Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 47. Don't You See Me Here?!


__ADS_3

Sesaat, kami berdua diam. Aku badmood karena pertanyaannya, tak bisakah dia melihat aku di sini.


"Sorry..." Dia meminta maaf dan aku tak menjawab permintaan maafnya. Tak berniat menjawabnya, bahkan tak ingin melihatnya sekarang.


Dia ikut diam juga. Sekarang dia merusak hariku.


"Kau ingin menonton film apa, terserah padamu?" Apa dia sedang berusaha minta maaf.


"Insidious 3."


"Insidious? Itu film horror bukan?"


"Iya." Iya horror. Aku akan mengerayangi lenganmu, terserah kau anggap itu horror atau tidak.


"Kau menonton film horror, tidakkah menurutmu itu menambah stress."


"Kau bilang tadi terserah padaku?!" Nadaku langsung naik satu tingkat.


"Iya-iya baikah." Dia mengalah juga. Awas kau! Inilah akibatnya kau memancing amarahku tak tahu tempat.


"Ayo pergi. Naik mobilku saja. Kau akan mengantarku bukan?!" Masih dengan nada naik satu tingkat.


"Iya aku akan mengantarmu." Dia takut aku marah juga. Berarti dia bisa kompromi juga di satu titik aku marah. Artinya begitu bukan. Lagipula kali ini dia sudah kelewatan. Apa dia tak lihat aku di sini, dia malah menyuruhku pergi dengan pria lain.


Tak lama untuk kami pergi. Aku menyerahkan kunci mobilku padanya. Tapi wajahku tetap datar padanya, biar dia rasakan akibatnya memancing amarahku. Setelah berjalan beberapa lama dia

__ADS_1


"Di sini ada es krim rumahan yang enak, kau mau?" Satu-satunya yang dia tahu bagaimana cara menenangkan wanita yang merajuk adalah makanan. Yang lainnya dia tidak tahu. Dasar pengacara kaku. Tapi baiklah aku hargai usahanya.


"Mau."


"Kita ke sana kalau begitu."


Aku masih tidak mau mengajaknya bicara. Dia juga tidak memulai bicara. Kami kebanyakan diam selama perjalanan. Tapi aku masih heran kenapa dia tiba-tiba berubah sikapnya padaku. Perkara dia memancing tadi berbeda, sekarang malah dia takut aku marah, seharusnya orang seperti dia tak akan perduli. Seperti yang dia lakukan pada Miranda sebelumnya dan dia juga menolakku sebelumnya.


Apa dia benar-benar berubah pikiran sekarang?


"Mau rasa apa?" D


"Blueberry, Strawberry."


"Aku Vanilla, Oreo."


"Aku mau coba."


"Apa?" Dia kaget aku mengambil cup eskrimnya. Dan mencoba langsung rasanya. "Itu sudah ..."


"Ini." Sekarang aku menyuapkan padanya. Dia membeku sesaat melihatku. Kami sharing sesuatu hari ini dimulai dari segelas es krim berdua. "Ayo ini akan mencair. Ini enak, aku juga menyukainya." Karena dia tak segera mamakannya aku menghabiskan es-krim itu.


"Tapi itu..." Dia terlalu lama, kusuapkan eskrim yang sendok eskrimnya sudah kucicipi itu plus aku bergantian mencicipinya. Dia tidak bisa menolak dan aku merasa menang. Senyumku mengembang sempurna, ini adalah kencan pertama kami, sudah resmi terjadi.


"Coba punyaku juga. Kau benar ini eskrim enak." Aku menyuapkannya lagi. Kali ini dia tidak mengatakan apapun selain menerimanya.

__ADS_1


Dia mau pergi bersamaku seharian, dia meminta maaf membuatku kesal, jika dia tak berani melangkah ke depan aku yang akan melakukannya. Kenapa kami berpura-pura satu sama lain.


Dia melihatku tersenyum. Tapi baiklah, jika dia tidak mengatakan apapun aku tak keberatan. Asal dia tidak menolak seperti kemarin. Mungkin dia belum siap untuk bicara padaku secepat ini, dia pikir kami masih berada di area abu-abu. Tapi aku tak sabar lagi, tak apa dia belum bicara apapun tapi aku mau mengatakan aku ada di sini.


"Oh ya, aku baru lihat ada series Marvel, kau mau kita menonton Marvel saja." Aku berdamai dengannya sekarang, tak akan menyiksanya dengan film horror, dia benar film horror akan membuat semua orang stress, aku akan menutup mata selama film karena takut kaget.


"Oke." Perkataannya hanya pendek, apa dia shock tiba-tiba shock aku tiba-tiba menyuapinya? Aku meringis sendiri dalam pikiranku.


Aku sekarang mengambil alih pembicaraan untuk membuat suasana lebih baik diantara kami. Aku tak perduli dia masih kaget, setidaknya dia baik-baik saja dan bisa menyetir dengan baik.


Pengacara kaku yang tak tahu bagaimana menghadapi wanita.


Jika dipikir-pikir dia memang tidak bisa protes, dia menerima usulan untuk pergi bersamaku seharian. Kami bukan anak remaja yang berkencan dengan hanya tersenyum satu sama lain. Jika kau tidak ada maksud menerimaku harusnya dari awal kau jangan memberi harapan padaku.


Kami tiba di bioskop kemudian. Kami turun, berjalan bersisian dan tanpa ragu kugengam tangannya untuk kugandeng. Dia tidak protes!


"Kau mengikuti semua series Marvel?" Aku bicara tentang film yang aka kami tonton.


"Iya aku mengikutinya."


"Kalau begitu kita sama."


Sekarang aku bersikap semua ini adalah normal. Seperti kataku aku akan menunggunya siap mengatakan sesuatu padaku, tapi inilah sikapku. Aku sudah pernah memintanya untuk menjadi kekasihku.


Sudah tak ada lagi yang lain untukku. Bahkan iblis tampan itupun tidak.

__ADS_1


bersambung besok----


__ADS_2