
Usai memeriksa sesuatu yang di maksudnya, Harfei pun masih betah menduduki kursi yang selama sebulan di tinggalkannya, masih belum ingin beranjak. Tak lama setelah itu pintu terdengar di ketuk oleh seseorang.
"Wawan?".
"Bang, ada yang ingin aku tanyakan sama Abang". Aura wajah Wawan berubah menjadi serius, hingga Harfei pun menanggapinya dengan tatapan serius pula.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?".
"Bang, enak gak menikah itu?". Sumpah demi apapun ingin rasanya Harfei melemparkan pena di wajah tirus si Wawan. Sudah pasang wajah serius ternyata yang di tanyakan malah urusan pernikahan.😄
"Emang kenapa kamu nanya itu?". Tanya Harfei sambil Mengaitkan jari-jari tangannya.
"Wawan mau belajar bang. Buat referensi Wawan nanti sebelum menikah. Anggap saja sebagai bahan edukasi. Hehe". Nyengir kuda ala Wawan keluar secara natural, memperlihatkan giginya yang setengah kuning berkarat.
"Mau di jadikan bahan edukasi atau buat praktek pornografi sama kekasih?". Harfei menyangsikan ucapan si kurus Wawan.
"Ya ampun bang. Wawan ini jomblo kualitas Ori loh. Masih perjaka". Sambil menepuk dadanya seolah menandakan kebanggaan.
"Menikah itu gampang-gampang susah, Wan. Ada enaknya ada juga gak enaknya. Mau yang mana dulu nih?". Tanya Harfei.
"Yang enaknya dulu deh bang". Wawan terasa tak tahan untuk mendengarkan penjelasan Harfei seperti seorang guru yang handal dalam urusan rumah tangga.
"Abang akan menerangkan mengenai pernikahan supaya kamu gak salah jalan dan gak salah mengartikan pernikahan". Harfei Memperbaiki posisi duduk dan melanjutkan pelajaran penting bagi Wawan.
"Menurut ajaran agama yang kita anut, Pernikahan itu untuk menyempurnakan sebagian agama seseorang. Dan akan mendapatkan pahala, terhindar dari perbuatan zina karena ada yang melayani lahir dan batin di rumah. Makan, minum, pakaian, segalanya di atur dan di perhatikan oleh istri kita. Terlebih lagi saat tidur, sudah ada yang nemenin. Dulu peluknya bantal guling, sekarang bantal hidup". Sejenak memperbaiki posisi duduk.
"Menikah itu harus siap lahir dan batin, Wan. Gak boleh nikah karena napsu semata. Rumah tangga gak akan berkah. Ridho gak dapet, pahala juga ilang. Apa lagi kalau sampai gak bisa bimbing istri, sudah pasti masuk neraka buat di karantina, atau bisa jadi kayu-kayu nya api neraka".
"Serem banget ya bang?". Wawan merinding membayangkan menjadi kayu-kayu api neraka.
"Makanya, jangan salah mengambil keputusan. Perbaiki hati dan juga perbanyak duit. Hati untuk bersikap toleran dan dewasa, duit buat modal nikah. Tapi ingat, jangan ambil jatah lebih dulu buat menurunkan mahar wanita. Kan banyak tuh di beberapa daerah, ketika pria mengambil jatah lebih dulu, maka wanita itu sudah tak bernilai di mata keluarga pria alis maharnya jatuh". Terang Harfei.
__ADS_1
"Tapi dulu Wawan pernah lihat Abang nyium Mba Lina dulu".
Teplak...
Harfei menelan salavinya guna meluruskan pemikiran Wawan.
"Itu bukan ciuman, Wan. Tapi kecupan di kening. Tandanya sayang. Meski begitu jangan di tiru. Karena jika iman tak kuat maka akan berubah menjadi ciuman yang menuntut lebih. Banyak loh dari kalangan anak mudah sekarang yang awalnya kecupan dan tidak tahan makan akan berbuat yang ena-ena. Itu akan merusak generasi. Apa yang akan kamu ajarkan pada anak-anak mu kelak jika bapaknya sendiri tidak tau akan pendidikan agama dan akhlak?".
"Ya ajarkan ena-ena la bang". Jawaban si kurus Wawan mengakibatkan pena melayang sempurna di wajahnya hingga ia mengadu.
"Aduh, sakit bang". Keluh Wawan.
"Sakitan di lempar ke neraka dari pada sakitan di lempar pena". Kesal Harfei.
"Iye deh, iya bang. Lanjut..."
"Nah, yang paling penting juga nih. Kan kamu sekarang lagi masa-masa puberitas tuh, biasanya dalam masa itu kebanyakan anak mudah melakukan hal-hal yang membuatnya penasaran. Seperti melakukan pornografi atau pornoaksi sendirian karena tidak memiliki pasangan. Ini nih yang sangat berbahaya".
"Itu salah, Wan. Hal itu justru akan merusak sel-sel tubuh mu. Merusak sel ******. Nah, berhubung Abang bukan dokter, sebaiknya kamu konsultasi ke dokter atau yang lebih praktis nya kamu buka Om google. Kan banyak tuh penjelasannya nya dari Om google".
"Terus kalau yang gak enaknya apa dong bang?".
"Yang gak enaknya itu dengerin Omelan istri. Sakit telinga. Haha". Harfei membayangkan ketika istrinya Hazal mengomel karena dirinya yang jorok, suka mengupil, suka kentut, hal itu membuat istrinya sukses menangis dalam hati. 😄
"Mba Hazal galak ya bang?". Ragu-ragu Wawan bertanya, takut Harfei tersinggung.
Sebelum menjawab Harfei menghembuskan nafas perlahan.
"Sebenarnya Hazal itu tidak galak, hanya saja dia tegas dalam segala hal. Disiplin, dan juga perfeksionis. Beda loh Wan galak dan tegas itu. Galak itu artinya meluapkan kemarahan tanpa tujuan yang jelas. Sedangkan tegas bertujuan agar lebih disiplin dan hidup terarah". Terang Harfei. Pria itu menyadari jika omelan Hazal adalah bertujuan baik agar lebih menghargai hidup dan mencintai kebersihan yang merupakan bagian dari iman. Hanya saja, Harfei tidak ingin mengungkapkan rasa bangganya itu pada istri nya. Bagi Harfei, ketika Hazal kesal, maka aura kecantikan wanita itu akan terpancar di wajahnya yang sederhana.
"Wah, pasti Abang sangat bahagia ya menikah sama mba Hazal?. Sudah kaya, pinter, disiplin, baik lagi". Puji Wawan.
__ADS_1
"Bukan itu poin penting nya, Wan. Aku bersedia menikahi Hazal saat itu karena aku yakin dia adalah jodoh yang di kirim Tuhan untukku. Setiap kali beribadah aku selalu berdoa, jika Tuhan akan memberikan ku jodoh yang tepat. Nah, sekarang aku menikah sama Hazal, berarti dia adalah jodoh yang tepat dari Tuhan buat ku.
"Materi, otak cerdas, fisik, semuanya hanya bonus Wawan. Yang terpenting adalah akhlak. Menikahlah karena agamanya, karena akhlak nya, karena hartanya, dan karena kecantikan nya. Tapi saya memilih karena agama dan akhlaknya, Wan".
"Bang, Wawan jadi pengen nikah". Ucap Wawan setelah merenungkan kalimat Harfei yang begitu panjang kali lebar menjelaskan perihal pernikahan dan rumah tangga.
"Perbaiki dulu dirimu. Minimal tambah berat badan mu Wawan. Dan yang terpenting, gigi kamu yang kuning berkarat itu di bersihkan dulu. Nanti kotorannya nyangkut di bibir istri kamu. Haha".
Pelajaran penting itu pun berakhir dengan sedikit sindiran pada fisik Wawan. (Jangan di tiru ya sindirannya Readers).😘🙏
.
.
.
.
.
.
.
.
Tinggalkan jejak kalian ya. Jangan lupa like, komen, dan vote serta beri bintang juga ya. Terimakasih.
Happy Reading.
*Dede...
__ADS_1