
Sesuai dengan ucapannya, hari ini Hazal mengawasi Helena. Namun meski begitu, wanita yang berambut warna madu tersebut tetap menjaga privasi Helena. Biar bagaimanapun Helena bukanlah seorang pembunuh ataupun mafia. Dan mengenai David, wanita itu juga tak luput mengawasi pria yang pernah menjalin hubungan dengannya lewat biro jodoh tersebut.
Melalui detektif Reza, Hazal mendapatkan informasi mengenai David. Tapi Helena di awasi secara langsung oleh Hazal lewat tempatnya bekerja.
Hazal masih terus mengawasi Helena dari lantai atas melalui jendela kaca. Di lihatnya setiap gerak gerik wanita itu, namun menurut Hazal tidak ada yang mencurigakan dari gelagat Helena.
Hazal ingin mengalihkan pandangannya dari Helena, namun tiba-tiba saja ia kembali memandang wanita cantik tersebut karena ia kedatangan seseorang yang tidak asing di matanya.
"Sonia?".
Hazal melihat Sonia seperti sedang memarahi Helena, entah apa yang di lakukan oleh gadis bar-bar itu pada mantan kekasih suaminya. Namun sangat jelas di mata Hazal jika Sonia sedang memarahi Helena.
Hazal belum bergeming, ia masih terus menyaksikan Sonia dan Helena dari jarak yang cukup jauh. Tak lama tampak Sonia menampar Helena. Namun yang membuat aneh adalah Helena tak membalas sama sekali perlakukan Sonia.
Sementara karyawan lainnya sudah mulai berdatangan dan melerai dua wanita yang tengah bertikai itu. Hazal pun turun ke lantai bawah untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Wawan menahan Helena, sementara Anton dan Reno menahan Sonia. Dan karyawan lainnya hanya menyaksikan aksi pertengkaran dua wanita bar-bar itu. Beruntung belum ada pelanggan, karena saat ini masih menunjukan pukul 07.30 pagi.
"Sonia". Ucap Hazal. Dan Sonia pun menghentikannya gerakannya yang memberontak agar di lepaskan oleh Anton dan juga Reno.
Anton dan Reno pun melepaskan Sonia, sementara Wawan terus memegang tangan Helena dengan agresif seolah mendapatkan kesempatan dalam kesempitan. Hingga akhirnya Helena menyadari jika kepala Wawan sudah bersandar di pundak wanita cantik tersebut. Sontak saja Helena mendorong kepala Wawan dengan kasar, membuat sang empunya kepala tersenyum bagai tanpa dosa.
"Hehe. Aku lupa. Habis enak sih". Ucap Wawan memperlihatkan gigi kuningnya dan mendapatkan tatapan tajam dari Helena.
"Apa yang kamu lakukan Sonia?". Tanya Hazal seraya melipat tangan ke dadanya.
"Hazal, tadi aku melihat dia bersama David". Balas Sonia.
"Lalu?". Tatapan mata Hazal datar bagai tak terbaca.
"Mereka sedang merencanakan sesuatu untuk menyakiti mu".
"BOHONG!". Timpal Helena. Wanita itu tampak tak terima dengan tuduhan Sonia.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak merencanakan apapun mba Hazal. Percayalah padaku". Tutur Helena seolah mengatakan yang sebenarnya pada Hazal dan yang lainnya.
"Hala... Bilang saja kalo kamu berbohong kan. Kamu memang sengajakan ingin membuat sahabatku bingung?". Timpal Sonia. Wanita bar-bar itu tak kala sinis nya dari Helena.
Helena tampak tidak memperdulikan ucapan Sonia, ia hanya fokus pada Hazal dan memasang raut wajah ketulusan. Helena memegang tangan Hazal sembari berkata,
"Mba Hazal. Aku benar-benar tidak ada niat jahat terhadap mba Hazal, apa lagi untuk menghancurkan rumah tangga mba Hazal dan mas Harfei. Aku sudah cukup banyak merepotkan mba dan mas Harfei, bahkan aku bersyukur karena Mba Hazal, akhirnya aku bisa membantu perekonomian ibu. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk menyakiti mba Hazal. Bahkan aku tidak tau apa yang di maksudkan mba Sonia tadi". Terang Helena dengan... Tulus?.
"Kamu jangan percaya wanita rubah itu Hazal. Dia wanita serigala berbulu domba". Timpal Sonia dengan suara mengeras.
"Aku tidak seperti itu!". Bantah Helena.
"Hala... Mana ada maling ngaku maling?. Kalau ada yang mengaku, mungkin penjara akan penuh". Ucap Sonia dengan senyum mengejek.
"Tapi aku tidak---".
"CUKUP!".
Hazal menghentikan perdebatan antar dua wanita yang masing-masing merasa benar tersebut. Wanita itu menatap lekat-lekat mata Helena seolah mencari kebenaran di dalam sana, tapi... Ah, tidak mungkin. Pikir Hazal.
"Tapi Hazal dia---"
"Cukup Sonia. Ayo ikut aku ke atas". Titah Hazal dan berlalu meninggalkan Sonia lebih dulu ke ruangannya di lantai atas.
****
Hazal mendaratkan tubuhnya di kursi sofa, dan di susul oleh Sonia yang baru saja masuk. Lalu kemudian wanita itu duduk di sisi kanan Hazal.
"Apa yang kamu lakukan tadi?. Apa begini caramu menyelesaikan masalah?. Apa begini caramu mengawasi nya?. Dengan kamu seperti ini, Helena bisa saja mencurigai kita Sonia. Dan aku tidak mau mengganggu privasi wanita itu". Tutur Hazal dengan sedikit geram.
"Tapi tadi aku melihat dia bersama David di depan dan mereka sangat mencurigakan". Ucap Sonia masih berusaha untuk meyakinkan wanita bermata coklat tersebut.
"Lalu mengapa jika dia bersama David?. Bukankah mereka sepupu?. Lalu apa salahnya jika seseorang bertemu dengan sepupunya?. Apa ada undang-undang larangan untuk bertemu sepupu sendiri?". Ucap Hazal sedikit geram.
__ADS_1
"Tapi Hazal, bisa saja kan mereka sedang merencanakan sesuatu untuk menyakiti mu dan mas Harfei". Hazal belum bergeming. Dalam hati wanita itu membenarkan ucapan Sonia, namun sekali lagi dia tidak ingin mencurigai seseorang tanpa bukti yang akurat. Bisa saja David bertemu Helena tadi karena pria itu ingin membantu Helena yang sedang kesusahan karena ibunya sakit-sakitan, sementara Ayah dari wanita itu sudah meninggal. Sebagian sepupu wajar saja jika saling membantu. Pikir Hazal.
"Aku belum bisa memutuskan apapun". Hazal berusaha menampik pikiran-pikiran yang membuatnya gundah.
"Baiklah, terserah padamu saja. Aku hanya berusaha untuk membantumu dan mengingatkanmu, jika wanita rubah itu sangat berbahaya, begitu juga dengan sepupunya". Ucap Sonia.
"Apa kamu memiliki bukti jika David dan Helena sedang merencanakan hal jahat padaku dan mas Harfei?. Apa kamu pernah mendengarnya secara langsung dari mulut keduanya?". Tanya Hazal akhirnya. Manik mata coklat itu menatap lekat-lekat mata Sonia. Sejak awal pertanyaan itulah yang mengganjal di hati Hazal. Mengapa Sonia tetap kekeuh mengatakan bahwa Helena dan David dalang dari semua rentetan peristiwa yang membuat Hazal khawatir?.
Sonia memalingkan wajahnya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan beruntun sahabatnya itu.
"Aku memang belum pernah mendengar mereka merencanakan sesuatu padamu". Ucap Sonia santai. Lalu kemudian ia memposisikan diri menghadap pada Hazal dan memegang tangan sahabatnya itu. Dan melanjutkan ucapannya,
"Tapi aku peduli padamu, Zal. Aku tidak ingin wanita itu menghancurkan rumah tangga mu dan mas Harfei. Lagi pula bukankah Helena adalah mantan kekasih mas Harfei?. Dan David adalah pria yang pernah menaruh rasa padamu. Jadi kemungkinan besarnya adalah mereka berdua adalah pelakunya". Sonia masih terus berusaha untuk meyakinkan Hazal yang masih tampak bingung.
"Baiklah, terserah padamu saja. Aku sudah mengingatkan mu. Aku harus pergi dulu. Hari ini ada jadwal meeting dengan Tuan Pratama. Mas Harfei pasti sudah menunggu ku". Tutur Sonia mengakhiri perdebatan yang cukup panjang antar dirinya dan Hazal.
"Baiklah. Terimakasih atas bantuan mu. Maaf aku selalu merepotkan mu". Menjedah Sejenak kalimatnya,
"Sonia, maaf. Bukannya aku tidak mempercayai mu atau meragukanmu. Tapi aku hanya butuh bukti yang otentik yang mengatakan bahwa David dan Helena terlibat dalam masalah ini. Atau justru ada orang lain yang bermain di belakang ku".
Dan dua wanita itu pun mengakhiri percakapan yang cukup menguras emosi dan tenaga.
.
.
.
.
Jangan lupa, like, komen, dan vote ya. Terimakasih.
Happy reading 😊.
__ADS_1
*Dede...