Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.

Mr. Jorok Dan Mrs. Perfeksionis.
Bab. 17. Pagi di Rumah Mertua.


__ADS_3

Setelah malam pertama yang di lewatkan dengan bersenda gurau, Harfei dan Hazal kembali ke kediaman kedua orang tua Hazal. Karena wanita itu harus mengambil sebagian pakaian dan juga perlengkapan lainnya sekalian tidur yang terakhir kalinya di rumah itu setelah menikah.


"Assalamualaikum, Ibu Ayah". Ucap Hazal di susul Harfei.


"Waalaikumsalam. Eh, kalian sudah datang. Pasti capek ya setelah uwik-uwik semalam?". Tanya ayah Hazal yang terkenal impulsif dan sarkasme itu. Ternyata kedua sifat itu turunan dari Ayahnya hingga Hazal sang wanita perfeksionis sama seperti pria paruh baya itu.


"Adegan uwik-uwiknya di pending, masih perkenalan dulu dengan lahan baru. Meski belum sempat menjajaki lahan baru itu, tapi setidaknya sudah sedikit berkenalan tanpa harus menyentuh, tapi cukup dengan teori. Anggap saja nyicil". Ujar Hazal sambil meletakan tas nya di atas meja.


Harfei dan ibu Hazal yang mendengar kalimat impulsif anak dan ayah itu hanya geleng kepala. Namun ada tambahan rasa malu dalam hati Harfei. Ternyata dia menikahi seorang gadis bar-bar yang berwarna abu-abu alias tidak transparan pada orang lain.😄


****


Di kamar Harfei mendaratkan tubuhnya di kasur milik Hazal yang terasa empuk.


"Apa ini kamar mu?".


"Kalau ini kamar Ayah mana mungkin kita akan tidur disini". Padat dan jelas.


"Yah, aku kan cuma tanya doang. Siapa tau kamar pembantu kamu. Hehe". Membela diri.


"Ini kamar Hazal, mas. Mau menjelajah kebunku di kamar ini untuk pertama kalinya gak?". Wah... godaan iman mulai terkoyak. Apa iya ada wanita bar-bar seperti ini?. Pikir Harfei.


"Zal, kamu gak salah minum obat kan selama 24 tahun ini?. Kamu gak salah di imunisasi kan waktu masih bayi?. Atau jangan-jangan kamu gak di imunisasi sama sekali lagi sewaktu bayi?". Tanya Harfei sambil menangkup kedua rahang istrinya.


"Imunisasi aku lengkap kok mas. Tenang saja, aku memiliki bibit unggul disini". Hazal menunjuk bagian bawah tubuhnya, membuat Harfei merinding.


"Terus kenapa otak kamu geser gini sih?".


"Otak ku gak geser mas, cuma hati aku aja yang geser. Pindahnya tuh kesini". Tangan mulus dan nakal itu memencet batang pisang milik Harfei dengan sedikit posesif membuat sang pemilik pisang meriang panas dingin.


"Astaga Hazal. Lepas, jangan umpan diriku dengan sentuhan itu. Ingat aku ini pria normal". Berpindah tempat untuk menghindari tingkah konyol istrinya itu.


"Aku suka pria normal kok mas, kalo kamu pria bengkok ngapain aku nikah sama mas?".


Terus ngeyel. Padahal maksud Harfei menolak isyarat Hazal itu bukannya tidak mau, tapi ini masih terlalu pagi dan ada kedua orang tua Hazal di bawah. Bisa ketahuan uwik-uwiknya nanti. Saat ini juga Harfei ingin menggaruk lantai saking kesalnya.

__ADS_1


"Mending kamu beresin pakaian kamu, aku mau ke kamar mandi dulu".


"Loh, tadi kan sudah mandi mas".


"Mas mau menenangkan pisang mas yang sudah mulai matang dan mengeluarkan getahnya. Tapi cukup dengan mandi air dingin akan tenang, bisa bahaya kalau main sendiri". Kali ini kalimat sarkasme itu keluar secara natural dari bibir Harfei sang pemilik pisang.


"Nah, itu mas tahu. Bercocok tanam, yuk?". Bersuara sensual yang di buat-buat. Harfei pun tertawa mendengar kan kekonyolan istrinya yang bar-bar namun terkenal perfeksionis itu.


*****


Malam harinya, dua pasang manusia bedah generasi itu makan malam dengan khidmat tanpa satu suara pun. Hanya bunyi sendok yang bersuara berirama di atas piring menemani khidmatnya makan malam itu.


Puas dengan makan malam, mereka pun berkumpul di ruang keluarga untuk sekedar bersenda gurau.


Harfei tidak tampak canggung dan juga ragu pada kedua mertuanya, karena ternyata keluarga ini sangatlah welcome. Meski kaya dan terkenal, namun tidak menghilangkan sikap sederhana dan rasa saling menghormati sesama meski beda status sosial. Bagi keluarga besar Hazal, itu bukanlah masalah. Uang bukan segalanya. Segalanya milik Tuhan, jika DIA mau, maka dalam sekejab mata segalanya itu akan di ambil oleh Tuhan pula.


*****


"Harfei, apa kalian tidak berencana ingin mandiri, nak?". Ayah Hazal membuka sesi pertanyaan setelah sesi lawaknya usai.


"Harfei ingin mandiri, yah. Hanya saja berat buat Harfei untuk meninggalkan ibu sendirian di rumah, gak ada teman".


"Ayah saya pergi entah kemana. Cuma yang Harfei tau sejak kecil Ayah meninggalkan ibu sendirian untuk merawat ku. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi merasakan nikmatnya kasih sayang seorang ayah. Dan aku bertekad tidak ingin meninggalkan ibu kecuali kematian. Bukankah surga seorang pria terletak di kaki ibunya meski telah menikah?".


Kalimat lugas itu sukses membuat hati Hazal tersentuh dan terbuai. Ingin rasanya saat itu juga ia memeluk ria suaminya. Biarlah di anggap bar-bar tak masalah, asal sama suami sendiri. Dalam hati Hazal mengucap syukur karena telah menikahi pria yang baik dan sayang akan wanita. Biasanya pria yang menyayangi ibunya akan cenderung menyayangi dan menghargai istrinya juga.


"Seperti nya Ayah tidak salah pilih menantu". Tersenyum tulus. Wajah yang masih tampak awet meski tak lagi muda itu benar-benar tulus mengulunkan senyuman.


Sedangkan dalam hati ibu Hazal, beliau berucap syukur yang tak terhingga. Merasa beruntung memiliki menantu... Idaman?.


****


Dikamar. Hazal merebahkan badannya di atas tempat tidur sembari menunggu suaminya yang sedang mengambil air minum untuk persediaan jika tengah malam merasa haus.


"Kamu belum tidur?". Harfei masuk dalam kamar dan mendapati istrinya tengah asik bermain dengan dunia maya.

__ADS_1


"Menunggu mas membuka segel aku".


"Emang segel kamu kodenya berapa sih?". Mulai lagi cerita mesum ala plesetan keduanya. Mungkin ini akan di jadikan hobi baru bagi keduanya sebelum tidur. Ya... bisa di katakan pengantar tidur lah.


"Seperti Saraswati, 008. Cuma bedanya Saraswati topeng segi tiga nya di pakai di mata, kalau aku di bawa sini". Menunjuk pahanya yang sedikit berisi.


"Haha. Ya ampun... Menikah dengan mu bisa menular sifat sarkasme mu ini ke aku".


"Asal jangan berpaling ke lain hati mas, sakit tau". Kali ini peluang berbicara selayaknya manusia normal telah di mulai. Menangkup kedua pipi istrinya sembari berkata,


"Aku bukan tipe pria yang egois apa lagi pengkhianat. Aku benci pengkhianat. Aku tidak suka membagi hati". Mengecup kilat kening istrinya. Sedangkan Hazal memejamkan mata sambil tersenyum haru.


"Ya... meskipun istriku tidak cantik-cantik amat sih". Sambungnya kemudian. Mulai lagi canda konyolnya.


"Mas jahat ih". Wajah Hazal berubah menjadi cemberut dan memukul pelan dada suaminya.


"Kecantikan kamu itu cuma mas yang bisa lihat, sayang". Memeluk erat tubuh istrinya.


Malam kedua pernikahan itu di lewati dengan sedikit canda dan ungkapan sayang satu sama lain. Masih belum perkenalan batang pisang secara praktek, baru sekedar teori.😁


.


.


.


.


.


.


.


Salam damai buat pencinta dunia halu. Silahkan berhalusinasi tentang batang pisang Harfei ya gengs...😄😄🙏🙏

__ADS_1


Happy Reading.


*Dede...


__ADS_2