
Hazal dan Harfei pulang ke rumahnya setelah hampir seharian berada di rumah sakit menemani Sonia. Tampak senyum kelegaan di wajah wanita tersebut. Tak henti-hentinya wanita itu tersenyum dan mengucap syukur dalam hati karena sahabat yang di sayangi selayaknya saudara kini menemukan kebahagiaan yang di impikan.
Hazal mengingat masa-masa dimana dulu ia harus membantu Sonia agar sembuh dari traumanya karena kehilangan kehormatan. Namun siapa sangka, jika luka itu sembuh karena pria yang kini menjadi suaminya. Skenario Tuhan memang sangat aneh, bertemu karena tak terduga, lalu kemudian membenci karena kesalahan yang di sengaja. Namun akhirnya jatuh cinta.
"Apakah kamu sangat bahagia hari ini?".
Pertanyaan Harfei memecah keheningan di antara mereka, membuat Hazal tersadar dari lamunannya. Wanita itu tengah asik duduk di tempat tidur sembari menyandarkan kepalanya di bagian atas ranjang. Sementara Harfei baru saja keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri lalu duduk di sisi kanan istrinya tersebut.
"Tentu saja aku bahagia mas. Ini adalah kebahagiaan ku yang utama setelah kita menikah dulu". Hazal menjedah kalimatnya, lalu kemudian menatap ke depan seolah mengingat di masa lalu.
"Sonia adalah sahabat yang paling baik dan juga setia. Dia merupakan wanita yang sulit untuk aku terjemahkan. Aku tidak menyangka jika dia sudah menikah. Sebenarnya aku sedikit kecewa karena Sonia menyembunyikan pernikahannya, namun kekecewaan ku tidaklah seberapa jika di bandingkan pengorbanan yang di lakukan Sonia untukku selama ini". Hazal mengembuskan napas berat, lalu kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Dulu Ayah dan ibu sering meninggalkan aku ke luar kota bahkan hingga keluar negri. Bisnis yang di geluti Ayah saat itu menggurita dimana-mana. Aku kesepian tak memiliki teman. Dan di saat itulah Sonia selalu ada untukku. Menjadi ibu sekaligus saudara". Hazal menghadap pada Harfei yang tengah duduk di sisinya.
"Apa kau tau mas, dulu aku pernah terluka karena di kejar preman yang mabuk di jalan. Saat itu aku sedang ingin berjalan kaki dan menikmati pemandangan di tepi jalan, tapi sayangnya justru preman mabuk mengganggu ku. Dan Sonia melempar preman tersebut dengan batu lalu menarik tanganku untuk lari".
Hazal tersenyum membayangkan kejadian di masa lalu bersama Sonia.
"Dan kini sahabat mu itu telah menemukan kebahagiaannya". Jawab Harfei akhirnya setelah beberapa saat diam.
"Mas benar".
"Sekarang kamu tidak perlu mengkhawatirkan sahabatmu lagi, sudah ada yang menjaganya sekarang".
Ucapan Harfei membuat kening Hazal berkerut penuh tanya.
"Bagaimana mas tau kalau aku mengkhawatirkan Sonia dulu?".
Harfei menangkup kedua pipi Hazal dan menatap lekat-lekat manik mata coklat tersebut.
"Karena aku bisa melihat seberapa besar cintamu padanya. Dan aku juga bisa melihat ketulusan di matamu untuk sahabatmu itu". Harfei mengecup bibir Hazal lalu tersenyum.
__ADS_1
Dalam hati Harfei mengucap syukur karena di pertemukan dengan seorang wanita hebat seperti Hazal. Selalu mencintai seseorang tanpa syarat.
"Terimakasih mas. Aku sangat mencintaimu". Balas Hazal sembari memeluk tubuh suaminya lalu mencium aroma mint pada tubuh pria tersebut. Aroma yang selalu di rindukannya dan mampu membuat hati wanita itu teduh.
"Benarkah?. Lalu bagaimana cara menunjukkan cinta seorang istri pada suaminya?". Tanya Harfei.
Tatapan pria itu berubah menjadi tatapan mendamba. Hazal pun membalas tatapan yang serupa. Untuk sesaat tatapan keduanya terkunci. Lalu kemudian Hazal tersenyum seraya mengelus dada bidang suaminya.
"Aku tak pandai merangkai kata-kata hanya untuk menunjukkan rasa cintaku pada mu sayang". Hazal berkata dengan suara sensual, lalu berbisik ke telinga Harfei,
"Aku lebih suka praktek". Ucap Hazal sembari mel***** bibir Harfei memulai permainan menuju puncak.
Dua insan yang sedang mabuk kepayang itu pun melakukan pergumulan setelah pemanasan yang cukup panjang.
****
Pagi harinya Harfei dan Hazal bangun dan melaksanakan ibadah bersama. Ibadah yang selalu di kerjakan sesuai dengan agama yang yang di anut.
Hazal mencium punggung tangan Harfei lalu kemudian membuka mukenanya dan meletakan kain berwarna putih tersebut di tempatnya semula.
"Mungkin Minggu depan. Ada apa?".
"Gak ada apa-apa, aku hanya merindukan ibu. Oh iya mas, hari ini aku akan ke kota C. Aku harus meninjau perkembangan pembangunan lokasi restoran kita disana". Terang Hazal sambil menyisir rambutnya yang panjang.
"Bersama Tuan Alexander?". Tanya Harfei tanpa menatap wajah Hazal. Namun wanita tersebut seolah mencium aroma kecemburuan lewat nada Pertanyaan Harfei. Hazal pun tersenyum.
"Apa mas takut aku hanya berdua dengannya?". Tanya Hazal dengan senyuman menggodanya. Wanita itu sengaja membuat Harfei cemburu. Baginya pria itu sangat manis ketika sedang menahan cemburu.
"Gak". Jawab Harfei bohong.
"Yakin gak cemburu?. Syukurlah. Kalau begitu aku tidak perlu merasa khawatir lagi jika harus berdua dengan Tuan Alexander, bahkan mungkin aku akan mematikan ponselku jika sedang berada di lapangan". Ucap Hazal dengan suara yang di buat-buat. Dan berhasil membuat hati pria tersebut menjadi panas, hingga Hazal sang Mrs. Perfeksionis mendapat tatapan tajam.
__ADS_1
"Coba saja jika kamu ingin wajah pria itu berubah warna menjadi ungu. Akan aku pastikan itu terjadi jika kamu melakukan hal yang membuat hatiku panas". Hazal semakin tersenyum bahagia mendengar penuturan suaminya.
Wanita itu beranjak dari kursi rias lalu memeluk suaminya. Suami yang mampu mengubah hidup Hazal lebih berwarna.
"Aku gak akan sanggup jika sehari saja tak melihat wajahmu mas, lalu bagaimana bisa aku mematikan ponselku?". Hazal mengelus belakang Harfei seolah menenangkan perasaan pria tersebut.
Harfei melepas pelukan Hazal.
"Jangan memancingku dengan pelukan di pagi hari. Aku bisa saja menerkam mu jika tidak mengingat aku ada meeting jam 8 pagi ini".
Harfei tampak sedang memendam hasratnya, sementara Hazal menahan tawa merasa lucu dengan raut wajah Harfei yang mulai merah.
"Mas Harfei adalah menantu di perusahaan itu. Jadi bolos satu hari gak apa-apa dong". Ucap Hazal seraya memutar-mutar jarinya ke dada pria tersebut.
"Aku memang menantu di perusahaan itu, tapi bukan berarti aku harus melepas tanggung jawab ku sesuka hati. Dan kamu tau sendiri, jika Ayah tidak pernah membeda-bedakan antar karyawan. Kami semua sama disana. Meski memiliki jabatan yang beda-beda, tapi Ayah tidak pernah mengistimewakan aku sebagi menantu beliau".
Ya, Ayah Hazal merupakan pebisnis yang profesional. Tak pernah membeda-bedakan karyawannya. Ketika karyawan melakukan kesalahan, maka konsekuensinya harus di terima.
Pria paruh baya itu mengutamakan kualitas kinerja karyawan nya. Jika seseorang memiliki kemampuan dalam bidang tertentu, maka tak segan-segan pria paruh baya yang masih tampan meski tak lagi muda itu membantu untuk mengembangkan bakat orang tersebut hingga kesuksesan menjemputnya.
"Baiklah. Aku paham. Ayah memang seperti itu sejak dulu. Itulah mengapa banyak rekan bisnisnya yang merasa kagum pada Ayah. Bahkan aku sangat mengidolakan sosok Ayah". Terang Hazal seraya tersenyum kagum akan sosok ayahnya.
"Maka dari itu biarkan aku menenangkan senjata pusaka ku ini sebelum dia menerkam mu mentah-mentah". Balas Harfei dengan nada suara ancaman.
Hazal bergidik ngeri mendengar nada suara suaminya yang berubah menjadi panas.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC.