
POV Allison
Aku pulang dengan perasaan tidak terlalu kecewa. Walaupun aku ditolak tapi Xavier masih mengantarku pulang. Itu sebuah pernyataan bahwa dia tidak sepenuhnya menolakku. Aku yakin dia menyangka aku akan langsung merajuk dan pergi tapi aku masih bertahan dengan pertemanan kami.
Seperti yang kubilang aku memang terlalu cepat mengajukan pertanyaan itu.
Sekarang aku ada di sebuah gedung perkantoran di Manhattan, sedang menunggu pengumuman tender sebuah proyek design interior dan renovasi sebuah hotel tua, walaupun ini hotel tua tapi memegang predikat bintang lima.
Yang ikut dalam proyek ini bisa dibilang firma dengan level diatas kami, kami memang belum pernah punya proyek dengan kapasitas seperti ini.
Kami fokus ke hunian pribadi, dan desain ruang kantor, tapi yang ini adalah proyek nothing to lose, jika aku dapat itu akan luar biasa, kalau tidak dapat proyeknya ya anggap saja belajar, yang entah bagaimana aku dapat undangannya, mungkin salah satu dari mereka melihat karya kami di media sosial dan mengundang kami.
__ADS_1
Aku memberanikan diri maju diantara firma-firma besar yang mengelilingiku. Kemarin saat meeting awal salah seorang investornya ikut salam meeting, tampilannya eksentrik dan flamboyan, jas dan celana putih, scraft merah, buckle emas, jam tangan berwarna emas. Laki-laki itu sudah cukup berumur, kukira dia sudah di usia akhir lima puluhan. Tapi tampilannya masih cukup eksentrik. Tampilan itu langsung membuat mataku tertuju padanya.
Dan walaupun di meeting itu kami diberi panduan bahwa yang desain di minta adalah elegant luxury, kami di minta mendesain lobby dan satu kamar deluxe, aku bertaruh pada penampilan investor yang satu itu. Aku mengubah desain lobbynya menjadi elegant glamorous dengan fokus pada merah dan emas.
Designer-designer senior di tempatku langsung tercengang dengan tema yang kupilih. Tapi entah kenapa feelingku pada investor itu kuat jadi aku tak memperdulikan saran yang lain.
"Kau rupanya masih percaya diri datang ke sini. Kau sama sekali tak dianggap di sini, diantara firma-firma besar ini. Harusnya kau kirimkan perwakilanmu saja biar kau tak terlalu malu kalah." Cindy Buffington, salah satu sainganku dulu mendapatkan Alton, kau benar dia bekerja di Gensler juga, tapi dia hanya assisten seorang Junior Architect, dia menemani atasannya ke sini.
Tapi seharusnya tak lama lagi dia bisa jadi Junior Architect Ayahnya juga punya saham di sana dan kudengar dia membawa beberapa proyek untuk Gensler. Atasannya itu pernah kulalahkan dalam sebuah tender interior sebuah kantor. Dia nampaknya masih membawa sakit hati sampai sekarang.
"Kau banyak omong." Kalau sudah kalah bicara dia akan mulai mengatakan hal yang absurd. Aku tertawa sekarang.
"Siapa yang suruh kau datang ke sini." Aku berhasil mengusir dia dari sini sekarang.
__ADS_1
"Semuanya sihlakan masuk." Seorang assisten meminta kami masuk ke sebuah ruangan. Kami bergegas ikut ke seorang staff yang memandu kami.
"Nona Allison, Anda bisa ikut saya sebentar." Aku dipanggil seseorang.
"Saya harus ke sana." Aku binggung dipanggil di saat aku harus menerima pengumuman, sementara empat perwakilan lainnya sudah masuk.
"Tak apa itu tak penting, Tuan Nichols Hansen dan David Montgomery sendiri yang akan bertemu denganmu."
"Tuan Hansen?" Itu nama investor itu. Apa taruhanku berhasil, benarkah aku berhasil?!
"Iya, mari ikut saya."
Jadi aku dibawa menuju ke sebuah ruangan meeting di lantai diatas kami. Sebuah ruangan yang desainnya lebih elegan, ini lantai director dan staffnya.
__ADS_1
"Nona sihlakan." Dia membukakan pintu kaca mengkilap itu untukku.