
Sonia di rawat di rumah sakit, begitu pun Hazal. Wanita itu mengalami guncangan yang sangat hebat. Sementara Harfei selalu mendampingi istri tercintanya itu sepanjang waktu.
Hazal mengerjab kan matanya, wanita itu kini telah sadar dari pingsan. Harfei yang menyadari itu pun merasa bahagia dan lega.
"Sayang, kamu sudah sadar?".
"Sonia. Dimana Sonia". Hazal menanyakan sahabatnya itu. Ia kembali berurai air mata karena merasa bersalah dan cemas pada Sonia.
"Sayang tenanglah. Sonia baik-baik saja, dia sudah di pindahkan di ruang perawatan. Kondisinya sudah mulai membaik". Ya, Kondisi Sonia sudah mulai membaik, beruntung wanita berambut ikal itu mengalami luka tembak yang tidak dalam dan hanya mengenai bagian bahunya saja.
"Aku mau menemuinya". Pinta Hazal.
"Sayang tenanglah, kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu, nanti terjadi sesuatu pada anak kita". Balas Harfei dengan raut wajah cemas. Namun Hazal menatap Harfei dengan tatapan tajam.
"Ini adalah anakku, bukan anakmu!. Pergilah, aku mau menemui Sonia".
Hazal mendorong tubuh Harfei dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Namun tidak membuat pria bertubuh tinggi itu terjatuh.
Hati Harfei terluka ketika mendengar kalimat Hazal, namun sebisa mungkin pria itu menampiknya, karena ia paham bahwa semua adalah salahnya.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke ruangan Sonia". Akhirnya Harfei mengalah dan mengantar Hazal ke ruangan Sonia.
****
Dalam ruang perawatan, Sonia tampak sedang tertidur pulas akibat pengaruh obat bius yang di berikan oleh dokter.
Tak lama setelah itu pintu terbuka dan menampakkan Hazal serta Harfei. Hazal yang menggunakan kursi roda yang di tuntun oleh suaminya lalu kemudian berhenti di sisi kanan ranjang Sonia.
Hazal menatap penuh kasih pada Sonia yang masih belum menyadarkan diri. Wanita itu mulai menangis, perasaan bersalah mulai bersarang di hatinya. Jika saja Sonia tidak menyelamatkan dirinya waktu itu, mungkin Hazal yang akan terbaring tak berdaya di rumah sakit, atau bahkan mati di tempat saat itu juga.
__ADS_1
"Sonia. Hiks.. Hiks.. Mengapa kamu lakukan ini padaku?. Kenapa Sonia kenapa?. Kenapa kamu menggantikan diriku. Hu... Hu...".
Hazal menangis selayaknya anak kecil yang kehilangan mainan yang paling berharga. Hati Harfei merasa iba pada Hazal, ia memegang pundak wanita itu berusaha untuk memberi kekuatan.
Di tengah-tengah isakan Hazal, tak lama Sonia pun sadar.
"Hazal". Ucap Sonia dengan suara parau. Hazal menghentikan tangisannya lalu melihat Sonia yang sudah sadarkan diri. Wanita itu memeluk sahabat terkasihnya dan menangis dalam pelukan sang sahabat.
"Sonia... Aku merindukanmu. Syukurlah kamu sudah sadar. Hu.. Hu.. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi hal buruk padamu. Hu... Hu...". Tangisan Hazal terdengar sangat pilu. Wanita itu benar-benar takut kehilangan sahabat yang sudah di anggapnya sebagai kakak tersebut.
"Hazal, bangunlah. Kamu menindis lukaku". Hazal pun bangun dan mengusap air matanya.
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi". Protes Hazal seraya menggosok ingusnya yang turun hingga mengenai bibirnya yang tipis. Ingus itu turun hingga membentuk angka sebelas.😁
"Hazal, maafkan aku". Sonia berucap dengan suara parau dan lirih.
"Aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi padamu. Bahkan aku juga turut andil dalam menyakitimu. Hiks.. Hiks...". Sonia mulai terisak, hatinya yang gundah kembali membuncah di dalam sana.
"Itu memang sudah seharusnya Hazal. Paman melakukan itu semua demi kebaikan Sintia. Hanya saja rasa dendam menguasai pikiran nya waktu itu. Sekali lagi maafkan Hazal. Hiks.. Hiks..".
Sonia beralih menatap Harfei dengan tatapan bersalah. Dan Harfei pun membalas tatapan wanita itu dengan senyuman yang tulus. Senyuman itu seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan telah memaafkan dirinya.
****
Setelah dari ruangan Sonia, Hazal kembali ke ruangannya untuk menjalani perawatan. Dokter Aminah yang sedang berada di luar kota pun akhirnya mendapat kabar bahwa Hazal mengalami musibah melalui Harfei. Ya, diam-diam Harfei mengikuti Hazal setiap kali wanita itu memeriksakan kandungannya pada dokter Aminah.
"Kondisi bayi Anda baik-baik saja, jangan terlalu stres ya. Usahakan makan vitamin, dan--". Dokter Aminah menoleh pada Harfei dan menatap tajam pada pria tersebut.
"Dan suaminya harus siaga, jangan buat ibunya menderita". Lanjut dokter paruh baya itu dengan sinis. Harfei pun menundukan kepalanya dengan penuh sesal.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian dokter Aminah meninggalkan Suami istri itu setelah selesai memeriksa kondisi Hazal. Dan tinggalah Hazal dan Harfei berdua dalam ruangan tersebut. Kondisi ruangan itu tiba-tiba saja berubah menjadi canggung. Hazal belum mau melihat wajah Harfei, ia masih kecewa pada suaminya itu.
"Sayang, apakah kamu mau makan bakso?". Pertanyaan konyol itu tiba-tiba saja terucap dari bibir manis Harfei dan akhirnya pria itu pun mendapat balasan berupa tatapan tajam dari Hazal, setajam silet.
Harfei kembali merasa gagal membujuk Hazal. Pria itu menarik napas dalam-dalam lalu kemudian,
"Sayang maafkan aku. Aku yang salah dalam hal ini karena tidak jujur padamu". Ucap Harfei dengan penuh sesal. Sejujurnya pria itu sangat terluka ketika melihat Hazal seolah menatapnya dengan penuh kebencian.
Hazal masih belum bergeming. Wanita itu seolah menikmati rasa sakit dan kecewanya pada Harfei.
"Sayang. Aku terpaksa melakukan itu semua, jika tidak Sintia akan menyakiti mu, dan aku tidak mau itu terjadi. Jadi aku mengorbankan perasaan mu. Maafkan aku". Lirih Harfei.
Hazal menitikan air mata, namun tak di sadari oleh Harfei, karena posisi wanita itu membelakangi pria tersebut.
"Jika saat itu aku tidak menceraikan mu, Sintia akan membunuhmu dengan jarak dekat karena dia selalu berkeliaran di rumah kita bersama anggota mafia yang menjadi temannya. Aku sungguh tidak punya pilihan lain. Aku bahkan meragukan karakter mu dan anak kita. Aku ingin memeluk mu dan anak kita saat itu lalu mengucapkan selamat datang pada anak kita. Tapi aku justru menolaknya. Maafkan aku sayang, maafkan aku. Hiks... Hiks...". Suara isakan Harfei membuat Hazal menoleh padanya. Inilah sisi terlemah Harfei. Ia menangis seperti anak kecil yang di buang oleh kedua orang tuanya.
"Lalu kenapa mas tidak memberi tahuku kalau mas tau segalanya?". Tanya Hazal yang kini mulai melunak.
"Karena jika aku memberitahu mu dia akan membunuh mu. Jika aku yang terbunuh maka aku rela, tapi aku tidak bisa hidup tanpa kalian. Aku benar-benar minta maaf sayang. Bahkan dia juga mengancam akan membunuh Ayah dan ibu. Dia itu wanita psikopat sayang, dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan".
Hazal menatap manik mata coklat itu dengan penuh tanya. Sejujurnya Hazal masih memiliki banyak pertanyaan di benaknya, namun ia masih terlalu lelah untuk berpikir.
.
.
.
.
__ADS_1
Next>>>