Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 11. Flying Around 3


__ADS_3

"Kau bekerja di NY?"


"Sebelumnya di Headquarters Chicago, tapi sekarang sudah dua tahun di sini. Aku baru di junior partner. Baru kucapai setahun yang lalu." Itu sangat bagus, posisi junior partner arsitek berarti dia sudah dipercaya memimpin proyek dan tim sendiri. Mason juga sudah sampai di tahap ini, tapi jelas ada bagian dari pengaruh uang karena keluarganya juga pemegang saham di Gensler.


"Itu sudah sangat bagus, kau bekerja keras."


"Well, kau juga. Firmamu nampaknya juga berjalan baik." Kilasan masa lalu muncul kembali, yah walaupun singkat masa lalu tetaplah masa lalu, ada saat kau berdebar dan perasaan itu pasti meninggal sedikit kenangan dalam hati.



"Kami di desain interior, levelnya beda dari kalian yang membangun dari awal."


"Kau jangan merendah, aku melihat bahkan firmamu menangani klien artis Hollywood." Dia tahu terlalu banyak bukan. Apa dia masih stalking media sosialku?


"Itu sedikit keberuntungan beberapa orang menyenangi desain-desain kami."

__ADS_1


"Tak ada yang namanya keberuntungan jika tidak dibarengi kerja keras sebelumnya." Kami berpisah karena masing-masing sibuk mengejar karier, tapi nampaknya setelah kami bertemu lagi itu terbayar.


Kami bertukar kabar lebih banyak. Rupanya dia mengkhususkan diri menangani green design. Arsitek di bidang ini menggunakan teknik hemat energi dalam desain mereka untuk menciptakan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Mereka dapat memperkenalkan penggunaan bahan daur ulang untuk membatasi limbah atau memantau posisi jendela untuk menentukan apakah bahan tersebut dapat menghasilkan sumber panas alami.


Sementara firma yang kupegang spesialisasinya adalah residential, kami tidak punya sumber daya dan pengalaman untuk membangun gedung bertingkat atau konstruksi jembatan berbeda level dengan firma-firma arsitek besar.


"Kau masih di nomormu yang lama?" Setelah beberapa kami mengobrol aku sudah ditelepon Mom yang ingin pulang.


"Iya masih."


"Mungkin makan malam denganku nanti." Aku tersenyum.


"Baiklah. Aku pasti akan menelepon." Ganti dia yang tersenyum.


Mungkin, ...aku akan menerima ajakan makan malamnya, tidak ada yang salah dengan makan malam. Mungkin sekarang dia lebih baik dan tidak menomorduakan pertemuan kami lagi.

__ADS_1


Aku menemui Victor lagi mengatakan aku akan pergi.


"Maaf, apa kau tak nyaman tadi."


"Tidak apa, hanya aku tadi lebih suka duduk di restoran di luar. Ibuku sudah selesai, terima kasih sudah menemaniku Vic. Teleponlah aku mungkin kapan-kapan kita bisa makan malam."


"Ohh baiklah. Aku akan meneleponmu." Dia terlihat gembira mendapat persetujuanku. Mungkin saat ini dia sudah bisa menempati janjinya padaku. Dia terlihat masih mengikuti media sosialku. Mungkin masih ada sisa dari kebahagiaan masa lalu.


Mungkin kali ini hubungan kami akan lebih baik.


\=\=\=\=\=


"Pilihlah warna yang kau lebih sukai untuk warnanya Sir." Aku duduk di depan Sir Xavier akhir minggu ini, minggu ini sudah masuk ke detail akhir. Ada beberapa yang harus dia pilih.


"Untuk ruang keluarga dan bagian depan ini berkreasilah sesuai dengan keinginanmu. Aku memilih gradasi warna untuk kamar tidur pribadi saja. Yang lain terserah padamu."

__ADS_1


"Terserah padaku, kau yakin Sir."


"Aturlah sesuai budget yang kuberikan, kau tahu aku tak suka marmer mewah, tak suka design yang mentereng, luas mengkilap, aku suka ruangan-ruangan hangat yang kau tunjukkan padaku itu bagus, kau sudah tahu apa yang lebih kusuka, sisanya kau atur sendiri. Setelah jadi Alma akan senang hati merawatnya. Aku percaya padamu saja. Jangan tunjukkan padaku design akhir. Saat sudah jadi aku akan melihatnya, aku tak suka melihat rumah saat masih berantakan, pikiranku akan langsung bekerja memprotes ketidakrapian dan itu melelahkan."


__ADS_2