Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 69. Believe Me


__ADS_3

"Sayang, aku kembali padamu." Aku memeluknya saat dia membuka pintu apartmentnya.


Setelah aku pergi bertemu Mom dan seorang temanku dan kali ini untuk pertama kalinya aku ke apartmentnya.


"Ayo masuklah." Dia merangkulku masuk dan melihat-lihat apartmentnya. Rapi, desainnya minimalis, memang kebanyakan apartment dibuat dengan gaya ini. Tapi diluar itu ruangannya memang rapi, setelah ruang tamu ada ruang besar di tengah yang di sekat untuk kerja, buku-buku kitab hukum tersusun rapi. Komputer dengan tempat duduk yang nyaman.


Dokumen-dokumennya rapi. Tidak ada kertas-kertas berceceran di mana-mana. Dia orang yang rapi atau dia membersihkannya saat aku datang.


"Apa kau serapi ini?"


"Aku memang rapi. Lebih mudah untukku menemukan sesuatu. Menambah rumit jika untuk menemukan satu dokumen saja aku harus menggali ke tumpukan dokumen." Rupanya memang dia rapi. Aku menyukai kerapian ini, ini jauh lebih baik dari ruanganku.


"Aku berantakan. Ruangan kerjaku tak serapi ini. Aku mengaku." Aku cecikikan.


"Kata orang proses kreatif itu butuh suasana agak kacau. Kau lihat saja seniman, tak ada dari mereka yang rapi."


"Itu sindiran?"


"Itu kenyataan yang perlu diterima." Dia meringis padaku. "Bagaimana pertemuanmu dengan Ibumu." Ternyata dia langsung penasaran pada hasil pertemuan kami.


"Hmm... dia menjodohkanku kepada seseorang."


"Dia menjodohkanmu kepada seseorang?"


"Iya...." Aku bercerita apa yang terjadi. Semuanya, tak ada yang kututupi. Termasuk nampaknya dari hasil aku membual nampaknya malah menghasilkan ketertarikan padaku."Bagaimana menurutmu." Apa dia akan cemburu, bagaimana menurutnya. Aku penasaran tentu saja.


"Sayang, aku tak bisa mengatakan apapun tentang itu. Jika kau bertanya apa aku cemburu, jika aku cemburupun, jika itu pilihanmu aku tak bisa mengatakan apapun. Kau mau aku apa, marah-marah padamu. Kita masih dalam status kekasih bukan suami istri. Aku percaya padamu, tapi jika kau ingin pergi bilang padaku kita selesai baik-baik."

__ADS_1


Dia terlalu logis, mungkin di umur seperti dia cinta yang berjalan damai lebih berharga daripada cinta yang banyak halangan. Aku harus menerima dia tak ingin direpotkan dengan adegan drama.


"Pengacara kaku, aku tak akan kemana mana." Aku memeluknya dan dia balas merangkul bahumu.


"Apa kau yakin. Seperti kaya Ibumu, dia punya superyacht. Dan aku yakin kau bisa mendapatkannya, lihat saja daftar pacarmu, semuanya kelas berat." Aku meringis.


"Aku bisa beli tiket kapal pesiar kelas VVIP." Dia langsung tertawa sekarang. Superyacht memang mengagumkan, tapi banyak cara naik ke sana. Ada penyewaan hingga naik kapal pesiar.



Edisi penasaran sama royal suitenya Caribbean.


"Baiklah kita kapan-kapan akan mencoba VVIP cruise, aku pernah melihat iklannya, nampaknya itu layak dicoba."


"Bagaimana kita tunggu bonus hotel keluar." Pembicaraan malah menjadi kapan kami pergi liburan bersama. Dan tidak terganggu dengan kenyataan aku dikenalkan seseorang oleh Ibuku.


"Aku akan bilang di awal aku sudah punya pacar. Aku tak akan menipu orang lain. Saat aku koar-koar tentang bisnisku sebenarnya aku hanya ingin dia tidak meremehkanku, aku tak mengemis berkenalan dengannya. Lagipula saat aku bertemu dengannya aku sama sekali tak tahu Ibuku mengatur acara itu.


"Ohh begitu. Kau tak takut kehilangan proyek."


"Aku lebih tak suka disangka pengemis proyek." sekarang Xavier tertawa.


"Baiklah kau yang terhebat, aku menyerah padamu. Lakukan apa yang kau suka, jika dia bertindak kurang ajar aku akan menghajarnya sebagai kekasihmu yang resmi."


"Kekasih resmi. Kata resmi itu mungkin ada hitam diatas putih. Kau bicara bahasa apa? Ada term khusus soal kekasih resmi ini."


"Kau satu-satunya yang bisa bercokol di sini dan Westbury kapanpun kau mau. Kau boleh meminta Alma membuatkanmu kue, atau makanan apapun yang kau suka. Apalagi yang mau inginkan? Aku tak punya ide."

__ADS_1


"Aku pemilik satu-satunya tubuhmu... Kenapa kau tak mengatakan itu." Aku menciumnya dengan cepat, masih gemas dengan lengannya yang kekar. Ingin dia memelukku dan mendekapku dengan kuat, sementara dia tertawa dengan kata-kataku barusan.


"Gadis mes*um, apa yang ada di pikiranmu itu sekarang."


"Kau percaya padaku sekarang Sir Xavier, apa kau pikir aku akan tertarik dengan pemilik superyatch?"


"Jika Ayahmu juga tak setuju kita bersama, kau mau aku apa?"


"Tetap denganku." Dia melihatku dan diam berpikir.


"Baiklah ini adalah kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Aku bicara padamu bukan karena aku tak mau kita bertahan tapi aku orang yang berpikir ke depan akan seperti apa. Kita harus punya rencana untuk yang terburuk. Orang seperti Ayahmu bisa menghancurkan karierku. Jika dia misal benar tidak setuju lalu bertekad menghancurkan karierku. Karena banyak juga klienku yang dikenalkan Ayahmu. Menurutmu apa yang harus kulakukan? Jika dia menghancurkan karierku, lalu membuatku bangkrut?" Aku sudah mau menjawab, tapi dia menghentikanku.


"Sebenarnya, aku dan Ayahmu bisa di bilang cukup dekat. Ayahmu mau mendukung pencalonanku sebagai senator, karena sudah lama aku memang selama ini membangun kredibilitas sebagai lembaga bantuan hukum gratis yang beroperasi di Brooklyn dan Queens. Jika dia tidak setuju dan melarangku, kemungkinan semua rencana karierku akan terjun bebas." Aku baru tahu ini, aku benar tak tahu Ayah memberikannya dukungan untuk masuk ke dunia politik.


"Ohh begitu, Ayah mendukungmu menjadi senator? Kalau begitu bagus, dia 100% akan mendukung kita."


"Apa?" Xavier nampak kaget tapi aku punya alasan sebenarnya untuk berkata begitu. "Jelaskan kenapa kau pikir kita akan didukung 100%."


"Sebenarnya Ayah sedang mencari orang yang menjadi back-up setelah dia mencapai karier ini. Kemungkinan dia akan terpilih lagi periode ini besar, presidentnya sama tapi untuk periode depan kemungkinan tidak. Paman tidak mau masuk ke dalam partai selain donatur, sepupuku juga tidak karena mereka bilang tidak punya latar belakang, mereka fokus pada bisnis, sedangkan aku juga disuruh fokus pada bisnis. Jadi dia harus mencari orang luar. Jika itu kau, kita berdua akan cocok, pasti Ayah akan mengizinkan, 100%."


"Apa benar seperti itu. Kelihatannya itu terlalu mudah bagiku. Aku berhutang besar pada Ayahmu, sebenarnya biaya menjalankan firma hukum gratis itu juga di tanggung olehnya." Nampaknya tidak mudah menerima penjelasanku tapi aku merasa begitu.


"Iya pasti benar. Kita akan jadi pasangan yang cocok, satu pengacara dan senator. Satu lagi pebisnis."


"Apa benar semudah itu." Xavier masih sangsi dengan apa yang kukatakan.


"Pasti benar. Besok kita akan tahu kebenarannya, tinggal bicara ke Mom."

__ADS_1


Dia tidak bicara tapi aku punya keyakinan aku pasti benar. Jika Dad setuju dia juga bisa diminta tolong untuk meyakinkan Mom.


__ADS_2