
Aku sampai ke gedung di 51st di Midtown Manhattan ini adalah tempat Oscar Haugen. Untuk selevel pemilik superyatch nampaknya tempat ini agak sederhana. Aku membayangkan dia mengambil sebuah penthouse hype di sebuah pencakar langit yang memungkinkan pemandangan 360°. Tapi baiklah mungkin alasan dekat kantor atau mungkin karena alasan kepraktisan dekat dengan kantor juga.
Gedung yang di daerah yang disebut sebagai Hell Kitchen rumah bagi para aktor dan organisasi seni. Broadway di dekatnya, wisatawan dari Times Square. Dekat dengan Hudson River dan Central Park.
Bangunan ini besar, harusnya ini bisa memuat 4 kamar tidur, bahkan punya balkon terrace diatasnya.
Oscar menjemputku ke bawah. Aku datang memakai blouse kerja dengan celana panjang dan coat untuk musim gugur yang dingin ini. Jelas blouse kerja yang konservatif bukan manipulatif.
"Siang Oscar." Aku tersenyum padanya. Dia terlihat santai dengan kaus sweater putih dan celana jeans gelapnya. Pemilik yatch ini memang mempesona dan tanpaknya tidak suka terlibat dengan wanita tak perlu seperti yang dilakukan David Montgomery
"Selamat siang. Ayo naik..." Aku melihatnya, unit lamanya didesin dengan gaya american classic memang terlihat tua, pemiliknya yang lama suka warna gelap. Penampilan rumah membawa vibe rumah nyaman dengan perapian tua dan selimut crochet rajutan nenek yang nyaman selama musim dingin.
"Kupikir orang sepertimu akan membeli unit agak hype. Saat kau mengirimkan alamatnya aku agak heran." Dia tersenyum.
"Aku suka lingkungan ini, bayanganku tentang NY adalah tinggal di jalan banyak pohon di tengah kota. Tiap hari melihat bangunan tinggi aku perlu lingkungan yang seperti ini, rasanya dekat dengan alam dan seni."
"Ahh baiklah. Aku mengerti. Ini 4 lantai?"
Aku mulai dengan list daftar pertanyaan awal yang sudah dihapalkan di luar kepala menyisipkannnya diantara kegiatan melihat rumah. Aku duduk dan menunjukkan beberapa gambar yang kukira dekat dengan apa yang dibayangkannya.
"Kau benar, aku menyukai model-model dan vibe seperti ini. Kau memang pandai membaca apa yang diinginkan costumer. Beberapa designer yang kutemui ada yang memaksakan idealismenya. Menurut mereka ini adalah gaya hype sekarang artis ini dan yang itu, telah menggunakan desain mereka. Mereka lupa individu punya preferensi masing-masing."
"Aku banyak bekerja sama dengan hunian pribadi, skill kami memang di situ, jadi kami teŕlatih dengan berbagai keinginan klien kami. Bagi kami desain kami adalah apa yang costumer inginkan, ini adalah proyek pribadi klien bukan proyek kami."
"Aku suka kalian, nampaknya kali ini aku menemukan seseorang yang tepat."
__ADS_1
"Semoga, hasil designnya nanti memuaskan untukmu."
"Aku menantikannya kalau begitu. Kau mau makan siang?" Tiba-tiba dia menawarkanku makan siang dengannya.
"Makan siang?"
"Iya, di tempat ini banyak restaurant bagus. Kau tinggal dimana...." Aku menyebutkan tempat tinggalku. Dia nampaknya mengenalnya walaupun dia tidak tinggal di NY.
"Itu gedung yang hype." Aku meringis dengan komentarnya.
"Bukan penthouse hanya punya 3 kamar, biasa saja. Sebelumnya aku bekerja di Paris sekitar hampir 2 tahun jadi apartmentku yang lama sudah kujual saja, kebetulan ada yang ingin membelinya. Aku mendapatkan unit hype itu jauh hari sebelum selesai pembangunannya. Aku suka karena pemandangannya menghadap ke Hudson River."
Kami bicara macam-macam sampai ke restoran. Sampai saat ini dia belum menyentuh status hubungan pribadi aku bertanya apa dia akan bertanya pada pertemuan ini. Jika tidak nanti aku yang bertanya saja.
Ternyata sampai saat terakhir dia tidak menyinggung soal pribadi di makan siang itu. Jadi aku akan masuk ke topik itu sekarang.
"Preferensi kedua, aku tak mengerti... Maksudmu dengan preferensi kedua? Apa aku harus menentukan tema lain?"
"Oh bukan, jika kau punya pasangan, yang juga tinggal bersamamu biasanya dia juga punya preferensinya mungkin terhadap beberapa ruangan. Jika tidak berarti aku tidak mengatur pertemuan apapun lagi?"
"Oh tidak, aku sendiri yang akan menentukan design. Kau hanya harus konsultasi padaku."
"Baik, di mengerti."
"Kau bertanya begitu, kau tahu orang tua kita mengatur pertemuan kita." Dia tertawa, sekarang aku bisa masuk pada bahasan ini.
"Saat itu sebenarnya aku tidak tahu, sudah beberapa bulan aku tidak melihat Mom, dia kebetulan menemani Ayah bertugas di sini. Jadi aku pikir saat itu hanya menemaninya sarapan." Sekarang aku bisa jelaskan di awal.
__ADS_1
"Ohh kau tidak tahu?" Nampaknya dia menyangka aku bohong dan berpura-pura agar tak dianggap mengharapkannya.
"Demi Tuhan aku tak tahu Oscar, sebenarnya jika tahu akan menentang rencana Mom. Karena aku sudah punya kekasih sebenarnya. Aku harus minta maaf padamu karena Ibuku memaksaku masuk ke acara itu. Aku bersikap ramah padamu, maaf membuatmu salah paham." Sekarang aku sudah memutuskan membuka semuanya.
"Oh baiklah. Nampaknya ada sedikut pertentangan dengan Ibumu soal kekasih, itu kenapa dia memasukkanmu ke sarapan itu tanpa kau tahu."
"Ya, sedikit, tapi aku akan mengatasinya."
"Siapa kekasihmu." Dia nampaknya bertanya siapa yang bisa mengalahkan superyatchnya, pasti pemilik superyatch yang lain.
"Dia bukan siapa-siapa, bukan termasuk golongan pemilik perusahaan dia hanya profesional di bidang hukum."
"Benarkah..."
"Kenapa Ibumu tidak setuju, sepertinya pekerjaannya bagus? Apa kariernya dianggap tidak berkembang. Profesional walaupun sudah bekerja keras harus punya faktor X untuk naik ke atas. Banyak faktor yang lain juga ... " Dia mulai membela dirinya dengan menyebutkan kelebihannya.
"Tidak, bukan masalah kariernya tidak berkembang. Ini hanya perbedaan preferensi Ibu dan anak."
"Jelas saja berbeda, Ibumu melihat secara objektif sementara kau melihat secara subjektif." Ya memang Xavier tak punya superyacht atau pesawat, tapi aku juga sudah pernah mencapai level itu. Aku juga terbiasa melihat hal yang objektif, jumlah uang di rekening, berapa tampan seseorang sebelum aku lebih menghargai hal yang subjektif, yaitu hati, karakter dan kesetiaan.
Dia mulai tersinggung dan membandingkan. Aku diam. Ternyata dia cukup sulit. Dia tak tahu aku juga sudah pernah sampai
"Aku hanya ingin kau tak salah paham. Aku takut kau mengharapkan sesuatu yang tak bisa kuberikan." Dia tersenyum kecil.
"Tak apa, aku tak menuntut apapun darimu. Kerjakan saja design itu. Aku tak masalah dengan kau tak bisa makan malam denganku. Tak usah takut menyinggungku. Kau hargai kau mengatakannya dengan terus terang."
Dia mengatakan tak apa, tapi nampaknya dia bukan orang yang suka dikalahkan. Kalau begini akan lebih sulit menghadapinya.
__ADS_1
Dia dalam misi mengubah pendirianku.