Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 55. I Hate You 3


__ADS_3


POV Allison


Bangsat David Montgomery ini mengancam akan menahan pembayaranku. Aku menguatkan diri untuk tak terlihat hancur di depannya, akan terlalu mudah untuk mereka.


Aku merasa seperti orang bodoh, dan mereka menemukan aku menangis, aku tak mau terlalu mudah untuk terlihat kalah. Jadi aku memakai kacamataku menatap layar besar di depanku saat dia masuk. Tanganku bergerak antara tuts ke pointer di mejaku, sebenarnya hari ini aku tak mengerjakan apapun karena pikiranku kacau.


Tapi aku bisa berpura-pura baik-baik saja setegar karang. Tidak akan ada cerita kau melihatku kalah dan menjadi menyedihkan.


"Selamat siang, kau punya 25 menit Tuan Montgomery. Ternyata kau berteman dekat dengan Tuan Xavier. Sudah lama?" Aku penasaran sedekat apa mereka.


"Dia sudah menjadi pengacara perusahaan kurang lebih lima tahun. Mungkin enam tahun."


"Sudah lama rupanya. Kenapa dia tidak mengikuti gayamu yang mafia kelas kakap?" Aku meringis membayangkan jika Xavier ikut dengan David. Ya mereka tak akan sebanding. Tak bagus membayangkannya.


Aku sedang membuat perbandingan sendiri di otakku.


"Allison, semalam adalah kesalahpahaman. Apa yang kau dengar semalam, tidak sepenuhnya seperti yang kau dengar."


"Apa yang kau mau, hubungan pribadiku bukan urusanmu Tuan Montgomery. Tapi baiklah kau punya 20 menit bicara apapun yang kau mau, hanya karena kau adalah kolega, tapi setelah ini hubungan kita akan terbatas bisnis, kau mengerti." Aku bersikap formal, padahal aku mulai bisa bicara lebih santai padanya karena kami sering bertemu belakangan.


"Aku datang ke sini meluruskan semuanya. Xavier adalah temanku. Sebenarnya dia juga yang memasukkan namamu ke undangan proyek, semalam banyak kesalahpahaman terjadi karena aku."


"Oh jadi menurutmu aku harus berterima kasih padanya. Kau tahu, pola pikir kalian sangat mengesankan."

__ADS_1


"Aku bukan ingin mengatakan apapin soal pola pikir. Masalah dia yang memasukkan rekomendasi memang benar, tapi yang lebih pentung aku ingin mulai dengan itu dan aku hanya ingin memberitahumu kebenaran. Masalah tes itu kejadian yang sebenarnya bukan seperti itu."


"Oh baik, jadi kau punya cerita sendiri sihlakan ceritakan. Kau punya 20 menit lagi. Aku akan mendengarkan versimu."


"Ini bukan versiku tapi apa yang sebenarnya terjadi." Aku tak melihat padanya, hanya mengangkat bahu tak perduli. Mau apapun cerita mereka, hal utamanya bukan itu.


"Kau temannya, jelas kau akan membelanya. Apa yang kudengar jelas, dia sendiri yang bilang dia mengetes hubungan kami melalui kau. Jika dia tak salahpun, jelas aku tak suka dia mempermainkanku, kalian berdua saling mengenal, aku tak tahu apapun. Bahkan dia tak repot-repot memberitahuku. Kenapa aku merasa seksrsnh seperti orang bodoh."


Aku ingin tertawa, karena ini lucu menurutku. Dua orang sahabat nampaknya mempermainkan dan meneliti perasaanku. Aku harap kekasihku adalah orang yang bisa menjaga privasi kami, atau mungkin aku berharap terlalu banyak pada Xavier. Sejak awal pikiran logisnya itu tak pernah sepenuhnya menyukaiku.


Jika dia menyukaiku, dia tidak akan diam dan tidak tersinggung jika temannya mengajak kekasihnya dinner. Aku terlalu berharap banyak pada pria-pria ini. Atau mereka memang begitu? Wanita yang terlalu berlebihan soal perasaan kami sendiri.


"Dia tidak bermaksud buruk, dia hanya tak yakin pada dirinya sendiri, dia akan memberitahumu. Kau tahu setelah kau menolakku dia baru berani menerimamu."


"Allison, aku minta maaf aku terlibat kejadian semalam. Tapi sebenarnya kau salah paham kata-kata kami. Dia tak pernah memintaku untuk mengetesku. Hanya aku yang melakukannya dan mengatakan itu padanya." Sayangnya penjelasan panjang lebar David tidak membuat perubahan apapun untukku.


"Kau sudah selesai David?" Aku mengangkat pandanganku dari layar melihatnya sambil memainkan pensil makanikku. Dari tadi aku sudah mematahkan setengah lusin isiannya kukira.


"Aku bersumpah demi apapun yang kukatakan benar Allison." Aku tersenyum masam. Ya mungkin dia benar, tapi sayangnya yang harusnya bersumpah bukan dia, ya walaupun aku tak memberi Xavier kesempatan apapun. Aku tak tergerak sama sekali untuk mendengarkan apapun lagi hari ini.


"Terima kasih kau sudah datang ke sini dan menjelaskan semuanya David. Aku menghargainya. Tapi aku banyak pekerjaan sekarang. Aku akan menyelesaikan sendiri masalahku dengan Xavier."


"Tolong dengarkan aku, dia tidak memintaku mengetes apapun."


"Aku mendengarkanmu David. Aku sudah jelas apa yang ingin kau katakan. Tapi hubunganku dengan Xavier bukan urusanmu. Itu urusan kami berdua... Kita akan tetap sebagai kolega bisnis. Oh ya, jangan lupa pembayaranmu tidak boleh kau tunda. Atau aku akan mengirim Xavier padamu karena pelanggaran kesepakatan? Apa Xavier pengacaramu juga?"

__ADS_1


"Iya dia pengacaraku." Jawabannya cepat dan cukup jujur.


"Yah mungkin aku harus berganti pengacara."


"Dia mencintaimu, kau jangan berpikir terlalu jauh." Sekarang aku tertawa.


"Cinta? Astaga kau yang jangan berpikir terlalu jauh David."


David Montgomery menghela napas mendengar jawabanku. Sudah jelas melihat caraku menanggapinya semua ini, dia harusnya tahu semua masalah ini tak selesai dengan penjelasannya.


"Kupikir kau harus pergi sekarang. Tak usah menyusahkan dirimu lagi."


"Allison... Jangan salahkan..." Aku memotong kalimatnya karena aku sudah cukup mendengar.


"Waktumu sudah habis David. Kita sudahi saja psmbicaraan ini. Pergilah. Terima kasih sudah datang ke sini." Dia masih belum pergi, aku mengangkat teleponku.


"Alice, tolong antar tamu keluar."


Aku selesai dengan pembicaraan ini. Tak ada lagi yang perlu dihagas dengan David Montgomery.


Dia berani bicara tentang cinta.


Apa orang seperti dia tahu apa itu cinta?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2