimatnya lalu beralih memegang kedua lengan Hazal,


"Dia adalah suami Sonia". Ucap Harfei serius.


Mata Hazal membulat, ia tidak percaya jika sahabatnya Sonia sudah menikah. Itu tidak mungkin. Pikir Hazal.


Harfei melepas kedua lengan Hazal dan beralih menatap ke depan.


"Tentu saja aku yakin. Aku bahkan mendengarkan semua pembicaraan mereka. Jika mereka telah menikah lima tahun yang lalu".


Kalimat terakhir Harfei menambah poin keterkejutan Hazal. Wanita itu merasa di tipu mentah-mentah oleh sahabatnya sendiri. Sahabat yang selalu tampak kuat dan semangat. Sahabat yang selalu ada untuknya dalam suka dan duka.


"Mas, aku harus pergi sekarang". Ucap Hazal akhirnya setelah beberapa saat diam.


Harfei menahan tangan istrinya itu,


"Kamu mau kemana?. Biar aku antar".


"Baiklah. Kita ke rumah sakit sekarang".

__ADS_1


Hazal dan Harfei pun pergi ke rumah sakit dimana ibu Sonia di rawat.


****


Di rumah sakit, dimana seorang wanita paruh baya tengah terbaring tak berdaya di atas ranjang. Kedua tangannya di infus, dan hidungnya melekat selang oksigen.


"Bu, maafkan Sonia karena sudah berbohong pada ibu. Tolong sadarlah Bu, jangan tinggalkan Sonia. Hu..hu.. hu..".


Ya, ibu Sonia telah terbaring tak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit. Wanita paruh baya itu harus di rawat secara intensif karena mengetahui fakta bahwa Sonia justru menikah dengan pria yang memperkosanya enam tahun yang lalu.


"Sonia janji akan menceraikannya Bu. Tapi tolong bangunlah. Apa ibu tidak mau melihat cucu ibu tumbuh besar?. Hu... Hu...". Tangis pilu Sonia sudah tak bisa di bendung lagi. Jika dulu ketika ayahnya meninggal, ia memilih untuk menyembunyikan kesedihannya dan menangis di sudut ruangan. Tapi kali ini, wanita itu tampak rapuh tak berdaya. Bagai seseorang yang kehilangan jati dirinya.


"Sonia".


"Hazal?".


.


.


.


.


.


.


TBC.


Hai-hai, apa kabar Readers ku yang Budiman?. Author mau ngucapin selamat Maulid Nabi Muhammad Saw bagi umat muslim.


Jangan lupa like, komen dan vote yang banyak ya. Terimakasih.

__ADS_1


Happy reading 😊.


*Dede...


__ADS_2