
"Nampaknya menjadi pacarmu harus punya kriteria sendiri. Alton Mason nampaknya memenuhi semua kriteria idamanmu, tak heran yang lain sulit menyamainya. Tak semua orang punya tampilan model, kaya, pintar. Dia terlalu sempurna. Kau tahu hal yang terlalu sempurna itu tidak ada ..." Aku tertawa.
Jika dia tahu pacar-pacarku semuanya tampan dan kaya, dia akan kaget. Dalam pandanganku setidaknya nilainya 80. Parameter yang kubuat cukup ketat, anehnya semuanya memenuhi kriteria itu. Teman-temanku selalu bilang seleraku tinggi, tapi sayangnya tak satupun dari mereka bertahan.
Jadi salahkah aku bilang, pria tampan adalah masalah.
"Jika dipikir-pikir memang kau benar Sir, yang punya hal yang sesempurna itu pastilah menyembunyikan sesuatu. Dan ternyata yang terakhir yang kupikir nilainya 100 adalah aku hanya di manfaatkan untuk batu loncatan."
"Ya seperti kubilang, walau tak semua tetap saja kau harus berhati-hati." Aku menghela napas untuk membuang perasaan galauku.
"Oh ya bagaimana tetanggamu? Kenapa aku tak melihatnya hari ini? Dia sudah menyerah?"
__ADS_1
"Kau ingin melihatnya?" Dia tertawa.
"Karena dia lucu senang sekali mengejarmu. Jadi kau tak pergi ke undangannya kemarin?"
"Tidak, aku tak memberi harapan kosong. Jika aku tak suka ya tidak, seperti kubilang aku tak mau mencari masalah."
"Kau juga lama menjadi duda Sir, apa mendiang istrimu terlalu sempurna untukmu."
Sekarang dia diam. Aku melihat sisi lain seorang Sir Xavier sekarang, ternyata dia punya sisi melankolis juga saat bicara tentang istrinya. Tapi memang jika seseorang meninggal secara tiba-tiba seperti itu apalagi orang yang kau cintai, tidak ada yang akan siap.
Kami sama-sama terperangkap sosok yang sempurna ternyata.
"Ternyata kita berdua menyedihkan Sir." Aku bertopang tangan di meja makan sore itu, menyadari bahwa ternyata dua dari kami sama-sama punya masalah hampir sama.
__ADS_1
Dia menghela napas dan tertawa sendiri.
"Sudahlah, masa lalu. Mau ke kebun? lebih baik kita ke kebun. Kau ada acara sore ini, Alma sedang memasak, mau makan malam di sini?"
"Boleh? Mau tentu saja." Kejutan dia menawariku makan malam di sini. Tentu saja aku mau, masakan Alma selalu luar biasa.
"Boleh. Ayo ke kebun..."
Jadilah sepanjang sore aku punya waktu untuk benar-benar mengitari kebun itu. Aku tak menganggu waktu Sir Xavier sendiri, aku berputar-putar sendiri mengobrol dengan para tukang kebun yang ada di sana dan menemukan sesuatu untuk diamati di kebun luas itu. Aku bahkan menemukan pojok yang dirawat Alma berisi herbs dan bunga-bunga yang dia suka. Ada seorang wanita yang bekerja di kebun juga, kali ini aku baru berkenalan dengannya. Dia hanya membantu Alma membersihkan rumah di pagi hari makanya aku tak pernah melihatnya.
"Aku bertemu dengan Salma, ada pojok yang berisi bunga-bunga dan herbs di ujung sana." Kami sekarang berjalan ke rumah, sudah sore dan kami bersiap untuk makan malam.
"Iya, kebun kecil berisi banyak rose dan dahlia dekat bungalow mereka. Kau juga harus menyelesaikan bungalow ke dua supaya mereka bisa memindahkan barang-barang."
__ADS_1
"Iya aku akan ingat itu."
Aku menghabiskan sore dan awal malam itu berada di Westbury, memuji masakan Alma meminta tolong padanya untuk membantu kepala proyekku nanti dalam renovasi di depan Sir Xavier.