
David menuntun Hazal untuk berjalan mendekati dua pasang manusia yang tengah diam menatap mereka. sementara Sonia dan Anton pun di buat heran karena sikap yang ditunjukkan Hazal dan juga David sangat berbanding terbalik dari yang sebenarnya. Bukankah mereka telah putus?. Pikir Sonia dan Anton.
"Hai, apa kamu tidak mau memberi ucapan selamat pada kekasihku ini?". David sengaja mengeratkan pelukannya di pinggang Hazal. Sepertinya David sengaja memanfaatkan keadaan deh. Author jadi curiga nih.😁
"Ah, maaf. Selamat ulang tahun untuk mu Hazal". Harfei mengulurkan tangannya untuk memberi selamat pada Hazal, dan dengan senang hati wanita itu menerima uluran tangan dari pujaan hatinya.
"Terimakasih".
"Ah, dengan Nona...?".
"Lina".
"Ah, iya Lina. Apa Anda tidak ingin memberi ucapan selamat pada kekasihku?". Sekali lagi David mencuri kecupan Hazal.
"Oh tentu saja. Selamat ya mba Hazal. Semoga kalian cepat menyusul kami untuk segera menikah". Ucapan itu bagai ejekan di benak Hazal. Ingin muntah rasanya.
"Oh, jadi kalian ingin menikah?. Kapan?". Tanya David, seolah aktingnya sukses.
"Doakan saja secepatnya". Lina terus menjawab pertanyaan David, sementara Harfei diam seribu bahasa tak tau harus berbuat apa. Dia hanya fokus menatap mata Hazal, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Apakah Tuan Harfei sudah melamar Anda Nona Lina?". Wajah Lina berubah menjadi pias. Memang Harfei mengatakan jika dia akan menikahi dirinya, namun belum secara resmi melamar atau mengucapkan niat baiknya itu pada ayahnya secara langsung.
"Belum". Lina tertunduk.
"Wah, bagaimana ini Tuan Harfei?. Masa gadis secantik Lina Anda menggantung perasaan nya?. Kenapa tidak melamar langsung pada kedua orang tuanya?. Bukankah kalian akan menikah sebentar lagi?". Pertanyaan David sukses membuat hati Harfei bimbang. Memang benar ia ingin menikahi Lina, namun melihat sifat posesif nya selama beberapa hari ini, ingin rasanya ia menolak keadaan itu.
"Aku belum menemukan waktu yang tepat". Singkat, padat dan jelas. Namun terdengar ambigu di hati Lina. Bagaimana tidak, baru saja pria itu mengatakan jika ia ingin menjadikannya istri, namun lain kata saat ini. Bahkan dia bilang belum menemukan waktu yang tepat. Dasar pembohong. Kira-kira begitulah pikiran Lina.
"Oh ya?. Mungkin kami akan mendahului kalian dalam waktu dekat ini". Baik Hazal maupun Harfei, mata keduanya membulat seperti ingin keluar dari tempatnya dan melompat di lantai. Hazal membisik David agar tidak di dengar oleh Harfei dan Lina.
"Apa yang baru saja kamu katakan?. Apa kamu sudah gila?. Bagaimana jika Harfei justru menjauhiku?. Akan aku begal paru-paru mu David".
"Kamu tenang saja. Nikmati saja peran figuran mu. Aku yakin, hati Harfei sedang bimbang saat ini. Mungkin dia tidak rela kamu menikah dengan seorang lain". Berusaha untuk meyakinkan.
"Benarkah?. Bagaimana jika sebaliknya?". Hazal menyangsikan rencana David.
"Kita lihat saja nanti".
"Ehem, maaf kami tadi sedikit berdiskusi sedikit rencana pernikahan kami. Oh iya. Maaf aku harus pergi sekarang. Masih banyak kerjaan". Tuturnya David kemudian.
"Sekarang?". Tanya Hazal.
"Oh... Apa kamu sedang merindukan ku baby?. Mmmuach... Kita akan bertemu nanti malam sayang. Da...". Sekali lagi ciuman keras di pipi Hazal membuat Hazal menyumpah serapah David karena memanfaatkan kesempatan. Dan jangan lupa suara sensual yang di buat-buat oleh David ingin rasanya Hazal muntah.
sementara Harfei, wajahnya berubah menjadi warna ungu, efek... Cemburu mungkin.😁
Hazal menggerutu. Sementara Lina bersorak gembira seolah yakin akan hubungan Hazal dan David.
"Sepertinya David sangat mencintai mu mba Hazal". Tutur Lina. Dengan canggung Hazal menjawab.
"Iya. Terimakasih".
Harfei tetap saja diam tak bergeming. Dalam hati pria itu seperti bergejolak, ada gumpalan di dalam sana yang entah apa itu artinya.
****
__ADS_1
Pesta sederhana itu berjalan hingga malam hari. Dan kedua orang tua Hazal pun menyempatkan diri untuk datang di acara sederhana putrinya setelah tadi Hazal menelpon mereka.
Kedua orang tua paruh baya itu tengah asik memakan sate buatan Harfei. Sementara Hazal dan Harfei sedang duduk berdua di sudut ruangan di kursi sofa mini.
"Apa benar kamu akan menikah dengan David?". Tanya Harfei tanpa ragu.
"Begitulah, seperti yang kamu dengar tadi". Hazal masih menjalankan akting konyolnya. Kali ini dia menjadi aktris utamanya.
"Aku pikir kalian sudah putus?". Harfei menyangsikan hubungan Hazal dan David dengan sedikit menatap penuh selidik. Namun bukan Hazal namanya jika tidak bisa menghindar dalam situasi yang rumit ini.
"Apa kamu sedang menyumpahi ku putus dari kekasihku?".
"Bukan begitu, Zal. Aku hanya bertanya saja. Tapi jika memang itu benar, aku ucapkan selamat untuk kalian". Harfei menggenggam tangan Hazal dengan erat, dan wanita itu pun merasakan sekujur tubuhnya bagai di setrum listrik. Mungkin ada pergesekan antara ion positif dan ion negatif maka jadilah debaran cinta kausatif. (Ngomong apa sih Author ini?😁).
Di tengah pegangan tangan itu, tiba-tiba saja Lina datang.
"Bang, apa yang sedang kamu lakukan?!". Lina sudah mulai emosi jiwa.
Sontak Harfei melepas tangan Hazal dan berdiri mendekati Lina.
"Ini gak seperti yang kamu pikirkan, Lin". Berusaha menjelaskan.
"Lalu seperti apa bang?". Lina bagaikan orang kesetanan, marah-marah dan volume suaranya menjadi 100 volt.
Mendengar ada keributan, kedua orang tua Hazal pun mendekati TKP, begitu juga yang lainnya.
"Ada apa ini?". Tanya ayah Hazal.
"Ini anak Om sudah merebut pacar saya". Suara lantang keluar begitu saja dari bibir tipis nan indah seorang Lina.
"Tapi dia punya saya Om". Balas Lina tak mau kalah. Maka terjadilah peperangan adu mulut antara pria paruh baya dan wanita muda.
"Tapi kalau pria ini mau sama anak Om bagai dong?". Telak mati. Ayah hazal terkenal dengan mulut cemprengnya, tak ada yang bisa menang debat dengannya. Bahkan lawan bicaranya pun sering mati kutu karena terkena skak mati dari mulut tajamnya, apa lagi hanya Lina yang baginya hanya seorang cucuruyut muda.
"Ayah, gak boleh ngomong kaya gitu sama anak orang". Ibu Hazal yang sedari tadi diam pun akhirnya bersuara. Wanita paruh baya itu menarik tangan Lina dan mengajaknya duduk di kursi sofa.
"Sayang. Apa benar dia kekasihmu?". Ibu Hazal terkenal lebih bijak dari pada suaminya yang cerewet itu.
Lina menganggukkan kepalanya sebagai Jawaban.
"Apa kamu percaya sama dia?".
Ragu-ragu Lina menganggukkan kepalanya.
"Tapi Tante lihat kamu seperti ragu percaya sama pria itu". Menyangsikan jawaban Lina.
"Karena tadi anak Tante memegang tangan Abang". Lina mulai dengan suara manjanya. Sementara Harfei diam tak bergeming. Masih bingung dengan situasi yang terjadi saat ini.
"Apa benar kamu mencintai dia?. Atau hanya sekedar obsesi mu saja untuk memilikinya?". Mengangkat kepala dan melihat wajah wanita paruh baya itu, lalu kemudian menundukan kembali kepalanya.
"Itu bukan cinta sayang, tapi obsesi. Kalau kamu mencintai dia, maka kamu akan mempercayai nya 100%. Mau dilihat dari sudut manapun mereka tidak ada hubungan apa-apa. Dan pegangan tangan yang kamu maksud tadi, apa kamu lihat tangan pria itu berada di bawah tangan anak saya?".
Lina menggeleng kan kepalanya.
"Nah, kalau kamu tidak melihat itu berarti anak Tante gak salah dong. Itu artinya murni salah paham".
__ADS_1
Skak mati. Lina tidak bisa berkata apa-apa lagi. Memang benar jika selama ini dia hanya terbakar cemburu pada Hazal.
"Ya udah deh, kalau memang Bang Harfei mencintai anak Tante, Lina pasrah saja. Lagi pula Lina kalah pamor kok dari anak Tante. Meskipun cantikan Lina sih, tapi cantik saja gak cukup Tante. Biarlah Lina melepaskan Abang Harfei untuk anak Tante". Semua yang berada di ruangan itu menatap tak percaya akan keikhlasan hati Lina. Sementara Harfei tak bergeming. Tatapannya datar tak terbaca.
"Hazal, apa kamu menerima keikhlasan Lina dan mau menerima Harfei sebagai suami kamu?". Pertanyaan konyol keluar dari mulut ayah Hazal. Sementara Harfei tidak mengatakan apa-apa sejak tadi, bagaimana bisa Hazal menjadi istrinya?. Kira-kira begitulah pikiran Harfei.
Hazal menatap Harfei, berusaha untuk membaca wajah datar itu. Namun mungkin karena wanita itu kelewat polos sehingga ia tak mampu membaca nya dan hanya berkata,
"Terserah Ayah saja". Kepala tertunduk.
"Loh, yang mau menikah itu kamu, bukan ayah. Ayah kan sudah ada ibu kamu yang cantik jelita ini". Mencubit gemas pipi istrinya.
"Ayah ini apa-apaan sih?. Kumat lagi deh mesumnya".
"Nak Harfei, apa kamu mau menerima anak Tante jadi istri kamu?". Tanya ibu Hazal kemudian.
Mata Harfei membulat sempurna. Apa dia baru saja di lamar oleh orang tua wanita?. Harusnya kan dia yang melamar, bukan Mala sebaliknya.
"Maaf Tante, saya masih bingung untuk ini. Tadi baru saja saya mendengar jika David dan Hazal akan menikah. Lalu mengapa Om dan Tante seolah melamar saya?". Tanya Harfei bingung.
"Tadi itu kami hanya bersandiwara. David hanya ingin mengetahui perasaan mu saja padaku". Jujur Hazal.
"Lalu kamu sudah tahu perasaan ku padamu?". Hazal menganggukkan kepalanya.
"Kamu hanya menganggap ku rekan bisnis dan sahabat". Hazal bersuara lirih.
"Aku akan menikahi anak Tante".
DUAAARRR...
Sumpah demi kura-kura, Hazal sangat terkejut plus bahagia. Ingin rasanya wanita itu bersorak gembira. Dalam hati ia menyanyikan lagu mendiang Megi Z. (Engkau bagaikan kupu-kupu, didalam mata air... mata air cinta. Hooo...).
"Mas gak bercanda kan?". Tanya Hazal sambil menatap wajah pujaannya.
"Apa aku terlihat bercanda?".
Hazal memeluk tubuh Harfei dan menitikan air mata haru, begitu juga yang lainnya. Termasuk Lina.
.
.
.
.
.
.
TBC.
Pecinta Hazal dan Harfei. Jangan lupa, like, komen, dan vote ya. Terima gaji...😁😁
Happy Reading.
__ADS_1
*Dede...