
Aku melihatnya Sir Xavier dengan baju jas abu-abu gelapnya di ruangan pesta, dia mengobrol dengan beberapa orang. Sementara aku bersama Kate dan Nora.
Aku menunggu kesempatan nanti untuk memintanya mengantarku nanti. Mendapatkan dia perlu sedikit drama nampaknya, tak boleh seperti Miranda, terlalu memaksa.
Kesempatan itu datang saat aku melihat dia bersiap keluar. Aku tak memaksa untuk bicara bicara dengannya saat pesta karena seperti yang kuduga dia tidak nyaman dengan kedekatan di depan umum. Mungkin dia melihatku, aku sudah berdandan cantik hari ini sebagai gantinya. Lagipula aku yakin dia tidak suka mengumbar kemesra*an di depan umum.
Dia berjalan pelan sambil melihat ponsel ke arah luar, sekarang aku akan menyusulnya.
"Xavier, ..." Dia bilang aku boleh memanggil namanya. Tidak ada panggilan Sir malam ini. Aku berjalan mendekat padanya. Gaun merahku jatuh menyapu lantai, dia melihatku dengan pandangan terpesona kurasa, aku berusaha terlihat cantik dengan gaun ini.
Tapi ini sulit, aku tak begitu terbiasa dengan gaun panjang menyapu lantai ujungnya ini.
"Bisa bantu aku..." Aku memanfaatkan kesempatan untuk meraih dan memegang lengannya. Pegangan pertama kali kami, tanpa permisi.
"Kau baik-baik saja?" Seperti biasa dia tergerak jika seseorang membutuhkan bantuan.
"Gaun ini menyusahkan. Aku takut jatuh. Maaf aku perlu lenganmu." Aku tersenyum padanya. Alasan yang konyol tapi nampaknya aktingku cukup meyakinkan.
"Iya tak apa." Aku tidak melihat penolakan darinya. Dia membiarkan aku memegang lengannya tanpa terganggu. "Kuantar kau ke tempat parkir? Atau kau memakai vallet parking di lobby?"
"Aku memakai taxi, mobilku sedang masuk bengkel untuk perawatan rutin." Apa dia akan menawari untuk mengantarku? Please, antar aku... Tak baik seorang gadis cantik naik taxi sendiri. Aku butuh pertolongan.
"Mau kuantar?" Kata-kata itu membuatku bersorak kegirangan dalam hati.
"Apa tidak menyusahkanmu?"
"Tidak." Sekarang aku yakin dia tidak menolakku setidaknya. Aku hanya perlu mengusahakan kami dekat dan bersabar untuk tidak mendesaknya.
"Tapi di basement, aku tidak memakai vallet. Kau mau kujemput saja di lobby atau ikut ke bawah."
__ADS_1
"Tak apa aku ikut kebawah." Asalkan aku bisa mengandeng lenganmu. Entah kenapa dia tak banyak bicara, suasana agak canggung, mungkin pria ini juga punya kegugupanya sendiri. Walaupun dia lebih tua dariku.
"Kau kembali ke Westbury?"
"Iya, aku biasa menghabiskan akhir pekan di sana. Berganti suasana dari hutan beton Manhanttan."
"Boleh aku datang besok." Dia melihatku yang menatapnya dengan bertopang tangan di sandaran lengan di tengah Audi A8 itu.
"Kenapa kau ingin datang?"
"Jawab pertanyaanku apa boleh aku datang? Kau bilang aku boleh datang kapan saja." Ini menyenangkan semobil dengannya dan menggodanya.
"Apa yang kau cari di sana, cuma ada kebun di sana."
"Aku mencari strawberry gratis, dan Alma." Dia tertawa dengan jawabanku. Tìdak, aku tak akan mengatakan aku mencarinya, itu akan terlalu mudah. Dia yang harus mengatakan dia mencariku.
"Baiklah, terserah padamu."
"Apa Victor masih menggangumu?" Dia sedang mencari bahan pembicaraan.
"Dia mengadu ke Ibunya, aku membuatkan Ibuku menangani keluhannya. Tak akan ada masalah kurasa."
"Ibumu tahu kau makan malam bersamaku."
"Dia tahu, ..." Ternyata pendapat orang tuaku dengan hubungan ini sangat penting baginya.
"Dia tidak bertanya?"
"Aku bilang kita teman baik karena kau sering menolongku." Aku ingin bertanya. Apa kau ingin meminta izin Ayahku untuk mengajakku makan malam? Tapi kurasa belum saatnya. Ini harus antara kami dulu. "Apa aku bisa kau anggap teman? Atau bagimu aku hanya gadis muda yang tak sebanding dengan level dan pengalamanmu."
"Kapan aku pernah berkata begitu?"
"Begitu. Ya baiklah." Malam ini memastikan dua hal, pertama dia tidak menganggapku penganggu, dan dia mengakuinya atau tidak, Sir Xavier nampaknya tertarik padaku hanya dia sangat hati-hati dengan statusku. Seperti yang kubilang jika memungkinķan dia harus minta izin pada Ayahku untuk mengajakku kencan, tapi dia harus mengatakannya padaku dulu. Apa dia berani.
__ADS_1
Aku menikmati perjalanan kemudian, hanya perjalanan singkat tempat pesta tidak jauh dari apartmentku.
"Jadi besok kau mau ke Westbury?" Aku melihat padanya karena pertanyaannya.
"Boleh bukan? Jika tak boleh kau bilang padaku sekarang."
"Aku sudah bilang kau boleh datang kapan saja." Baiklah, boleh datang kapan saja. Bagaimana jika aku tak datang? Apa dia akan mencariku. Pikiranku bermain sendiri.
Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri sambil menikmati perjalanan, menyukai rasanya sedikit berdebar menyenangkan seperti ini.
"Bukankah yang mengejarmu banyak, kenapa tak meminta seseorang yang menemanimu." Pertanyaan yang sangat terang-terangan.
"Tak tertarik." Aku menjawab ringan. Bahkan tak melihat padanya.
Aku tertarik padamu. Karena aku di sini, sudah jelas bukan. Apa kau bodoh begitu saja tak tahu. Dia diam. Tak apa, aku akan sabar menunggu sampai dia berani mengambil langkah berikutnya. Harus dari dia.
"Kenapa?" Astaga. Haruskan dia bertanya kenapa. Aku menghela napas.
"Mereka semua terlalu tampan." Aku menjawab asal-asalan, tapi aku melihat padanya.
Dia menyimpan senyumnya. Bertepatan dengan itu kami sudah hampir sampai ke lobby apartmentku. Aku bersiap untuk turun.
"Kita sampai, terima kasih Xavier,..." Aku tak memakai embel-embel Sir lagi di depan namanya.
"Sampai ketemu besok?" Sebuah pertanyaan yang berarti ajakan.
"Sampai bertemu besok."
Aku mengiyakan ajakannya. Aku melangkah dan tak melihat lagi ke belakang. Misi malam ini cukup berhasil.
Besok aku ke Westbury, seperti kataku aku kesana untuk mencari Alma dan strawberry gratìs.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1