
Tumpuan rahasia di pendam dalam masing-masing hati Harfei dan Hazal. Tidak ingin merusak momen dan keadaan yang begitu di rasa baik-baik saja. Hingga keduanya menjalani hidup yang seolah tak terjadi apa-apa.
Memendam rasa merupakan pilihan terbaik saat ini bagi keduanya. Mengambil keputusan untuk menanamkan sikap saling percaya meski tak jarang ada desiran gundah di dalam sana. Seperti yang di rasakan Harfei saat ini. Ia masih kalut akan foto istrinya bersama pria yang pernah mengisi hari-harinya lewat biro jodoh itu.
Sementara Hazal tak ingin mengingat gambar yang sukses membuat hatinya sempat goyah, melupakan merupakan keputusan yang paling bijak.
Di peluknya suami yang begitu di kasihi nya itu dengan erat seolah pria itu hanyalah miliknya seorang.
"Mas, aku suka aroma tubuh mu". Ucap Hazal sembari menghirup aroma tubuh suaminya yang bagaikan candu.
"Aku adalah si Mr. jorok yang beberapa bulan lalu kamu nikahi sayang. Dan aku masih tetap sama, termasuk aroma tubuhku". Harfei memindahkan tiga helai rambut yang menutupi wajah istrinya itu ke belakang telinga.
Hazal melepas pelukan suaminya dan beralih membuka lemari guna mencari baju daster polkadot kesukaannya.
"Mas, lihat baju daster polkadot aku yang berwarna merah gak?". Tanya Hazal.
"Yang ini maksud kamu?". Harfei mengangkat sebuah baju daster bermotif polkadot dari sudut ruangan.
"Kok ada disitu sih, mas?". Meraih baju daster itu dan mengenakannya.
"Kamu tampak cantik jika memakai baju daster itu". Ucap Harfei sembari menatap lekat setiap lekuk tubuh istrinya.
"Mas, tatapan matamu mengalihkan duniaku". Tersenyumlah malu-malu. Hazal beralih membuka laci guna mencari pengikat rambut miliknya, namun pencariannya berhenti ketika melihat kotak merah persegi empat.
"Apa ini mas?". Menunjukan kotak tersebut pada Harfei. Harfei yang semula berdiri di sisi jendela kamar pun menghampiri Hazal.
"Buka saja, dan lihat apa isinya". Ucap Harfei
Hazal pun membuka kotak berbahan beludru itu dengan sangat hati-hati,
__ADS_1
"Batu akik?. Untuk apa batu akik sebanyak ini mas?". Tanya Hazal sambil menghitung jumlah batu akik milik suaminya.
"10 batu akik?". Hazal di buat tak percaya akan koleksi suaminya itu.
"Mas Harfei seperti dukun saja pake batu akik segala?". Lanjutnya kemudian.
"Mas bukan dukun, tapi naga Bonar. Tau gak siapa pemeran utamanya dalam drama Tutur Tinular?". Hazal menggelengkan kepalanya,
"Itu aku. Berubah. Hiya.. Hiya..". Harfei mempraktekkan seolah pendekar zaman dulu yang di tayangkan di salah satu stasiun TV swasta, membuat Hazal tak bisa menahan tawa.
"Hahaha. Mas persisi seperti Jaka Tingkir. Haha". Hazal memegang perutnya karena capek tertawa.
Puas melihat istrinya tertawa, Harfei pun menangkup wajah istrinya itu dan menatap lekat-lekat,
"Ada satu lagi fungsi dari batu akik ini". Melepas wajah istrinya lalu beralih mengenakan semua batu akik itu di semua jari tangannya lalu mengepalkan kedua tangan tersebut sembari berkata,
"Ini berfungsi untuk meninju wajah seseorang jika ada yang berani menyentuh istriku!". Harfei membayangkan wajah David dalam foto yang di lihatnya tempo hari bersama istrinya di sebuah hotel.
Tatapan tajam begitu menghujam ke jantung Hazal. Mungkin kalimat itu seolah bagai guyonan semata, namun nada suara yang begitu syarat akan makna membuat wanita itu menelan salavinya dengan susah payah.
"Mas serem banget, ih. Kok mas kejam banget ya?". Harfei melepaskan seluruh batu akik koleksinya itu dan menaruh kembali dalam kotak tersebut.
"Aku bisa saja berubah menjadi rubah jantan yang begitu kejam ketika terjadi pengkhianatan. Dan saat itu terjadi, maka semua batu akik ini benar-benar akan menunjukkan fungsinya".
Hazal menangkap nada lain dalam kalimat Harfei, seperti sedang... Cemburu?.
Ia memegang tangan suaminya itu dengan erat,
"Tak perlu menyakiti fisik seseorang. Jika mas ingin memberinya pelajaran ataupun peringatan, maka lakukan dengan cara yang benar. Misalnya saja tunjukan dengan prestasi. Prestasi adalah tamparan keras bagi orang-orang yang menyimpan kebencian terhadap kita". Tutur Hazal. Manik mata itu menatap lekat-lekat suaminya.
__ADS_1
"Jika yang aku cintai bermain bersama orang lain di belakang ku, maka bukan prestasi yang harus aku tunjukan, melainkan sisi lain dari seorang Harfei Iskandar. Jangan mengira air yang tenang tanda meneduhkan. Air yang tenang itu kadang diam menghanyutkan". Menjedah Sejenak kalimatnya dan beralih melihat kedepan.
"Aku hanya berusaha menjaga apa yang menjadi hak dan milikku. Begitu juga dengan istriku. Karena kamu adalah istriku, jadi aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu atau merebut mu dariku. Aku bisa saja berubah menjadi air yang tenang itu dan menghanyutkan orang yang berani berenang dalam area ku".
Suasana yang tadinya bercanda, kini berubah menjadi horor. Dimana raut wajah Harfei berubah menjadi tak seperti biasanya. Pria itu seperti gusar dan memendam sesuatu.
Hazal tak ingin berlama-lama dalam situasi yang bagai mencekam dirinya. Ia pun mengalihkan pembicaraan,
"Karena mas tidak bisa menolak pesonaku. Hehe". Mencium pipi suaminya dan menunjukkan senyum terbaiknya.
Sepasang suami itu pun berpelukan dengan perasaan yang mengganjal. Namun pada akhirnya memilih diam. Entah sampai kapan mereka akan mengungkapkan kejadian demi kejadian yang menghampiri mereka.
[Mungkin jika author Suharni mengakhiri cerita ini].😄
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC.