Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 52. The Secret


__ADS_3

Aku punya teman dekat alias kekasih. Terserah apa istilah yang dia buat, yang jelas kami adalah kekasih. Kurasa ini karena dia belum mendapatkan persetujuan Ayah saja. Jadi dia punya backup plan menggunakan 'teman dekat'.


Tap hubungan ini jauh lebih jelas. Aku boleh meneleponnya tiap malam, aku boleh mengajaknya makan siang, aku boleh menyentuh dan memeluknya. Teman dekat ini punya banyak keuntungan tambahan.


Hari minggu siang ini aku ke Westbury, Alma senyum-senyum melihatku.


"Tuan bilang kau akan datang, dia minta aku membuatkan banyak makanan. Akhirnya sesuatu terjadi bukan. Apa status sekarang, apa kau akan segera jadi Nyonya Xavier bukan Nona Allison." Interogasi langsung datang, jika tidak karema Alma dan Salma aku tak akan pernah berpikir untuk punya hubungan dengan Tuan mereka itu.


"Statusku masih teman dekat."


"Teman dekat? Status macam apa itu?" Alma langsung mengerutkan keningnya.


"Entahlah, statusnya begitu sekarang." Aku menjawabnya dengan sama binggungnya.


Alma tertawa. Status aneh yang dibuat Tuannya itu juga aneh menurutku.


"Tapi itu berarti hak milik bukan."


"Hak milik." Aku yang sekarang tertawa mendengar istilah hak milik ini. Dia memang milikku. Itu tidak diragukan lagi.


"Sama saja. Tuan sangat berbelit-belit."


"Kau benar." Kami tertawa bersama sekarang.


Alma menghilang setelah dia selesai menyiapkan makan siang. Dia memberi kesempatan kami untuk berdua tanpa takut terganggu. Aku menunggu di ruang keluarga. Lebih baik menghangatkan diri daripada terkena udara musim gugur yang dingin ini.


Xavier datang tak lama kemudian, dengan sweater wool tebal, udara hanya 13°C di luar sana. Itu cukup dingin sehingga aku malas ke kebun. Alma juga bilang perkebunan sudah menyelesaikan sebagian besar panen, hanya tanaman di rumah kaca yang masih perlu perawatan rutin. Tuannya itu hanya jalan-jalan, tidak ikut bekerja di kebun seperti ang biasa dia lakukan. Aku duduk nyaman di sini dengan teh dan cookies Alma.


"Kau sudah di sini." Dia datang dan duduk di sebelahku. Aku langsung mendekat padanya. Merindukan pelukan hangatnya. Dia sekarang orang yang bisa membuatku duduk tenang di sini.


"Aku merindukanmu." Sekarang aku sudah memeluknya. Walau tidak ada ciuman bibir, dia strictly tidak memperbolehkan menciumku di bibir. Katanya diantara teman tak ada ciuman. Terserah apa yang dia katakan yang jelas dia kekasihku. Dia dengan aturan anehnya itu yang kupikir sangat tidak masuk akal itu.


Dia mau membalas merangkulku. Begini saja sudah membuatku berbunga-bunga.

__ADS_1


"Masih sibuk?" Xavier bertanya dalam rangkulan yang menenangkan itu.


"Iya. Sebentar lagi musim dingin, musim liburan, berusaha agar beberapa pekerjaan tepat waktu sangat penting agar bisa liburan dengan baik."


"Aku juga tak begitu banyak pekerjaan jika akhir tahun begini. Semua orang mencoba berdamai dengan musim liburan mereka."


"Kapan kau mau bertemu Dad." Aku langsung mengalihkan pertanyaan dari pekerjaan.


"Kita baru dua minggu menjadi teman dekat." Dia tertawa. "Bersabarlah sedikit." Bersabar rasanya tidak ada di kamusku sekarang, aku sudah lama sekali bersabar sepertinya. Ini masa tunggu terlamaku hanya untuk diakui senagai kekasih.


"Kita tak akan resmi menjadi kekasih sebelum kau bertemu Ayahku bukan. Kita hanya boleh pelukan dan cium pipi karena kau belum bicara dengan Ayahku?"


"Iya memang begitu."Aku sudah menduga semua aturan ini karena dia takut kepada Ayah.


"Apa kau takut Ayahku mengirimkan agen CIA untuk membun*uh*mu?" Dia meringis.


"Kurasa dia masih memerlukan bantuanku, tidak dia tidak akan membun*uhku. Yang paling bisa terjadi adalah dia memberiku bo*gem mentah lalu menyumpahiku tak tahu diri dan pengkhianat."


"Makanya aku harusnya bicara dulu dengannya sebelum kita bertemu. Percayalah padaku aku tahu bagaimana mempengaruhi Ayahku."


Aku meringis. Kurasa Ayah tak akan keberatan dengan Xavier. Bagaimanapun Ayah mengakuinya sebagai pengacara kami. Mendapat kepercayaan dari Ayah apalagi sebagai pengacara tidaklah mudah.


Ibupun tak keberatan. Harusnya Ayah juga begitu.


"Ayah pernah mengatakan kalau aku tak mengenalkan pacarku sebelum Thanksgiving dia akan menyelidiki sendiri siapa yang jadi pacarku."


"Benarkah?" Dia terlihat khawatir, berpikir sebentar sebelum langsung memutuskan. "Bagaimana kalau kita ke DC dan bertemu Ayahmu .Sebelum Thanksgiving..."


Dia langsung memeriksa jadwalnya. Aku tersenyum melihatnya. Xavier nampaknya sangat mementingkan persetujuan Ayah. Dia langsung khawatir


"Bagaimana jika kita pergi dua minggu lagi." Dan dia langsung memutuskan tanggalnya saat itu juga.


"Hmm baik dua minggu lagi." Dia langsung sibuk saat aku setuju. "Kelly, tolong pesan tiket ke Washington DC, dua orang Sabtu pagi, nama sudah kukirimkan padamu." Bahkan dia langsung memesankan tiket untuk kami.

__ADS_1


Aku senyum-senyum melihatnya.


"Sudah beres. Nanti aku akan menelepon Ayahmu aku ingin bertemu dengannya." Dia mengenggam tanganku. "Tapi satu hal, jika mungkin Ayahmu tidak setuju aku tak akan melawannya. Dia Ayahmu, dia tahu apa yang terbaik untukmu."


"Dia akan menyetujui pilihanku."


"Jika tidak, maka kita akan jadi teman saja, kau pasti akan menemukan seseorang yang baik untukmu."


"Jangan berkata begitu, semua akan baik-baik saja. Lagipula Mom sudah tahu, aku tak tahu apa dia mengatakannya pada Dad. Tapi Mom akan mendukung kita."


"Oh Ibumu sudah tahu."


"Sudah tentu saja."


Benarkah."


"Makanya kubilang tenang saja. Aku akan ikut saat kau bertemu Ayah. Semuanya akan lancar. Dan kita bisa segera mengganti panggilan teman baik ini."


Semuanya akan lancar. Aku yakin itu.


\=\=\=\=\=\=


Kurasa semuanya akan berjalan lancar di DC. Aku sudah memberitahu Mom kami akan ke sana sebelum Thanksgiving tapi masalah Ayah biar Xavier yang meneleponnya.


Aku sedang bertemu seorang teman di restoran yang menjadi tempat aku bertemu dengan Iblis tampan itu. Ketika aku tak sengaja lewat dari toilet dan mendengar sebuah suara percakapan di satu sudut yang sisinya tertutup pembatas agak tinggi.


"Sudah kubilang anak Lyold Austin itu sudah terpesona olehmu. Kau tak usah melakukan apapun dia sudah menyerah padamu." Itu suara David Montgomery.


"Aku hanya mengetesnya. Sampai di mana dia serius, mungkin kau bisa mengoyahkannya. Semua pacarnya adalah tipe sepertimu." Dan itu suara Xavier!?


"Aku sudah mengiriminya bunga, bicara terus terang mengajaknya kencan, mengajaknya makan malam seperti yang kau bilang, tapi dia hanya bilang satu kata 'dia sudah punya kekasihnya dan dia setia pada kekasihnya', kau benar-benar beruntung mendapatkan anak Lyold Austin." Jadi mereka saling mengenal? Dan Xavier menyuruh David menggodaku?


Apa lagi yang tidak aku tahu di sini?! Aku maju dan berdiri di depan meja mereka.

__ADS_1


"Ohh begitu. Jadi kalian berdua saling kenal. Kalian rupanya bersandiwara di belakangku, apalagi yang kalian mainkan ."


Mereka sekarang melihatku seperti melihat hantu.


__ADS_2