
"Jadi bagaimana mau ikut pelayaran. Hanya sepuluh hari, berangkat tanggal 23."
"Tidak, terima kasih."
"Nanti kutelepon Bibi."
Dia sengaja membuatku bertengkar dengan Mom. Aku sudah cukup melayaninya. Akan kutolak saja proyeknya. Tak ada setelah ini aku mengikuti kata-kata Mom yang menyudutkanku.
"Terserah padamu. Yang jelas aku tak bisa ikut. Kalau begitu selamat malam." Dan aku pergi meninggalkannya. Menghabiskan waktuku saja.
"Kau mau kemana? Pestanya belum selesai." Dia masih mencoba menahanku untuk bersenang-senang. Aku tak akan biarkan dia mendapatkan kesenangannya.
Aku melangkah pergi tak memperdulikannya. Lebih baik mencari beberapa teman yang kukenal untuk mengobrol menunggu Ayah dan Ibu selesai.
Ibu melihat wajah datarku saat pesta berakhir.
"Kenapa kau tidak gembira? Ada masalah?"
"Tidak."
"Tadi sebelum pulang Oscar mengatakan pada Mom dia ingin memgajakmu ke pelayaran akhir tahun nanti. Kau mau ikut?"
"Tidak tentu saja."
"Kenapa?" Bukankah alasannya sudah jelas kenapa.
"Kau menyuruhku tidur dengan orang yang tak kusuka?"
"Sudahlah kalian. Donna, kau tak bisa memaksa anakmu sendiri tidur dengan orang asing. Apa kau mau itu terjadi padamu." Ayah jelas membelaku sekarang, Mom sudah keterlaluan. Pelayaran lebih dari seminggu dia pikir aku naik kapal pesiar dan bisa tetap aman dibalik pintu kamar jika aku ikut?!
"Pengacaramu itu yang kurang ajar. Kita membayarnya mahal tapi dia malah menyentuh putri kita. Kau tak pernah berpikir seperti itu?! Kenapa kau tak marah padanya. Dia juga melakukan hal tercela seperti itu."
"Atas keinginannya sendiri. Memangnya dia tak pernah menjadi kekasih orang lain sebelum ini?! Kau kenapa seperti menjual anak sendiri ke konglomerat, apa selama ini kau kekurangan uang sehingga harus mengorbankan putrimu sendiri."
"Aku melakukannya untuk kebaikannya. Tapi pengacaramu itu memanfaatkan situasi." Mom membalas Ayah dengan sengit.
"Aku yang mengejarnya Mom, kau jangan menyalahkan Xavier. Apa kau pikir aku melihat orang melalui rekeningnya, aku sudah pernah melakukannya dan semuanya hanya meninggalkan sakit hati. Tak bisakah kau biarkan aku bahagia dengan pilihanku."
"Oscar sudah sangat baik padamu, tapi kau menyamakan semua orang." Tak cukup Mom masih punya peluru untuk ditembakkan padaku.
"Mom, dia hanya tersinggung aku menolaknya kau pikir dia begitu tertarik padaku. Dengan potongan seperti itu dia bisa mendapatkan siapa saja, bahkan sekelas Taylor Swift, kau pikir dia begitu perduli padaku? Kau jangan terlalu naif Mom." Apa Mom tidak berpikir hal seperti itu.
"Itu prasangkamu saja. Karena kau sudah terpengaruh oleh pengacara itu."
"Mom aku sudah cukup dengan ini.Aku tak mau membahasnya lagi."
"Aku juga tak akan menyetujuimu dengan pengacara itu. Entah apa yang kau lihat darinya aku tak mengerti."
"Jelas aku ..."
"Kalian berdua sudahlah. Ini di jalan, anakmu itu sedang menyetir kau jangan mengajaknya bertengkar." Dad memutus kalimatku yang masih ingin menjawab Mom.
Kami berdua diam. Tak ada yang bicara lagi, kepulanganku kali ini penuh dengan pertengkaran diluar dugaanku. Oscar benar-benar membawa bencana kali ini. Aku dan Mom bertengkar hebat. Dia menang sekarang.
Dad masuk ke kamarku setelah kami pulang, aku dan Mom tidak bicara satu sama lain setelah kami turun.
"Ibumu tidak sadar, kau harus bersabar menghadapi dia. Jika dia sadar dia tahu apa yang dia lakukan. Kau jangan menjawabnya. Nanti Ayah yang bicara padanya."
"Iya maaf Dad, aku terbawa emosi dengan Oscar."
"Tak usah ambil proyeknya jika kau tak ingin terlibat dengannya. Baginya memperbaiki apartment adalah uang kecil. Seperti katamu, dia hanya tertarik untuk membuat pertikaian antara kau dan Ibumu. Jika kau termakan umpannya Ibumu akan semangkin marah."
"Iya maafkan aku Ayah."
"Minta maaflah ke Ibumu sebelum kau pulang nanti."
"Iya akan kulakukan."
"Bagaimana dengan Xavier, kalian baik-baik saja?"
"Iya kami baik, katanya Ayah mau membantunya menjadi senator."
"Jika dia mau masuk pemerintahan ada banyak spot karier yang bisa dia isi. Terutama di bidang hukum. Tapi senator adalah langkah pembuka. Tenang saja, Ayah bisa membimbingnya. Dia pekerja keras jadi Ayah tahu dia pasti bisa."
"Iya Ayah terima kasih."
Aku setidaknya tenang karena Ayah tak termakan oleh tindakan Oscar.
Keesokan harinya aku bertemu Mom karena penerbanganku siang, aku harus ke bandara sekitar jam 10.
__ADS_1
"Mom, aku pergi dulu. Maaf semalam jika aku menjawabmu terlalu keras."
"Iya pergilah. Hati-hati, maaf Mom juga bicara keras denganmu. Ini bawalah untuk bekalmu di apartment." Walau Mom marah tapi setidaknya dia membekaliku dengan makanan yang dibuatnya seperti biasa. Dia menyayangiku pastinya, hanya otaknya sudah dicuci oleh Oscar sementara ini. Aku harap Ayah bisa bicara dengannya.
"Terima kasih Mom."
Aku pergi dengan membawa masalah yang belum selesai. Mom belum bisa menerima Xavier. Aku menceritakan masalahku saat aku di ruang tunggu bandara ke Xavier.
"Jadi di sana kau bertengkar dengan Ibumu."
"Iya asal pembicaraan menyangkut Oscar kami selalu bertengkar. Oscar sialan itu merecoki Ibu dengan pikiran indah. Dia bahkan mengimingi Ibu untuk mengajakku liburan ke Karibia dengan superyatchnya. Jelas saja Ibu tergoda."
"Dia sengaja membuatmu bertengkar dengan Ibumu."
"Iya, dan Mom menyangka dia terpesona denganku. Sungguh naif."
"Hmm, dia di NY sekarang?"
"Iya dia di NY, aku tak mau lagi mengambil proyeknya. Sudah cukup dia membuatku bertengkar dengan Mom."
"Iya, itu memang lebih baik. Pulanglah, jangan khawatirkan dia akan kulakukan sesuatu jika dia masih mencoba mengejarmu."
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Sesuatu... Nanti jika sudah ada hasilnya aku akan cerita padamu." Xavier tak menceritakan rencananya , aku penasaran apa, semoga itu tak termasuk hajar menghajar seseorang. Jika sampai itu terjadi Ibu jelas akan mengecamku lagi.
\=\=\=\=\=\=\=\=
POV Author
Setelah mendengar cerita Allison, Xavier menyadari bahwa pria yang mengejar Allison ini adalah bangsat yang harus diberi pelajaran. Dia akan mempermainkan Allison dan Ibunya karena dia tahu Ibu Allison mendukungnya.
"Diego, aku punya tugas untukmu. Ke ruanganku."
Tak lama seorang pria dengan perawakan tegap berjaket kulit muncul di ruangan.
"Sir, ada tugas?" Pria bernama Diego itu duduk di depannya.
"Ini,...pria ini. Oscar Haugen, anak Hugo Haugen, pria terkaya no. 10 di negeri ini, dapatkan fotonya bersama wanita-wanitanya. Alamat kantornya sekarang sudah ada di situ kau tinggal membuntutinya dan mendapatkan foto." Penyidik andalannya itu sekarang diberi tugas untuk membuntuti Oscar Haugen. Jika dia mendapatkan bukti-bukti yang mengatakan Oscar Haugen hanyalah berbohong bahwa dia menyukai Allison maka masalah lebih gampang diurus
"Ohh beres, bukan hal yang sulit harusnya."
"Jangan sampai ketahuan, mungkin dia punya pengawal."
Anak konglomerat ini, mungkin David tahu tentangnya. Jadi dia meneleponnya.
"David, kau kenal dengan Oscar Haugen?"
"Oscar Haugen. Anak baru di klub yang memborong semua perhatian. Tentu saja aku tahu siapa bangsat itu. Dia lebih bajinga*n dariku." Xavier merasa ini hanyalah karena David tidak mau dikalahkan pesonanya oleh pendatang baru.
"Maksudmu bajingan yang bagaimana."
"Setiap pesta dia dan gengnya menyewa gadis-gadis paling banyak. Aku tahu uangmu banyak tapi tak usah bersikap kau adalah pemilik dunia. Mungkin blackcardnya ada empat. Atau mungkin dia punya Royale Card dengan assistennya seperti royal UEA."
"Royale Card? Ada kartu seperti itu?" Sekarang dia baru tahu ada kartu jenis baru yang namanya Royale Card
"Ada kartu itu bahkan datang dengan berlian dan emas, plus dengan dua assisten pribadi yang bisa dihubungi untuk mendapatkan apapun untukmu 24 jam." Benar-benar kartu yang tak punya limut nampaknya.
"Dengan dua assisten pribadi yang bisa dihubungi 24 jam terdengar hebat. Mungkin bisa disuruh beli tiket acara Oscar ke sana atau test drive Phantom Roll Royce."
"Tentu saja bisa. Oh ya ngomong-ngomong kau punya masalah dengan dia?"
"Dia mencari masalah dengan kekasihku." Xavier menceritakan apa yang terjadi.
"Begitu, jadi apa yang kau butuhkan."
"Bukti bahwa dia bangsat."
"Ohh, jika aku menemukannya nanti akan kusuruh orang memfoto pestanya. Tenang saja."
"Thanks Bro."
Jadi dia punya senjata sekarang. Dia harap orangnya juga dengan cepat bisa menemukan bukti. Akan dia cetak dan kirimkan ke Allison untuk dia menghadapi Ibunya.
Ternyata dia tak usah menunggu lama. Dalam hanya empat hari, orangnya mengirimkan setumpuk foto dan Davidpun mengirimkan foto-foto menarik untuknya. Ini jelas sebuah bukti untuk memojokkan pria itu.
Tepat ketika dia sudah mendapatkan foto itu. Sesuatu yang tidak diduganya datang.
__ADS_1
"Sir, Ny. Donna Austin ingin menemui Anda. Tapi dia tidak punya janji."
"Ny. Donna Austin?" Xavier tak menyangka Ibu Allison datang ke sini sendiri. Jelas dia tahu tujuannya apa, dia ingin anaknya dijauhi. "Bilang padanya aku dalam meeting dengan klien mungkin akan selesai dalam 30 menit. Kau sambut sendiri dia dan layani dia. Bawa dia ke ruang tamu VIP. Dia tamu pentingku."
"Baik Sir."
Dia menelepon Allison sekarang. Hanya dua deringan Allison mengangkatnya.
"Tuan Pengacara, kau mau mengajakku makan malam?" Allison tak tahu bahwa Ibunya ada di NY.
"Kita punya masalah. Ibumu datang ke sini untuk memarahiku. Dia ada di bawah sekarang. Kau bisa ke sini? Kalau kau tak bisa aku bisa menghadapinya sendiri." Untungnya laporan kebobrokan anak millionaire itu sudah sampai di mejanya.
"Mom?! Ke kantormu?"
"Iya aku suruh assistenku membuat dia menunggu di VIP, aku berkilah masih ada pertemuan dengan klien. Jika kau tak bisa aku bisa menghadapinya, jangan kuatir. Aku punya..."
"Aku akan ke sana. Tunggu!" Telepon langsung dimatikan tanda dia terburu-buru. Tapi menurut Xavier dia tidak akan sampai di sini tepat wakt di tengah rush hour sore ini. Jam 3 sampai dengan jam 7 traffic jam biasanya padat di NYC.
Xavier meneruskan pekerjaanmu untuk setengah jam berikutnya sebelum membawa map yang berisi foto laporan Diego dan David Montgomery yang sudah berbaik hati mengirimkan semua bukti memberatkan ini kepadanya.
Sudah 30 menit daripada sang Nyonya tambah marah Xavier bergegas ke ruang tunggu VIP.
"Jika ada Nona Allison mencariku antarkan dia ke ruang meeting VIP."
"Baik Sir." Dia berpesan kepada assistennya dan pergi menemui sang Nyonya.
"Selamat sore Ny. Austin. Maaf Anda harus menunggu, saya tadi punya klien." Xavier berusaha bersikap seramah mungkin pada calon Ibu mertuanya. Dia tak menyangka bahwa tantangan terbesar hubungan mereka akan berupa penolakan dari Ibu Allison, padahal kekhawatiran terbesarnya adalah Ayah Allison.
"Tak apa sekarang yang penting kita bisa bicara. Kau tahu kenapa aku ke sini?" Sang Nyonya melipat tangannya di depan dada wajahnya sama sekali tak bersahabat.
"Tentu saya bisa menebaknya."
"Allison punya masa depan cerah. Jika kau perduli padanya harusnya kau meninggalkannya dan membiarkan dia dengan orang yang jauh lebih baik darimu."
"Maksudnya lebih kaya dariku Nyonya." Xavier masih bisa menghadapinya dengan tersenyum.
"Jelas dia lebih kaya darimu. Dia juga lebih segalanya darimu. Lebih muda, ...tak udah kusebutkan kelebihannya. Kau seharusnya sadar apa yang kubicarakan."
"Baiklah saya mengerti."
"Kalau kau mengerti kau bisa tinggalkan dia. Suamiku masih membelamu, tapi ketahuilah aku tak akan membiarkan kalian berdua."
"Baiklah, saya ingin tahu pendapatan Anda setelah melihat foto-foto ini. Tolong lihat dengan teliti, ini adalah anak konglomerat yang Anda banggakan. Sihlakan Nyonya." Xavier mengangsurkan amplop itu.
"Apa ini?" Sang Nyonya melihat dengan curiga.
"Sihlakan lihat sendiri."
Donna Austin membuka amplop itu dan foto-foto itu terpampang di depannya sekarang. Gadis-gadis memeluk satu orang pangeran keluarga Haugen. Ada foto yang menunjukkanya keluar membawa sang gadis dengan rangkulan mesra. Tentu saja di mana ada uang di mana gadis-gadis berkumpul.
"Ini..."
Seharusnya sang Nyonya mempercayai apa yang dikatakan anaknya. Sekarang dia memandang foto-foto itu dan berusaha menerima kenyataan bahwa orang yang dia harapkan memang tidak sesempurna itu.
"Darimana kau mendapat foto-foto ini?"
"Temanku mengatakan dia mengenal dengan baik siapa itu Oscar Haugen, dengan cepat aku bisa mengumpulkan foto seperti itu dari menyusuri informasi yang dia berikan. Harusnya Anda percaya perkataan Allison. Oscar Haugen hanya ingin membalas sakit hati karena Allison menolaknya di kesempatan pertama. Apalagi dia dikalahkan oleh orang seperti saya, cuma professional bukan putra millionaire manapun."
"Mom apa yang kau lakukan di sini." Ternyata Allison bisa menyusulnya cukup cepat. Foto apa itu?" Allison melihat sebagian dari yang berserakan di meja. "Jadi ini rupanya..."
"Kau tak tahu?" Ibunya Allison heran putrinya juga tak tahu.
"Datanya baru datang, tadinya saya mau memberikannya ke Allison tapi ternyata Anda sudah datang duluan jadi ya saya berikan pada Anda."
"Sekarang Mom lihat sendiri siapa yang Mom bela bukan, Mom tidak percaya padaku lihat betapa bagusnya foto-foto ini." Ibunya Allison sekarang tak bisa bicara lagi. Kata-kata putrinya sudah punya bukti, pria itu hanya sedang ingin membalas dendam karena Allison menolaknya.
"Kau pasti mengedit ini...." Donna Austin masih mencoba membantah semua bukti yang ada di depannya.
"Astaga Mom..." Allison tak percaya Ibunya masih mencoba menyangkal semua bukti yang sudah diberikan oleh Xavier.
"Jika Anda tak percaya Anda bisa melihatnya sendiri. Nanti aku akan mengatur orang untuk mengabari dimana dia berada dan Anda bisa melihat sendiri." Setelah Xavier bicara begitu baru Mom Allison diam dan tak tahu semua foto ini valid.
Untuk beberapa saat dia mencoba menerima kenyataan bahwa mimpinya sudah hancur.
"Kau masih belum percaya Mom, ayo kita pergi melihatnya kalau kau belum percaya." Sekarang Allison menantang Ibunya untuk membuktikan sendiri.
"Baik-baik Mom percaya." Nyonya Donna Austin menyerah sekarang.
"Baiklah jika Anda sudah percaya saya bersyukur. Pasti Anda tidak ingin putri Anda menjadi pasangan orang seperti ini."
__ADS_1
"Oke Mom. Mom pendukungku yang terbaik. Kau ingin melihatku patah hati lagi. Tidak bukan Mom ? Itulah sekarang kenapa aku lebih menghargai integritas dan karakter. Memangnya aku tak pernah punya pacar kaya dan tampan. Itulah yang menghancurkanku paling cepat. Jadi kita sudahi ini saja Mom."
bersambung besok \=\=\=\=\=\=